
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Secepat Aishah mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk. Hatinya sedari tadi tak dapat diam, berlarian kian kemari, pikirannya melancong jauh ke negeri seberang. Ia tak habis pikir kenapa Aldi bisa setega ini padanya, tak pernah bertanya kabar sekalipun semenjak kejadian di cafe itu.
Apakah aku sudah keterlaluan kepada Aldi? Bahkan untuk sekedar membalas pesanku pun dia enggan.
Aishah bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motornya. Dari dalam tas terdengar suara dering ponselnya. Aishah mengambil ponsel dari tasnya kemudian mengangkat telpon yang masuk.
"Halo assalamualaikum Kak Radit."
"Wa'alaikum salam, Aish sudah pulang kantor?" Terdengar suara Radit dari seberang telepon.
"Sudah Kak, ada apa memangnya?"
"Aku mau ngajak kamu memilih gaun pengantin untuk pernikahan kita besok. Aku ingin kamu sendiri yang memilihnya, bisakan?"
Aishah berpikir agak lama, membiarkan Radit menunggu jawabannya dengan sabar di seberang telepon. Dia sangat penasaran dengan keadaan Aldi saat ini, namun di sisi lain ini adalah pernikahannya dengan Radit. Ia tak mau menyerahkan tanggung jawab tentang gaun pengantin begitu saja dengan calon suaminya itu. Akhirnya setelah berpikir cukup lama, Aishah mengurungkan niatnya untuk mengunjungi Aldi.
"Iya kak."
Aishah menutup teleponnya, kemudian pulang untuk menemui Radit. Di rumah, Radit sudah menunggu, akhirnya Aishah dan Radit pergi bersama untuk memilih gaun pengantin.
______________________________________________
Aldi menatap lekat-lekat langit-langit yang berada di atasnya, pikirannya melayang-layang entah ke mana. Aldi tengah berbaring di sebuah ruang perawatan di rumah sakit. Tangannya ditanami jarum infus sebagai asupan makanan setiap harinya. Karena makanan yang Aldi makan tak pernah bisa dicerna baik oleh tubuhnya. Ia selalu memuntahkan apapun yang masuk ke dalam perutnya. Bahkan berat badannya pun kini turun drastis.
Tak banyak yang bisa Aldi lakukan saat ini, hanya berbaring di pembaringan rumah sakit dan menelan pil-pil sebanyak mungkin. Entah apa yang masih bisa membuatnya bertahan sejauh ini. Karena sepertinya semangat hidupnya kini telah hilang. Cahaya kehidupan yang selalu terpancar terang di setiap hari-harinya kini semakin meredup. Bahkan mungkin hampir mati, kehilangan seseorang yang sangat ia cintai selama ini merupakan pukulan keras yang membuatnya kalah telak melawan penyakit ganasnya itu.
__ADS_1
Tubuhnya yang gagah, dengan otot-otot yang kekar tak mampu lagi menopang penyakitnya yang semakin menjalar ke seluruh tubuh. Badannya semakin pucat, bahkan seperti mayat hidup. Hanya dapat bertahan hidup karena alat-alat rumah sakit yang masih menempel di seluruh badannya. Rambut cepaknya kian lama semakin hilang, helai demi helai menghilang tanpa bisa ia hentikan. Kepalanya kini hampir botak tak bersisa.
Sebenarnya bukan penyakitnya yang membuat Aldi semakin kehilangan semangat hidup. Tapi hatinya yang kosong memaksanya untuk berhenti berjuang. Berhenti berusaha karena ia tahu, usahanya hanyalah sia-sia. Dan kini ia merasa hanyalah seonggok daging yang tak berdaya. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menerima semua dengan besar hati.
"Aldi, ada pesan WhatsApp dari Aishah. Apakah kamu mau membukanya?" Nenek tampak ragu untuk menyampaikannya.
"Benarkah?" Mata Aldi langsung berbinar-binar mendengar kata Aishah yang diucapkan Neneknya itu. Seketika Aldi mendongak dan meminta ponselnya dari tangan Nenek. Aldi membuka pesan yang masuk.
Praaang…
Terdengar suara benda pecah dengan cukup keras. Nenek yang terkejut, segera melihat ke arah Aldi. Terlihat dari sudut matanya ada yang menganak sungai. Aldi menjatuhkan ponselnya tepat di bawah kaki Nenek. Nenek mengambil ponsel di dekat kakinya itu lalu membaca pesan apa yang membuat cucunya sampai menjatuhkan ponselnya. Nenek terdiam sebentar lalu mencari kata-kata yang pas agar tidak membuat Cucunya semakin sedih.
