
Adzan subuh mulai terdengar dari segala penjuru. Radit masih saja belum bisa memejamkan matanya. Rasa bersalahnya kian lama kian menjadi.
Aishah tidak boleh sampai tahu tentang semua ini.
Radit bergumam dalam hati. Akhirnya sampai matahari terbit pun Radit tak juga bisa tidur. Radit memutuskan untuk mandi dan segera berangkat ke kantor. Setelah selesai bersiap untuk berangkat ke kantor, Radit segera turun ke bawah untuk menyantap sarapan paginya. Di meja makan sudah tersedia dengan lengkap banyak menu makanan. Ternyata Bibi sudah kembali ketika subuh tadi.
Di meja makan sudah ada Kirana yang sedang duduk sambil bermain dengan ponselnya. Kirana sedang menunggu yang lainnya untuk menyantap sarapan bersama.
"Dokter Dariel belum turun?" Radit bertanya kepada Kirana yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Sepertinya belum, dari tadi aku belum melihatnya di sini." Kirana mengangkat kedua bahunya bersamaan.
Radit memutuskan untuk melihatnya di atas. Namun, ketika Radit hendak menaiki anak tangga, Dokter Dariel sudah terlihat menuruni anak tangga dari atas.
"Ku kira kau belum bangun tadi." Radit membalikkan badannya kemudian kembali ke meja makan. Dokter Dariel hanya tersenyum melihat Radit.
"Ayo kita sarapan bersama." Radit menarik kursi untuk tempat duduknya. Kemudian Dokter Dariel mengikuti langkah Radit untuk makan bersama di meja makan.
Mereka makan sarapan pagi mereka dengan lahapnya. Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu depan. Bibi segera berlari untuk membukakan pintu.
"Eh Non Aishah sudah datang." Bibi membantu membawakan tas yang dibawa oleh Aishah. Aishah tersenyum kepada Bibi.
"Assalamu'alaikum." Aishah melihat suaminya, Kirana dan Dokter Dariel tengah makan bersama. Kemudian Aishah mendekati mereka lalu mengambil tempat duduk untuk ikut makan bersama.
"Wa'alaikum salam." Semua orang yang sedang makan di meja makan menjawab serentak.
"Eh ada Dokter Dariel, sudah lama?" Aishah duduk di samping suaminya lalu mengecup punggung tangan Radit.
"Iya, aku semalam menginap di sini. Mobilku mogok di dekat sini jadi aku mampir ke sini sekalian numpang tidur. Hehe." Dokter Dariel terkekeh.
"Jadi cuma Dokter Dariel nih yang disapa?" Radit tampak cemburu. Aishah melihat ke arah suaminya lalu tersenyum manis kepada suaminya yang sedang cemberut itu.
"Selamat pagi sayang." Aishah mengecup kening Radit di depan Kirana dan Dokter Dariel tanpa rasa malu.
Sementara di seberang meja, Kirana sudah terbakar cemburu melihat kemesraan Radit dan Aishah. Kirana tampak tidak suka dengan kehadiran Aishah di tengah-tengah sarapan pagi mereka. Tanpa Kirana sadari Dokter Dariel melihat ketidak sukaan Kirana terhadap kemesraan yang ditunjukkan oleh Aishah. Dokter Dariel terus memperhatikan gerak-gerik Kirana yang merasa kesal.
Kenapa wanita ini bersikap seperti itu? Kenapa dia tampak tidak suka dengan kemesraan Radit dan Aishah? Bukankah Kirana adalah sahabat Aishah. Jangan-jangan ada yang tidak beres dengan wanita ini.
Dokter Dariel bergumam dalam hati. Dia merasa ganjil dengan sikap yang diam-diam disembunyikan oleh Kirana.
"Aku berangkat ke kantor duluan ya." Kirana tersenyum lalu berlalu pergi. Senyumnya sangat dipaksakan, bahkan dia tidak menyambut kedatangan Aishah.
