Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Keputusan


__ADS_3

Setelah sampai di rumah Aishah dan Radit, Dokter Dariel segera mengobati luka di kening Aishah. Untung saja, obat-obatan di rumah Aishah sudah lengkap. Jadi Dokter Dariel bisa langsung mengobati luka Aishah.


"Kamu sengaja mencari kesempatan untuk mendekati Aishah kan?" Radit mencurigai Dokter Dariel karena mengobati luka di kening Aishah.


"Astaga Radit, di saat seperti inipun bisa-bisanya kamu masih menuduhku seperti itu. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana jalan pikiranmu." Dokter Dariel sudah hampir kehilangan kesabarannya.


Suasana di rumah Aishah memang selalu sepi, karena hanya ada satu pembantu yang bekerja tetap di sana. Sementara pembantu yang lain bisa pulang pergi. Semua itu Aishah sengaja berlakukan, karena Aishah masih bisa membantu memasak dan bersih-bersih rumah. Sementara Pak Banu, setelah masalahnya dengan Bella selesai, dia langsung pindah ke rumahnya yang dulu. Setelah selesai mengobati Aishah, mereka kembali membicarakan masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.


"Lalu bagaimana kelanjutan masalah ini? Aku meminta pertanggung jawaban Mas Radit. Mas Radit harus bertanggung jawab dengan apa yang telah Mas Radit perbuat kepadaku." Kirana sudah tidak bisa menahan keinginannya untuk mengutarakan maksud kedatangannya.


"Apa kamu bilang? Bukankah semuanya kamu yang menginginkannya? Kamu yang sengaja menggodaku dan memaksaku untuk tidur denganmu. Kamu juga sudah menghasutku dan bercerita yang tidak-tidak tentang Aishah." Radit berdiri dengan emosi yang meluap-luap.


"Berhenti Kak! Kak Radit tidak malu apa! Aku sudah melihat kalian tidur bersama dengan mata kepalaku sendiri dan Kak Radit masih tidak mau mengakui kesalahan Kak Radit?" Aishah ikut terpancing emosi.


"Tapi itu semua kulakukan karena aku sedang frustasi dengan dirimu yang juga berselingkuh di belakangku dengan dia!" Radit menunjuk Dokter Dariel yang berdiri di sampingnya.


"Apa! Selingkuh denganku? Bagaimana bisa aku berselingkuh dengan istri temanku sendiri? Kau pikir aku sudah gila apa. Ckckck." Dokter Dariel menggelengkan kepalanya.


"Aku punya buktinya kok" Kirana berusaha membenarkan perkataannya. Lalu Bella menunjukkan sebuah foto kebersamaan Dokter Dariel dan Aishah di danau. Dokter Dariel malah tertawa melihat foto di dalam ponsel itu.


"Foto itu tidak bisa membuktikan apapun. Posisi duduk kita saja berjauhan seperti itu. Lagi pula tempat kosong di antara kita itu tadinya ditempati oleh Viola. Memangnya jika setiap Aishah bertemu dengan teman lelakinya, semua kau sebut mereka sedang berselingkuh? Lalu bagaimana dengan kalian yang ketahuan tidur seranjang? Apakah itu bukan lebih dari selingkuh namanya?" Dokter Dariel sampai terheran-heran dengan cara berpikir Radit dan Kirana yang sangat tidak masuk di akal.


"Tapi selama ini kamu selalu bersikap manis dengan Aishah." Radit masih berusaha memojokkan Dokter Dariel.


"Aku memang selalu memperlakukan semua wanita dengan perlakuan yang manis. Karena memang seperti itulah seharusnya lelaki bersikap kepada wanita. Ya memang sudah kewajiban kita sebagai lelaki untuk melindungi wanita." Dokter Dariel berkata dengan gagahnya.


Kirana dan Radit mulai memasang wajah pias. Wajah mereka mulai terlihat merah padam karena menyadari akan kebodohan mereka sendiri.