"Aldi… masih banyak orang yang sayang padamu."
Nenek memegang bahu Aldi, nampak butiran kristal mengalir di pelupuk matanya yang sudah semakin keriput. Nenek berusaha mengusap air mata dengan tangannya. Tiba-tiba tangan Aldi meraih tangan Nenek lalu dengan susah payah Aldi meraih pipi Neneknya itu. Aldi berusaha menyeka air mata yang terus menetes di pipi Neneknya.
Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut Aldi. Kata-kata yang selama ini telah ditunggu-tunggu oleh keluarganya. Karena sifat keras kepala Aldi, keluarganya tak dapat lagi memaksakan kehendak mereka agar Aldi berobat ke luar negeri.
______________________________________________
Hari semakin sore, matahari sudah mulai kehilangan sinar teriknya. Nampak Aishah masih memilih-milih gaun yang akan digunakannya saat acara pernikahannya nanti. Seorang staff perempuan yang bekerja di butik tersebut, melayani Aishah dengan ramahnya. Ia mengambil satu kebaya lalu masuk ke dalam ruang ganti bersama Aishah. Aishah keluar dari ruang ganti diikuti staff perempuan tadi di belakang Aishah, sambil memegangi ujung kebaya yang menjuntai jatuh ke lantai.
"Bagaimana Kak?"
Aishah menggunakan kebaya panjang berwarna krem dipadukan dengan kain jarik berwarna coklat yang membalut kaki jenjangnya. Kerudung yang senada menghiasi kepalanya, semakin membuat wajah putihnya terlihat anggun. Radit nampak terpesona dengan kecantikan Aishah. Radit terdiam dengan sorot mata kagum, kata-kata pujian tak dapat lagi ia sampaikan. Hanya satu kata yang dapat mewakili hatinya Sempurna.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik."
Mendengar kata pujian yang keluar dari mulut Radit membuat Aishah nampak malu-malu. Wajahnya sudah bersemu merah, ia hanya senyum-senyum sendiri mendengar pujian dari Radit. Radit melihat-lihat kembali kebaya yang berjajar di sepanjang lemari kaca besar yang terpajang di depannya. Radit mengambil salah satu dari puluhan kebaya yang menjadi primadona butik itu. Radit menyerahkannya kepada Aishah.
Hari sudah gelap, Aishah dan Radit keluar dari sebuah butik dengan beberapa paper bag di tangan. Mereka sudah selesai memilih gaun pengantin yang akan digunakan saat acara ijab kabul dan resepsi nanti.
"Aish kita cari makan dulu ya?" Radit terdiam menunggu persetujuan dari Aishah.
"Tidak usah Kak, kita makan malam di rumah saja." Aishah menolak.
"Kebetulan juga, aku sekalian mau memberi tahu kepada keluargamu bahwa persiapan pernikahan kita sudah 100%. Jadi kita tinggal mempersiapkan diri kita saja."
"Wah Kak Radit benar-benar bekerja keras."
"Hehe ini kan juga untuk kita. Jadi aku akan mempersiapkan sebaik mungkin."
"Terima kasih ya Kak Radit." Aishah melemparkan senyum manisnya untuk Radit.
"Oh ya Kak, rencananya Bapak besok akan datang dari kampung, bersama Andini."
"Andini Adik bungsumu itu ya."
"Iya Kak." Aishah menatap Radit sambil masuk ke dalam mobil, Radit sudah bersiap di depan pintu mobil lalu membukakannya untuk Aishah.
"Sepertinya aku harus sering-sering berinteraksi dengan keluargamu agar lebih akrab."
__ADS_1
Akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam bersama di rumah Aishah.
Radit menutup pintu mobil lalu duduk di belakang kemudi. Aishah yang duduk di sampingnya terus saja menyunggingkan senyum manisnya. Sepertinya Aishah cukup senang hari ini. Mobil melaju keluar dari area parkir butik menuju rumah Aishah. Dengan cepat mobil melesat menuju hiruk pikuk ramainya kendaraan yang terus membunyikan klakson karena macet. Jam-jam pulang kerja dengan lelahnya badan memang membuat orang-orang tidak dapat mengendalikan kesabaran mereka dengan baik.