Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Diusir


__ADS_3

Kini genap satu bulan sudah Radit tinggal di rumah sakit. Hari ini Radit sudah dibolehkan pulang ke rumah. Meskipun keadaannya masih lemah, namun Radit sudah diperbolehkan rawat jalan. Setiap tiga hari sekali Radit harus menjalani terapi berjalan di rumah sakit. Walaupun sampai saat ini kakinya belum bisa digunakan untuk berjalan, namun semangat Radit untuk bisa berjalan secepatnya terus berkobar.


Pagi tadi, keluarga Aishah datang untuk menyambut kepulangan Radit dari rumah sakit. Bapak, Ibu, Budhe, Arya, Aryo dan Andini datang ke rumah Radit mempersiapkan kejutan untuk menyambut kedatangan Radit. Mereka sengaja tidak datang ke rumah sakit agar bisa menyiapkan kejutan untuk Radit tanpa sepengetahuan dari Radit. Hanya Pak Joko yang datang menjemput Radit ke rumah sakit. Ini semua adalah ide dari Aishah. Aishah ingin membuat Radit bahagia setelah banyaknya cobaan yang mereka hadapi akhir-akhir ini.


Radit duduk di atas kursi roda dengan didorong oleh Aishah menyusuri koridor rumah sakit. Setelah selesai mengemasi barang-barang, Aishah dan Radit segera menaiki mobil yang dikemudikan oleh Pak Joko. Setelah Radit dan Aishah masuk ke dalam mobil, Pak Joko segera menancapkan gas dan mobil melaju menuju keramaian jalan.


Setelah sampai di rumah, Pak Joko segera membantu Radit untuk turun dari mobil. Pak To dengan sigap mengeluarkan barang-barang dari dalam bagasi. Aishah membuka pintu rumah perlahan. Rumah terlihat sepi dan gelap.


"Kenapa rumah menjadi gelap seperti ini?" Radit mengerutkan dahinya.


"Surprise . . . " Semua orang yang tadi sempat bersembunyi, keluar bersamaan.


"Selamat datang kembali di rumah Kak Radit. Kami sangat senang Kak Radit sudah kembali lagi ke rumah. Kakak cepat sembuh ya!" Andini menghampiri Radit diikuti dengan anggota keluarga yang lain dengan membawa sebuah kue bolu yang dihias sebegitu rupa. Sehingga terlihat begitu menarik dan lezat untuk disantap.


Radit merasa sangat bahagia, ia tidak menyangka keluarga Aishah menyempatkan datang jauh-jauh untuk menyambut kedatangannya dari rumah sakit.


" Selamat ya Radit, semoga kakimu lekas pulih dan bisa berjalan kembali." Ibu mendekati Radit lalu menjabat tangannya. Ibu menyunggingkan senyum manisnya. Membuat Radit teringat kepada sosok ibu yang dulu sangat disayanginya.


"Terima kasih semuanya sudah repot-repot datang kemari untuk menyambut kedatanganku. Aku tidak menyangka kalian akan datang saat ini." Radit terlihat begitu bahagia.


"Kami tidak pernah merasa direpotkan." Bu Sekar menimpali. Lalu mendekat untuk menjabat menepuk bahunya beberapa kali.

__ADS_1


"Maafkan kami, tidak bisa menjengukmu saat kamu berada di rumah sakit. " Bapak juga ikut ambil suara.


"Tidak apa Pak, itu tidak menjadi masalah bagiku. Kalian sudah bisa datang saat ini saja aku sudah sangat bahagia." Radit membalas jabat tangan Bapak dengan antusias.


"Sekarang kita sudah menjadi keluarga Radit, jadi jangan sungkan-sungkan jika ada yang ingin disampaikan." Pak Joko mendekati Radit lalu menepuk pundaknya.


"Terima kasih semuanya, karena kalian sudah ada di saat aku membutuhkan dukungan." Radit tersenyum senang.


Di tengah kebahagiaan yang tengah dirasakan Radit, tiba-tiba Bella datang dengan empat orang lelaki yang berbadan kekar dan terlihat menyeramkan. Dan seorang lelaki yang tak lain adalah sekretaris Ayah Radit di belakangnya. Bella datang bak tamu tak diundang. Semua orang yang berada di dalam ruangan terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba itu. Keluarga Aishah sudah tahu tentang sifat buruk Bella, sehingga mereka sudah menduga apa yang akan Bella lakukan di sini tak lain hanya akan membuat keributan.


Mereka seolah tidak memperdulikan kedatangannya, karena memang kedatangannya sama sekali tidak diharapkan. Bella datang tanpa permisi. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu bahkan menganggap Bella sedang tidak berada di sana. Mereka pura-pura menyibukkan diri dengan melanjutkan pembicaraan tanpa memperdulikan kehadiran Bella.


