Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Bayangan Aldi


__ADS_3

Hari-hari Aishah kini disibukkan dengan usaha barunya. Aishah sengaja membuat dirinya sesibuk mungkin agar tidak sempat memikirkan kesedihannya. Aishah tidak mau kesedihan yang dirasakannya semakin berlarut-larut. Aishah bertekad untuk membuka lembaran baru dan melupakan masa lalu yang sudah menyakiti hatinya. Hari ini Aishah akan mengurus perceraiannya. Ini adalah sidang terakhir kasus perceraiannya.


Aishah berangkat ditemani dengan kedua adik kembarnya. Mereka sengaja meluangkan waktu mengambil cuti khusus untuk mendampingi kakaknya. Arya dan Aryo memang selalu kompak dalam membela kakaknya. Sudah beberapa kali sidang sebelumnya, Radit tidak pernah menghadirinya. Jadi jika hari ini Radit tidak hadir dalam sidang perceraiannya ini, prosesi persidangannya akan lebih cepat selesai.


Namun, ternyata Radit datang ke acara persidangan itu. Radit sengaja ingin menolak perceraian itu. Namun, kesalahan yang telah diperbuat Radit tidak dapat ditoleransi lagi. Sehingga dengan cara apapun Radit menolak, pihak Aishah masih lebih kuat. Akhirnya setelah sidang selesai, hakim memutuskan mereka resmi bercerai. Terlihat Radit sempat mengamuk karena tidak terima dengan hasil yang diputuskan oleh hakim. Namun, keributan itu segera dapat ditangani oleh pihak yang berwajib.


Setelah selesai dengan urusan perceraiannya dengan Radit, Aishah merasa lega. Dia sengaja menghindar dari Radit karena tidak mau hatinya kembali terluka lagi. Dengan paksa, Radit berusaha menemui Aishah. Namun, untung saja ada kedua adik kembarnya yang kini tumbuh menjadi pria-pria yang gagah dan pemberani. Dengan kekuatan yang mereka miliki, mereka berusaha selalu melindungi Aishah dari Radit. Arya dan Aryo sudah seperti bodyguard Aishah saja.


Akhirnya proses perceraian Aishah pun selesai. Kini sudah tidak ada lagi hubungan antara Aishah dan Radit. Aishah kembali pulang ke rumah. Namun, sebelum dia pulang, Aishah menyempatkan untuk berkunjung ke rumah ayah mertuanya untuk berpamitan. Aishah ingin berbicara secara baik-baik dengan Pak Banu. Aishah tidak ingin terjadi kesalahpahaman yang membuat hubungannya dengan Pak Banu menjadi tidak baik. Aishah tetap ingin menjaga tali silaturahminya dengan Pak Banu.


Walau bagaimanapun juga, selama ini Pak Banu selalu baik dengannya. Pak Banu tidak pernah berbuat buruk kepadanya.


"Assalamu'alaikum." Aishah mengetuk pintu rumah Pak Banu beberapa kali.


"Wa'alaikum salam."Seorang pelayan di rumah Pak Banu keluar membukakan pintu untuk Aishah.


"Maaf Non, ada yang bisa saya bantu?" Pelayan itu bertanya dengan sopan.


"Apakah Pak Banu ada di rumah saat ini? Aku ingin bertemu dengannya." Aishah bertanya dengan sopan.


"Oh kebetulan, Pak Banu baru saja pulang dari kantor. Maaf sebelumnya, dengan Non siapa ya?" Pelayan itu bertanya dengan ramah.


"Aishah." Aishah menjawab dengan cepat.


"Baik kalau begitu akan saya panggilkan Pak Banu terlebih dahulu. Silahkan menunggu di dalam." Pelayan itu mempersilahkan Aishah, Arya dan Aryo untuk duduk.


Aishah dan kedua adik kembarnya pun masuk ke dalam lalu duduk di sofa. Mereka menunggu kedatangan Pak Banu dengan sopan.


"Eh Aish. Sudah lama?" Pak Banu datang lalu duduk di sofa. Pak Banu tersenyum ramah dengan Aishah.


Aishah segera mengecup punggung tangan Pak Banu yang diikuti oleh kedua adik kembarnya.


"Aku mendengar, kamu akan bercerai dengan Radit ya?" Pak Banu terlihat sedih. Dia sepertinya enggan untuk bertanya masalah ini dengan Aishah. Namun, dia juga perlu tahu tentang perkembangan kasus anaknya. Karena jika bertanya dengan Radit hanya akan sia-sia.


"Iya Yah. Itulah sebabnya Aish datang ke mari. Aishah ingin meminta maaf kepada Ayah. Maaf selama menjadi menantu Ayah Aish bersikap kurang baik dan sopan dengan Ayah." Aishah menundukkan kepalanya di depan Pak Banu.


