
Malam telah berlalu, sinar matahari pagi datang menelusup masuk ke dalam ruang kamar melalui celah gorden jendela yang mulai berkibar diterpa angin sepoi-sepoi. Matahari mulai naik, sinar terangnya begitu terasa hingga menusuk mata yang terlelap.
Pak Banu terbangun dari tidur nyenyaknya setelah terkena sinar matahari yang menghangatkan tubuhnya. Dilihatnya Bella masih tidur di sampingnya. Bella terbalut dalam selimut yang sama dengannya. Sepertinya hari sudah siang pikirnya. Lalu Pak Banu memeriksa Bella yang sedang terlelap lebih dekat.
Dilihatnya wajah istrinya yang sedikit tertutup rambut. Diselipkannya rambut yang terurai menutupi wajah istrinya itu ke belakang telinga istrinya. Lalu dikecupnya kening Bella dengan lembut, Bella merasa geli dan menggeliat. Membuat selimut yang menutupi tubuhnya turun sampai ke pinggangnya. Memperlihatkan setiap lekukan tubuh Bella yang terbalut dengan baju tidurnya yang seksi.
Pak Banu mengurungkan niatnya untuk bangun. Matanya mulai menjelajahi seluruh tubuh istrinya dari rambut hingga kaki.
"Istriku memang selalu terlihat menarik, apalagi dengan baju tidur yang seksi itu." Pak Banu mulai mendekatkan tubuhnya, melihat keindahan tubuh istrinya lebih dekat. Merasakan aroma tubuh istrinya yang selalu wangi.
"Kamu memang paling pandai mengalihkan duniaku. Hanya kamu yang mampu menggodaku, walau hanya dengan bahasa tubuhmu, mengajakku bercinta bahkan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kamu memang wanita paling hebat yang selalu berhasil membuat setiap lelaki takluk kepadamu. " Pak Banu mencium bibir Bella dengan lembut, mengulumnya semakin dalam hingga Bella terbangun.
"Mmmmm. . . " Bella mulai bangkit dari tidurnya, namun Pak Banu mencegahnya. Pak Banu menutup mulut Bella dengan mulutnya. Terus mencumbunya hingga Bella tidak berkutik lagi di dalam cengkeramannya. Suasana pengantin baru tampaknya belum luntur sedikitpun dalam hubungan mereka.
"Kamu selalu membuatku tidak tahan dengan tubuhmu itu." Pak Banu mulai naik ke atas tubuh Bella menatap lekat-lekat tubuh istrinya dengan penuh hasrat. Tanpa aba-aba Pak Banu mulai melakukan aksinya.
__ADS_1
Dibelainya rambut istrinya, lalu mendekatkan wajahnya hingga menempel di wajah Bella. Pak Banu ******* bibir Bella cukup lama hingga Bella ikut larut di dalamnya. Bella hanya pasrah tanpa perlawanan melihat nafsu suaminya yang telah menggebu. Sepertinya Bella mulai terangsang. Bahkan Bella memancing nafsu suaminya itu dengan menurunkan tali baju tidur di pundaknya hingga memperlihatkan bagian dadanya.
Pak Banu tertawa senang, tidak mau menyia-nyiakan sedikitpun barang berharga yang sangat dinanti-nantikan. Pak Banu langsung menerkam dada Bella tanpa ampun, mempermainkan dengan tangan dan mulutnya sesuka hati, hingga meninggalkan banyak tanda merah di sana. Bahkan Pak Banu memberi tanda merah di sekujur tubuh Bella, membuat Bella meringis kesakitan.
"Sudah beib, sakit… " Bella merintih disertai desahan, membuat Pak Banu semakin ingin melakukannya lagi dan lagi. Pak Banu semakin ketagihan, sehingga menikmati setiap inci dari tubuh istrinya dengan menggila. Mereka menikmati pagi mereka cukup lama di tempat tidur. Bahkan Bella hingga lemas dibuatnya.
