Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Positif


__ADS_3

Pukul empat dini hari, seperti biasanya Aishah sudah bangun. Setelah sholat subuh Aishah membantu Mbok Minah memasak di dapur. Untuk masalah memasak kini diserahkan kepada Aishah. Akhir-akhir ini Aishah memang sudah tidak bekerja lagi. Hampir dua bulan sudah Aishah resign dari pekerjaanya. Dan itu membuat Radit sangat bahagia, karena impiannya tentang seorang istri telah terwujud.


Kini Aishah tinggal di rumah. Mengurus keperluan rumah. Semua tanggung jawab rumah diserahkan sepenuhnya kepada Aishah. Bukan cuma Radit yang merasa senang karena Aishah sudah tidak bekerja di kantor lagi. Tapi Mbok Minah juga sangat senang, karena pekerjaannya menjadi terbantu. Selain urusan masak yang sepenuhnya sudah menjadi tanggung jawab Aishah. Aishah juga sering membantunya bersih-bersih dan menyiram tanaman. Masakan buatan Aishah sangat lezat membuat Radit selalu ingin makan masakan dari tangan istrinya sendiri.


Sejak kecil Aishah memang sudah terbiasa hidup rajin dan mandiri. Sepertinya Aishah tidak bisa jika hanya berpangku tangan saja. Pekerjaan rumah tangga bahkan sudah menjadi kebiasaan Aishah sejak kecil.


Tidak seperti biasanya, hari ini Aishah tidak cukup bersemangat. Aishah merasa kurang enak badan, badannya terlihat pucat dan lemah. Setelah selesai memasak, Aishah bersama dengan suaminya menikmati sarapan pagi mereka. Radit terus memperhatikan sikap Aishah yang tidak seperti biasanya.


"Sayang, apa kamu sakit?" Tanya Radit kepada Aishah ketika melihat Aishah mengambilkan nasi ke piringnya.


"Enggak kok sayang, rasanya badanku lemes aja." Aishah menaruh nasi di piring Radit dan beberapa lauk pauk.


"Tapi wajahmu terlihat pucat, apakah Aish pusing?" Radit nampak memeriksa kening Aishah dengan punggung tangannya.


"Aku enggak apa-apa kok sayang. Enggak usah khawatir gitu." Aishah tersenyum kepada suaminya lalu memakan suapan pertama.


"Hoek…. " Aishah menutup mulutnya lalu berlari menuju kamar mandi.


"Kamu bilang enggak apa-apa, tapi kenapa ini muntah-muntah? Ayo kita ke dokter sekarang." Radit memijat tengkuk Aishah.


"Tapi Kak Radit kan harus ke kantor pagi ini? Apa tidak sebaiknya nanti setelah Kak Radit pulang dari kantor saja?" Aishah sudah mulai merasa baikan.


"Apa! Jangan gila. Tidak bisa, aku bisa kehilangan pekerjaanku, tapi tidak bisa jika harus kehilanganmu." Radit mulai menaikkan nada suaranya.


Memangnya Kak Radit pikir aku sudah sakit parah dan akan mati apa. Gumam Aishah.


"Sepertinya Aish cuma masuk angin sayang." Aishah tersenyum lalu memegang pipi suaminya.


"Tidak bisa, kamu harus ke dokter sekarang. Aku tidak bisa menunggu lagi ayo kita berangkat sekarang." Radit keluar dari kamar mandi sambil menggandeng tangan Aishah.


Kenapa sih Kak Radit, kenapa jadi secemas ini. Paling juga aku cuma masuk angin.


Aishah terus bergumam dalam hati.

__ADS_1


Akhirnya Aishah menuruti kemauan suaminya itu. Selama menjadi istri Radit, Aishah memang tidak pernah melawan apapun yang dikatakan oleh Radit. Radit segera masuk ke dalam mobil bersama Aishah, lalu melesat menuju klinik terdekat. Di sepanjang perjalanan, Radit tampak sangat cemas. Dan tak beberapa lama, mobil Radit sudah terparkir di area parkir sebuah klinik.


Radit dan Aishah masuk ke dalam klinik bersama. Setelah mengambil nomor antrian, mereka menunggu di kursi tunggu. Bahkan Radit lupa dengan urusan kantornya, yang pagi ini akan mengadakan meeting di luar kota. Suara dering ponsel terdengar.


"Halo." Radit mengangkat teleponnya. Radit bangkit dari tempat duduknya.


"Selamat pagi pak, saya ingin mengingatkan bahwa pagi ini bapak akan ada meeting di luar kota." Terdengar suara sekretaris Radit di seberang telepon.


