Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Kecelakaan


__ADS_3

Radit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Keadaan jalan yang mulai sepi membuat mobil Radit melaju dengan bebasnya. Hati Aishah yang sedari tadi tidak tenang menjadi semakin gelisah.


"Kak, pelan-pelan saja. Aish takut." Keringat dingin mulai muncul di pelipis Aishah.


"Ini kan mobil sport sayang. Bukankah kamu sudah terbiasa dengan ini?" Radit menambah kecepatan laju mobilnya.


"Tapi Aish benar-benar takut kak." Tanpa alasan yang jelas Aishah semakin terlihat pucat. Sesekali Radit memperhatikan wajah Aishah di sela-sela mengemudinya.


"Aish sakit?" Radit menempelkan punggung tangannya di kening Aishah.


Tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada sebuah mobil boks yang berbelok kiri secara tiba-tiba. Radit yang tidak siap dengan itu merasa terkejut lalu menginjak pedal rem sekuat tenaga.


"Apa! remnya tidak berfungsi." Radit bergumam lirih. Radit mulai panik, kemudian ia membanting setir ke arah kanan jalan. Mobil yang dibawanya lepas kendali hingga menyerempet sebuah pohon besar yang berada di tepi jalan. Membuat mobil sport itu oleng dan hilang kendali. Radit mulai bingung harus berbuat apa, jika rem mobil tersebut tidak lagi bisa digunakan. Radit hanya bisa pasrah dengan tangan yang tidak lepas dari kemudi. Namun mobil yang dikemudikan Radit tak juga bisa dihentikan. Dengan sekuat tenaga Radit menginjak pedal rem yang sudah terputus itu berkali-kali, berharap remnya berfungsi dan mobil yang dikemudikannya bisa berhenti.


Namun mobil sport itu semakin liar, tangan Radit tak mampu lagi mengendalikan kemudi. Radit terus memutar setir dengan tenaga yang sudah hampir habis. Rupanya usahanya tak juga membuahkan hasil. Mobil sport itu terpontang-panting di jalanan yang sepi. Hingga pintu mobil itu terbuka dan membuat Aishah terlempar keluar. Mesin mobil itu terus saja bergemuruh tak mau berhenti. Mobil itu terus berputar-putar dan mengeluarkan asap tebal, hingga membentur tugu pembatas jalan dan masuk ke dalam jembatan yang cukup dalam.


Dengan penglihatan yang remang-remang, Aishah melihat mobil yang dikemudikan Radit berputar-putar tak tentu arah dan mengeluarkan kepulan asap tebal. Aishah mencoba mencari kesadarannya setelah terlempar keluar dari mobil untuk meminta pertolongan. Tapi apa daya, ketika Aishah terpental keluar mobil, Aishah mendarat di aspal dengan benturan yang keras di perutnya hingga ia berguling-guling. Perutnya yang mulai membesar itu terbentur aspal jalanan dengan kerasnya. Hingga membuat banyak darah mengalir di kakinya.


Aishah merasa pusing, penglihatannya mulai kabur dan menghilang. Aishah mencoba untuk bangun, namun perutnya terasa sangat sakit. Kakinya tak mampu lagi menopang badannya untuk berdiri. Semua tampak gelap, Aishah tak ingat apa-apa lagi dan Aishah pun kehilangan kesadarannya.


__________________________________

__ADS_1


Aishah mulai membuka matanya perlahan. Sinar lampu terasa silau menusuk matanya. Aishah mengerjapkan matanya, berusaha untuk tetap membuka matanya. Namun terpaan sinar lampu membuat matanya sakit. Butuh beberapa waktu untuk bisa melihat keadaan sekitar.


Setelah berhasil membuka matanya, Aishah melihat langit-langit kamar yang berwarna putih, cat dinding dengan warna hijau tosca dengan perpaduan gorden yang berwarna putih. Aishah mencoba mengingat apa yang baru ia alami. Aishah melihat keluarganya berkumpul mengelilingi tempat tidurnya. Ada Bu Sekar, Pak Joko, Arya dan Aryo yang tengah berdiri melihat keadaan Aishah.


Apa yang terjadi? Aku dimana?


Aishah bergumam dalam hati. Ia mencoba bangun dari tempat tidur, namun Bu Sekar mencegahnya.


"Jangan bangun dulu nduk." Bu Sekar menahan bahu Aishah, lalu membantunya untuk kembali tiduran.


"Apa yang terjadi budhe? Aish ada di mana?" Aishah mencoba mengingat kembali kejadian yang menimpanya.


