
Kirana berjalan dengan gusar. Kakinya terus dia seret menuruni anak tangga dengan selimut yang membalut tubuhnya. Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, Kirana tak henti-hentinya memaki Aishah di dalam hati. Dia merasa tidak terima dengan perlakuan yang dilakukan Aishah kepadanya.
Kenapa bisa jadi seperti ini sih! Rencana yang sudah kususun dengan matang, kini harus berantakan gara-gara Aishah pulang secara dadakan. Kupikir dia akan pulang nanti siang atau bahkan nanti sore.
Kirana terus mengumpat di dalam hati. Entah sudah berapa banyak sumpah serapah yang ditujukan kepada Aishah. Kirana benar-benar tidak tahu diri, bukannya merasa bersalah kepada Aishah malah terus mamaki Aishah.
Akhirnya setelah selesai mengepak semua pakaian dan barang-barangnya, dengan berat hati Kirana harus pergi meninggalkan rumah Aishah.
"Mungkin sekarang aku harus pergi dari rumah ini. Tapi itu tidak akan lama, karena Radit sudah menanamkan benihnya di dalam perutku. Tunggu saja kalian, sebentar lagi aku akan kembali ke rumah ini dan menguasai semuanya!" Kirana tersenyum licik lalu bibirnya menyeringai. Dengan menyeret kopernya, Kirana pergi keluar dari rumah Aishah.
__________________________________
Suasana di danau pagi ini sangatlah ramai. Wajar saja, karena ini adalah akhir pekan. Banyak dari orang-orang menghabiskan waktu liburan mereka berpiknik bersama dengan keluarga ataupun orang terkasih. Aishah melihat sekeliling danau. Ramai sekali tempat ini, pikirnya. Aishah duduk di tepi danau dengan hanya beralaskan rumput. Tampak di kejauhan perahu-perahu dengan penumpang dua sampai lima orang berenang mengarungi danau yang tenang.
Aishah melihat orang-orang yang tengah asyik bersenda gurau. Ada yang bersama dengan keluarga, teman-teman bahkan ada yang bersama dengan kekasihnya. Mereka tampak senang menikmati pemandangan hamparan danau yang luas di depannya. Ada juga mereka yang tengah berolahraga, dari yang lari pagi, senam, voli dan bersepeda. Tidak jauh dari danau memang terdapat tempat yang disediakan khusus untuk berolahraga.
Aishah termenung sendiri melihat air danau yang tampak tenang. Pikirannya benar-benar sedang kacau saat ini. Entah bagaimana lagi Aishah meyakinkan hatinya untuk dapat menerima Radit kembali di dalam hidupnya. Aishah menarik nafas dalam-dalam, membuangnya perlahan dengan mata terpejam. Dia mengulanginya hingga beberapa kali.
"Aish…" Dari kejauhan Aishah mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Dia merasa tidak asing dengan suara itu. Aishah menengok ke belakang mencoba mencari tahu, siapa orang yang memanggilnya tadi. Dan ternyata orang itu adalah Dokter Dariel. Namun, Dokter Dariel tidak datang sendiri. Dia bersama dengan wanita cantik yang tempo hari Aishah lihat bersama dengan Dokter Dariel di danau ini juga. Dokter Dariel memberitahukan kepada Aishah bahwa namanya adalah Viola.
"Dokter Dariel." Aishah melambaikan tangannya kepada Dokter Dariel. Dokter Dariel pun mendekat ke arah Aishah. Tampak keringat mengucur di pelipis Dokter Dariel. Rupanya Dokter Dariel dan Viola sedang berolah raga di sini.
"Hay, sedang apa kamu pagi-pagi bengong sendirian di sini? Mana Radit?" Dokter Dariel mencari keberadaan Radit, yang tak juga ditemukannya.
"Aku sendirian, aku sedang menenangkan pikiranku saja. Sepertinya kalian sedang olah raga ya?" Aishah tersenyum kepada Viola. Dan Viola pun membalas senyum dari Aishah.
