Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Berita tentang Ayah


__ADS_3

Pagi ini, hujan tak henti-hentinya turun. Awan hitam terus membayangi langit pagi. Hujan turun dengan derasnya mengguyur jalanan kota. Membuat orang-orang enggan untuk keluar rumah. Udara di luar terasa dingin, hingga menguliti setiap jengkal tubuh manusia. Hanya terlihat beberapa orang berlalu lalang menggunakan payung di bawah sana.


Namun, bunyi klakson kendaraan di jalanan tak henti-hentinya bersahutan mengalahkan suara hujan lebat yang bergemuruh. Hanya mereka yang mengendarai sepeda motor, yang bisa berjalan di antara selipan mobil-mobil yang terjebak macet. Mereka hendak berangkat kerja. Namun, hujan tak juga reda. Sehingga orang-orang berbondong-bondong menggunakan kendaraan roda empat agar tidak terguyur hujan.


Suasana macet menambah kegundahan dalam hati para pengguna jalan. Mereka tergesa-gesa, hingga kehilangan kesabaran mereka untuk menunggu antrian mobil yang berkilo-kilo jauhnya. Terlihat antrian kendaraan roda empat mengular sepanjang jalan raya. Hampir semua jalanan macet. Karena beberapa jalan utama terkena banjir, sehingga tidak dapat dilewati oleh kendaraan. Rupanya, hujan deras yang terus mengguyur sejak tadi malam membuat beberapa wilayah terkena banjir.


Radit yang tengah mengamati jalanan kota di bawah sana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah para pengguna jalan yang seenaknya sendiri. Mereka tidak mengindahkan peraturan yang ada. Terlihat sangat jelas dari atas sini, banyak pengguna jalan yang melanggar tata tertib lalu lintas. Seperti menerobos lampu merah, mendahului dari sebelah kiri pada jalan dua jalur, serta ada kendaraan sepeda motor yang naik ke atas trotoar agar terhindar dari macet.


Radit memutuskan untuk melihat acara di televisi. Betapa terkejutnya Radit ketika melihat kabar yang disiarkan oleh seorang pembawa acara sebuah berita di televisi.


"Apa! Tidak mungkin!" Radit sangat terkejut


"Aish! cepat ke sini!" Radit berteriak, membuat Aishah yang sibuk dengan masakannya di dapur terkejut. Aishah sampai melompat dari tempatnya berdiri saking kagetnya.


"Iya sayang, ada apa? Aku sedang menyelesaikan masakanku." Aishah berteriak dari dapur.


"Cepat ke sini sekarang juga!" suara Radit terdengar panik. Aishah pun segera menghentikan kegiatan memasaknya, lalu datang untuk menghampiri suaminya.


"Ada apa Kak?" Aishah terlihat sangat cemas


"Lihat acara di televisi itu." Radit menunjuk televisi yang sedang menyiarkan berita terkini. Aishah memperhatikan dengan seksama.


Di televisi terlihat Bella sedang menangis sesenggukan. Rupanya Bella tengah mengadakan konferensi pers bersama para wartawan.


"Mbak Bella, kenapa semua ini bisa terjadi?" Seorang wartawan sedang mewawancarai Bella yang duduk bersama dengan Sekretaris Pak Banu di sampingnya. Tampak Bella dengan wajah berlinang air mata.

__ADS_1


"Saya juga tidak tahu, kemarin sore pihak kepolisian datang ke rumah, memberitahukan bahwa mereka telah menemukan identitas suami saya di dekat jurang. Tapi mereka tidak menemukan suami saya. Huahuahua" tangis Bella seketika pecah.


"Tapi bagaimana bisa identitas suami anda berada di dekat jurang?" Para wartawan semakin penasaran.


"Terakhir suami saya berpamitan untuk pergi ke luar negeri, mengurus bisnisnya yang berada di sana. Aku selalu menghubunginya setiap waktu. Tapi, tiba-tiba polisi datang membawa kabar duka seperti ini. Aku tidak sanggup untuk mendengarnya." Tangisan Bella semakin menjadi-jadi. Aktingnya kali ini benar-benar hebat, Bella benar-benar menjiwai aktingnya dengan baik. Sehingga tidak ada satupun orang di sana yang curiga dengannya.


"Sejak semalam pihak kepolisian masih mencari-cari keberadaan suami saya, sehingga belum diketahui dengan pasti apakah dia masih hidup atau pun sudah tidak ada." Bella berlinang air mata buayanya.


"Kami ikut berduka Mbak, tapi bagaimana masalah harta yang Pak Banu miliki? Apakah Pak Radit satu-satunya anak Pak Banu yang hubungannya sekarang sedang tidak harmonis dengan Pak Banu, masih menjadi pewaris tunggal semua kekayaan Pak Banu?" Para wartawan terus saja mengorek informasi apapun yang bisa mereka peroleh dari Bella.


"Maaf saya masih sangat sedih karena kehilangan suami saya saat ini, jadi saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu." Bella pergi bersama Sekretaris Pak Banu meninggalkan para wartawan yang masih berkerumun ingin mengajukan berbagai pertanyaan mengenai kasus Pak Banu kepada Bella.