Itu membuat Dokter Dariel semakin curiga dengan sikap Kirana. Namun, Radit dan Aishah tidak menyadari keganjilan yang terjadi pada sikap Kirana. Mereka sibuk dengan kemesraan mereka.
"Kenapa dengan Kirana? Kenapa sarapannya tidak dihabiskan?" Dokter Dariel mencoba mencari tahu kebenaran dari Radit dan Aishah mengenai sikap Kirana yang aneh.
"Mungkin Kirana sedang buru-buru." Radit menjawab pertanyaan Dokter Dariel, lalu melanjutkan sarapannya.
__ADS_1
Dokter Dariel masih tidak yakin dengan jawaban Radit itu. Sepertinya ada yang Kirana sedang sembunyikan saat ini. Sepertinya juga kehadiran Kirana di rumah ini tidak baik untuk hubungan Radit dan Aishah. Namun, itu baru perkiraan Dokter Dariel saja.
Apakah aku harus mencari tahu tentang Kirana. Tapi kenapa Aishah dan Radit tidak curiga dengan sikap Kirana.
Akhirnya mereka makan sarapan pagi mereka tanpa Kirana. Setelah selesai makan, Dokter Dariel berpamitan untuk pulang.
"Aku pulang dulu, masih banyak pekerjaan yang menungguku." Dokter Dariel berdiri lalu pergi keluar.
"Baiklah, aku juga akan berangkat kerja." Radit ikut berdiri mengikuti langkah Dokter Dariel dari belakang.
Aishah mengikuti langkah suaminya lalu memberikan tas kerja yang sedari tadi dibawakannya. Aishah mencium punggung tangan suaminya lalu Radit mengecup kening Aishah dengan lembut. Mobil Radit pun melesat menuju keramaian kota.
Setelah Radit berangkat kerja, Aishah naik ke kamarnya. Aishah ingin segera mandi untuk menyegarkan badannya yang sudah tidak karuan. Dari kemarin, Aishah tidak mandi, sehingga badannya terasa lengket semua. Hari ini Aishah sengaja cuti kerja untuk satu hari, kebetulan juga hari ini adalah jadwal cek upnya ke dokter kandungan.
__________________________________
Hari ini genap dua bulan sudah Aishah melakukan pengobatan rutin dengan dokter kandungan. Namun, belum ada perkembangan mengenai kesembuhan penyakitnya. Aishah merasa sedih dengan hal itu, Aishah pergi ke sebuah danau yang tidak jauh dari perusahaannya untuk menenangkan pikirannya. Tidak sengaja Aishah melihat Dokter Dariel sedang mengobrol dengan seorang wanita muda yang sangat cantik.
Sepertinya mereka sangat akrab. Hal itu dapat terlihat dari percakapan mereka yang terlihat sangat asyik, dengan sesekali mereka tertawa bersama. Tapi tiba-tiba wanita itu pergi meninggalkan Dokter Dariel setelah menerima telepon dari seseorang. Aishah hanya memperhatikan mereka dari kejauhan sambil duduk di sebuah bangku yang menghadap ke sebuah danau.
Setelah kepergian wanita tadi, Dokter Dariel tampak murung. Perubahan ekspresi wajahnya sangat terlihat. Kini Dokter Dariel merenung seorang diri. Aishah merasa penasaran dengan wanita itu. Akhirnya Aishah memutuskan untuk menghampiri Dokter Dariel yang tengah duduk seorang diri.
"Selamat siang Dokter Dariel." Aishah tersenyum melihat Dokter Dariel. Kehadiran Aishah secara tiba-tiba, membuat Dokter Dariel terkejut.
"Eh Aishah." Dokter Dariel mendongak melihat Aishah di sampingnya.
"Tidak ada, aku hanya ingin menghirup udara segar saja di sini." Dokter Dariel melempar senyum kepada Aishah, lalu melihat ke arah hamparan danau yang luas.
"Dokter sendirian?" Aishah memastikan.
"Ya seperti yang Aish lihat, aku sedang sendirian saat ini. Duduklah di sini!" Dokter Dariel menepuk tempat di sampingnya. Kemudian Aishah menuruti perintah Dokter Dariel dengan patuh.