"Oh ya perkenalkan ini Aish, dia istri temanku Radit. Teman sekaligus pasien yang dulu sering kuceritakan kepadamu itu." Dokter Dariel memperkenalkan Aishah kepada Viola. Lalu Viola mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Aishah. Aishah pun dengan antusias membalas jabat tangan dari Viola.
"Viola, kami boleh duduk di sini?" Viola tersenyum kepada Aishah, lalu menunjuk tempat kosong di dekat Aishah.
"Silahkan." Aishah tersenyum manis kepada Viola.
Lalu Viola dan Dokter Dariel duduk di dekat Aishah.
"Aku pergi cari minum dulu ya!" Dokter Dariel berdiri dari tempat duduknya. Viola tampak tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Sudah lama di sini?" Viola menengok ke arah Aishah.
"Belum lama kok, aku baru sampai. Oh ya, kata Dokter Dariel kamu baru pulang dari luar negeri ya?" Aishah tampak menunggu jawaban dari Viola.
"Iya, baru satu minggu aku tinggal di sini. Sebenarnya aku tinggal di luar kota. Di sini aku hanya berkunjung ke tempat oma." Viola menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
__ADS_1
Viola mempunyai badan yang tinggi semampai, rambutnya lurus sepundak. Wajahnya sangat cantik, tampak putih dan bersih. Karena tidak ada jerawat yang hinggap di pipinya. Kulitnya putih dan mulus, sepertinya dia tipe wanita yang sangat memperhatikan penampilannya. Itu dapat dilihat dari cara dia berpakaian.
Walaupun sedang berolahraga, Viola tetap menjaga penampilannya agar tetap terlihat cantik dan menawan. Hidungnya yang kecil menghiasi bentuk mukanya yang tirus. Bibirnya juga mungil namun terlihat merah merekah dengan senyum yang sangat manis. Gigi-giginya sangat putih dan rapi dengan kelopak mata yang besar dihiasi bulu mata lentiknya. Pantas saja jika Dokter Dariel sampai tergila-gila dengan wanita ini.
"Dokter Dariel juga sempat bercerita katanya dirimu adalah seorang dokter ya?" Aishah mengernyitkan dahinya.
"Benar, aku adalah seorang dokter spesialis. Aku biasa menangani penyakit kanker dan tumor. Terakhir, aku menangani seorang pasien yang menderita kanker otak stadium akhir. Dan alhamdulillah, sekarang dia sudah pulih kembali." Viola tersenyum senang. Nampak di wajahnya menunjukkan kepuasan atas keberhasilannya itu.
Mendengar Dokter Viola berkata tentang penyakit kanker, mengingatkan Aishah kepada Aldi. Tiba-tiba Aishah merasa sangat rindu dengan teman lamanya itu. Dulu, jika Aishah sedang ada masalah, Aldi selalu ada untuknya. Selalu menghibur Aishah dan selalu memberi solusi atas masalah yang dialami Aishah. Tapi sekarang, Aishah tidak tahu harus bercerita kepada siapa mengenai masalah yang sedang menderanya.
"Wah Dokter Viola hebat dong! Pantas saja jika Dokter Dariel sangat mengagumi Dokter Viola." Aishah tersenyum kepada Viola. Tatapan Aishah menunjukkan rasa kagum atas prestasi yang diperoleh Dokter Viola.
"Ah tidak seperti itu juga Aish, jangan terlalu memujiku. Nanti bisa-bisa aku terbang ke atas langit loh." Wajah Viola tampak bersemu merah.
"Sepertinya Dariel bercerita banyak tentangku ya?" Viola mengalihkan pandangannya, kini dia menatap hamparan danau di depannya. Aishah hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap Viola.
"Sudah lama kami berteman. Bahkan bisa dikatakan kami adalah sahabat dekat. Dariel sangat baik kepadaku, bahkan aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Karena, ya memang aku tidak memiliki saudara, apalagi seorang kakak yang bisa melindungiku. Tapi kadang aku merasa takut kehilangannya, karena saat ini aku tengah dekat dengan seseorang." Tatapan Viola menerawang jauh ke hamparan danau yang luas.
"Apakah Dokter Dariel tidak pernah bercerita tentang perasaannya kepadamu?" Aishah mengernyitkan dahi.