"Jadi aku akan meluruskan masalahku di sini dengan kalian. Bahwa aku dan Aishah tidak pernah ada hubungan apapun yang melebihi dari sekedar hubungan pertemanan. Apa lagi untuk berselingkuh. Haha kami sangat menghormatimu Dit. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun dengan kami." Dokter Dariel menjelaskan panjang lebar, membuat Radit merasa malu sendiri karena telah menuduh sahabatnya yang tidak-tidak.


"Akan ku ulangi sekali lagi, bahwa bukti yang kalian miliki untuk menuduhku dan Aishah berselingkuh itu tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Aku tidak pernah berselingkuh dengan siapapun di sini. Jika kalian masih terus menuduhku, aku bisa melaporkan kalian ke pihak yang berwajib." Dokter Dariel tampak tidak sedang main-main dengan ucapannya.


Kirana mulai terlihat ketakutan, dia sudah tidak berani lagi angkat bicara untuk membela dirinya. Wajahnya terlihat pucat pasi.


"La lalu bagaimana denganku? Aku harus mendapat pertanggung jawaban dari Mas Radit! Aku tidak ingin anakku nanti lahir ke dunia tanpa seorang Ayah." Kirana mulai mengeluarkan air matanya.


"Apa memang benar anak yang sedang kamu kandung ini adalah anakku? Aku tidak yakin." Radit masih berusaha untuk menghindar dari tanggung jawabnya kepada Kirana atas apa yang telah diperbuatnya.

__ADS_1


"Mas Radit, teganya kamu berbicara seperti itu setelah kamu dengan sadisnya menikmati tubuhku." Kirana mendekap tubuhnya sendiri. Kini tangisnya sudah pecah dan tidak bisa dihentikan lagi.


"Sebaiknya Kak Radit segera ceraikan Aish dan nikahi Kirana secepatnya." Aishah ikut angkat bicara. Nampaknya Aishah sudah lelah dengan drama yang sedang Kirana dan Radit lakukan.


"Aku tidak akan menceraikanmu Aish. Kirana pasti hanya menginginkan hartaku kan? Aku akan memberikanmu uang berapapun yang kamu mau, sebutkan saja!" Radit tidak memperdulikan air mata Kirana yang sudah membanjiri pipinya. Radit malah menantang Kirana.


"Aku tidak butuh uangmu Mas. Karena yang aku butuhkan saat ini hanya tanggung jawabmu. Apa kata Bapak Ibu di kampung nanti kalau sampai tahu anaknya hamil tanpa suami." Tangis Kirana semakin menjadi-jadi.


"Makanya, kamu jangan suka menggoda suami orang Kira. Karena saat ini kamu sudah berhasil menghancurkan mahligai rumah tangga teman yang selama ini sudah membantumu dalam kesulitan." Aishah tidak mempunyai rasa simpati sedikit pun dengan Kirana, karena Aishah sangat tahu Kirana sedang berpura-pura menangis. Ini semua adalah rencana Kirana yang sudah disusun sejak lama.


"Aishah teganya kamu berkata seperti itu. Kamu memang tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya hamil. Karena kamu itu mandul." Bibir Kirana menyeringai.


Aishah merasa sakit hati dengan ucapan Kirana itu. Kirana sudah menusuk bagian sensitif di dalam hati Aishah secara terang-terangan di depan Radit dan Dokter Dariel. Perlahan butiran air mata mulai mengalir di pipi Aishah tanpa permisi. Aishah tidak dapat membendung kesedihannya lagi.


"Jaga bicaramu itu Kirana! Kamu tidak berhak berbicara seperti itu dengan Aishah. Aishah itu wanita yang sangat mulia, bahkan dia bisa menjaga dirinya dengan sangat baik. Sementara lihatlah dirimu, sekarang kamu sedang hamil dengan suami orang. Apakah kamu tidak malu berbicara seperti itu? Cobalah mengaca dirimu sendiri dulu." Dokter Dariel tersenyum kecut.


"Jadi sekarang sebutkan berapa uang yang kamu inginkan dariku!" Radit mengambil selembar cek dan sebuah bolpoin. Radit sudah bersiap menuliskan nominal uang yang akan diberikan kepada Kirana.


