Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Kenangan Masa Kecil


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Aishah segera memarkirkan mobil yang dibawanya. Dari luar ruang perawatan, Aishah melihat seorang laki-laki yang tinggi dan berbadan tegap tengah berbincang-bincang dengan pakdhe dan budhenya. Laki-laki itu tampak tak asing baginya. Aishah mendekati pintu lalu mengetuknya perlahan.


Tok...tok...tok…


"Assalamu'alaikum" Aishah mengetuk pintu.


"Wa'alaikum salam" Semua orang yang berada di dalam ruangan sontak mengarahkan pandangannya menuju Aishah. Ternyata benar, laki-laki muda tadi adalah Radit. Aishah segera bersalaman dengan budhe dan pakdhenya.


"Bagaimana keadaan Pakdhe? Sudah sehat kan?" Aishah menghampiri pakdhenya yang duduk bersandarkan bantal di tempat tidur.


"Sudah, ini juga sudah dibolehkan pulang." Raut wajah Pak Joko tampak sumringah.


"Kak Radit, sudah lama?" Kemudian Aishah mengalihkan pandangannya ke arah Radit yang sedari tadi memperhatikannya.


"Belum kok, baru saja datang. Tadi aku mampir ke rumah, tapi kata tetangga sebelah, Pakdhe masuk rumah sakit, makanya aku langsung kemari. Bagaimana kalau kita pulang pakai mobilku saja." Radit menawarkan mobilnya untuk membawa pulang Pak Joko.


"Terimakasih. Tapi, aku sudah membawa mobil Pakdhe kok." Aishah segera menolak dengan halus permintaan Radit. Akhirnya mereka pulang menggunakan mobil masing-masing. Ternyata Radit masih melanjutkan niatnya untuk mampir ke rumah Aishah. Mobil Radit membuntuti mobil yang dibawa oleh Aishah dari belakang.


Sesampainya di rumah, Aishah segera membereskan barang-barang pakdhe dan budhenya dari bagasi mobil. Radit dengan sigap membantunya. Sementara Pak Joko masuk rumah dibantu oleh Bu Sekar. Tak beberapa lama, mereka masuk ke dalam rumah, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


Tok...tok...tok…


Aishah segera menuju pintu lalu membukakannya. Ternyata itu adalah mas tukang grabfood. Aishah tampak bingung karena ia merasa tidak pernah memesan makanan. 


"Itu aku tadi yang memesan, pasti Budhe dan Aish capek jadi tidak mungkin untuk memasak." Tiba-tiba suara Radit mengagetkannya. Terdengar suara Radit dari dalam, Aishah segera menerimanya dan membawanya masuk. Lalu Aishah menyiapkannya di meja makan. 


Aishah segera menuju kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


"Kak Radit belum mandi kan? Sana mandi dulu." Setelah selesai mandi, Aishah menghampiri Radit yang duduk di sofa depan.


"Tidak usah, lagi pula aku tidak membawa baju ganti, aku ambil air wudhu saja." Radit berdiri dari tempat duduknya, lalu bergegas menuju kamar mandi.


Kemudian Aishah juga mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat magrib berjamaah  yang di imami oleh pakdhenya. Walaupun dalam keadaan sakit, Pak Joko tak pernah absen untuk beribadah. Seperti biasa, setelah sholat isya' keluarga Pak Joko makan malam bersama. 


Setelah makan malam selesai, Radit mengajak Aishah ke taman belakang rumah. 


"Aish, kamu ingat tidak dulu setiap malam Minggu kamu selalu mengajakku untuk dinner di sini?" Radit menerawang jauh ke atas langit yang gelap.


Radit mencoba bernostalgia dengan kenangan masa kecilnya. Radit duduk dengan beralaskan rumput taman sambil melihat langit yang nampak gelap tanpa sinar bulan dan tanpa gemerlipnya bintang. Rupanya malam ini bintang enggan untuk menampakkan sinar terangnya. Langit pun dipenuhi dengan kumpulan awan hitam yang membuatnya gelap gulita. Hanya beberapa bintang yang samar-samar terlihat nun jauh di sana.


"Aish bilang kalau malam ini adalah malam Minggu kita, jadi kita harus ngedate dan menikmati makan malam bersama. Aish selalu membawa makanan dengan tempat bekal makananmu." Radit melanjutkan cerita masa lalunya dengan terputus-putus.

__ADS_1


Tampaknya Radit sangat antusias untuk mengingat kejadian demi kejadian. Baginya masa kecil adalah masa-masa terindahnya. Karena Radit masih bisa bersama dengan ibunya, orang yang paling disayanginya di seluruh dunia ini.


