Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Kesiangan


__ADS_3

Sudah tiga hari Pak Joko menginap di rumah sakit. Akhirnya setelah pemeriksaan yang panjang, Pak Joko sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Aishah dan Bu Sekar sangat senang mendengarnya.


"Kenapa Kak Radit tidak membalas pesanku semalam? Kak Radit juga tidak mengangkat telepon dariku. Apakah dia ketiduran?" Aishah mengambil ponsel di dalam saku bajunya lalu mencari nomor telepon Radit di kontaknya. Aishah menekan tombol panggil, lalu terdengar nada sambung dari ponsel Radit.


Radit tak juga mengangkat telepon dari Aishah. Aishah semakin bingung dengan sikap suaminya itu. Tidak seperti biasanya Radit tidak membalas pesan apalagi tidak mengangkat telepon dari Aishah.


"Apa mungkin Kak Radit masih tidur ya?" Aishah menduga-duga hal yang paling baik dilakukan oleh suaminya.


Akhirnya Aishah memutuskan untuk mengirimkan pesan saja.


Aishah : Sayang, Pakdhe sudah pulang hari ini. Rencananya, aku akan pulang besok 😘


Aishah menunggu jawaban pesan dari Radit yang tak kunjung datang. Akhirnya karena tidak dibalas-balas, Aishah membantu budhenya untuk mengemasi barang-barang yang akan dibawa pulang hari ini. Aishah tidak memakai mobil, sehingga dia memesan taksi online untuk mengantarkan pakdhenya pulang.


Tidak lama kemudian, taksi online yang tadi dipesan oleh Aishah sudah menunggu di depan rumah sakit. Aishah beserta pakdhe dan budhenya segera naik ke taksi online itu untuk segera pulang. Setelah sampai di rumah, Aishah segera mengeluarkan barang-barang yang berada di bagasi untuk dibawa masuk ke dalam rumah.


Rumah pakdhenya tampak kotor, banyak dedaunan yang berjatuhan memenuhi halaman depan. Memang banyak pohon buah-buahan yang sengaja Pak Joko tanam di sekeliling rumahnya. Aishah membawa masuk semua barang-barang Pak Joko dan Bu Sekar. Selama ditinggal di rumah sakit, rumah ini memang tidak terawat. Karena memang tidak ada yang menghuni rumah ini. Hanya budhe yang sesekali pulang untuk mengambil baju ganti. Sehingga tidak ada waktu untuk membereskan rumah.


Lalu Aishah membantu budhenya untuk bersih-bersih rumah dan memasak. Hari semakin sore, namun Radit tak juga membalas pesan dari Aishah. Lalu Aishah mencoba untuk menelepon suaminya lagi. Aishah merasa khawatir ada sesuatu yang terjadi dengan Radit. Aishah menelepon beberapa kali namun, tak juga mendapat jawaban.


Ada apa dengan Kak Radit, kenapa tidak memberiku kabar sama sekali seperti ini Aku semakin khawatir saja.


Aishah berusaha mengusir semua kegelisahan yang dirasakannya. Aishah terus mencoba menghubungi suaminya itu. Namun usahanya sia-sia. Padahal tertera pada ponsel Aishah, bahwa status pada WhatsApp Radit sedang dalam keadaan online.


Setelah malam harinya, Aishah masih berusaha menghubungi suaminya itu.


Aishah : Kak Radit, aku besok akan pulang.


Karena tak juga ada jawaban, Aishah kemudian mengirimkan pesan lagi.


Aishah :Apakah Kak Radit marah denganku?


Dan akhirnya Radit mau membalas pesan dari Aishah juga.


Radit : Terserah!


Aishah membuka pesan dari Radit, dia merasa sangat bingung dengan sikap Radit yang tiba-tiba tidak ada angin, tidak ada hujan menjadi super cuek seperti ini.


Aishah : Kak Radit kenapa? Ada yang salah dengan Aish?


Radit : Aku tidak menyangka jika kamu berani bermain di belakangku.


Aishah : Maksud Kak Radit apa?


Tidak ada jawaban, Aishah terus menunggu pesan balasan dark Radit hingga larut. Namun, Radit tak juga membalas pesannya.


Aishah : Memang aku berbuat apa Kak?

__ADS_1


Aishah merasa sangat bingung. Radit menggantung kata-katanya begitu saja tanpa adanya kejelasan. Hingga menjelang pagi, Aishah tidak dapat memejamkan matanya.


Setelah sarapan, Aishah berpamitan kepada pakdhe dan budhenya untuk kembali ke rumah.


"Aish pulang dulu ya Pakdhe, Aish akan sering-sering datang kemari. Pakdhe cepat sembuh ya!" Aishah mengecup punggung tangan pakdhenya.


"Hati-hati ya Nduk, baik-baik sama Radit." Pak Joko menepuk bahu Aishah dengan lembut. Lalu Aishah menganggukkan kepalanya.


