Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Rumah Baru


__ADS_3

Jarak antara rumah Aishah menuju rumah Radit yang berada di luar kota lumayan cukup jauh, sehingga memakan waktu yang cukup lama. Mereka menempuh perjalanan sekitar 4 jam, dengan satu kali istirahat untuk sholat ashar sekaligus makan.


Setelah empat jam perjalanan, akhirnya mereka mulai memasuki kawasan perumahan. Rumah Radit terletak di kawasan perumahan elit yang berada tepat di tengah-tengah kota. Sekitar 500 meter mereka berkeliling perumahan, akhirnya Radit menghentikan mobilnya di depan pagar rumah yang cukup tinggi. Terdengar beberapa kali Radit membunyikan klaksonnya. Lalu pagar rumah itu terbuka, terlihat seorang penjaga yang mengangguk pertanda memberi hormat kepada Radit dan Aishah.


Akhirnya mereka sampai juga di rumah Radit. Jam setengah tujuh, mereka baru sampai. Halaman depan Rumah Radit lumayan cukup luas, banyak pohon buah-buahan yang tumbuh di sana. Di sepanjang jalan masuk, mulai dari gerbang hingga garasi dipenuhi dengan bunga warna-warni yang tumbuh di sekeliling jalan. Rumah Radit sangat luas untuk ukuran Radit yang hanya tinggal sendiri. Setiap hari, ada 2 pelayan yang bertugas membersihkan rumahnya.


Aishah turun dari mobil, seketika pandangannya menyapu sekeliling halaman. Halamannya sangat rapi dan indah, pikir Aishah.


"Ayo masuk." Radit menggandeng tangan Aishah dan mengajaknya masuk.


Radit memencet bel di depan rumahnya, kemudian pintu dibuka oleh seorang pelayan wanita.


"Eh Mas Radit sudah datang. Ini pasti Istrinya Mas Radit ya, Mbak Aishah."


Wanita itu menganggukkan kepalanya di depan Radit dan Aishah pertanda sopan. Ia tersenyum dengan sangat ramah. Wanita yang sudah cukup umur itu biasa dipanggil Mbok Minah. Mbok Minah sudah bekerja dengan keluarga ini sejak pertama kali keluarga Radit pindah ke sini. Jadi Mbok Minah sangat dekat dengan Radit. Pak Tono dan Bu Minah adalah sepasang suami istri yang bekerja sebagai pelayan di rumah Radit. Mereka dikaruniai satu orang anak perempuan yang kini telah berkeluarga sendiri. Anak perempuan mereka tinggal cukup jauh bersama suaminya.


Radit memang sudah tidak tinggal bersama Ayahnya semenjak Ibunya meninggal. Ayahnya memilih untuk mengurus pekerjaan yang berbeda kota dan menetap di sana. Dan semenjak saat itu, hubungan ayah dan anak ini menjadi tidak harmonis lagi.


"Selamat datang Mbak Aishah, saya Mbok Minah pelayan di rumah ini. Kalau Mbak Aishah butuh bantuan, panggil Mbok Minah saja." Mbok Minah memperkenalkan dirinya dengan ramah.


"Mbok, urus barang-barangku di bagasi mobil, mintalah bantuan Pak To. Pak Tono yang merupakan suami Mbok Minah memang biasa dipanggil Pak To.


"Baik Mas." Mbok Minah segera menuju mobil Radit yang berada di depan garasi.


Lalu Aishah mengikuti langkah Radit menuju kamar. Kamar Radit terletak di lantai atas. Rumah ini terdiri dari dua lantai dengan empat kamar. Dua kamar di atas sebagai kamar Radit dan ruang kerja. Sementara dua di bawah sebagai kamar tamu dan kamar pelayan. Di balkon kamar Radit, terdapat taman kecil dilengkapi dengan sebuah sofa yang empuk. Di atas sini, Radit biasa menghabiskan waktu senggangnya untuk minum kopi. Dari sini pula bisa digunakan untuk melihat matahari terbit.


Setelah membuka pintu kamar, Radit langsung menjatuhkan dirinya di ranjang. Tubuhnya terlentang di atas tempat tidur.


"Capeknya…" Radit memejamkan matanya.


Aishah ikut duduk di tepi tempat tidur, di sebelah Radit terlentang.


"Mau Aish pijat?" Tampak Aishah menawarkan jasa pijat yang sebenarnya tak seberapa.


"Mau banget." Radit langsung menengkurapkan tubuhnya. Aishah mulai memijat dengan perlahan.

__ADS_1


"Hmmm enaknya…, kalau kaki sudah selesai lanjut badan ya. hehehe." Radit tertawa dengan renyahnya.


Tok… tok… tok…


Terdengar suara diketuk dari luar kamar. Aishah segera menghampiri pintu lalu membukanya. Ternyata di depan pintu sudah ada Mbok Minah dan Pak To yang tengah membawa koper Aishah dan Radit.


"Ini kopernya ditaruh mana mbak?" Mbok Minah.


"Masukkan ke dalam kamar saja mbok, nanti biar Aish yang beresin."


Lalu Mbok Minah dan Pak To membawa dua koper besar itu masuk dan meletakkannya di dalam kamar.