Aishah yang ikut duduk di samping Radit hanya menatapnya dari samping di bawah langit malam itu. Aishah tetap menjaga jarak tempat duduknya dengan Radit agar tidak terlalu dekat.  Aishah nampak memperhatikan cerita Radit dengan seksama tanpa berkomentar apapun. 


"Kamu dulu sangat cerewet, selalu bercerita tentang apapun yang kamu lihat dan kamu alami padaku, bahkan kamu pernah mengatakan bahwa aku adalah pacarmu dan tidak boleh bermain dengan anak perempuan lain. Aku dengan polosnya hanya bisa menuruti semua perkataanmu begitu saja. Padahal saat itu usia kita terpaut 7 tahun dan aku sudah duduk di bangku SMP. Bagaimana bisa anak kecil yang masih duduk di bangku SD kelas 3 bisa berkata seperti itu pikirku." Radit tampak menyunggingkan senyumnya sambil geleng-geleng kepala.


Oh tidak Aish kecil benar-benar membuatku sangat malu. Aishah menutupi muka dengan kedua tangannya. Terdengar suara cekikikan tersembul dari mulutnya yang tertutup tangan.


Radit terkekeh, dia benar-benar menyukai topik pembicaraannya malam ini. Bahkan jika langit malam bersinar dengan terang, tentu ia akan bisa melihat raut muka Aishah yang sudah merah padam karena menahan malu. Ternyata seorang Aishah, gadis lugu yang tampak sholihah dengan selalu membalutkan jilbabnya di kepalanya bisa juga berbuat seperti itu.


"Dulu kamu sangat jahil, suka mengerjaiku dengan seenakmu, tapi juga dengan entengnya aku memaafkanmu dan dengan mudah lagi kamu mengulangi mengerjaiku. Haha dasar bodoh." Kini tawa Radit semakin menjadi-jadi, tawanya memecah keheningan malam. Bahkan dia lebih bersemangat dari sebelumnya untuk melanjutkan ceritanya.


"Kau ingat, dulu kau pernah menembakku di depan teman-temanku tepat dihari ulang tahunku yang ke 12, bahkan kau mencium pipiku tanpa rasa malu, hahaha." Radit semakin tertawa lepas.


"Sudah Kak, Aish sangat malu." Kini Aishah sudah tidak bisa menahan rasa malunya lagi. Aishah sudah tak sanggup jika harus mendengar lanjutan cerita tentang Aish kecil yang konyol lagi. Walaupun itu membuat Radit senang.


"Lalu Ibu selalu membuatkan kita dua gelas susu coklat hangat dengan taburan meses di atasnya, Ibu mengantarnya kemari lalu pergi meninggalkan kita berdua. Sebelum masuk rumah, Ibu selalu berdiri di balik pagar memperhatikan kita dari kejauhan. Hingga beberapa lama dengan senyum yang mengembang sangat indah menghiasi wajah cantiknya."


Perubahan yang drastis terjadi pada raut wajah Radit. Kesedihan Radit tampak jelas. Radit tak dapat menyembunyikan lagi perasaan sedihnya. Radit terdiam lalu tertunduk cukup lama. Aishah melihat ada sesuatu yang dirasakan oleh Radit, perasaan kehilangan sosok yang sangat dekat dengannya, perasaan rindu yang setiap waktu menghantuinya. Air matapun tak dapat terbendung lagi, bulir-bulir air mata mulai membasahi wajah Radit.


Aishah mencoba menenangkannya dengan mengelus lembut pundak kanan Radit.


"Sabar ya Kak, Tante sekarang pasti sudah tenang di alam sana, mungkin sekarang Tante juga sedang melihat kita dari atas sana sambil tersenyum, jadi jangan membuat Tante kehilangan senyumnya." Aishah mengeluarkan sapu tangan dari dalam sakunya lalu menyerahkannya kepada Radit.


"Ini kan sapu tanganku, aku ingat sapu tangan ini adalah pemberian Ibu. Aku tidak pernah lupa membawanya kemanapun aku pergi." Radit mulai mengelap air matanya yang terus mengalir. Lalu mendekap sapu tangan pemberian Ibunya itu. Tiba-tiba rintik-rintik hujan mulai turun. 


"Aish, ayo ajak nak Radit masuk. Hujan mulai deras, nanti ndak kalian masuk angin." Dari teras belakang rumah tampak Bu Sekar berteriak lalu kembali ke dalam rumah.


"Iya Budhe." Aishah mulai berdiri dan mengajak Radit masuk.