"Memang bagaimana perasaan Dokter Dariel yang sesungguhnya kepadaku?" Viola menjadi penasaran.
"Ya tentang bagaimana perasaan Dokter Dariel yang sesungguhnya kepadamu? Aku juga tidak tahu yang sebenarnya, karena kami juga belum lama kenal." Aishah berusaha agar Viola tidak curiga dengannya. Bahwa dia tahu yang sebenarnya tentang perasaan Dokter Dariel kepada Viola.
"Yang kutahu selama ini dia juga menganggapku sahabat, yang lebih menjurus ke adik. Tapi yang lebih membuatku penasaran adalah, Dariel tidak pernah jatuh cinta kepada seseorang. Dia tidak pernah bercerita kepadaku tentang masalah asmaranya." Viola mengernyitkan dahinya, dia merasa sangat penasaran.
Karena wanita yang selama ini dicintainya adalah kamu Viola. Aishah bergumam dalam hati.
"Kalian sedang membicarakan apa, seru sekali sepertinya. Aku ikutan dong!" Suara Dokter Dariel membuat Aishah dan Viola diam seketika. Mereka tampak saling melempar pandang.
"Kenapa kalian malah diam sih? Atau jangan-jangan, kalian sedang membicarakanku ya? Hayo kalian mengaku!" Dokter Dariel menyelidik.
"Iya kami sedang membicarakanmu yang hanya membeli minum saja lama sekali." Viola mengambil botol minuman yang telah diminum Dokter Dariel lalu meneguknya tanpa permisi.
"Ya maaf, tadi antrinya banyak sekali. Malas kan aku jika harus keluar hanya untuk membeli air mineral." Dokter Dariel memberikan botol minuman yang lain kepada Aishah. Aishah menerimanya lalu meminumnya.
"Aish, kenapa Radit tidak ikut denganmu? Ini kan hari Minggu, memangnya apa yang dilakukannya di hari libur seperti ini?" Dokter Dariel tampak penasaran.
"Entahlah, mungkin dia sedang tidur saat ini." Aishah mengangkat kedua bahunya.
"Kamu ini bagaimana, sebagai istri kan harusnya sudah hafal dengan perilaku suamimu. Radit itu jika terus dibiarkan akan ngelunjak orangnya." Dokter Dariel berusaha mengingat sikap Radit yang dulu.
__ADS_1
Aishah hanya terdiam, dia sedang tidak ingin membicarakan suaminya saat ini. Karena ketika Dokter Dariel mengucap nama Radit di depan Aishah, membuat hati Aishah kembali mengingat luka yang telah Radit torehkan begitu dalam kepadanya. Sebenarnya Aishah ingin bercerita kepada Dokter Dariel tentang masalah rumah tangganya dengan Radit. Namun, Aishah masih bimbang. Apalagi ada Viola bersama dengan mereka saat ini.
Dokter Dariel mulai bisa membaca sikap Aishah yang tidak biasa itu. Sepertinya Aishah sedang ada masalah dengan Radit. Pikir Dokter Dariel. Karena mata Aishah tampak sayu. Sepertinya tadi Aishah menangis. Apakah itu yang membawa Aishah ke mari sepagi ini. Dokter Dariel bertanya-tanya dalam hati.
"Apakah Radit berulah?" Tiba-tiba kata-kata itu muncul begitu saja di mulut Dokter Dariel. Seketika itu Aishah menengok ke arahnya.
"Apa yang telah diperbuat Radit kepadamu?" Dokter Dariel berbicara dengan nada serius.
Aishah belum mau angkat suara. Dia hanya menggeleng menghindari tatapan mata Dokter Dariel. Namun, Dokter Dariel tidak mudah dibohongi. Karena dulu dia adalah seorang psikolog, jadi dengan mudah dia dapat membaca sikap seseorang. Dokter Dariel melihat kesedihan yang mendalam dalam tatapan mata Aishah. Pasti ada masalah besar yang sedang mendera Aishah dan Radit.
"Berceritalah kepada kami jika kamu ada masalah! Kamu tidak perlu sungkan-sungkan. Aku sudah menganggapmu sebagai sahabatku sendiri seperti halnya Radit." Dokter Dariel menatap mata Aishah.