"Budhe, Aish pamit ya. Budhe jangan sedih lagi. Pakdhe pasti segera pulih kok. Maaf Aish tidak bisa lama-lama di sini." Aishah memeluk Bu Sekar.


"Iya Nduk, ndak apa-apa yang penting Aish selalu jaga kesehatan. Nurut sama suami. Jangan terlalu capek kerja, yang terpenting adalah kewajibanmu sebagai seorang istri harus selalu kamu utamakan. Titip salam untuk suamimu ya Nduk." Bu Sekar mulai tersenyum manis kepada Aishah.


Lalu Aishah pergi ke bandara menggunakan taksi online yang sudah menunggunya dengan setia.


__________________________________


Hari semakin terang, matahari sudah naik tinggi ke permukaan bumi. Sinar mulai masuk ke dalam kamar Radit yang masih gelap. Rupanya penghuni kamar ini belum juga bangkit dari persembunyiannya. Bantal, guling dan pakaian berserakan di mana-mana. Kirana tidur dengan mendekap erat tubuh Radit yang tanpa busana. Mereka hanya memakai selimut sebagai penutup badan.


Sepertinya kegiatan malam panjang yang mereka habiskan bersama benar-benar menguras habis tenaga mereka berdua. Hari sudah siang, namun mereka masih enggan untuk keluar dari hangatnya selimut yang membalut tubuh polos mereka.


Perlahan sinar matahari pagi yang menelusup masuk melalui gorden jendela yang tersingkap oleh angin menusuk-nusuk mata Kirana. Kirana mencoba membuka matanya, dia melihat Radit yang masih terlelap dalam dekapannya.


"Selamat pagi sayang." Kirana tersenyum lalu mengecup kening Radit dengan lembut, membuat Radit menggeliat.


"Emmm…." Radit melepaskan pelukannya dari Kirana. Lalu Radit kembali ke alam mimpinya.


Jadi Aishah yang menelepon Radit dari tadi. Haha kamu sudah kalah dariku sekarang Aishah. Jangan berharap mendapat belas kasihan dari suamimu lagi. Karena kini Radit sudah berada dalam genggaman tanganku.


Kirana membuat ponsel Radit tidak bersuara, agar Radit tidak terbangun dari tidurnya. Kemudian, Kirana kembali mendekap Radit dan terus menciumnya.


"Emmm, Aish…." Radit menggeliat, mata Radit masih dalam keadaan tertutup rapat. Namun, tangannya berusaha memeluk tubuh Kirana yang dikiranya adalah Aishah itu. Lalu Radit membalas ciuman yang diberikan Kirana dengan lebih banyak.


Cih, sial! Dia pikir aku Aishah. Tapi tidak apa lah yang terpenting aku sudah memilikimu saat ini. Dan sebentar lagi aku akan membuatmu membenci Aishah untuk selamanya.


Kirana memeluk tubuh Radit yang masih menutup matanya, kemudian mulai ******* bibir Radit dengan penuh nafsu. Dan terjadilah pertempuran pagi yang melelahkan bagi Kirana dan Radit.


Setelah selesai dengan kegiatan pagi mereka, Radit mulai bangun dari tidurnya. Radit membuka matanya, dia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Kenapa wanita ini bisa berada dalam satu selimut denganku!


Radit mencoba mengingat-ingat kejadian semalam dan pagi tadi. Setelah berpikir keras Radit baru sadar bahwa semalam Kirana datang ke kamarnya untuk mengantarkan makan malam untuknya. Dan pagi tadi Radit mengira bahwa wanita yang berada di sampingnya adalah Aishah. Namun, ternyata wanita yang dia ajak tidur adalah Kirana.


"Hey bangun! Dasar wanita tidak tahu diri!" Radit berteriak di dekat Kirana hingga Kirana langsung terbangun karena teriakannya.


Kirana mencoba mencari kesadarannya. Lalu melihat Radit yang sudah terduduk di dekatnya. Kirana pun ikut duduk dengan mendekap selimut.


"Ada apa sayang? Kenapa baru bangun tidur sudah berteriak-teriak?" Kirana berkata dengan suara serak khas bangun tidurnya.

__ADS_1


"Pergi kamu dari sini!" Radit mengacungkan tangannya ke arah pintu, mengisyaratkan Kirana untuk segera pergi dari hadapannya.


"Kenapa kamu masih kasar denganku, setelah kamu berhasil menikmati tubuhku?" Kirana mulai berkaca-kaca. Kirana terus mendekap selimut yang menutupi tubuhnya.


"Kita sudah melakukannya dengan kesadaran masing-masing, aku tahu kamu juga menyimpan rasa untukku." Kirana memegang wajah Radit.


"Jangan sentuh aku! Anggap saja tidak pernah terjadi apapun di antara kita." Radit menepis tangan Kirana dengan kasar.