Kirana terdiam. Dia sempat tergiur dengan uang yang dijanjikan Radit kepadanya. Kirana berpikir keras untuk menyebutkan nominal uang yang akan diterimanya nanti.


Kirana terus bergumam dalam hati. Kemudian Kirana melihat rumah besar Aishah dan Radit itu. Tiba-tiba pikirannya berubah.


Eits tidak-tidak. Aku tidak boleh mudah tergiur dengan uang yang akan diberikan Radit kepadaku. Aku harus tetap pada rencana semula. Karena jika aku bisa berhasil menjadi istri Radit, aku akan mendapatkan yang jauh lebih banyak. Apa lagi, jika anakku nanti lahir. Dia pasti akan menjadi pewaris semua kekayaan Radit. Apa lagi sekarang kudengar kekayaan Ayah Radit sudah kembali. Wah aku akan menjadi wanita yang sangat kaya raya.


Kirana malah melamun dan senyum-senyum sendiri tidak jelas. Dia sibuk sendiri dengan pikirannya yang licik.


"Hey Kirana cepat sebutkan berapa uang yang kamu butuhkan! Aku akan memberikan berapapun yang kamu minta saat ini juga. Katakan saja!" Radit masih menunggu jawaban dari Kirana.


"Sudah kubilang Mas, aku tidak butuh uangmu. Aku hanya butuh tanggung jawabmu sebagai Ayah dari anak ini." Kirana melihat perutnya, kemudian memeganginya dengan kedua tangannya.


"Kirana benar Radit, kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan padanya." Dokter Dariel ikut angkat bicara.


"Benar Kak Radit. Aku sudah merelakanmu untuk menikah dengan Kirana. Tapi dengan satu syarat. Yaitu Kak Radit segera ceraikan Aish. Aish sudah tidak bisa menahan sakit hati Aish lagi." Aishah berlinang air mata.


"Tidak Aish! Aku tidak bisa melepaskanmu. Aku akan menikahi Kirana tanpa menceraikanmu." Radit masih kekeuh dengan pendiriannya.


"Apa! Jadi Kak Radit mau menyiksa batin Aish lebih dalam. Kak Radit tidak memikirkan bagaimana perasaan Aish? Kak Radit benar-benar egois. Kak Radit jahat." Aishah menangis sesenggukan.

__ADS_1


Dokter Dariel tidak tega melihat Aishah menangis. Dia mendekati Aishah lalu hendak menepuk bahu Aishah. Namun, Radit dengan cepat merengkuh bahu Aishah untuk memeluknya. Aishah menolaknya, Aishah melepaskan tangan Radit dari bahunya.


"Dit, sebagai laki-laki kamu harus bisa tegas. Jangan kamu sakiti wanita-wanita ini terus menerus. Walau bagaimanapun Aishah berhak bahagia. Dia sudah terlalu lama menahan sakit hati yang terus kamu berikan kepadanya." Dokter Dariel berkata dengan bijaknya.


"Jangan sok tahu kamu! Bahkan sampai saat inipun kamu belum memiliki kekasih, bisa-bisanya mengguruiku." Radit tersenyum kecut, lalu menyeringai.


"Itu semua kulakukan karena aku tidak ingin menyakiti hati wanita. Aku sangat menjaga mereka. Bagiku mereka itu adalah mutiara yang harus dijaga dan dilindungi. Bukan malah sebaliknya. Kita sebagai laki-laki tidak boleh berbuat semena-mena kepada mereka." Dokter Dariel menjelaskan panjang lebar.


Radit membuang muka. Lalu dia menyeringai di depan Dokter Dariel. Sepertinya hubungan persahabatan mereka kini menjadi tidak baik.


