
Dua bulan sudah sejak penangkapan Bella berlangsung. Aishah sudah berusaha mencari titik temu di dalam masalah pada hubungannya. Aishah selalu meminta kepada Radit untuk segera menceraikannya. Namun, dengan berbagai alasan Radit menolaknya. Bahkan Radit meminta bantuan Pak Banu untuk merayu Aishah agar mengurungkan niatnya untuk bercerai dengan Radit.
"Kak, Aish sudah tidak bisa mempertahankan hubungan kita lagi. Sekuat apapun kita mempertahankan hubungan ini semua hanya akan sia-sia. Pada akhirnya kita hanya akan sakit hati. Mau sampai kapan Kak Radit terus menyiksa hati Aish?" Aishah sudah tidak tahan lagi, dua bulan sudah Aishah berusaha mempertahankan hubungan pernikahannya. Selama dua bulan ini, tidak ada lagi keharmonisan dalam rumah tangganya.
"Kenapa sih Aish, kamu selalu meminta perceraian dalam rumah tangga kita. Aku tidak mau menceraikanmu karena kamu adalah wasiat dari Ibu kamu paham?" Radit membentak Aishah.
Malam itu, suasana di dalam kamar Radit dan Aishah begitu tidak nyaman. Bahkan terlalu sering pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Kekerasan yang dilakukan Radit kepada Aishah semakin merajalela. Bukan hanya kekerasan fisik saja. Namun, Radit juga sering melakukan kekerasan seksual. Karena perlakuan Radit yang kasar kepadanya, Aishah pernah mengurus perceraiannya seorang diri tanpa persetujuan Radit. Dan sampai saat inipun kasusnya belum juga selesai.
Aishah tidak tahu maksud Radit tetap bersikeras untuk tidak mau bercerai dengannya. Namun, Aishah tetap dengan pendiriannya untuk tetap ingin bercerai. Karena dia yang selalu menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh Radit.
Pagi ini Aishah akan melakukan cek up rutin di rumah sakit. Aishah juga sudah janjian akan bertemu dengan Dokter Dariel. Aishah ingin membicarakan tentang suaminya yang sering melakukan tindak kekerasan kepadanya. Namun, tiba-tiba Radit juga berlaku sangat lembut kepada Aishah bahkan seperti tidak pernah terjadi masalah apapun dalam rumah tangganya.
Sesampainya di rumah sakit, Aishah segera berkonsultasi dengan dokter kandungan. Dokter kandungan itu terus memberikan dukungan dan semangat kepada Aishah. Walaupun sudah beberapa bulan terakhir ini Aishah melakukan cek up rutin dan belum terlihat hasilnya. Aishah sempat ingin menyerah. Namun, dokter kandungan itu yang selalu memberi dukungan kepada Aishah untuk tetap bersabar dan tidak putus asa.
Setelah selesai cek up dengan dokter kandungan, Aishah segera bergegas mencari Dokter Dariel di ruangannya. Namun, Dokter Dariel tidak berada di ruangannya. Lalu Aishah bertanya dengan perawat yang kebetulan lewat di depan ruangan Dokter Dariel.
"Maaf Sus, Dokter Darielnya ke mana ya?" Aishah menunjuk ruangan Dokter Dariel.
"Oh Baru beberapa hari yang lalu Dokter Dariel pindah dari rumah sakit ini Bu." Perawat itu tersenyum kepada Aishah.
"Pindah? Pindah ke mana Sus?" Aishah mengernyitkan dahi.
"Setahu saya Dokter Dariel pindah tugas ke luar kota." Suster itu mengingat-ingat ke mana Dokter Dariel pindah tugas.
"Tapi kenapa Dokter Dariel pindah tugas? Bukankah beliau belum lama bertugas di sini?" Aishah masih saja penasaran.
"Saya juga kurang tahu Bu. Tapi semua itu atas permintaan Dokter Dariel sendiri." Perawat itu mencoba menjawab rasa penasaran Aishah. Aishah hanya terdiam, dia berpikir keras ke mana Dokter Dariel pindah tugas.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu." Perawat itu menundukkan kepalanya lalu pergi dari hadapan Aishah.
Pantas saja, sudah lama Dokter Dariel tidak pernah menunjukkan batang hidungnya. Aishah juga tidak pernah menghubunginya. Lalu Aishah mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya. Aishah mencoba menelepon Dokter Dariel, namun tak juga mendapat jawaban.
Aishah : Jadi Dokter Dariel sudah pindah tugas?
Tidak beberapa lama, Dokter Dariel pun membalas pesan dari Aishah.
Dokter Dariel : Iya Aish, maaf aku tidak memberitahumu. Sekarang aku bertugas di rumah sakit yang berada di luar kota.
Aishah : Jadi sekarang Dokter Dariel sedang berada di luar kota?