"Astaga iya aku lupa." Radit menepuk jidatnya."Kamu wakili kedatanganku, Aku sedang di klinik dengan istriku sekarang. Istriku sedang sakit jadi aku tidak mungkin meninggalkannya." Radit kembali duduk di samping istrinya.


"Baik terimakasih." Radit menutup teleponnya.


"Ada apa sayang?" Aishah nampak penasaran.


"Urusan kantor." Radit meletakkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Nomor antrian 8." Salah seorang perawat memanggil nomor antrian yang dipegang Aishah. Merasa telah dipanggil Aishah dan Radit segera masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Radit masih terlihat cemas.


Setelah diperiksa oleh dokter, Aishah dan Radit duduk berseberangan dengan dokter yang memeriksa Aishah tadi.


"Tenangkanlah dulu diri Pak Radit karena bu Aishah tidak sedang sakit apapun saat ini." Dokter wanita itu tampak tersenyum manis.


"Lalu, kenapa istri saya pucat dan muntah-muntah dok?" Radit masih penasaran, karena belum percaya dengan perkataan dokter wanita itu.


"Itu wajar saja bagi seorang ibu yang sedang mengandung usia muda." Dokter itu menjelaskan.


"Maksudnya dok?" Radit dan Aishah hampir bersamaan.


"Selamat Pak Radit dan Ibu Aishah karena kalian akan menjadi seorang ayah dan ibu." Dokter itu memberi selamat dengan menyalami Aishah dan Radit bergantian. Aishah dan Radit hanya saling memandang dengan bibir yang terus menyunggingkan senyum.


"Jadi maksud dokter kita akan mempunyai anak?" Radit masih kaget saking senangnya. Bahkan Radit tidak menduga akan memiliki anak secepat itu.


"Iya, Ibu Aishah positif hamil. Dan sekarang sedang mengandung usia lima minggu, jadi ibu harus lebih ekstra hati-hati dalam menjaga kandungan ibu. Karena di usia kandungan yang masih muda ini masih sangat rentan." Dokter menjelaskan panjang lebar sambil tersenyum.

__ADS_1


"Yang terpenting jaga pola makan dan istirahat. Jangan bekerja terlalu keras dan jangan sampai stres." Dokter wanita itu menambahkan penjelasannya.


"Baik dok, kami pasti akan menjaganya dengan baik." Aishah mulai buka suara dengan wajah yang berseri-seri.


"Kalau begitu terima kasih dok." Radit bangkit dari tempat duduknya dan menyalami dokter itu. Aishah mengikuti langkah Radit.


Radit menuju tempat parkir lalu menancapkan gasnya. Hatinya kini sangat bahagia.


"Sayang, sebentar lagi kita akan memiliki anak?" Radit menggenggam tangan Aishah, namun dengan mata tetap fokus ke depan.


"Iya sayang, aku sangat bahagia dengan kabar ini. Aku akan memberi kabar keluargaku. Mereka pasti akan sangat senang jika mendengarny." Aishah mengambil ponsel di dalam tasnya lalu menghubungi budhenya.


"Halo, assalamu'alaikum budhe."


"Walaikum salam Aish, bagaimana kabarmu dan suamimu? lama tidak menelpon budhe." Terdengar suara Bu Sekar dari Seberang telepon.


"Alhamdulillah sehat budhe. Oh ya Aish ada kabar gembira."


"Apa Aish?" Bu Sekar tampak penasaran.


"Aish hamil budhe, dan kini usia kandunganku lima minggu."


"Alhamdulillah, selamat! Aish jaga kandungannya baik-baik. Jaga kesehatan, jangan sampai kecapekan."


"Iya budhe. Ya sudah Aish memberi kabar kepada keluarga di kampung dulu. Assalamu'alaikum." Aishah menutup teleponnya.


Lalu Aishah menelpon ibunya. Ibunya sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Aishah.


Hari ini Radit memutuskan untuk tidak masuk ke kantor. Radit ingin seharian bersama dengan Aishah. Karena Aishah sedang mengandung, Radit akan dengan senang hati menuruti semua permintaan istrinya itu. Bahkan Radit memperlakukan Aishah seperti ratu saja, yang apa-apa dilayani dan dituruti. Sepertinya semua perlakuan itu membuat Aishah merasa risih.


"Sayang, Aish bisa melakukannya sendiri." Aishah mencoba meminta sendok dari tangan Radit yang dari tadi menyuapinya.


"Enggak apa-apa sayang, aku seneng kok ngelakuinnya untuk kalian." Radit mengelus perut Aishah yang masih rata.

__ADS_1


"Terima kasih sayang." Aishah memegang perutnya.


__ADS_2