Setelah puas dengan aksinya, Pak Banu memeluk tubuh istrinya yang sudah kehabisan tenaga itu dengan erat. mengecup kening dan bibirnya lalu duduk di samping istrinya yang mulai terlelap. Walaupun sudah cukup tua, Pak Banu masih memiliki stamina yang kuat. Semua itu didapatkan dari hasil kerja kerasnya, dengan rutin melatih otot-ototnya di gym. Setiap dua kali dalam satu minggu, Pak Banu selalu berolahraga dan melatih otot-ototnya. Jadi pantas saja jika tenaganya masih prima dan tidak kalah dengan tenaga para pria muda.
Pak Banu melirik ponsel yang berada di atas meja, lalu melihat jam di ponsel telah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Pak Banu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, Pak Banu mengecek ponselnya. Dilihatnya banyak panggilan tak terjawab dari Pak Joko semalam. Pak Banu juga menemukan pesan masuk yang telah dibuka.
"Bangun…" Pak Banu mendekat ke tempat tidur, lalu membuka selimut yang menutupi tubuh Bella yang tanpa busana.
"Sudah sayang, aku sangat lelah." Bella menarik kembali selimut yang ditarik Pak Banu hingga menutupi lehernya. Bella menyangka bahwa suaminya memintanya untuk melayaninya lagi.
"Bangun cepat! Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau Radit kecelakaan semalam!" Nada suara Pak Banu meninggi. Sontak Bella terbangun dengan kebingungan harus menjawab apa. Kemudian Bella duduk menyandarkan badannya pada bantal untuk menetralkan hatinya. Bella melilit tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
"Bukankah semalam aku sudah membangunkanmu, bahkan aku sudah mendorongmu dengan keras untuk melepaskan pelukanmu. Tapi kamu malah tidur dengan pulasnya." Bella berkata dengan lantang. Pak Banu mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Memang semalam badannya terasa sangat lelah sehingga ia lekas tidur dan tidak ingat apa-apa lagi.
"Tapi setidaknya kamu bisa memberitahuku tadi pagi." Nada suara Pak Banu mulai melemah.
"Bagaimana bisa aku memberitahumu, jika kamu memaksa aku untuk melayanimu hingga aku lemas! Bahkan untuk membuka mata saja aku belum sempat." Bella mulai menaikkan nada suaranya.
"Baiklah sayang maafkan aku. Tapi sekarang Radit sedang di rumah sakit. Ayo kita segera ke sana." Pak Banu membelai rambut Bella dengan lembut.
"Baiklah, aku akan membersihkan badanku dulu." Bella segera beranjak dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Dengan santainya Bella berjalan melenggak lenggok di depan suaminya tanpa menggunakan busana sama sekali.
Secara reflek, Pak Banu tidak tahan melihat tubuh istrinya yang tanpa sehelai benang pun itu melenggak-lenggok di depan matanya. Nalurinya sebagai lelaki bangkit. Pak Banu bangkit dari duduknya lalu memeluk Bella dari belakang. Mencium leher Bella yang sudah penuh dengan tanda merah. Tangannya mulai tidak terkondisikan, meraba setiap lekukan tubuh istrinya. Hingga sampai pada tempat favoritnya.
Tidak mau hanya pasrah dengan aksi yang dilakukan suaminya, Bella membalas serangan-serangan suaminya dengan sama sadisnya. Bella sengaja mengulur waktu, agar tidak pergi ke rumah sakit menjenguk Radit dengan segera. Mereka masuk ke dalam kamar mandi bersama dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
Setelah selesai dengan urusan mereka, Pak Banu dan Bella mandi bersama. Mereka keluar dari kamar mandi bersamaan. Selesai mengganti pakaian dan merias diri Pak Banu segera keluar dari kamar bersama dengan Bella untuk menikmati sarapan pagi mereka, walaupun hari sudah siang. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 siang.
__ADS_1
Pak Banu dan Bella menikmati sarapan pagi mereka dengan lahap. Sepertinya kegiatan mereka pagi ini cukup menguras banyak tenaga. Barulah setelah selesai sarapan Pak Banu mengajak Bella untuk mengunjungi Radit di rumah sakit. Tanpa bisa berkata apapun, Bella hanya bisa menuruti begitu saja semua perintah suaminya. Walaupun sebenarnya hatinya enggan untuk berbelas kasihan kepada Radit. Tapi disisi lain, Bella juga ingin melihat seberapa parah keadaan Radit dan strategi apa lagi yang akan Bella susun selanjutnya.