"Sebentar Mbak Bella, lalu bagaimana kelanjutan kasus ini Mbak!" Para wartawan masih terus saja bertanya.


"Saya kan tadi sudah bilang, bahwa pihak kepolisian sedang mencari keberadaan suami saya, karena bahkan sampai saat inipun pihak kepolisian belum berhasil menemukan suami saya." Bella menghentikan sejenak pembicaraannya untuk mengambil nafas di antara sesenggukannya.


Radit segera mengambil remot yang berada di atas meja sampingnya lalu mematikan televisi itu secara tiba-tiba.


"Dasar wanita jahat! Wanita ular berkepala dua! Tega-teganya dia menghabisi nyawa Ayah, disaat Ayah tergila-gila padanya." Radit sangat geram. Radit mengepalkan tangannya lalu meninju meja kaca yang berada di sampingnya dengan sekuat tenaga.


Prang…


Suara kaca pecah terdengar menggema di segala penjuru ruangan. Meja kaca itupun sampai pecah berkeping-keping dibuatnya. Darah segar perlahan mengalir dari tangan Radit. Darah itu terus menetes semakin deras. Aishah yang melihat kejadian itu sangat terkejut. Dengan cepat Aishah segera memeriksa tangan Radit yang sudah berlumuran darah itu.


"Astaghfirullah Kak." Aishah sangat panik.

__ADS_1


Dengan langkah seribu, Aishah segera mengambil kotak obat untuk mengobati luka di tangan Radit. Dengan hati-hati, Aishah membersihkan darah segar yang terus mengalir dari tangan Radit. Setelah memberinya obat merah, Aishah segera membalut luka di tangan Radit dengan kain kasa.


"Kak Radit jangan melukai diri Kak Radit sendiri!" Aishah terlihat panik.


"Aku benar-benar heran, bagaimana bisa Ayah sampai tergila-gila dengan wanita ular berkepala dua itu! Dan sekarang, Ayah harus kehilangan nyawanya di tangan wanita jahat itu." Terlihat raut wajah sedih bercampur geram dirasakan oleh Radit.


Walaupun Radit sangat membenci Ayahnya, namun sebagai seorang anak, Radit tetap memiliki rasa sayang kepada Ayahnya. Melihat Ayahnya kini hilang tanpa kejelasan, membuat hati Radit bagai ditusuk sebilah pedang yang sangat tajam. Dan dengan kejadian ini membuat rasa benci Radit terhadap Bella semakin berlipat ganda.


"Bukankah Kak Radit dulu juga sempat tergila-gila dengannya?" Tiba-tiba Aishah berkata di luar dugaan Radit.


"Tapi itukan dulu, sebelum aku benar-benar tahu bagaimana sifat Bella yang sebenarnya." Radit mencoba membela diri.


"Itu pula yang dirasakan oleh Ayah saat ini. Jika Kak Radit terus saja menyalahkan Ayah karena perasaannya kepada Bella, kenapa Kak Radit tidak pernah menyalahkan diri Kak Radit sendiri? Bukankah Ayah bisa mengenal Bella karena Kak Radit?" Aishah berkata dengan polosnya.


Radit gelagapan mendengar pernyataan Aishah yang membuatnya kesal, namun benar adanya itu. Perkataan Aishah benar-benar telak, membuat Radit terdiam, lidahnya kini terasa kelu. Mulutnya seakan membeku tak dapat berbicara lagi.


Ada benarnya juga perkataan Aishah. Tapi apakah ini semua kesalahanku? Tidak ini bukan salahku. Ini semua adalah salah Ayah. Radit bergumam dalam hati.


"Ini semua adalah kesalahan Ayah. Kalau saja Ayah bisa setia dengan Ibu, semua tidak akan seperti ini. Mungkin saja ini adalah karma dari Tuhan, karena Ayah sudah menghianati kepercayaan Ibu." Radit tersenyum getir.


"Entahlah, aku harus bahagia atau sedih mendengar berita ini." Radit memandang jauh ke luar kaca jendela. Tatapannya melayang jauh ke udara bersama burung-burung yang dengan riangnya terbang kian kemari menantang angin.


"Istighfar Kak, Kak Radit tidak boleh berbicara seperti itu.Walau bagaimanapun juga, Ayah tetaplah orang tua Kak Radit. Bagaimanapun keadaan dan sikapnya kepada kita, kita tetap wajib menghormatinya. Jangan sampai kita menjadi anak yang durhaka. Sehingga membuat hidup kita sengsara, entah di dunia ataupun di akhirat kelak. Nauzubillah Kak, jangan sampai." Aishah mengelus dadanya beberapa kali.


"Tapi Aish, Ayah benar-benar sudah keterlaluan. Mana ada Ayah yang seperti itu!" Radit masih menyimpan kekesalan yang mendalam terhadap Ayahnya.

__ADS_1


"Ya mungkin mulai saat ini, Kak Radit harus belajar bersabar dan ikhlas. Ingat, roda kehidupan itu terus berputar Kak." Aishah menggenggam tangan Radit, lalu menatap matanya dalam-dalam.


__ADS_2