"Kak Radit, Kirana benar. Aku belum bisa memberikan Kak Radit anak sampai saat ini. Aku menyadari kekuranganku itu. Jadi sekarang lihatlah bayi yang ada di dalam kandungan Kirana itu. Bayi yang tidak berdosa itu kini sedang membutuhkan sosok ayah. Dan Kak Radit akan segera memiliki anak setelah sekian lama menunggu hadirnya seorang buah hati. Apakah Kak Radit akan menyia-nyiakannya? Apakah Kak Radit tidak ingin memiliki anak?" Aishah berusaha menahan rasa sakitnya. Suaranya bergetar karena menahan tangis yang sudah hampir pecah.


"Pikirkan lagi Kak Radit. Kak Radit harus memilih antara Aish dan bayi itu. Seorang anak Kak Radit yang tidak bisa Kak Radit miliki dari Aish." Aishah mulai bisa mengontrol emosinya dengan baik.


"Aku akan memilih keduanya. Aku akan memiliki anak itu tanpa menceraikanmu Aish." Radit masih bersikeras untuk tidak bercerai dengan Aishah.


"Kak Radit tidak boleh egois seperti itu. Lalu bagaimana dengan perasaanku? Hatiku sudah hancur Kak, rumah tanggaku juga sudah hancur. Apakah Kak Radit masih mau menghancurkan sisa kehidupanku yang menyedihkan ini?" Aishah sesenggukan.


Radit bimbang, sebenarnya Radit juga ingin memiliki anak. Apalagi sekarang anaknya sudah berada di depan mata. Namun, Radit menginginkan dia memiliki anak bersama Aishah, bukan dengan Kirana. Karena jauh di dalam hati Radit, Radit mencintai Aishah. Radit tidak ingin melepaskan Aishah begitu saja. Apalagi semua harta yang dimiliki Aishah sangat banyak saat ini.


"Aku akan pergi dari rumah ini. Aku akan menyerahkan semua hartaku untuk anak itu." Aishah menunjuk perut Kirana.


Semua orang yang berada di sana sangat terkejut dengan perkataan Aishah barusan. Apalagi Kirana, dia sangat senang mendengar perkataan Aishah.


"Aish apa kamu sudah gila!" Radit merasa keheranan dengan istrinya itu.


"Aish tidak butuh harta Kak, semua yang sudah kita bangun dari nol, semua yang sudah kita miliki saat ini hanyalah sebuah titipan dari Tuhan, yang sewaktu-waktu bisa diambilnya kembali. Aish masih memiliki tangan, kaki dan anggota tubuh yang lengkap. Aish bisa masih mencari uang dengan itu semua." Aishah menatap nanar rumah besar yang telah dibangunnya dari nol itu.


"Apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu Aish?" Dokter Dariel mencoba meyakinkan sekali lagi.


"Iya, Aish sangat yakin Dok. Aish akan pergi dari rumah ini. Kak Radit harus bertanggung jawab dengan bayi itu. Aku tidak mau, jika anak itu nanti lahir tidak memiliki ayah. Aish juga tidak ingin membuat anak itu bingung nantinya karena memiliki dua ibu." Aishah berkata dengan mantap.


Aishah sudah memantapkan hatinya untuk melepaskan semua yang dia miliki saat ini. Baginya kebahagiaan tidak akan bisa diukur dengan uang. Aishah akan berusaha membuka lembaran baru tanpa Radit. Aishah akan pergi membawa semua lukanya sendiri. Walaupun sebenarnya dia belum tahu bagaimana cara menyembuhkan luka hatinya yang sudah sangat parah itu.


Radit pun terdiam seribu bahasa. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Tidak ada alasan lagi baginya untuk mencegah Aishah pergi dari hidupnya. Walaupun hatinya masih belum rela, namun Aishah tetap bersikeras untuk pergi dari rumah itu. Aishah akan tetap bercerai dengan Radit, baik dengan ataupun tanpa persetujuan dari Radit. Tekat Aishah sudah bulat, sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.


Lalu Aishah pergi ke kamar untuk mengemasi semua pakaiannya. Hati Aishah kini sudah hancur berkeping-keping. Aishah akan berusaha menata kembali hatinya sendiri. Aishah berencana akan pulang ke rumah pakdhe dan budhenya.

__ADS_1


__ADS_2