Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Membenci Ayah


__ADS_3

Hari ini genap satu minggu Aishah tinggal di rumah Radit. Matahari pagi itu bersinar dengan sangat cerah. Masih pagi saja sinarnya sudah terang benderang. Di meja makan, tampak Radit dan Aishah sedang menikmati sarapan pagi mereka. Mereka akan berangkat ke kantor bersama. Aishah tidak diijinkan oleh Radit untuk berangkat dan pulang kerja sendiri. Alasannya, karena jaraknya yang jauh, juga karena tak ingin Aishah terlalu kelelahan.


"Sebenarnya aku kurang setuju jika kamu masih terus bekerja." Radit membuka obrolan sambil menikmati sarapan paginya.


"Eh, maksud Kak Radit Aish tidak boleh bekerja lagi?" Aishah menatap Radit lalu mengernyitkan dahinya.


"Aku hanya ingin Aish fokus mengurusku dan melayaniku, masalah nafkah aku akan mencukupkan semuanya untukmu jadi kamu tidak perlu bekerja." Radit mengalihkan pandangannya ke Aishah. Karena sebenarnya uang bulanan yang diberikan kepada Aishah sudah lebih dari cukup. Bahkan dua kali lebih besar dari gajinya di kantor. Jadi untuk apa Aishah bekerja lagi.


"Kalau itu memang keinginan Kak Radit, aku akan resign dari kantor kak. Aku akan mengurus rumah untuk Kak Radit."Aishah menyetujuinya dengan senang hati. Karena memang dia paham dengan baik kewajiban seorang istri. Apalagi jika sang suami tidak mengijinkannya untuk bekerja, maka pantang untuk Aishah melanggarnya.


"Bagus jika Aish bersedia mengikuti perkataanku, jadi kamu akan mulai mengurus resignmu kapan?" Radit mulai memandang Aishah lalu mengalungkan tangannya di bahu Aishah.


"Mungkin secepatnya kak." Aishah mendongak.


"Bagus, terima kasih sayang." Radit mencium kepala Aishah yang terbalut dengan jilbab.


"Kak besok kan hari pernikahan ayah, Kak Radit bisa datang kan?" Aishah bertanya dengan hati-hati. Takut kalau suasana hati suaminya itu berubah menjadi buruk.


"Kita akan datang." Radit meminum segelas susu di depannya hingga setengah.


"Aish akan membelikan sesuatu untuk besok kita bawa sebagai hadiah pernikahan ayah." Aishah tampak sumringah.


"Terserah." Radit tampak tidak peduli.


Radit dan Aishah berangkat ke kantor bersama. Bahkan kemanapun Aishah pergi, Radit selalu siap untuk mengantarnya. Peraturan yang wajib Aishah taati adalah Aishah tidak boleh berboncengan sepeda motor dengan lelaki selain Radit dan keluarganya. Bahkan Aishah tidak diijinkan untuk naik ojek jika tukang ojeknya laki-laki. Radit adalah orang yang sangat cemburuan. Dia tidak bisa melihat wanita yang dicintainya berdua dengan laki-laki lain walaupun hanya sekedar mengobrol.

__ADS_1


Kadang Aishah juga bingung dengan sifatnya yang mudah berubah-ubah. Kadang Radit sangat perhatian dengan Aishah bahkan bisa dikatakan bucin (budak cinta), tapi terkadang Radit juga bisa bersikap sangat cuek bahkan tidak peduli dengan perasaan Aishah. Bahkan dalam berhubungan suami istri Radit bisa sangat kasar bahkan bisa dikatakan menyiksa Aishah. Radit harus mendapatkan apa yang ia inginkan dengan menghalalkan berbagai macam cara. Hal baru yang Aishah ketahui tentang sifat Radit dan tentunya membuat Aishah kaget.


Jam pulang kerja telah tiba, Aishah sudah mengajukan surat pengunduran dirinya dari kantor, tinggal menunggu acc saja. Mobil Radit sudah menunggunya di luar. Aishah segera menghampiri Radit yang sudah menunggunya di dalam mobil. Aishah tak ingin membuat suaminya menunggu terlalu lama.


Aishah segera masuk ke dalam mobil yang pintunya sedari tadi sudah dibukakan oleh sopir Radit. Sopir itu menganggukkan kepalanya sopan. Aishah membalasnya dengan tersenyum lalu memasuki mobil. Tampak Radit di dalam mobil tengah duduk dengan mengenakan kaca mata hitamnya.


