
"Apa yang sudah kamu dengar tadi?" Radit semakin mengencangkan pelukannya, hingga tubuh Kirana menempel pada tubuh Radit.
"A aku tidak mendengar apa-apa." Kirana menutup mulut dengan tangannya.
"Jangan coba-coba membohongiku! Aku tahu kamu sudah berada di sini dari tadi." Radit menatap mata Kirana dengan tatapan membunuh.
"Baiklah, aku mendengar semuanya." Kirana menganggukkan kepalanya.
Radit menghempaskan tubuh Kirana ke lantai dengan cukup keras. Membuat Kirana jatuh ke lantai.
"Aduh…." Kirana berteriak kesakitan.
"Awas saja kalau kamu sampai berani bicara dengan Aishah tentang apa yang baru saja kamu dengar! Habis kamu!" Radit mengancam Kirana. Tatapan matanya benar-benar membuat Kirana tidak berkutik karena ketakutan.
Kemudian Radit pergi meninggalkan Kirana yang masih tertidur di lantai. Kirana meringis karena kesakitan. Badannya terasa pegal-pegal semua.
"Sial! Kenapa malah jadi aku sih yang terpojok. Harusnyakan aku bisa membuat Radit terpikat denganku bukannya malah ketakutan seperti ini." Kirana terus memaki dirinya.
Lalu Kirana menuruni anak tangga untuk kembali ke kamarnya. Ketika hendak ke kamar, tiba-tiba Radit memanggilnya.
"Hey kemarilah!" Radit sedang duduk di ruang keluarga. Dia sedang menonton televisi seperti biasanya.
Dengan langkah takut-takut, Kirana menyeret kakinya hingga mendekati Radit.
"Ada apa Mas Radit?" Kirana masih tampak takut-takut.
"Buatkan aku segelas susu hangat!" Radit tetap fokus menonton televisi.
Kirana segera menuju dapur untuk membuatkan Radit segelas susu hangat. Setelah selesai membuat segelas susu hangat untuk Radit, Kirana membawa segelas susu hangat itu dengan nampan ke hadapan Radit.
"Silahkan Mas Radit." Kirana meletakkan segelas susu itu di atas meja.
"Ingat ya kamu harus tutup mulut! Jangan sampai Aishah mengetahui semua ini." Radit kembali mengancam Kirana.
"Baik Mas Radit, saya akan menjaga rahasia ini dengan baik." Kirana menundukkan kepalanya.
"Bagus." Suara Radit kembali melunak.
Ternyata Kirana belum lengah, meskipun dirinya masih merasa takut karena kejadian tadi. Kirana mencoba memberanikan diri untuk menggoda Radit. Kirana sengaja membuka kancing baju tidurnya bagian dada agar lebih seksi. Sehingga bagian dadanya menyembul terlihat belahannya. Ternyata usahanya berhasil. Radit melihatnya ketika Kirana berjongkok meletakkan minuman Radit.
Boleh juga bodi wanita kampung ini. Ternyata masih punya nyali juga dia. Masih berani menggodaku.
Seketika Radit menarik tangan Kirana dengan tiba-tiba, hingga Kirana duduk di sebelah Radit.
"Sebenarnya apa yang kamu mau?" Radit penasaran dengan kemauan Kirana itu.
Rasa takut masih menyelimuti wajah Kirana. Namun, karena usahanya sudah menampakkan hasil Kirana membuang jauh rasa takut itu.
"Maksud Mas Radit apa? Aku tidak mengerti." Kirana berpura-pura tidak tahu.
"Apakah kamu tidak tahu bahwa aku ini adalah suami dari temanmu sendiri Aishah?" Radit menatap tajam Kirana.
"Aku tidak ada maksud apapun Mas Radit." Kirana tidak berani membalas tatapan mata Radit.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu masih terus berusaha menggodaku? Aku ini lelaki normal, jadi dengan mudah aku bisa menebak isi dalam otakmu." Radit memegang kancing baju yang sengaja dibuka oleh Kirana tadi.