"Kak Radit ayo masuk. Hujannya mulai deras loh nanti bisa sakit." Aishah mencoba menarik lengan Radit agar bangkit dari tempat duduknya. Radit pun berdiri dengan bantuan Aishah, namun karena tubuh Radit yang lebih besar, membuatnya tak kuat menarik berat badan Radit. Sehingga membuat Aishah malah tertarik oleh Radit dan jatuh tepat di pelukan Radit. Dengan sigap Radit memegang tubuh Aishah dan menjatuhkan di dadanya yang bidang.


Sial, gadis ini sangat cantik bahkan di bawah langit yang gelap sekalipun. 


Radit bergumam dalam hatinya. Sorot mata mereka saling bertemu dan Radit hampir saja mencium bibirnya yang mungil. Namun segera tersadar lalu hanya membantunya berdiri dengan benar.


Dengan cepat Aishah bangkit dan melepaskan pelukan Radit. Wajah Aishah tampak berubah warna menjadi merah merona. Aishah menunduk malu menyembunyikan pipi merahnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud…"


Radit segera melepaskan pelukannya pula dengan mengangkat kedua tanganya. Kemudian Aishah dan Radit masuk ke dalam rumah. 

__ADS_1


Ada apa ini, kenapa jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya? Aishah sekarang benar-benar berbeda dari Aishah yang dulu. Sekarang ia sangat cantik dan mempesona bahkan ia dapat merubah tubuhnya tak lagi gendut seperti dulu lagi.


Radit bertanya-tanya dari dalam hati, sambil memegangi dadanya. 


Di teras belakang rumah, Radit melepas jasnya yang agak basah kehujanan. Radit melipat lengan kemeja putihnya. Nampak Aishah juga sedang mengibas-ibaskan tangannya untuk mengeringkan kerudungnya yang basah. Radit mengambil ponsel dari dalam sakunya dan melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Aish, aku pulang dulu ya. Ini sudah jam 9 malam." Radit mengembalikan ponsel ke dalam saku celananya.


"Tapikan masih hujan Kak." Aishah melihat hujan yang masih turun dengan derasnya.


"Nanti hujannya malah tambah deras, tidak mungkinkan aku menginap di sini?"


Radit pun masuk ke dalam rumah diikuti dengan Aishah di belakangnya. Radit berpamitan dengan Bu Sekar yang tengah asyik menonton televisi seorang diri.


"Budhe, Radit pamit pulang dulu sudah malam." Radit meraih tangan kanan Bu Sekar lalu mencium punggung tangannya.


"Di luar baru turun hujan, apa tidak ditunggu biar hujannya reda dulu?" Tanya Bu Sekar kepada Radit.


"Nanti malah tambah deras Budhe, bisa-bisa Radit tidak pulang." Radit tersenyum.


"Ya sudah hati-hati di jalan." Bu Sekar berdiri dari tempat duduknya.


"Pakdhe sudah istirahat Budhe?" Radit melihat pintu kamar Pak Joko yang sudah gelap.


"Sudah dari tadi, sudah tidak usah berpamitan biarkan Pakdhemu istirahat." Bu Sekar mengantar Radit sampai di pintu depan.


"Ya sudah kalau begitu assalamu'alaikum" Radit keluar meninggalkan rumah Aishah.


"Wa'alaikum salam."


Aishah dan Bu Sekar mengantar Radit sampai ke depan pintu. Radit terlihat sedikit berlarian menghindari hujan menuju mobilnya. Radit segera duduk di belakang kemudi. Mobil Radit melesat dengan cepat di bawah terpaan hujan yang deras. Dengan cepat mobil Radit hilang ditelan kegelapan malam.


Aishah dan Bu Sekar segera masuk ke dalam rumah. Bu Sekar kembali melanjutkan menonton acara di televisi. Aishah pun duduk di sebelahnya sambil gelendotan di tangan Bdhenya dengan manja.


"Aish, kok sepertinya Budhe perhatikan tadi mata Radit agak sembab? Kamu tidak membuatnya menangis kan?" Bu Sekar bertanya kepada Aishah sambil menggodanya.


"Apaan sih Budhe… mana mungkin. Yang ada juga cowok yang sering membuat cewek menangis." Aishah menyangkal tuduhan Bu sekar terhadapnya. 


"Tadi Kak Radit bercerita tentang ibunya, mungkin Kak Radit sangat rindu dengan ibunya."


Bu Sekar hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan mata tak lepas dari televisi.

__ADS_1


"Ayo segera tidur nduk, Aish pasti capek." Bu Sekar bangkit dari tempat duduknya lalu membenahi bajunya yang kusut.


"Baik, Budhe juga temani Pakdhe sana, kasian Pakdhe tidur sendirian." Aishah dan Bu Sekar pun memasuki kamar tidur masing-masing. 


__ADS_2