"Mau makan sekarang apa nanti Mbak? biar Mbok siapkan." Mbok Minah tampak menawarkan makanan.


"Nanti saat makan malam saja m


Mbok, kami tadi sudah mampir untuk makan kok. Aish mau mandi dulu biar seger." Aishah menjawab dengan sopan.


"Baik kalau begitu kami permisi dulu ya Mbak." Pak To pamit lalu keluar dari kamar, kemudian diikuti oleh Mbok Minah di belakangnya.


"Sepertinya Kak Radit tidur." Aishah mencoba melihat wajah Radit lebih dekat sambil melambai-lambaikan tangannya di di depan mata Radit.


Aishah beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah keluar dari kamar mandi, Aishah menghampiri Radit yang masih tertidur pulas.


"Sepertinya Kak Radit benar-benar kelelahan setelah perjalanan jauh tadi. Sebenarnya Aish juga tidak tega membangunkanmu Kak, tapi kita bahkan belum sholat magrib."


Akhirnya dengan berat hati Aishah membangunkan Radit dengan hati-hati.


"Kak bangun, mandi dulu. Kita belum sholat magrib." Aishah mengguncang-guncang tubuh Radit dengan hati-hati.


Radit mulai membuka matanya, lalu bangun. Setelah mandi, mereka akhirnya sholat berjamaah. Selesai sholat, mereka menuju meja makan untuk makan malam. Di meja makan, Mbok Minah sudah sibuk menyiapkan makanan.


"Selamat malam Mas Radit, Mbak Aishah. Duh kalian ini serasi sekali." Lalu Mbok Minah melempar senyum.


"Mbok iri ya? hahaha Mbok juga serasi kok sama Pak To." Radit menarik kursi agar Aishah dapat duduk di sana. Kemudian Radit ikut duduk di sebelah Aishah.

__ADS_1


Mbok Minah tampak tersipu malu, lalu Mbok Minah pergi ke dapur. Meninggalkan Radit dan Aishah untuk makan bersama. Dengan sigap, Aishah mengambilkan nasi dan lauk ke dalam piring Radit. Radit menunjuk lauk apa yang ingin dia makan, lalu Aishah yang mengambilkan untuknya.


Setelah makan, Radit pergi ke kamarnya. Aishah masih tampak memberesi piring-piring yang digunakan untuk makan tadi.


"Mbak Aishah istirahat saja, biarkan Mbok yang beresin ini semua. Sana temani Mas Radit, kalian pasti lelah di perjalanan tadi." Mbok Minah mengambil piring kotor yang dibawa Aishah.


"Tidak apa-apa Mbok, Aish sudah biasa kok." Aishah menepuk pundak Mbok Minah dengan lembut.


"Sepertinya Mas Radit kelelahan, sebaiknya Mbak Aishah buatkan susu hangat dulu. Biasanya Mas Radit meminta Mbok untuk membuatkan susu hangat, kalau Mas Radit sedang capek." Mbok Minah.


"Begitu ya Mbok. Ya sudah Aish buatin Kak Radit susu dulu ya." Aishah pergi ke dapur untuk membuat susu, lalu Aishah mengantarkannya ke atas.


Tok… tok… "Kak?" Aishah membuka pintu perlahan dengan susu hangat di tangannya.


Radit sedang duduk di atas tempat tidur,sepertinya ia sedang sibuk dengan laptopnya. Aishah kemudian duduk di samping Radit.


"Kak Radit ini susu hangatnya diminum dulu." Menyerahkan susu yang dibawanya.


Radit menerimanya lalu meminumnya sampai setengah gelas. Radit memberikan kembali gelas yang masih berisi susu setengah gelas tadi kepada Aishah. Aishah menerimanya kemudian meletakkannya di meja dekat tempat tidur. Situasinya canggung, Aishah masih bingung harus berbuat apa. Melihat Aishah hanya berdiam diri Radit menutup laptopnya lalu menaruhnya di meja.


"Apakah Aish sudah mengantuk?" Radit membelai kepala Aishah.


"Belum Kak. Sepertinya Kak Radit capek, sebaiknya Kak Radit segera tidur." Aishah mulai bangkit dari tempat tidur. Seketika itu pula Radit menarik tangan Aishah hingga Aishah terduduk kembali di tempat semula.


"Aish mau kemana?" Radit membisikannya di telinga Aishah.


"Aish mau gosok gigi dulu k


Kak." Aishah tersenyum manis.


"Aish belum selesai dengan urusan kita tadi pagi." Radit mulai tersenyum nakal.


"Urusan yang mana Kak?" Aishah tampak berpikir dengan keras mengingat urusannya yang belum selesai.


"Hahaha" Radit tertawa lalu memeluk tubuh Aishah. Radit mencium rambut Aishah yang selalu wangi. Radit mulai melepas kerudung yang dipakai Aishah dan meletakkannya di tempat tidur. Tangannya mulai masuk ke dalam baju Aishah dan bermain di dalamnya. Aishah mulai merasa geli, Aishah tertawa dan menggeliat. Rupanya itu membuat Radit semakin bersemangat. Dengan ganasnya Radit mulai melancarkan serangan-serangan yang membuat Aishah tak berkutik lagi. Dan mereka menghabiskan malam panjang mereka.

__ADS_1


__ADS_2