Radit yang tadinya bermuka ceria pun kini berubah menjadi masam. Raut mukanya tak dapat disembunyikan lagi. Karena memang sudah lama Radit memendam amarahnya kepada Bella. Namun Bella dengan percaya dirinya berlenggak lenggok di depan Radit tanpa merasa bersalah sedikitpun. Bella menghentikan langkahnya di depan Radit.


"Apa yang kamu mau? Kamu belum puas dengan apa yang telah kamu lakukan kepadaku!" Radit sudah mengeluarkan sungutnya.


"Hey . . . apakah seperti ini caramu menyambut tamu? Apalagi aku sudah menjadi Ibumu sekarang, mana sopan santunmu!" Bella berkacak pinggang di depan Radit.


"Cih, aku tidak pernah sudi punya Ibu sepertimu! Dasar wanita ular berkepala dua!" Radit mencoba berdiri untuk menampar Bella, namun dengan sigap Bella menghindar membuat Radit jatuh ke lantai. Aishah dan yang lain segera menghampiri Radit untuk membantunya kembali duduk di kursi roda.


"Jangan macam-macam ya! Apa yang bisa kamu lakukan dengan kaki lumpuhmu itu! Sekarang kamu masih bisa disini pun berkat belas kasihanku jadi jaga kelakuanmu itu!" Bella tersenyum licik dengan bibir menyeringai. Kemudian Bella membalikkan badannya membelakangi Radit lalu melipat tangan di dadanya.

__ADS_1


"Maksud kamu apa! Ini adalah rumah peninggalan Ibu, jadi jangan pernah macam-macam dengan rumah ini!" Radit sudah kehilangan kesabarannya.


"Dengar baik-baik ya! Rumah ini sekarang sudah menjadi milikku seutuhnya, jadi sebentar lagi aku akan menendangmu keluar dari rumah ini! Bahkan semua yang kamu miliki saat ini sudah menjadi milikku. Hahaha" Tawa Bella menggema di seluruh ruangan, membuat semua orang yang berada di sana merinding dibuatnya.


"Lihat ini!" Bella menyerahkan surat tanda pemindahan kekuasaan dan seluruh harta yang dimiliki Radit menjadi miliknya ke tangan Radit. Radit menerima surat itu dengan kasar, lalu membaca surat itu dengan cepat.


"Apa! Pasti kau sudah gila! Dasar wanita ular! Kau benar-benar sudah kelewat batas!" Radit berusaha meraih Bella dengan sekuat tenaga, namun sekretaris yang dari tadi berdiri di belakang Bella segera menepisnya.


Rumah dan seluruh kekayaan Radit memang masih atas nama Ayahnya, sehingga wajar saja jika Bella dapat dengan mudah memindah kepemilikannya jatuh ke tangan Bella hanya dengan tanda tangan dari Pak Banu saja. Radit tidak pernah menyangka Bella akan bertindak selicik itu.


"Jadi sekarang juga kalian pergi dari rumah ini!" Bentak Bella.


"Kamu tidak bisa mengusir kami dari sini begitu saja. Ini adalah rumah peninggalan Ibu, jadi kamu jangan coba-coba untuk memilikinya!" Radit mencoba mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya.


"Apa kamu sudah buta! Atau kamu memang bodoh, tidak bisa memahami arti dari surat itu! Di situ sudah jelas bahwa kamu sekarang sudah tidak memiliki apapun lagi, dasar pecundang!" Bella menunjuk surat yang masih dipegang oleh Radit.


"Aaaarggghhh . . . ." Radit berteriak dengan kencang. Radit memandang surat yang masih dipegangnya, kemudian merobek-robeknya lalu membuangnya di depan Bella dengan kasar. Emosi Radit kini telah memuncak, namun ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kakinya yang lumpuh memaksanya untuk menerima semua yang dialaminya saat ini.


"Dasar kau wanita jahat! Kau memang wanita ular berkepala dua! Kau benar-benar licik! Tunggu saja, aku akan membalasnya!" Wajah Radit berubah menjadi merah, bahkan jika dapat dilihat asap pun mungkin sudah keluar dari atas kepalanya.


"Hahahaha, sekarang juga, kalian kemasi barang-barang rongsokan kalian dan angkat kaki dari sini! Cepat!" Bella menunjuk keluar. Para lelaki yang berbadan kekar tadi segera bertindak. Mereka masuk ke dalam kamar-kamar lalu dengan sembarang mengepak baju-baju yang tersimpan di lemari dengan cepat.

__ADS_1


Setelah selesai memasukkan baju-baju ke dalam koper, empat lelaki kekar itu menyeret Radit, Aishah dan semua keluarga Aishah dengan kasar keluar rumah. Hanya pembantu rumah itu yang masih diperbolehkan tinggal di sana.


__ADS_2