Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Dipijat


__ADS_3

Setelah Radit keluar dari dalam kamar, Aishah mulai bangun dari tempat tidurnya, membawa selimut yang masih membalut tubuhnya. Mengambil pakaiannya yang tercecer ke mana-mana lalu meletakkannya di keranjang cucian. Dengan susah payah akhirnya Aishah bisa menyeret kakinya sampai ke kamar mandi. Mandi membuat badannya lebih segar. Tiba-tiba ada suara yang keluar dari dalam perutnya.


Kriuk…. kriuk… Ternyata itu suara dari perut Aishah yang keroncongan. Aishah merasa lapar, tapi untuk berjalan ke bawah sepertinya butuh perjuangan ekstra.


Tok… tok… tok… Suara pintu kamar diketuk dari luar.


"Masuk saja, tidak dikunci." Aishah mengeraskan suaranya, agar orang yang di luar mendengarnya. Dan benar saja, setelah pintu terbuka, Mbok Minah berdiri di depan pintu sambil membawa nampan yang berisi sepiring nasi dan susu hangat.


"Saya disuruh Mas Radit, membawakan makanan ini untuk Mbak Aishah." Mbok Minah meletakkan nampan yang berisi makanan itu ke atas meja.


"Kata Mas Radit, Mbak Aishah sedang tidak enak badan ya?" Mbok Minah mendekat lalu mengamati Aishah. Kemudian Aishah tersenyum. Sebenarnya Aishah merasa malu dengan Mbok Minah karena tanda merah yang diberikan Radit masih bertebaran di mana-mana.


"Mbak Aishah makan dulu ya, biar saya ambilkan." Dengan cekatan Mbok Minah membantu mengambilkan piring yang diletakkan di atas meja.


Mbok Minah duduk di samping ranjang Aishah lalu memperhatikan Aishah yang mulai menyantap makanannya.


"Apa perlu saya panggilkan dokter, biar mbak Aishah diperiksa?" Mbok Minah tampak cemas.


"Tidak perlu Mbok, Aish cuma butuh istirahat saja kok, nanti juga baikan." Aishah menyantap makanannya dengan lahap.


"Baiklah kalau begitu. Kalau ada yang Mbak Aishah butuhkan, Mbak Aishah bisa panggil saya. Tidak usah turun ke bawah, nanti Mbak Aishah bisa menelepon telepon rumah yang berada di bawah." Mbok Minah mulai berdiri.


"Baik Mbok, terima kasih." Aishah tersenyum senang.


"Kalau begitu saya ke dapur dulu Mbak, masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan di bawah." Mbok Minah mengangguk sopan lalu pergi keluar.


Setelah seharian hanya berdiam diri di dalam kamar, sepertinya Aishah mulai merasa baikan. Seharian ini, ia hanya tidur dan menonton televisi. Aishah turun hanya untuk makan.


Pukul tiga sore, Radit sudah pulang dari kantor. Dan ia menepati perkataannya, Radit membawa beberapa orang tukang pijat wanita. Kebetulan tadi mereka bertemu di depan komplek perumahan. Radit dapat mengenali mobil mereka dengan cepat setelah melihat stiker yang menempel di pintu mobilnya.


Radit membuka pintu kamar perlahan. Terlihat Aishah sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.

__ADS_1


"Kak Radit sudah datang?" Aishah langsung bangkit dari sofa lalu menghampiri Radit. Mencium tangannya lalu membantu membawakan tas kerjanya. Radit melemparkan senyum manisnya. Lalu menarik tangan Aishah hingga tubuh Aishah jatuh di pelukannya.


"Baru beberapa jam saja kita tidak bertemu, rasanya aku sudah sangat rindu denganmu." Radit mendekatkan wajahnya ke wajah Aishah lalu mencium bibirnya.


"Aku sudah membawakanmu beberapa tukang pijat profesional, sekarang mereka sedang berada di bawah." Radit mulai melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Aishah.


"Apa! Tapi sekarang badanku sudah baikan Kak." Aishah menundukkan kepalanya, sebenarnya ia malu jika nanti tukang pijat itu melihat sekujur tubuhnya yang penuh dengan tanda merah.


"Mbok Minah bilang, seharian ini kamu hanya berada di dalam kamar, pasti badanmu sangat kepayahan sekarang, aku tidak mau nanti malam kamu masih pegal-pegal." Radit mulai tersenyum nakal.


"Tapi bagaimana dengan semua tanda ini Kak? Aku malu." Aishah tertunduk lesu.


"Biarkan saja, memangnya kenapa kalau mereka melihatnya? Kita kan pengantin baru, mereka juga pasti sudah paham."


Radit mulai melonggarkan ikatan dasinya lalu pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya. Pekerjaan di kantor yang menumpuk karena ditinggalnya cuti beberapa hari yang lalu, rupanya membuatnya sangat kelelahan. Aishah hanya bisa mematung melihat Radit yang berlalu. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi.


Setelah memakai kerudung, Aishah turun ke bawah.


"Selamat sore Mbak, mereka yang akan memijat Mbak Aishah." Ketika melihat Aishah menuruni anak tangga, Mbok Minah yang sedang mengelap almari mulai berjalan mendekati Aishah. Aishah menatap wajah-wajah asing di depannya lalu tersenyum. Melihat Aishah tersenyum, mereka berdiri lalu menganggukkan kepalanya sopan.