"Kalau boleh tahu, siapa wanita cantik yang tadi bersama dengan Dokter?" Akhirnya Aishah menanyakan wanita itu kepada Dokter Dariel.
"Maksudmu Viola?" Dokter Dariel mengernyitkan dahinya. Aishah mengangkat kedua bahunya.
"Yang barusan bersama Dokter." Aishah memandang hamparan danau luas di depannya.
"Ya dia Viola. Dia adalah orang yang sangat spesial untukku." Dokter Dariel menghela nafas panjang.
"Jadi dia kekasih Dokter?" Aishah tampak semakin penasaran.
"Haha bukan, dia teman baikku. Hanya aku yang mencintainya. Karena saat ini dia adalah kekasih orang lain. Viola juga seorang dokter. Bahkan karena dialah yang membuat aku ingin memperdalam pengetahuan tentang dunia kedokteranku. Dan dia sekarang menjadi kekasih pasiennya sendiri." Dokter Dariel tersenyum kecut.
Kenapa kisah Dokter Dariel mirip dengan kisahku dengan Aldi ya. Aku jadi teringat dengan Aldi. Sudah lama sekali aku melupakannya. Semoga kamu tenang di sana Di. Aku hanya bisa mendoakanmu dari sini.
"Maaf Dok, aku tidak bermaksud membuat Dokter sedih." Aishah merasa bersalah.
__ADS_1
"Kenapa aku malah curhat denganmu sih Aish. Ini bukan kesalahanmu kok. Aku juga sudah ikhlas, jika Vio mencintai orang lain. Hanya saja aku ingin memastikan lelaki seperti apa yang bisa membuat Vio sampai jatuh hati. Karena semenjak aku kenal dengan Vio, Viola adalah wanita yang sulit jatuh cinta." Dokter Dariel tersenyum sendiri.
"Apakah Dokter sedang cemburu? Tidak apa Dok, ungkapkan saja, jika itu bisa membuatmu lega. Jangan ditahan. Aku bisa jaga rahasia kok." Aishah menunjukkan jari kelingkingnya di depan Dokter Dariel.
"Jika ditanya soal cemburu, ya sudah pastilah aku cemburu. Aku kan sangat mencintai Viola, bahkan sudah sejak dulu. Tapi sepertinya Viola tidak membalas cintaku. Dan walau demikian, cintaku tidak pernah berkurang sedikit pun kepadanya." Dokter Dariel menerawang jauh ke atas langit.
"Aku juga pernah mengalami hal yang sama dengan Dokter. Hanya saja keadaannya berbeda." Tiba-tiba Aishah nyletuk, membuat Dokter Dariel terkejut lalu menoleh ke arah Aishah.
"Dulu sebelum aku menikah dengan Kak Radit, aku juga pernah jatuh cinta dengan sahabatku sendiri. Tapi dari dulu aku memang memiliki prinsip untuk tidak berpacaran. Aku ingin berpacaran setelah menikah saja. Tapi kita tidak pernah bisa bersatu." Aishah menundukkan kepalanya. Aishah teringat masa-masa indahnya bersama Aldi dulu.
"Kenapa? Apa Radit memaksamu untuk menikah dengannya?" Dokter Dariel penasaran.
"Tidak kok, aku sendiri yang memutuskan untuk menikah dengan Kak Radit. Karena aku menganggap cintaku bertepuk sebelah tangan." Aishah menghela nafas dalam-dalam. Kemudian melanjutkan kembali ceritanya.
"Ternyata sahabatku itu sedang sakit parah dan dia tidak ingin aku mengetahui penyakitnya. Akhirnya dia menyuruhku untuk menikah dengan Kak Radit. Sebelum ijab qobul ku berlangsung, dia menitipkan sepucuk surat kepada temannya untuk disampaikan kepadaku. Betapa hancurnya hatiku ketika membaca surat terakhirnya untukku." Aishah hampir menitikkan air mata.