Dokter Dariel : Kebetulan saat ini aku sedang berada di rumah, masih ada data yang harus dilengkapi di sini.
Aishah : Jika tidak sedang sibuk, apakah Dokter Dariel bersedia bertemu denganku siang ini? Ada yang ingin aku bicarakan tentang Kak Radit.
Dokter Dariel : Tentu saja, anggap saja sebagai salam perpisahan. Hehe 😅
__ADS_1
Aishah : Terima kasih Dok, nanti makan siang kita bertemu di cafe X ya.
Aishah kembali meletakkan ponselnya ke dalam tasnya. Kemudian setelah tiba waktu nya makan siang, Aishah sudah tiba di cafe tempatnya janjian dengan Dokter Dariel lebih dulu. Tidak lama kemudian, Dokter Dariel pun muncul.
"Aish, sudah lama?" Dokter Dariel duduk di kursi depan Aishah.
"Belum kok Dok, baru saja Aish tiba." Aishah tersenyum kepada Dokter Dariel.
"Kamu sudah memesan makanan?" Dokter Dariel menatap Aishah.
"Belum Dok." Aishah menggelengkan kepala.
Lalu, Dokter Dariel memanggil salah seorang pelayan untuk mencatat pesanan makanannya. Aishah memilih menu yang sama dengan Dokter Dariel. Sambil menunggu pesanan mereka datang Dokter Dariel pun bertanya kepada Aishah.
"Memangnya ada apa dengan Radit?" Dokter Dariel menyelidik. Dia tampak penasaran dengan apa yang terjadi dengan Radit. Karena akhir-akhir ini dia sangat sibuk, sehingga memang dia tidak pernah berkomunikasi dengan Radit lagi.
"Kak Radit sekarang sudah berubah. Semenjak dia ketahuan selingkuh dengan Kirana, sikapnya menjadi berubah kasar. Dia sangat labil dengan emosinya. Dia sering berbuat kekerasan kepadaku. Namun, kadang Kak Radit juga berubah menjadi orang yang sangat baik. Bahkan terlalu baik. Aku jadi bingung sendiri, harus menghadapinya dengan cara apa. Aku sudah meminta untuk bercerai, tapi Kak Radit bersikeras menolaknya." Aishah terlihat sedih bercampur kesal.
"Jadi penyakit yang dulu sempat diidapnya kambuh lagi. Radit kembali menjadi Radit yang emosian lagi. Tapi apakah kamu serius ingin berpisah dengan Radit?" Dokter Dariel mengernyitkan dahi.
"Iya Dok, aku sudah tidak kuat lagi menghadapi perlakuan Kak Radit kepadaku." Aishah menundukkan kepalanya, Aishah sangat bersedih dengan keadaannya saat ini.
"Apakah Dokter bisa membantuku?" Aishah menunjukkan wajah memohonnya.
"Membantu apa?" Dokter Dariel mengernyitkan dahinya.
"Apa! Tapi apa yang bisa aku lakukan?" Dokter Dariel tidak yakin.
"Bantu aku bicara dengan Kak Radit. Dokter kan teman dekat Kak Radit. Yang paling tahu bagaimana sikap Kak Radit. Jadi Dokter pasti tahu bagaimana cara berbicara dengan Kak Radit." Aishah menundukkan kepalanya. Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya lepas dari cengkraman Radit yang menyakitkan.
"Apakah rumah tangga kalian benar-benar sudah tidak bisa diperbaiki lagi?" Dokter Dariel masih berusaha mencari celah untuk memberi kesempatan kepada pernikahan Aishah.
"Aku sudah menyerah Dok." Aishah sudah putus asa dengan pernikahannya.
"Baiklah aku akan mencoba membantumu, semampu yang aku bisa. Aku akan berbicara secara baik-baik kepada Radit." Dokter Dariel merasa prihatin dengan keadaan Aishah.
Tidak terasa makanan yang telah mereka pesan sudah dihidangkan oleh pelayan sejak tadi. Dokter Dariel dan Aishah pun segera menyantap makanan mereka. Ketika mereka sedang asyik menikmati makanan mereka, terdengar suara langkah kaki yang mendekati mereka dengan cepat.
"Jadi ini yang membuatmu ingin bercerai denganku?" Radit tiba-tiba muncul membuat Dokter Dariel dan Aishah terkejut. Radit menggebrak meja makan yang digunakan Dokter Dariel dan Aishah untuk makan. Sontak saja membuat semua pandangan mata para pengunjung di cafe tertuju kepada mereka.
"Berani-beraninya kalian berselingkuh di belakangku!" Radit sudah sangat emosi saat itu, Radit mencengkram kerah Dokter Dariel dengan kedua tangannya. Matanya sudah merah karena kemarahannya.
"Tenang dulu Dit, ini semua tidak seperti yang ada di dalam pikirkanmu." Dokter Dariel berusaha menenangkan emosi Radit.