Kemudian Kirana memegang tangan Radit dengan lembut. Kirana memberanikan diri untuk membalas tatapan mata Radit dengan lembut.
Ternyata dia sangat tampan jika wajah kita sedekat ini. Aku sudah tidak tahan lagi ingin ******* bibirnya yang menawan itu. Ini kesempatan yang bagus. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya.
"Aku sangat mengagumimu Mas Radit, aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Rasa ini tidak bisa kutahan. Aku sudah berusaha menolaknya dengan sekuat tenaga. Namun, apa dayaku rasa ini semakin tumbuh subur tanpa aku minta." Kirana mulai meletakkan tangan Radit di dadanya.
"Rasakan detak jantungku Mas. Saat ini aku sangat deg-degan. Hatiku berpacu sangat cepat jika berdekatan dengan Mas Radit." Kirana mengambil tangan Radit yang lain lalu meletakkan di sebelah tangan Radit yang satunya.
Radit pun terbawa suasana. Nalurinya sebagai lelaki normal mulai bangkit. Radit mulai bermain dengan dada Kirana. Radit melupakan semuanya, bahkan melupakan Aishah sebagai istri sahnya yang selama ini telah menemaninya di kala susah.
Kirana merasa sangat senang dengan respon Radit. Lalu Kirana mendekatkan wajahnya untuk ******* bibir Radit. Dikalungkannya kedua tangan Kirana di leher Radit. Kemudian tanpa menunggu aba-aba Kirana ******* bibir Radit dengan ganasnya.
Radit semakin terpancing, kini Radit yang sudah kehilangan kendali dirinya. Radit terus menyusuri setiap lekukan tubuh Kirana. Kirana yang sangat senang, membuka semua kancing bajunya agar Radit lebih leluasa menikmati tubuhnya.
Kirana terus mendesah untuk memancing hasrat Radit. Kirana membalas serangan Radit semakin brutal. Hingga kini Kirana berada di atas tubuh Radit. Kirana membuka kancing kemeja Radit satu persatu, lalu membuka kemeja Radit hingga Radit bertelanjang dada.
Wow gagah sekali tubuh pria ini. Benar-benar pria idaman.
Kirana meraba dada Radit dengan penuh nafsu. Kemudian kembali mencium bibir Radit dengan mesranya. Kirana meletakkan dadanya di atas wajah Radit, agar Radit dapat menikmati dadanya dengan leluasa. Kirana tidak bisa berhenti mendesah, malah kini desahannya semakin kencang.
Kirana benar-benar berhasil membuat Radit tergoda dengannya. Tidak ada lagi yang dikhawatirkan Kirana saat ini. Aishah dan pembantu di rumah ini sedang tidak ada di rumah, jadi dia bisa dengan leluasa menikmati malam ini dengan Radit pikirnya.
Ketika Kirana hendak membuka celana Radit, tiba-tiba terdengar suara bel pintu depan berbunyi. Mereka sangat terkejut, kemudian Radit segera menyingkirkan tubuh Kirana dari atas tubuhnya. Radit mengambil kemeja yang teronggok di lantai lalu memakainya dengan cepat.
Kirana yang juga sangat terkejut langsung membenahi baju tidurnya yang hampir terlepas. Kirana langsung lari terbirit-birit ke kamarnya. Kirana tidak menyangka akan ada yang datang malam-malam seperti ini.
Sial! Siapa sih yang datang malam-malam seperti ini? Aku kan baru saja berhasil menggoda Radit. Tapi tidak apa-apa, yang terpenting aku sudah mendapatkan lampu hijau dari Radit. Apalagi Radit sangat menginginkan anak dan si Aishah itu tidak bisa memberi Radit anak. Ini bisa jadi senjata ampuhku. Hahaha
Radit segera membenahi penampilannya yang sudah berantakan. Lalu setelah merasa agak rapi Radit segera menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang.
"Dokter Dariel…Kenapa tidak memberi kabar terlebih dahulu jika ingin datang?" Radit mengernyitkan dahinya.
