Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Bermanja-manja


__ADS_3

Hari mulai terang, matahari mulai naik memancarkan kehangatan. Semua orang mulai riuh dengan aktifitas sehari-harinya. Mereka hampir memenuhi jalanan kota membuat badan jalan berdesakan dan macet. Udara yang segarpun kini telah bercampur debu dan polusi. Klakson kendaraan berbunyi di sepanjang jalan yang dipenuhi dengan kendaraan yang padat merayap.


Namun berbeda dengan Aishah, pagi ini Aishah masih berkutat di bawah selimutnya yang hangat. Nampaknya tubuhnya enggan untuk meninggalkan kenyamanan tidurnya. Aishah merasa sangat malas untuk bangun. Sepertinya itu bawaan dari perutnya. Karena biasanya Aishah tidak pernah seperti itu. Bahkan dulu ketika libur kerjapun Aishah tak pernah bermalas-malasan untuk mengerjakan pekerjaan rumah.


Radit yang baru saja selesai mandi, nampak keluar dari kamar mandi. Radit melihat sikap istrinya yang tidak biasa itu, tapi Radit memakluminya dan hanya geleng-geleng kepala. Karena Aishah sedang mengandung anaknya. Radit memang sudah membaca beberapa artikel tentang kehamilan, jadi sedikit banyak ia telah tahu bagaimana kondisi yang akan dialami oleh ibu hamil. Bahkan kini Radit tidak menyuruh Aishah untuk memasak lagi.


Radit menghampiri istrinya yang masih terbalut selimut itu lalu mengecup keningnya. Aishah hanya tersenyum.


"Pagi ini aku akan berangkat ke kantor, apakah kamu tidak apa-apa jika kutinggal di rumah?" Radit duduk di sebelah Aishah. Aishah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memeluk pinggang Radit.


"Kak Radit tidak pulang malam kan?" Sepertinya ada nada enggan di dalam suara Aishah untuk ditinggal kerja suaminya itu.


"Tidak, aku pulang jam 4. Aku akan selalu pulang awal sekarang. Aish tenang saja. Kalau ada yang Aish butuhkan bilang saja kepada Mbok Minah. Nanti biar Pak To yang mencarikan keluar. Ingat! Aish jangan keluar rumah sendiri. Jaga debay kita dengan baik." Radit membelai perut Aishah lalu menciumnya.


"Hoek…. hoek…" Aishah menutup mulutnya lalu duduk di tepi tempat tidur.


"Kamu masih mual-mual sayang?" Radit mulai tampak cemas. Radit mendekatkan wajahnya ke wajah Aishah yang menunduk.


"Hoek…. hoek...hoek… " Mual-mual Aishah semakin parah. Aishah berlari menuju kamar mandi. Radit yang semakin cemas mengikutinya dari belakang.


"Jangan mendekat!" Aishah mengangkat tangannya, pertanda memberi instruksi kepada suaminya untuk tidak mendekat.


"Kenapa?" Radit mengernyitkan dahinya merasa bingung.


"Kak Radit bau." Aishah memencet hidungnya.


"Apa! Aku bahkan sudah mandi dan memakai parfum. Bagaimana bisa aku bau?" Radit mencium kedua ketiaknya, memastikan perkataan Aishah tentang dirinya tidak benar.

__ADS_1


"Tapi bau badan Kak Radit membuatku mual. Jangan dekat-dekat!" Aishah mulai protes, Aishah menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya lalu keluar dari kamar madi.


Bagaimana bisa anakku tidak menyukai bau badanku yang wangi ini. Bahkan untuk mendekatpun aku tidak dibolehkan. Hey itukan anakku juga. Hey sayang lihatlah ayahmu yang tampan ini.


Radit terus menggerutu dalam hati. Dia merasa tidak terima dengan perlakuan istrinya itu.


"Apakah wanita hamil memang harus seperti itu? Huh mengesalkan sekali. Bahkan untuk bersalamanpun kini Aishah tak mau mencium tanganku." Radit terus ngomel-ngomel di sepanjang menuruni anak tangga.


Pagi ini Radit makan sarapan paginya sendiri. Karena Aishah tidak mau dekat-dekat dengannya.


"Mbok, sampai kapan Aishah tidak mau dekat-dekat denganku? Bahkan dia sangat benci dengan bau tubuhku." Radit mulai memakan suapan pertamanya.


"Ya memang seperti itu sikap orang yang sedang hamil mas. Apalagi Mbak Aishah kan sedang hamil anak pertama, jadi pasti sikapnya aneh-aneh. Mas Radit yang sabar saja. Semua itu kan bukan keinginan Mbak Aishah sendiri tapi bawaan dari bayi yang ada di dalam kandungannya." Mbok Minah menjelaskan panjang lebar sambil menuangkan air putih ke gelas Radit.


__________________________________


Radit duduk di kursi putarnya. Menandatangani beberapa berkas lalu memeriksanya kembali. Radit mewarisi sikap ayahnya yang ulet dan pantang menyerah, itu terbukti dari sudah banyaknya cabang perusahaan yang berhasil ditanganinya. Bahkan perkembangannya sangat pesat.


Waktu makan siang telah tiba. Radit mencoba merogoh ponsel di dalam saku celananya. Radit ingin mendengar perkembangan janin yang ada di perut Aishah. Karena dari tadi pagi Radit tidak menyentuh ponselnya sama sekali. Namun, ternyata baterainya habis. Radit mencoba menghidupkannya beberapa kali, namun tetap tidak bisa dihidupan. Setelah mengisi daya pada ponselnya, Radit baru bisa membuka ponselnya. Ternyata banyak panggilan masuk dari Aishah.