"Kak Radit, kita tidak melakukan apapun, kita hanya makan siang bersama, itu saja." Aishah mencoba melepaskan cengkraman tangan Radit dari kerah Dokter Dariel. Namun, kekuatan Aishah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan Radit. Apalagi ditambah kemarahan Radit yang semakin menjadi-jadi. Aishah pun terpental ke belakang karena mencoba menahan tangan Radit. Hingga kepala Aishah membentur tepi meja.
__ADS_1
"Aduh…" Aishah memegangi keningnya yang terbentur tepi meja. Dokter Dariel segera melepaskan cengkeraman tangan Radit untuk menghampiri Aishah.
"Kamu tidak apa-apa Aish?" Dokter Dariel terlihat panik. Dari kening Aishah mulai keluar darah segar. Namun, tidak terlalu banyak.
"Menyingkir dari istriku!" Radit segera duduk di dekat Aishah untuk memeriksa kening Aishah. Radit melihat darah yang perlahan menetes dari goresan luka di kening Aishah. Radit mulai mencemaskan keadaan Aishah. Dia kuatir terjadi hal yang buruk dengan Aishah.
Namun, Aishah menyingkirkan tangan Radit dari keningnya. Aishah tidak mau di pegang oleh suaminya.
"Maafkan aku Aish, aku tidak bermaksud melukaimu." Radit memohon kepada Aishah.
"Aishah harus segera dibawa ke rumah sakit." Dokter Dariel menyarankan kepada Radit, agar segera bertindak.
Namun, tiba-tiba Kirana datang menghampiri mereka. Ternyata Radit dan Kirana sudah janjian untuk bertemu di cafe itu sebelumnya.
"Mas Radit!" Kirana datang lalu memegang lengan Radit.
"Apa-apaan kamu, menyingkir dariku!" Radit mengibaskan tangannya membuat Kirana jatuh ke belakang.
"Mas Radit! Aku sedang mengandung anakmu saat ini, jangan berbuat kasar denganku!" Kirana mengelus perutnya yang masih rata.
Sontak saja, semua mata memandang ke arah Kirana. Namun, Aishah tidak terkejut. Aishah sudah mengira ini semua akan terjadi. Sehingga Aishah tidak terlalu pusing memikirkannya. Justeru ini saat yang tepat untuk Aishah bisa mengurus perceraiannya dengan cepat.
Radit segera bangkit untuk menghampiri Kirana. Radit ingin menampar Kirana. Namun, Dokter Dariel segera mencegahnya.
"Sudah Radit, jangan berbuat kasar dengan perempuan, apalagi dia sedang hamil anakmu." Dokter Dariel memegangi tangan Radit.
"Aku tidak percaya kalau dia hamil anakku! Mana buktinya?" Radit menatap Kirana dengan tatapan tajam.
"Ada keributan apa ini? Maaf Pak Buk jangan berbuat keributan di sini. Kalian sudah mengganggu kenyamanan para pengunjung yang lain." Seorang security yang berbadan besar dan menyeramkan datang menghampiri mereka.
"Maaf Pak, kami akan segera pergi dari sini." Dokter Dariel berusaha meminta maaf dan berbicara baik-baik dengan security yang menyeramkan itu.
"Sudahlah Dit, ayo sekarang kita pergi dari sini. Sebaiknya kita bicarakan baik-baik masalah ini di rumahmu." Dokter Dariel membantu Aishah dan Kirana untuk bangun.
Dokter Dariel mengajak Radit, Aishah dan Kirana untuk segera keluar dari cafe tersebut sebelum mereka diseret oleh security berwajah seram tadi. Setelah sampai di luar, Dokter Dariel menghentikan langkahnya.
"Bagaimana dengan lukamu Aish? Kita harus segera ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengobati lukamu." Dokter Dariel memeriksa luka di kening Aishah.
"Tidak perlu Dok, ini hanya luka kecil saja kok. Aish tidak apa-apa. Nanti akan Aish obati setelah sampai di rumah." Aishah menggelengkan kepalanya.
"Iya luka seperti itu sih tidak apa-apa, tidak perlu dibesar-besarkan." Kirana ikut menimbrung.
"Diam kamu!" Radit membentak Kirana.
"Sebaiknya kita menyelesaikan masalah ini baik-baik dengan kepala dingin. Bagaimana kalau kita membicarakan masalah ini di rumahmu Dit? Aku sudah terlanjur terlibat dalam masalah kalian, jadi aku juga harus ikut menyelesaikannya. Aku tidak mau masalahku dengan kalian berlarut-larut. "Dokter Dariel memberi usul.
__ADS_1
Akhirnya mereka menuju rumah Aishah dan Radit. Aishah dan Radit mengemudikan mobilnya masing-masing. Sementara Dokter Dariel bersama dengan Kirana.