"Apakah karena aku, kamu tidak mau bercerita Aish? Kalau begitu aku akan pergi dulu." Viola sudah bersiap-siap untuk bangun dari tempat duduknya. Namun, Aishah mencegahnya.
"Tidak perlu Vio. Aku akan bercerita tentang masalahku kepada kalian. Karena saat ini sahabatku mungkin hanya kalian." Aishah memegang lengan Viola agar Viola duduk kembali di tempatnya.
Dokter Dariel dan Viola memperhatikan Aishah dengan seksama. Aishah menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan perlahan. Hatinya masih terasa berat untuk menceritakan pengkhianatan Radit kepada orang lain.
"Kak Radit berselingkuh dengan Kirana." Aishah menghentikan ucapannya. Sepertinya dia berusaha menahan gejolak dalam hatinya dengan sekuat tenaga. Dari sudut matanya terlihat ada genangan yang hampir menetes. Matanya mulai menganak sungai, yang mungkin sebentar lagi arusnya akan semakin deras membanjiri pipi mulus Aishah.
"Apa! Radit selingkuh? Dengan Kirana temanmu itu?" Dokter Dariel berusaha meyakinkan dirinya. Dia benar-benar tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Aishah. Aishah hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Tapi bagaimana bisa kamu mengetahuinya Aish?" Viola yang sebenarnya belum tahu dengan baik masalah yang dihadapi Aishah ikut angkat bicara.
"Tadi pagi aku baru saja pulang dari rumah Pakdhe yang berada di luar kota. Pakdhe baru saja operasi jantung, sehingga aku menginap di sana untuk beberapa hari. Tapi akhir-akhir ini, sikap Kak Radit kepadaku berubah drastis. Aku sengaja mengambil penerbangan paling pagi karena aku sangat penasaran apa yang membuat sikap Kak Radit berubah cuek kepadaku. Dan ketika aku membuka pintu kamarku, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Kak Radit sedang tidur seranjang dengan Kirana." Aishah tak dapat membendung air matanya lagi. Air mata Aishah pecah membuat pipi Aishah bergelimang air mata.
Viola memeluk Aishah dari samping, dia berusaha menenangkan Aishah. Tangannya membelai punggung Aishah dengan lembut. Dokter Dariel tampak sangat terkejut dengan perkataan Aishah.
"Dari awal aku memang sudah curiga dengan wanita itu. Tapi aku tidak berani menyampaikannya kepada kalian. Aku takut membuat hubungan persahabatan kalian rusak gara-gara dugaanku yang tanpa bukti." Dokter Dariel meremas tangannya dengan kuat.
"Tapi kenapa Radit tega berbuat seperti itu kepadamu Aish? Apakah ada alasan yang membuatnya berpaling darimu?" Viola mencoba mencari titik temu dalam masalah yang sedang dihadapi Aishah. Dulu Viola sempat mengenal tentang Radit.
"Sebenarnya Kak Radit bukan tanpa alasan berbuat seperti itu. Melainkan karena Kak Radit menganggap hubunganku dengan Dokter Dariel lebih dari sekedar teman biasa. Kirana sempat mengambil foto kita berdua ketika kita tidak sengaja bertemu di danau tempo lalu." Aishah mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Jadi Kirana membuat fitnah tentang kita, untuk melancarkan kelicikannya?" Dokter Dariel mulai terpancing emosi.
"Maaf Dokter, bukan maksud Aish ingin melibatkan Dokter ke dalam masalah Aish dan membuat Dokter Dariel marah." Aishah menundukkan kepalanya.
"Ini semua bukan salahmu Aish. Ini semua salah Kirana. Aku akan menjelaskan semuanya kepada Radit." Amarah Dokter Dariel mulai mereda.
"Aku tidak ingin membuat persahabatan kalian berdua renggang Dok, jadi biarlah ini semua menjadi urusanku dan Radit saja. Lagi pula, bukan hanya itu. Radit juga mempunyai alasan yang lebih kuat untuk berpaling dariku." Aishah mulai terisak, dadanya terasa sangat sesak.
__ADS_1