"Aish ada di rumah sakit nduk." Bu Sekar mencoba menjawab dengan suara selembut mungkin, agar tidak membuat Aishah terkejut.


"Kenapa dengan kandunganku budhe?" Aishah mulai panik, ia terus meraba perutnya yang sudah rata.


"Aish yang sabar ya . . ." Bu Sekar tak dapat melanjutkan kata-katanya. Suaranya tertahan, lalu air mata perlahan jatuh membasahi pipinya yang sudah mulai keriput.


"Jawab Budhe, kandungan Aish kenapa? Kenapa perut Aish menjadi seperti ini?" Aishah tak dapat membendung air matanya lagi. Air matanya telah mengalir dengan deras membanjiri pipinya. Dengan susah payah, Aishah bangkit dari tidurnya lalu duduk dengan menangis tersedu-sedu. Bu Sekar segera memeluk Aishah yang mulai kehilangan kendali.


"Yang sabar nduk, yang kuat. Anakmu sekarang sudah tenang di alam sana." Bu Sekar mencoba memberikan semangat kepada Aishah yang sudah bermandikan air mata.

__ADS_1


"Kak Radit mana?" Aishah celingak-celinguk mencoba mencari keberadaan suaminya. Terakhir kali Aishah melihat Radit jatuh ke dalam jembatan bersama dengan mobilnya. Kini tangis Aishah pecah dan semakin histeris.


"Radit sekarang berada di ruang ICU, ia sedang ditangani oleh dokter." Pak Joko mulai mengeluarkan suaranya.


"Bagaimana keadaannya Pakdhe? Kak Radit tidak apa-apa kan?" Aishah sangat panik, hatinya sudah hancur dengan kehilangan calon anaknya. Dia tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya lagi.


"Dokter sedang menanganinya di dalam, Radit baru diketemukan satu jam setelah Aish berhasil dibawa ke rumah sakit." Pak Joko tampak dengan tenang menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Aishah.


Aishah semakin histeris, tangisnya semakin menjadi-jadi. Kini Aishah sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Jadi, walaupun Aishah menangis dengan keras pun, pasien lain tidak akan mendengarnya. Bu Sekar Pak Joko, Arya serta Aryo berusaha menenangkan Aishah yang sudah histeris.


"Istighfar nduk, istighfar… semua ini sudah diatur Gusti Allah." Bu Sekar mencoba menenangkan Aishah.


"Kak Aish harus kuat, Arya yakin Kak Radit pasti akan baik-baik saja." Arya menggenggam tangan Aishah lalu menatap mata kakaknya itu dengan lembut.


Aishah terus berada di dalam pelukan budhenya. Dan itu membuat Aishah mulai tenang, tangisnya berangsur-angsur mereda. Aishah terus beristighfar menyebut nama Tuhannya. Aishah mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Sesenggukannya kini mulai hilang. Dadanya yang sesak kini mulai membaik. Aishah mulai bisa menenangkan hatinya.


"Pakdhe akan cek keadaan Radit dulu. Kalian tetap di sini menjaga Aishah." Pak Joko melemparkan pandang bergantian kepada seluruh orang yang berada di dalam ruangan.


"Baik Pakdhe." Aryo menjawab dengan tegas. Diikuti anggukan kepala dari Bu Sekar dan Arya.


Pak Joko keluar meninggalkan ruangan. Sementara Aishah terlihat masih terpukul dengan keadaan yang dialaminya. Aishah tak henti-hentinya memegangi perutnya. Ia merasa sangat sedih karena harus kehilangan calon anak yang sangat disayanginya. Bu Sekar sangat mengerti perasaan Aishah saat ini.

__ADS_1


"Semua ini sudah menjadi takdir ilahi nduk, manusia boleh saja berencana, tapi tetap Allah lah yang menentukan segala hasilnya." Bu Sekar menghela nafas panjang.


"Budhe juga pernah mengalaminya nduk, mengalami apa yang Aish alami saat ini. Tapi Budhe mencoba untuk tetap tegar, kembalikan semua kepada Allah. Bahwa segala sesuatu itu berasal dari Allah dan akan kembali kepadanya. Kita sebagai hamba, hanya bisa berusaha dan berdoa. Yang terpenting jangan pernah putus asa, anggap semua ini adalah cobaan yang akan menjadikan kita manusia yang lebih tangguh dan beriman." Bu Sekar memberikan dorongan moral kepada Aishah, untuk meyakinkan Aishah tentang pembelajaran hidup.


__ADS_2