Dokter Dariel memegang bahu Aishah dengan lembut untuk menguatkan Aishah.
"Memang apa isi dari surat itu?" Dokter Dariel semakin penasaran.
"Dia menuliskan bahwa dirinya sangat mencintaiku, namun dia sedang sekarat. Dan dia tidak ingin aku bersedih karena itu. Dengan sengaja dia memberiku surat terakhirnya sebelum ijab qobul berlangsung. Semua itu dimaksudkan agar aku tidak mencarinya, agar aku bisa melanjutkan kehidupanku dengan calon suamiku." Dari sudut mata Aishah perlahan menetes bola kristal bening yang sedari tadi sudah menganak sungai.
"Sepertinya kamu belum bisa melupakannya, bahkan masih mencintainya sampai dengan saat ini." Dokter Dariel menatap Aishah yang mulai sesenggukan.
"Sampai saat inipun aku tidak tahu bagaimana keadaannya. Aku kehilangan semua kontak dengannya. Atau mungkin sekarang dia telah tiada. Entahlah aku tidak tahu. Tapi perasaanku mengatakan bahwa dia masih hidup." Aishah menerawang ke atas langit.
Dan akan selalu hidup di dalam hatiku. Bukan maksud ingin mengkhianati Kak Radit, tapi cinta pertamaku sudah terpatri kepada Aldi. Maafkan aku Kak Radit.
"Apakah Radit mengetahui ini semua?" Dokter Dariel penasaran.
Aishah mendongak melihat ke arah Dokter Dariel, Aishah baru ingat kalau Dokter Dariel adalah sahabat baik suaminya. Jadi bisa saja Dokter Dariel menceritakan apa yang sudah Aishah ceritakan kepadanya mengenai Aldi. Aishah sengaja tidak pernah bercerita kepada Radit mengenai perasaannya selama ini, karena Aishah tidak ingin membuat Radit sakit hati. Apalagi setelah mengetahui tentang emosi Radit yang sangat labil, Aishah menjadi takut untuk memberitahukan perasaannya yang sebenarnya.
Aishah sengaja menyembunyikannya dari Radit, karena Aishah akan mengubur dalam-dalam perasaannya untuk dirinya sendiri tanpa harus ada orang yang tahu. Tapi semakin Aishah mencoba melupakan Aldi, semakin besar pula rasa sayangnya yang muncul. Dan saat ini, Aishah malah merasa nyaman untuk menceritakan semua kepada Dokter Dariel.
Aishah menggelengkan kepalanya. Aishah menatap Dokter Dariel.
"Aku tidak ingin membuat Kak Radit terluka dengan perasaanku ini. Kuharap Dokter bisa menjaga semua rahasia ini." Aishah menatap lekat-lekat Dokter Dariel.
"Baiklah, jika itu semua demi kebaikan Radit." Dokter Dariel tersenyum kepada Aishah.
Dari kejauhan Kirana memperhatikan setiap gerak-gerik Aishah dan Dokter Dariel. Bahkan Kirana sempat mengambil beberapa foto kedekatan Aishah dengan Dokter Dariel.
"Bagus, ini bisa menjadi senjata ampuh untuk membuat hubunganmu dan Radit hancur dengan mudahnya. Hahaha." Kirana tertawa sambil terus memandangi foto Aishah dan Dokter Dariel di dalam ponselnya. Kirana sudah merancang siasat licik di dalam kepalanya.
Kirana tidak sengaja pergi ke danau saat makan siang tiba. Lokasi danau dan kantor memang berdekatan. Kirana sengaja ingin mengusir kepenatan dan kekesalannya karena selalu melihat kemesraan Radit dan Aishah. Tapi Kirana justru mendapatkan harta karun yang bisa membawanya ke jalan menuju kemenangan.
Kirana sampai lupa waktu jika waktu makan siangnya sudah habis sejak tadi. Kirana segera bergegas kembali ke kantornya. Sementara Aishah dan Dokter Dariel berpisah untuk kembali dengan rutinitasnya masing-masing.
__ADS_1