Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Berlatih Berjalan


__ADS_3

Genap satu minggu sudah Radit dirawat di rumah sakit. Selama itu pula, Aishah tak pernah luput dari pandangan Radit. Dengan setia, Aishah menjaga dan merawat Radit dengan sabarnya. Setelah dirawat selama tiga hari di rumah sakit, keadaan Aishah berangsur pulih, sehingga Aishah sudah dibolehkan pulang.


Meskipun sudah dibolehkan pulang, Aishah tidak kunjung pulang ke rumah. Bahkan ia bersi keras tidak mau pulang ke rumah karena Radit masih terbaring lemah di rumah sakit. Aishah memilih untuk tinggal di rumah sakit selama suaminya masih dirawat di sana. Dengan sepenuh hati, Aishah melayani suaminya tanpa mengeluh sedikitpun.


Semantara itu, Pak Joko benar-benar menepati janjinya kepada Pak Banu untuk ikut serta menjaga Radit. Sehingga untuk sementara waktu, Pakdhe dan Budhe Aishah itu tinggal di rumah Radit untuk membantu merawat Radit di rumah sakit. Pak Joko rela pulang pergi dari rumah sakit ke rumah Radit untuk mengurusi perlengkapan yang dibutuhkan Radit dan Aishah.


"Sayang kamu pasti bisa! Ayo jangan menyerah!" Aishah berteriak memberi semangat kepada suaminya yang tengah melakukan terapi untuk berlatih berjalan. Berulang kali Radit terjatuh, namun sebanyak itu pula ia bangkit kembali. Ditemani dengan Aishah, Radit berlatih berjalan setiap dua kali dalam satu minggu.


"Aww…. Aduh… Radit terjatuh dengan keras. Dokter dan perawat yang menjaga di sampingnya segera berhamburan membantu Radit untuk berdiri. Kakinya belum mampu menopang berat tubuhnya yang kekar.


"Saya rasa latihan untuk hari ini cukup. Kita lanjutkan lain kali lagi." Dokter dengan baju serba putih itu menasehati.


"Satu kali lagi dok, saya pasti bisa!" Radit masih bersikeras untuk berlatih berjalan, meskipun kakinya sudah kesakitan. Radit berusaha untuk menapakkan kakinya, tangannya memegang pegangan yang disediakan untuk menyangga tubuhnya. Namun Radit kembali terjatuh dan membuat kakinya terasa ngilu.


"Kaki Pak Radit sudah sangat kelelahan, jadi sebaiknya Pak Radit istirahat dulu. Masih banyak kesempatan untuk berlatih di lain waktu. Jika Pak Radit terus memaksakan kaki Pak Radit untuk berjalan di luar kemampuan Pak Radit, itu hanya akan memperparah keadaan kaki anda." Dokter itu menjelaskan panjang lebar.


Akhirnya dengan sangat kecewa Radit menuruti perkataan dokter itu. Walaupun Radit ingin sekali cepat berjalan, namun ia harus menuruti nasehat dokter. Karena memang dokterlah yang paling tahu tentang perkembangan kesehatannya. Radit menghentikan latihan berjalannya. Radit duduk di kursi roda yang didorong oleh Aishah kembali ke ruang perawatan untuk beristirahat.


"Kak Radit harus sabar, lain kali Kak Radit pasti bisa!" Aishah terus mendorong kursi roda Radit menyusuri lorong rumah sakit.

__ADS_1


"Terima kasih ya sayang, sudah setia menemani dan merawatku." Radit menggenggam tangan Aishah lalu mendongak untuk melihat wajah istrinya itu.


"Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri kak. Aish akan selalu berdoa untuk kesembuhan Kak Radit. Aish berjanji akan selalu ada kapanpun dan dimanapun untuk Kak Radit." Aishah memeluk kepala suaminya itu dengan lembut. Radit dengan senang hati membalas pelukan dari istrinya itu dengan hangat.


__________________________________


"Kerja yang bagus!" Bella tersenyum bahagia sambil membaca laporan dari setumpuk berkas-berkas perusahaan yang baru saja diberikan oleh orang suruhannya. Kemudian Bella menyodorkan segelas minuman keras yang akan diteguknya bersama seorang lelaki berjas hitam yang telah berhasil melakukan tugas darinya dengan baik itu.


