Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Pindah ke Luar Kota


__ADS_3

"Bu coba panggil Aishah, dia kan harus sholat subuh sekarang." Pak Joko duduk bersimpuh di dalam ruangan yang digunakan sebagai tempat sholat.


"Bapak ini gimana to, Aish kan pengantin baru, ya Ibu ndak mau ganggu to ya. Nanti juga mereka bangun sendiri, Aishah kan selalu bangun tepat waktu." Bu Sekar menimpali. Akhirnya mereka memutuskan sholat subuh berjamaah tanpa Aishah.


Setelah selesai sholat, seperti biasa Bu sekar segera bergegas menuju dapur untuk membuat sarapan. Bu Sekar dibantu oleh Ibu. Rencananya keluarga Aishah akan pulang kampung besok pagi.


Sarapan sudah siap, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk makan sarapan pagi mereka.


"Radit bagaimana, apakah kamu jadi pulang hari ini?" Pak Joko mulai membuka percakapan.


"Iya Pakdhe, Radit dan Aish akan pulang nanti siang. Mungkin banyak barang Aish yang harus dipersiapkan." Radit menatap istrinya yang sedang mengunyah makanannya. Lalu menghela nafas.


"Bagaimana Aish, Aish setuju kan?" Radit menunggu persetujuan dari Aishah. Aishah hanya menganggukkan kepalanya.


"Bapak dan Ibu kapan akan pulang?" Aishah mengalihkan topik pembicaraan.


"Rencananya sih besok, tapi sepertinya kedua Adik kembarmu itu betah tinggal di sini, jadi hanya Ibu, Bapak dan Andini saja yang akan pulang." Ibu menjawab pertanyaan Aishah.


"Biarkanlah mereka menghabiskan waktu untuk menunggu hari wisudanya di sini dulu. Aish kan juga sudah akan pindah, pasti rumah ini akan menjadi sepi." Dari nada bicara Bu Sekar, ia tampak merasa kehilangan.


"Kita juga berencana akan mencari kerja di sini. Iya kan yo" Arya menimpali.


"Iya." Aryo menjawab saudara kembarnya itu dengan makanan yang masih memenuhi mulutnya.


Radit yang sedari tadi memperhatikan percakapan mereka ikut andil berbicara.


"Bagaimana kalau kalian coba melamar di perusahaanku yang baru, kebetulan aku akan merekrut banyak karyawan. Tempat nya juga tidak terlalu jauh dari sini."


"Benarkah kak? Kapan kita bisa mengirim berkas lamarannya?" Arya terlihat sangat antusias.


"Sudah sejak tiga hari yang lalu, kalian bisa mengirimkan secepatnya."Radit.


"Baik Kak, nanti kami akan mengurus berkas-berkas kami, tapi mungkin belum bisa hari ini karena berkas-berkas kami masih tertinggal di rumah." Aryo.

__ADS_1


"Tidak apa, kalau bisa secepatnya. Aku akan merekomendasikan kalian. Karena kemarin dari laporan yang diterima sudah banyak calon pendaftar yang masuk, jadi kalian harus bisa bersaing di sana." Radit.


"Siap Kak, kami akan berusaha dengan maksimal." Semangat Arya mulai berkobar-kobar.


Setelah selesai sarapan, Aishah dan Radit mulai mengemasi barang-barangnya.


"Kemarin Kak Radit sempat bilang kalau Aish akan dipindah kerjakan di kantor yang berada di luar kota, memang kapan Kak Radit mengurusnya? Bahkan Aish baru tahu masalah itu." Aishah menatap suaminya yang sibuk mengepak barang-barang di sampingnya dengan penuh rasa penasaran.


"Aku sudah membicarakan hal itu dengan Pak Bima, sehari sebelum pernikahan kita berlangsung. Dan Pak Bima menyetujuinya. Maaf tidak memberitahukan hal ini terlebih dahulu padamu." Radit menatap mata Aishah.


Melihat Aishah yang kesulitan mengambil barang-barangnya di atas lemari, Radit mencoba untuk membantunya. Walaupun tubuh Aishah sudah tinggi, Aishah masih menggunakan kursi untuk membantunya meraih barang-barangnya yang berada di ketinggian. Aishah mengambil koper besar yang berada di atas lemari, membuat debu-debu berterbangan. Aishah mulai batuk-batuk. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke matanya, sehingga terasa mengganjal di matanya.


"Aish kenapa?" Radit tampak cemas.


"Auw… sepertinya Aish kelilipan Kak."


"Coba Kakak lihat." Radit meraih tangan Aishah lalu membantunya untuk turun.


Radit mendekatkan tubuhnya, memegang pipi Aishah lalu meniup mata Aishah perlahan. Tatapan mereka saling bertemu, lama mereka saling bertatapan. Radit membelai rambut Aishah dengan lembut memegangnya hingga wajah mereka bersentuhan. Aishah dapat merasakan hembusan nafas Radit menyapu lehernya. Radit juga dapat merasakan aroma tubuh Aishah yang sangat harum. Radit mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Aishah. Perlahan tapi pasti Radit mulai mencium bibir Aishah yang merah merekah. Radit menggigit bibir bawah Aishah dengan lembut. Dan Radit mulai melancarkan serangan tangannya yang menjurus ke seluruh penjuru tubuh Aishah. Hingga pergulatan yang ganas sampai di atas ranjang.