"Halo sayang ada apa?" Radit menelpon Aishah setelah mendapati beberapa notif panggilan masuk dari Aishah.


"Sayang aku ingin makan nasi goreng." Aishah mulai merengek. Kini usia kandungan Aishah sudah mencapai dua belas minggu. Semakin hari perut Aishah semakin terlihat huncit. Bahkan Aishah menjadi semakin manja.


"Baik, aku akan memesankan nasi goreng untukmu. Tunggu sebentar ya ssyang." Radit hampir mematikan teleponnya.


"Enggak mau, Aish maunya Kak Radit sendiri yang membuatkannya untukku." Aishah semakin merengek.

__ADS_1


"Maksudnya, aku harus memasak?" Radit kaget setengah mati. Bahkan seumur-umur ia belum pernah memegang wajan penggorengan. Apalagi untuk memasak.


"Iya sayang. Kak Radit enggak mau ya? Ini kan permintaan debay kak. Memangnya Kak Radit enggak sayang sama kita?" Aishah mulai mengeluarkan jurus andalannya yang membuat Radit tak bisa berkutik lagi.


"Buka begitu sayang,jangan ngambek dong. Tapi aku kan enggak bisa masak. Nanti bisa-bisa aku malah meracuni kalian." Radit mulai membela diri.


"Ya sudah kalau Kak Radit memang tidak mau. Itu artinya Kak Radit memang tidak menyayangi Aish. Hiks hiks. Padahal kan Kak Radit bisa melihat caranya di internet. Hiks hiks." Aishah mulai menangis pura-pura.


"Iya sudah baik aku akan pulang sekarang." Akhirnya Raditpun mengalah dan menuruti kemauan istrinya yang sudah tidak bisa di tawar itu. Bahkan ketika tengah malampun Radit rela mencarikan Aishah gado-gado demi jabang bayi yang dikandung Aishah agar tidak ngeces. Itu merupakan kosakata baru dalam hidup Radit yang dibuat oleh Aishah untuk menaklukkannya.


"Nah gitu dong dari tadi." Aishah menghentikan air mata buayanya itu.


Akhirnya Radit pulang dari kantor. Bukan hanya sekedar pulang untuk makan siang dan istirahat. Tapi Radit sengaja pulang lebih awal, menunda semua pekerjaannya hari ini jika memang tidak bisa diwakilkan oleh sekretarisnya. Semenjak Aishah hamil, Radit memang memprioritaskan urusan istrinya itu di atas segala-galanya, bahkan kepentingannya sendiri. Tapi Aishah masih saja merasa dinomor duakan. Maklumlah bawaan orang hamil memang aneh-aneh. Emosinya juga susah ditebak.


Sesampainya di rumah Aishah langsung menyambut kedatangan suaminya, karena memang sudah sejak tadi Aishah menunggunya di ruang tengah. Radit segera bergegas menuju dapur. Sepertinya Aishah sudah tidak sabar mencicipi masakan suaminya itu. Beberapa kali Aishah nampak memberi instruksi kepada suaminya yang sedang berjuang menciptakan nasi goreng layak konsumsi itu.


Dengan hati-hati Radit memasukkan bahan-bahan yang sudah diraciknya ke dalam penggorengan, sesuai arahan video yang tengah ia tonton langsung di internet. Bak koki profesional Radit mengenakan celemek dan topi khusus kokinya. Bahkan Aishah terlihat beberapa kali mengabadikan momen langka suaminya itu. Akhirnya setelah perjuangan panjang yang melelahkan, Radit berhasil membuat satu porsi nasi goreng ala-ala. Radit menyebutnya nasi goreng spesial ala chef Radit. Dengan bangganya ia menunjukkan hasil kerja kerasnya kepada istrinya yang sudah siap di meja makan.


"Selamat menikmati nasi goreng spesial ala chef Radit sayang." Radit meletakkan satu piring penuh nasi goreng di depan Aishah.


"Hmmm, baunya harum. Ayo kita makan bersama sayang, pasti Kak Radit sudah sangat kelaparan." Aishah mulai mencicipi nasi goreng buatan Radit dengan hati-hati. Karena walaupun bentuknya terlihat sangat lezat, tapi Aishah belum yakin dengan rasanya. Karena memang ini adalah masakan perdana suaminya.


"Wah enak sayang. Ayo buruan kita makan bersama. Itu artinya Kak Radit harus sering-sering masak untukku." Aishah tampak memakan nasi goreng buatan Radit dengan lahapnya.


Melihat Aishah memakan nasi goreng buatannya dengan lahap, akhirnya Radit ikut memakannya juga. Walaupun sebenarnya ia agak ragu dengan hasil masakannya sendiri.


Apa! kenapa asin seperti ini dibilangnya enak. Tapi biarlah yang penting Aishah dan calon anakku suka. Lumayan juga sih untuk masakan pertama.

__ADS_1


Radit bergumam dalam hati, sambil terus menjejalkan suapan nasi goreng ke dalam mulutnya. Rasanya memang ngalor ngidul untuk ukuran lidah normal. Tapu tidak untuk lidah Aishah, nampaknya Aishah menyukai masakan suaminya yang asin itu.


__ADS_2