"Cheers" Suara dua gelas terdengar berdenting dengan merdunya.


"Berarti malam ini kita bersenang-senang kan sayang?" Lelaki berjas hitam itu memeluk tubuh Bella dari belakang, kemudian menyusuri leher Bella. Bella pun membalas pelukan lelaki itu.


Bella kini sedang berada di sebuah apartemen miliknya. Meskipun ada beberapa orang suruhan Bella di sana, Bella dan lelaki berjas hitam itu seolah tak memperdulikan keberadaan mereka. Dengan mesranya Bella dan lelaki berjas hitam itu berpelukan dan berciuman di depan mereka. Mereka tampak malu dan membuang pandangan mereka ke lain tempat seolah tak melihat adegan di depan mereka.


"Sekarang tinggal satu pr kita, yaitu menghabisi tua bangka itu. Tentunya setelah aku berhasil mendapatkan tanda tangan darinya." Tampak seringai di bibir Bella yang merah.


"Secepatnya, aku akan membereskan si tua bangka itu." Lelaki berjas hitam itu berkata dengan yakinnya.


"Aku sudah mendapatkan tanda tangan untuk menggantikan posisi Radit sebagai Wakil Presiden Direktur darinya, jadi jalan kita sudah terbuka lebar." Bella mengambil sebatang rokok yang tergeletak di atas meja.

__ADS_1


"Bagus sayang, kau memang paling pandai." Lelaki berjas hitam itu menyulut rokok yang berada di mulut Bella dengan korek yang dibawanya. Bella hanya tersenyum licik mendengar pujian dari lelaki itu.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke kantor sekarang. Kita lanjutkan party kita nanti malam." Lelaki berjas hitam itu menarik tubuh Bella hingga menempel di tubuhnya, kemudian mencium bibir Bella sebagai tanda perpisahan.


Lelaki berjas hitam yang tak lain adalah sekretaris Pak Banu itu pergi bersama beberapa anak buahnya meninggalkan Bella seorang diri di apartemennya. Diam-diam Bella dan sekretaris itu menjalin hubungan terlarang di belakang Pak Banu. Sekretaris itu memang memiliki wajah yang tampan dan usia yang masih muda. Usianya masih seumuran dengan Radit, pantas saja jika Bella mau berselingkuh dengannya. Apalagi mereka juga mempunyai tujuan yang sama, yaitu ingin memiliki seluruh harta kekayaan yang dimiliki oleh Pak Banu.


Sebentar lagi aku akan menguasai semua harta kekayaan si tua bangka itu. Hahahaha


Bella bergumam dalam hati. Lalu ia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur begitu saja. Bella terus menghisap rokoknya hingga habis. Sampai tanpa ia sadari, Bella tertidur dengan lelapnya di sana.


Matahari semakin menyingsing. Sinar teriknya mulai berubah menjadi hangat. Sang Surya pun hendak pulang ke peraduannya. Meninggalkan hiruk pikuk kota yang penuh dengan kepenatan. Semburat keemasan mulai tampak di ujung barat. Bella terbangun dari tidur lelapnya, ia mendapati dirinya tertidur di apartemennya seorang diri.


Matanya mulai menyusuri jam dinding yang terpasang dengan apik di ujung ruangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore hari. Bella tampak enggan untuk meninggalkan kenyamanan tempat tidurnya. Namun dengan berat hati Bella bangkit dari tempat tidurnya, lalu duduk di tepi ranjang sambil melihat pemandangan matahari sore yang tampak dari balik kaca apartemennya.


"Aku akan pergi ke spa untuk memanjakan tubuhku terlebih dahulu, sebelum aku mulai masuk kerja besok." Bella beranjak dari duduknya untuk mengambil tas dan kunci mobilnya. Kemudian Bella keluar dari apartemennya itu menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya.


Bella mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.


"Setelah aku berhasil mendapatkan tanda tangan si tua bangka itu, lihat saja aku akan membalas semua yang telah dilakukan Radit kepadaku." Bella tersenyum licik lalu bibirnya menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2