"Maaf Dit aku tadi kebetulan lewat di sini, mobilku mogok di dekat sini, jadi aku pikir akan menginap di sini saja. Apakah tidak boleh?" Dokter Dariel terlihat terengah-engah. Nafasnya masih memburu.
"Bukan seperti itu, jika kamu memberi kabar terlebih dahulu kan aku bisa mempersiapkan makanan untukmu." Radit mencoba mencari alasan yang tepat agar Dokter Dariel tidak curiga dengan gelagatnya.
"Memangnya Aishah tidak masak malam ini?" Dokter Dariel mulai bisa mengatur nafasnya.
"Aishah sedang berada di luar kota, dia terjebak cuaca. Cuaca di sana buruk, jadi jadwal penerbangan Aishah ditunda sampai besok pagi." Radit mengajak Dokter Dariel masuk ke dalam.
"Padahal aku sudah rindu dengan masakan istrimu itu. Haha" Dokter Dariel mengikuti langkah Radit menuju ruang tamu.
Lalu Radit mempersilahkan Dokter Dariel untuk duduk di sofa.
"Aku akan membuatkanmu minuman dulu." Radit pergi meninggalkan Dokter Dariel yang sedang duduk di sofa.
Radit mencari keberadaan Kirana. Ternyata Kirana sudah tidak berada di ruang keluarga. Kemudian Radit menuju kamar Kirana. Kirana yang sudah berganti pakaian hendak keluar kamar. Kirana melihat Radit mendekati kamarnya.
"Siapa yang datang malam-malam seperti ini Mas? Apakah Aishah?" Kirana sangat penasaran.
"Dokter Dariel, dia akan menginap di sini malam ini. Jadi jangan sampai Dokter Dariel tahu tentang apa yang baru saja kita lakukan tadi!" Radit kembali mengancam Kirana.
__ADS_1
Oh ternyata dokter tampan itu. Kenapa sih harus menginap segala, padahal aku kan ingin menghabiskan malam ini bersama dengan Radit. Huh menyebalkan sekali.
"Tenang saja. Aku akan menjaga rahasia kita Mas." Kirana menyentuh bahu Radit dengan lembut. Kini ancaman Radit tidak ada apa-apanya lagi bagi Kirana. Kirana sudah tidak merasa takut dengan ancaman yang dilontarkan Radit. Malah baginya, ancaman itu yang akan membuatnya semakin dekat dengan Radit.
"Buatkan dua cangkir kopi. Aku tunggu di ruang tamu sekarang juga." Radit pergi meninggalkan Kirana.
"Baik sayang." Kirana berkata dengan lirih, sengaja agar Radit tidak mendengarnya. Lalu Kirana pergi ke dapur untuk membuatkan dua cangkir kopi.
"Silahkan kopinya Mas." Kirana meletakkan dua cangkir kopi ke atas meja.
"Terima kasih." Dokter Dariel tersenyum kepada Kirana. Lalu Kirana pergi ke dapur.
"Sepertinya lebih enak jika kita ngobrol di tempat kemarin deh Dit." Dokter Dariel menengok ke arah Radit.
"Ya sudah, yuk!" Radit berdiri dari tempat duduknya lalu mulai menaiki anak tangga untuk menuju balkon ruang kerjanya. Sementara Dokter Dariel mengikuti langkah Radit dari belakang.
"Ku dengar besok Viola akan kembali ke sini." Dokter Dariel mengambil posisi tiduran di atas sofa panjang.
"Lalu bagaimana denganmu?" Radit menatap Dokter Dariel, lalu menyeruput kopi yang dibawanya dari bawah tadi.
"Aku juga tidak tahu. Aku masih sangat mencintainya. Dan kudengar Viola akan kembali dengan lelaki pasiennya itu. Sepertinya hubungannya dengan lelaki pasiennya itu kini semakin dekat." Dokter Dariel menerawang ke atas langit malam yang gelap. Sepertinya malam ini sedang mendung, jadi tidak ada bintang yang bertengger di atas sana.
"Kenapa kamu tidak mengungkapkannya saja secara langsung?" Radit penasaran.