"Eh, baiklah. Kita naik ke kamar atas saja. Saya tunggu di atas." Aishah kembali menaiki anak tangga. Aishah ingin memastikan suaminya sudah selesai mandi atau belum. Setelah masuk ke dalam kamar, ternyata Radit sudah selesai mandi. Ia tampak sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sambil bermain dengan ponselnya.


"Kak, Aish akan pijat di sini saja." Aishah mendekati Radit.


"Mana tukang pijatnya?" Radit celingak-celinguk mencari tukang pijat di belakang Aishah.


"Mereka akan menyusul, tadi mereka baru menyiapkan peralatannya." Aishah mulai duduk di tepi ranjang.


Tak beberapa lama dua wanita tukang pijat itu datang. Salah satu dari mereka nampak membawa tas agak besar yang diselempangkan di pundaknya. Lalu wanita satunya mengetuk pintu yang sudah terbuka. Kemudian Aishah mempersilahkan mereka untuk masuk. Diliriknya suaminya yang masih duduk manis di sofa sambil asyik bermain dengan ponselnya.


"Kak, apakah Kak Radit mau di situ selama Aish dipijat?" Aishah mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Tentu." Radit menjawab dengan cepat tanpa bergeming sedikitpun dari tempatnya.


Ya sudahlah, biarkan saja dia. Toh Kak Radit juga sudah melihat semuanya dariku.


Lalu Aishah mulai menengkurapkan badannya untuk dipijat. Sebelumnya Aishah telah melepas bajunya dan menutupinya dengan selimut. Terlihat dua wajah tukang pijat wanita itu tampak saling pandang lalu tersenyum mencurigakan.


Biarlah, toh aku juga tidak mengenal mereka. Lagipula mungkin saat ini urat maluku sudah tidak ada.


Aishah terus bergumam dalam hati lalu menenggelamkan wajahnya di bantal.


Wah sepertinya dua pengantin baru ini benar-benar bertempur dengan keras. Sampai-sampai kehabisan tenaga. Bahkan wanitanya kini penuh tanda kecupan. Romantis sekali mereka.


Salah satu wanita tukang pijat itu bergumam sambil memijat badan Aishah.


Mereka benar-benar romantis. Baru malam kedua saja sudah remuk semua badannya. Tapi wajar saja sih, cowoknya gagah gitu, wanitanya juga sangat cantik lagi, duh jadi iri deh.


Wanita tukang pijat yang lain juga tak berhenti bergumam. Bahkan dia sampai senyum-senyum sendiri membayangkan dua pengantin baru itu. Sesekali wanita itu memandang ke arah Radit. Sepertinya mereka sudah menikah, jadi mengerti dengan baik masalah yang dihadapi pengantin baru.


Setelah dua jam, akhirnya Aishah selesai juga dipijat. Bahkan Aishah sampai ketiduran saking nyamannya. Terlihat Radit beberapa kali naik turun anak tangga untuk mengambil minuman dan makanan untuk dirinya sendiri.


Aishah mulai terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Setelah dipijat tadi, Aishah hanya mandi dan sholat lalu tidur dengan pulas. Aishah melihat Radit yang berada di sampingnya. Ia tampak bersandar dengan bantal dengan laptop di pangkuannya. Rupanya Radit sedang bekerja dengan laptopnya itu.


"Kak Radit belum tidur?" Aishah mulai duduk dan melihat jam di layar ponselnya yang telah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Aish belum makan malam kan? Ayo kita makan dulu, dari tadi aku menunggumu." Radit menutup laptopnya lalu menatap Aishah. Lalu Aishah mengikuti perkataan suaminya itu karena memang saat ini Aishah sangat kelaparan. Mereka berjalan menuruni anak tangga. Terlihat ruang dapur yang sudah sepi dengan lampu yang remang-remang. Radit mendekati tombol saklar lalu menghidupkan lampu dapur.


Ruangan di bawah sangat sepi karena penghuninya telah berpindah ke rumah belakang saat malam tiba. Mbok Minah dan Pak To tidur di rumah belakang yang dijadikan sebagai gudang. Gudang itu dilengkapi dengan satu kamar yang cukup luas. Mbok Minah dan Pak To merawat gudang itu dengan baik. Sehingga walaupun hanya sebagai gudang, tapi tetap bersih dan rapi.


Aishah mulai membuka kulkas, di sana sudah tersedia dengan lengkap sayuran dan bahan-bahan makanan yang bisa dimasak.


"Kak Radit mau makan apa? Biar Aish yang memasak." Aishah mencari-cari bahan masakan di kulkas.

__ADS_1


"Buatkan aku sesuatu yang lezat, tapi jangan lama-lama. Perutku sudah sangat keroncongan." Radit menarik kursi di meja makan lalu duduk disana.


Aishah mengambil telur dan beberapa sayuran. Aishah memutuskan untuk masak omelette agar cepat matang. Setelah matang Aishah mengambilkan nasi dan omelette tadi untuk Radit. Mereka berdua makan dengan lahapnya.


__ADS_2