"Apa! Jadi setelah kamu berhasil menikmati tubuhku, kamu mau lari dari tanggung jawab begitu?" Kirana mulai menangis.


"Kamu yang terus memaksaku untuk melakukannya. Kamu yang terus berusaha menggodaku, apakah itu salahku?" Radit menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Mas Radit, aku sangat mencintaimu. Apa yang sudah kita lakukan adalah bukti dari cintaku kepadamu." Kirana mendekap tubuh Radit dengan erat.


"Aku akan membantu Mas Radit untuk mengungkap perselingkuhan Aishah dan Dokter Dariel. Buktinya juga masih ada di dalam ponselku." Kirana menatap mata Radit yang penuh kekesalan.


Mendengar kata-kata Kirana membuat Radit bertambah kesal. Radit merasa sangat marah dengan Aishah.


"Ya sudah pergi sana dari kamarku! Bukannya hari ini kamu harus bekerja?" Suara Radit mulai melunak.


"Ini sudah terlalu siang untuk bekerja Mas." Kirana mengalungkan tangan Radit di lehernya. Kemudian Kirana membenamkan wajahnya di dalam dada Radit yang bidang. Kirana masih ingin bersama dengan Radit. Sehingga, dia berusaha menggoda Radit kembali.


"Aku harus bekerja, jadi pergilah dari hadapanku sekarang juga, sebelum aku berubah pikiran untuk berbaik hati padamu!" Radit melepaskan pelukan Kirana lalu berdiri dari tempat tidur. Radit berjalan menuju kamar mandi tanpa busana.


Kirana merasa kesal. Namun kekesalan Kirana segera terobati karena Kirana terus memandangi bahu Radit yang terlihat kokoh dari belakang itu sambil senyam-senyum sendiri. Lalu Kirana berganti melihat tubuhnya yang tanpa busana, dia membayangkan apa yang telah mereka lakukan bersama.


Setelah selesai mandi, Radit keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Dia melihat Kirana yang masih asyik bermain ponsel di atas tempat tidurnya.


“Hey kenapa kamu belum pergi juga dari sini!” Radit membentak Kirana, sontak saja membuat Kirana terkejut dan hampir menjatuhkan ponsel yang berada di tangannya.


“Mas Radit, mengagetkan saja. Aku masih betah berada di kamarmu yang nyaman ini. Kamarku di bawah tidak seluas dan senyaman di sini." Kirana kembali bermain ponselnya tanpa rasa takut sedikit pun.


Radit mendekati Kirana, kini dia sudah kehilangan kesabarannya. Radit mulai ambil tindakan. Ditariknya tangan Kirana hingga Kirana berdiri di samping tempat tidur.


"Mas Radit, aku tidak memakai baju tahu!" Kirana malah tersenyum senang.


"Siapa juga yang tertarik dengan tubuhmu itu, wanita murahan. Cepat pergi dari sini sekarang juga!" Radit menarik tangan Kirana agar segera pergi dari kamarnya. Kirana merasa kesal, lalu memunguti bajunya yang berserakan di lantai. Dengan sewot, Kirana memakai baju tidurnya yang dia punguti. Kemudian Kirana pergi keluar dari kamar Radit dengan kesal. Kirana membanting pintu kamar Radit dengan kerasnya.


"Aku benar-benar sudah gila telah meladeni wanita sialan itu." Radit membuka pintu lemari untuk mencari baju kerjanya.


Radit mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Lalu memeriksanya, ternyata banyak sekali panggilan dan pesan yang masuk. Radit membuka pesan dari Aishah, yang memberitahukannya tentang kepulangan pakdhenya dari rumah sakit. Juga tentang Aishah yang akan pulang besok.


Tapi Radit masih sangat marah dengan Aishah, jadi Radit membiarkan begitu saja pesan dari Aishah tanpa ingin membalasnya. Lalu Radit memeriksa pesan lainnya yang berasal dari sopirnya yang telah menunggunya di depan sejak tadi pagi. Sementara pesan yang lain berasal dari rekan kerjanya.


Setelah selesai berdandan, Radit turun untuk sarapan. Tapi berhubung hari sudah siang, bisa dikatakan bukan sarapan lagi melainkan makan siang. Sepertinya Kirana kembali tidur di kamarnya, karena dari tadi Kirana tidak menunjukkan batang hidungnya.


Kemudian setelah selesai makan, Radit berangkat kerja dengan sopirnya yang telah menunggunya lama di depan. Bibi tidak berani membangunkan Radit, sehingga sopirnya menunggunya dengan setia. Tampak Bibi membuatkan segelas kopi untuk menemani sopir Radit menunggunya hingga berangkat kerja. Sebenarnya Bibi juga merasa heran, tidak seperti biasanya Radit bangun kesiangan seperti ini. Tapi apa daya dia hanya seorang pembantu yang tidak berani bertanya kepada Radit.

__ADS_1


__ADS_2