Setelah Aishah masuk, sopir itu menutup pintu mobil dan segera duduk di belakang kemudi. Mobil menyala dan melesat meninggalkan area parkir kantor Aishah.


"Bagaimana dengan rencana resign dari pekerjaanmu?" Radit melepas kaca mata hitamnya lalu menatap Aishah.


"Aku sudah mengajukan surat pengunduran diriku kak, tinggal menunggu acc." Aishah membalas tatapan Radit.


"Baguslah, aku ingin setiap pulang kerja ada istriku yang menungguku dengan setia di rumah, seperti ibu dulu. Ibu tidak bekerja setelah beliau sah menjadi seorang istri. Bahkan selama aku mengenal ibu, beliau tidak pernah mengeluh sedikitpun tentang keadaan. Cih bodohnya suami yang menyia-nyiakannya." Radit mengepalkan tangannya.


Setelah makan malam, Radit dan Aishah segera menuju kamar. Hari ini pekerjaan di kantor sangat banyak dan Radit harus mensurvei proyek barunya di beberapa tempat. Ia juga ikut andil dalam penerimaan karyawan baru untuk cabang perusahaan barunya.


Radit membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan kepala yang ia sandarkan pada bantal. Radit memanggil Aishah untuk duduk di sampingnya. Aishah yang baru saja menutup pintu langsung naik ke tempat tidur. Aishah duduk di samping Radit, dengan cepat Radit mengalungkan tangannya di bahu Aishah. Radit membenamkan wajah Aishah di dadanya.


"Aku ingin mulai sekarang kita mengganti kata panggilan kita." Radit menatap mata Aishah lekat-lekat.


"Apa?" Aishah membalas tatapan Radit dengan lembut.


"Aku mau kita saling memanggil sayang. Bukankah itu sangat romantis?" Radit menyunggingkan bibirnya dengan sangat manis.


"Baik kak eh sayang." Aishah mengacungkan jempolnya di depan Radit tanda bahwa ia menyetujuinya. Sepertinya benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Aishah. Kini Aishah mulai bisa menerima Radit dengan baik di hatinya. Meskipun Radit kadang bersikap kasar padanya, tapi itu tidak menyurutkan rasa cintanya. Bahkan Aishah menganggap itu adalah ungkapan rasa sayang suaminya kepadanya.

__ADS_1


"Sayang?"Radit berbisik di telinga Aishah.


"Iya sayang." Aishah menyentuh bibir Radit dengan telunjuknya.


"Besok kita berangkat ke acara pernikahan ayah siang hari saja, jam dua siang." Radit mulai mengalihkan pandangan ke arah lain. Entah kenapa setiap membicarakan ayahnya, wajah Radit berubah 180 derajat. Seolah-olah Radit tidak menyukainya.


"Tapi bukankah acara ijab kabulnya pagi hari?" Aishah mengernyitkan dahinya.


"Iya, lalu kenapa?" Radit menjawab cepat.


"Apakah kamu tidak ingin melihat ayah mengucapkan ijab kabulnya? Aishah mulai mendongakkan wajahnya.


"Untuk apa? bagiku ibuku cuma satu. Kalau saja aku boleh meminta, aku akan meminta kepada Tuhan untuk mengganti ayahku dengan orang lain. Bukankah kamu juga ingin membelikan kado pernikahan untuknya?" Ada rasa geram dalam nada suaranya.


"Sayang, apakah aku boleh bertanya?" Aishah nampak takut-takut. Radit hanya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa sepertinya kamu tidak menyukai ayah?" Aishah menatap mata Radit dengan takut.


"Hahaha apakah orang seperti dia masih pantas dipanggil ayah??..." Radit tertawa getir.


"Memang sebenarnya ada apa jika aku boleh mengetahuinya?" Aishah semakin penasaran melihat sikap Radit.


"Besok kamu akan mengetahui semuanya." Radit mengelus kepala Aishah dengan lembut.


"Aku sangat lelah, ayo kita segera tidur." Radit memegang kedua bahu Aishah lalu mengecup keningnya. Akhirnya Radit tertidur dalam pelukan Aishah setelah kelelahan melakukan aktifitas malamnya bersama tentunya dengan tenaga Radit yang ganas.

__ADS_1


__ADS_2