Kak Radit melakukannya lagi. Semoga dengan begini, perasaanku akan lebih dengan mudah kuserahkan sepenuhnya kepadamu suamiku.


Aishah membalas pelukan Radit dan ikut terlelap di dalam pelukannya.


Radit mulai terbangun dari tidurnya. Perlahan ia membuka matanya. Radit melihat Aishah yang masih terlelap dalam pelukannya, tak sampai hati jika ia harus membangunkannya. Radit membelai rambut Aishah lalu menciumi pipi dan bibirnya.


Mana tahan aku jika kamu semanis ini.


Dalam tidurpun wajah Aishah terlihat sangat cantik. Radit menyelipkan rambut Aishah ke belakang telinganya. Membuat wajah Aishah semakin tampak jelas. Tak sadar ternyata Radit telah mencium keras leher Aishah, itu membuat Aishah terbangun. Aishah memegangi lehernya. Rasanya masih sakit. Radit memandangi Aishah sambil tersenyum ngeri. Ia mengamati banyak tanda merah yang telah ia buat di sekujur tubuh Aishah. Aishah yang merasa risih menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut.


"Kenapa Kak Radit menatapku seperti itu?" Aishah sampai bergidik ngeri.


"Kenapa harus ditutupi? Aku lebih suka memandangimu seperti ini."

__ADS_1


Radit melepas selimut yang dipegang Aishah lalu membuangnya ke lantai. Radit mulai merangkak mendekati Aishah.


"Sudah Kak, ini sudah siang. Kita kan mau berangkat siang ini. Lagi pula kita juga belum selesai mengemasi barang-barang yang harus kita bawa." Aishah menunjuk ke arah barang-barang yang masih berserakan di dekat koper besar.


"Baiklah kita lanjutkan nanti." Radit mencium bibir Aishah lalu bangun dari tempat tidur.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Aishah yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mendekat ke pintu. Aishah membuka pintu kamarnya dan menemukan Arya dan Aryo sedang berdiri di depannya.


"Ada apa?" Aishah bertanya kepada kedua Adik kembarnya itu.


"Mana Kak Radit?" Arya menjawab pertanyaan Aishah.


Aishah menunjuk ke arah Radit yang tengah sibuk membereskan barang-barang yang ada di kamar. Arya dan Aryo masuk ke dalam kamar lalu mengobrol dengan Radit. Mereka bertanya perihal pekerjaan yang akan mereka lamar nantinya di perusahaan Radit yang baru.


Waktu telah menunjukkan pukul dua siang. Matahari tampak malu-malu menampakkan sinarnya. Awan hitam mulai berkumpul memenuhi langit. Langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi gelap. Radit dan Aishah sudah berpakaian rapi dan siap untuk berangkat ke rumah barunya. Radit mulai memasukkan koper dan barang-barang lain ke dalam bagasi mobilnya. Aishah mulai bersalaman dan berpamitan dengan seluruh anggota keluarga yang sudah berada di depan pintu.


"Aish pamit dulu Budhe, Aish pasti akan sering-sering berkunjung. Budhe dan Lakdhe jaga kesehatan ya." Lalu Aishah memeluk Budhenya.


"Aish juga baik-baik di sana. Nurut sama suami." Bu Sekar membalas pelukan Aishah.


"Cepet berikan Arya ponakan ya Kak." Arya mulai menggoda Kakaknya. Aishah memukul lengan Adiknya itu dengan keras.


"Auww… hahaha." Tawa Arya dan Aryo semakin menjadi-jadi. Mereka memang suka menggoda Kakaknya itu.


Lalu Aishah berpamitan dengan Bapak, Ibu, Andini dan Pakdhenya.


"Ibu dan Bapak besok hati-hati ya kalau pulang kampung, maaf Aish tidak bisa mengantar." Aishah memeluk Ibunya.


"Ndak papa nduk, kalian hati-hati di jalan. Sering-sering hubungi Ibu di kampung. Belajarlah jadi Istri yang sholeha untuk Suamimu." Ibu memegang kedua tangan Aishah.


"Andini jangan nakal ya, jaga Bapak dan ibI dengan baik, belajar yang rajin, oke!" Aishah menunjukkan jari kelingkingnya lalu disambut dengan jari kelingking Andini.


"Buat kalian berdua, semangat! semoga segera mendapat pekerjaan sesuai cita-cita kalian." Aishah menyalami Arya dan Aryo secara bergantian.

__ADS_1


Selesai berpamitan, Aishah masuk ke dalam mobil. Karena Radit telah membukakan pintu mobil untuknya dari tadi. Sebelum masuk mobil, Radit menganggukkan kepalanya di depan semua anggota keluarga lalu duduk di belakang kemudi.


Radit melajukan mobilnya keluar halaman rumah Pak Joko. Tak beberapa lama mobil Radit hilang di persimpangan jalan.


__ADS_2