"Tidak bisa semudah itu Dit. Dia sangat spesial untukku, aku tidak bisa membuat hubunganku dengannya menjadi canggung. Apalagi Vio bercerita denganku secara langsung bahwa dia sedang menyukai pria yang saat ini menjadi pasiennya itu." Dokter Dariel kembali duduk lalu menyeruput kopinya.
"Hubungan kalian itu aneh. Dulu ku kira kalian ini adalah sepasang kekasih, karena kalian sudah sangat dekat." Radit tersenyum kecut.
"Aku hanya bingung harus bersikap bagaimana. Jujur, aku belum sanggup melepaskannya bersama dengan lelaki lain. Apalagi harus melihatnya bersama dengan lelaki lain. Pasti hatiku akan hancur. Membicarakannya bersama dengan lelaki lain saja kini hatiku sudah sangat sakit, apalagi melihatnya secara langsung." Dokter Dariel menghela nafas panjang. Udara di sekitarnya kini terasa sesak.
"Kamu pasti bisa! Jika dia memang jodohmu dia pasti akan kembali kepadamu. Lagipula mereka kan baru pacaran. Selama janur kuning belum melengkung, kamu masih bisa memperjuangkan cintamu." Radit menepuk bahu Dokter Dariel dengan keras sehingga membuatnya sedikit terkejut.
Dokter Dariel menatap Radit dengan tatapan tidak percaya.
"Ternyata kamu sudah kembali seperti Radit yang dulu ku kenal lagi. Pasti semua ini berkat istri sholehamu itu kan?" Dokter Dariel tersenyum melihat Radit.
Deg, tiba-tiba Radit merasa sangat bersalah dengan Aishah. Hatinya menjerit-jerit, teringat masa-masa sulitnya dulu. Berkat Aishah dirinya kini masih bisa bertahan hidup, bahkan sampai di titik ini. Radit benar-benar telah berdosa kepada Aishah. Aishah yang telah dengan setia menemani suka dukanya, malah dia balas dengan bermain-main di belakang Aishah dengan sahabat Aishah sendiri.
Radit terlihat pucat, udara malam yang dingin membuat kerongkongannya membeku tak bisa berkata-kata lagi.
Apa yang sudah aku lakukan dengan Kirana tadi. Kenapa aku tega mengkhianati Aishah seperti ini.
Radit memukul-mukul kepalanya beberapa kali, membuat Dokter Dariel keheranan.
"Kamu kenapa Dit? Kenapa wajahmu pucat seperti itu?" Dokter Dariel mengernyitkan dahinya.
"A aku tidak apa-apa. Udara di sini dingin sekali, sepertinya kita harus segera masuk dan tidur. Ini sudah larut malam." Radit gelagapan dengan pertanyaan Dokter Dariel. Kemudian Radit berdiri untuk masuk ke dalam.
Dokter Dariel melihat jam di pergelangan tangannya. Benar saja, waktu bergulir dengan cepatnya. Tidak terasa kini sudah pukul tiga dini hari. Mereka sudah mengobrol semalaman di sini. Akhirnya mereka masuk ke dalam ruang kerja Radit
"Kamu bisa tidur di mana pun yang kamu suka. Di kamarku juga bisa atau di kamar tamu. Tapi tentu kamu harus membersihkannya terlebih dahulu. Kalau saja kamu tadi memberitahuku terlebih dahulu kalau mau menginap, aku pasti akan mempersiapkannya terlebih dahulu untukmu." Radit menguap karena sudah merasa mengantuk.
"Aku tidur di sini saja." Dokter Dariel menunjuk sofa panjang yang berada di dekat meja kerja Radit.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, aku tidur duluan. Aku sudah sangat mengantuk." Radit berjalan keluar ruangan untuk menuju kamarnya. Dokter Dariel hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian Radit menuju kamarnya. Sementara Dokter Dariel tidur dengan lelap di sofa ruang kerja Radit. Radit tidak bisa tidur memikirkan kejadian tadi. Dia benar-benar merasa bersalah dengan Aishah.