"Kamu tidak perlu meminta maaf kepada Ayah Aish. Justru harusnya Ayah yang meminta maaf kepada Aish karena ulah yang diperbuat Radit kepadamu sudah keterlaluan." Pak Banu merasa sangat kecewa dengan putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Semua sudah terjadi Yah, Aish juga sudah memaafkan semua kesalahan Kak Radit." Aishah tersenyum menjawab perkataan Pak Banu.


"Kamu memang wanita yang berhati baik Aish. Aku sendiri heran dengan Radit. Bagaimana bisa dia menyia-nyiakan wanita sebaik kamu." Pak Banu menggelengkan kepalanya. Aishah tampak tersipu malu. Wajahnya kini sudah merona merah.


"Aish mohon Yah, biarlah hubungan kita tetap seperti ini. Walaupun sekarang Aish sudah bukan istri dari Kak Radit lagi. Namun biarkan kita tetap menjadi anak dan ayah." Aishah memohon kepada Pak Banu.


"Tentu Aish, Ayah akan tetap menganggapmu sebagai anak perempuan Ayah. Tidak akan berubah sedikit pun." Pak Banu menepuk bahu Aishah dengan lembut.


"Andaikan waktu bisa diulang, tentu aku berharap kamu masih tetap menjadi menantuku Aish." Pak Banu menatap mata Aishah dengan lembut.


"Ini sudah menjadi jalan kehidupan Aish, Yah. Aish juga tidak bisa menghindarinya. Tentu tidak ada orang yang menginginkan perpecahan dalam rumah tangganya." Aishah menatap nanar keluar rumah melalui kaca jendela yang besar.


Lalu setelah meminta maaf dengan Pak Banu, Aishah memutuskan untuk segera pulang ke rumah pakdhenya. Badannya terasa sangat lelah hari ini. Aishah ingin segera beristirahat dan tidur dengan nyenyaknya. Aishah dan kedua adik kembarnya sampai di rumah hingga malam hari. Dan benar saja, Aishah langsung menuju kamar mandi untuk mandi air hangat. Badannya sudah terasa lengket semua. Mandi membuat Aishah merasa lebih segar. Lalu Aishah membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tidak lama kemudian, Aishah sudah tertidur dengan pulasnya sampai pagi.


Pagi harinya, Aishah akan melakukan cek up ke rumah sakit. Aishah akan berpindah rumah sakit sekaligus dokter kandungannya. Aishah berangkat menggunakan mobilnya. Sampai di rumah sakit, Aishah diperiksa oleh seorang dokter kandungan yang sangat ramah. Rumah sakit itu adalah rumah sakit tempat Dokter Dariel bertugas. Secara kebetulan, Aishah bertemu dengan Dokter Dariel di sana. Aishah juga melihat Dokter Viola sedang sibuk menangani pasiennya.


Mereka benar-benar kompak dalam bekerja, pikir Aishah melihat Dokter Dariel dan Dokter Viola bekerjasama dalam menangani pasiennya. Aishah menjadi merasa heran sendiri dengan Dokter Viola.


Memangnya lelaki seperti apa yang berhasil membuat Dokter Viola tidak membalas cinta dari Dokter Dariel yang begitu besarnya kepadanya.


Hingga akhirnya Aishah menemui Dokter Dariel yang baru selesai menangani pasiennya dan hendak makan siang.


"Selamat siang Dok." Aishah membawa nampan yang berisi makanan menghampiri Dokter Dariel. Membuat Dokter Dariel terkejut.


"Siang Aish, kamu di sini?" Dokter Dariel mendongak melihat ke arah Aishah.


"Boleh aku duduk di sini?" Aishah menunjuk tempat kosong di dekat Dokter Dariel.


"Oh tentu, silahkan." Dokter Dariel menarik kursi di sebelahnya agar Aishah bisa duduk di sana.


"Ada apa kamu datang ke rumah sakit? Kamu tidak sedang sakit kan?" Dokter Dariel melihat Aishah dengan tatapan menyelidik.


"Aku sedang sakit Dok." Aishah berpura-pura memegangi kepalanya yang tidak sakit.


"Sakit apa?" Dokter Dariel pun termakan bualan Aishah. Dia tampak cemas dengan keadaan Aishah.


"Sakit hati Dok. Sampai saat inipun belum sembuh." Aishah terkekeh.

__ADS_1


"Percayalah hanya ada satu obat yang bisa meyembuhkan sakitmu saat ini." Dokter Dariel melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda karena kedatangan Aishah.


"Apa itu Dok?" Aishah menjadi sangat penasaran.


"Kamu harus segera membukakan hatimu untuk lelaki lain. Dan kamu harus mencintai lelaki itu dengan sepenuh hatimu. Dijamin sakit hatimu itu perlahan akan sembuh dengan sendirinya." Dokter Dariel berkata dengan bijaknya.


Aishah hanya tertawa mendengar perkataan Dokter Dariel itu. Aishah tidak menanggapi ocehan Dokter Dariel dengan serius. Karena Aishah kini sudah tahu sikap asli Dokter Dariel yang suka bergurau.


"Baik Dok. Ini juga sedang otw. Tapi belum ada yang menyangkut di hati. Hehehe." Aishah kembali terkekeh.


Tiba-tiba Dokter Dariel hanya diam saja. Dia tidak lagi menanggapi kelakar Aishah. Aishah menjadi bingung sendiri. Ada apa dengan Dokter Dariel. Apakah ada yang salah dengan ucapanku, pikir Aishah.


"Dokter kenapa diam saja? Apakah ada yang salah dengan ucapanku tadi? Kalau ada yang salah, Aish mohon maaf ya Dok." Aishah menjadi merasa tidak enak hati.


"Tidak kok, tidak ada yang salah dengan perkataanmu. Hanya saja, apakah kamu melihat lelaki yang sedang makan bersama dengan Viola itu?" Dokter Dariel menunjuk lelaki yang sedang duduk bersama dengan Dokter Viola. Mereka tampak sedang menikmati makanan mereka.


Aishah memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Namun, lelaki itu membelakangi tempat duduk Aishah dan Dokter Dariel, sehingga Aishah tidak dapat melihat dengan jelas wajah lelaki itu. Aishah hanya bisa melihat punggung lelaki yang sedang duduk dengan Dokter Viola itu dari belakang. Aishah menjadi sangat penasaran dengan lelaki itu. Sepertinya lelaki itu bertubuh tinggi dan gagah. Aishah merasa mengenal lelaki itu, tapi Aishah segera mengusir perasaan itu.


Kenapa dari belakang dia mirip sekali dengan seseorang ya. Ah mana mungkin, itu pasti hanya perasaanku yang tanpa alasan saja.


"Memangnya dia siapa Dok?" Aishah semakin penasaran.


Belum sempat Dokter Dariel menjawab pertanyaan dari Aishah, salah seorang perawat berlari menghampiri meja makan mereka. Dia terlihat sangat panik.


"Dokter, mohon maaf saya harus mengganggu makan siang Dokter. Tapi pasien yang baru masuk ke dalam ruang UGD sekarang sedang membutuhkan bantuan anda. Pasien itu sangat membutuhkan penanganan anda saat ini juga." Perawat lelaki itu berkata dengan panik.


Tanpa memperdulikan makanannya lagi, Dokter Dariel segera berlari mengikuti perawat yang memanggilnya tadi. Bagi Dokter Dariel, pasien adalah hal yang terpenting. Dokter Dariel menjalankan tugasnya sebagai dokter dengan sangat baik dengan sepenuh jiwanya. Kemudian Dokter Dariel pergi meninggalkan Aishah seorang diri tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Kemudian Aishah melihat ke arah Dokter Viola dan lelaki yang bersamanya tadi. Namun, mereka sudah tidak berada di sana lagi. Aishah semakin penasaran saja dengan lelaki yang bersama dengan Dokter Viola tadi. Karena perasaannya dengan kuat mengatakan bahwa lelaki itu mirip sekali dengan Aldi. Namun, Aishah tidak mau terlalu berharap. Aishah tidak ingin membuat hatinya yang masih sakit tambah kecewa.


Apakah Aldi sampai saat ini masih hidup? Sebaiknya aku mencari tahu tentang Aldi. Aku akan mencari waktu yang pas untuk berkunjung ke rumah kakeknya.


Aishah terus bergumam dalam hati. Kini hati dan pikirannya terfokus kepada Aldi. Lalu Aishah memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena urusannya di rumah sakit ini sudah selesai. Ketika Aishah hendak mengambil mobilnya di tempat parkir, Aishah melihat lelaki yang mirip dengan Aldi kembali. Aishah berusaha mengejarnya. Namun, lelaki itu telah menaiki mobilnya dan berlalu pergi. Dengan cepat, Aishah masuk ke dalam mobilnya untuk mengikuti ke mana lelaki itu akan pergi.


Aishah sudah berhasil berada tepat di belakang mobil lelaki tadi. Namun, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menyeberang jalan tanpa memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang. Aishah hampir menabrak anak kecil tadi. Dengan cepat Aishah menginjak pedal rem, sehingga anak itu bisa lolos dari hadapan Aishah.


Aishah merasa lega karena tidak sempat menabrak anak kecil yang menyeberang jalan tadi. Namun, Aishah kehilangan mobil milik lelaki yang mirip dengan Aldi tadi. Aishah terus mencarinya, namun tak juga ditemukannya.

__ADS_1


__ADS_2