
Hari-hari berlalu dengan cepatnya. Aishah kini lebih menekuni usaha kulinernya sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luangnya di saat dia tidak bekerja. Bu Sekar sebagai orang terdepan yang selalu mendukung kegiatan positif yang dilakukan Aishah, selalu berada di samping Aishah dengan setia. Bu Sekar dengan gigih membantu Aishah mengembangkan usahanya. Juga untuk mengisi hari tuanya, Pak Joko dan Bu Sekar kini lebih sering membantu Aishah dalam menangani usaha kateringnya.
"Selamat pagi semua." Aishah menarik kursi, kemudian duduk di sana untuk makan bersama dengan pakdhe dan budhenya.
"Pagi Aish, semangat sekali sepertinya pagi ini." Bu Sekar tampak tersenyum melihat semangat pagi Aishah yang berkobar-kobar.
"Hehe iya Budhe, alhamdulillah. Rencananya Aish akan membuka cabang restoran baru di dekat kantor Aish." Aishah mengambil beberapa makanan ke dalam piringnya hingga penuh.
"Alhamdulillah, kamu sudah menemukan tempat yang cocok untuk usahamu ini Nduk?" Pak Joko ikut menanggapi perkataan Aishah.
"Sudah Pakdhe, kemarin Aish sudah melihat-lihat tempatnya. Dan menurut Aish sangat strategis, karena dekat dengan area perkantoran serta perusahaan-perusahaan yang notabene karyawannya banyak." Aishah mulai memakan suapan pertama ke dalam mulutnya.
"Bagus kalau begitu, semoga usahamu terus maju dan berkembang dengan pesat ya Nduk." Bu Sekar tampak senang melihat keberhasilan Aishah.
"Lalu kapan rencananya kamu akan membukanya?" Pak Joko semakin penasaran.
"Kalau untuk itu Aish belum bisa memastikan. Karena Aish masih harus merenovasi ulang bangunannya dulu , lalu merekrut beberapa karyawan baru terlebih dahulu Pakdhe." Aishah menatap pakdhenya.
"Tidak apa-apa Aish, yang terpenting kamu persiapkan semuanya dulu dengan baik." Bu Sekar menasihati.
"Iya Budhe, lagi pula Aish kan juga masih kerja. Jadi harus menunggu waktu luang dulu agar Aish bisa mengerjakan semuanya." Aishah melanjutkan sarapan paginya.
"Apakah tenagamu tidak terlalu terforsir, jika kamu masih tetap bekerja di kantor?" Pak Joko menyelesaikan sarapannya.
"Insyaallah tidak, lagi pula setelah pulang kantor Aish masih memiliki cukup banyak waktu luang kok. Aish nanti malah bingung mau ngapain." Aishah juga selesai dengan makanannya.
"Ya terserah kamu saja kalau seperti itu. Tapi Pakdhe harap, kamu jangan memforsir seluruh tenaga dan pikiranmu hanya untuk uang. Kamu juga harus memikirkan pendamping hidupmu. Sudah waktunya kamu mencoba membuka hatimu kembali untuk orang lain." Pak Joko berkata dengan serius.
"Iya Pakdhe, Aish juga sedang mencobanya." Aishah menatap pakdhe dan budhenya secara bergantian.
"Aish, sebenarnya ada yang ingin Budhe dan Pakdhe tanyakan kepadamu." Bu Sekar memegang bahu Aishah dengan lembut.
"Apa Budhe?" Aishah tampak penasaran.
__ADS_1
"Sebenarnya, bagaimana hubunganmu dengan Dokter Dariel?" Bu Sekar mengernyitkan dahinya.
"Dokter Dariel dan Aish hanya teman Budhe, memangnya kenapa?" Aishah semakin bingung dengan pertanyaan budhenya itu.
"Budhe lihat kok sepertinya kalian sangat dekat. Dokter Dariel juga orangnya sangat baik dan dewasa lagi." Bu Sekar tampak kagum dengan Dokter Dariel.
"Iya Budhe, Dokter Dariel memang orang baik. Dan kami memang dekat. Tapi kami hanya sebatas teman saja, tidak ada hubungan yang lebih." Aishah meyakinkan budhenya jika hubungannya dengan Dokter Dariel hanya sebatas teman biasa.
"Budhe pikir, kalian ada hubungan yang spesial. Tapi sepertinya Dokter Dariel itu menyimpan rasa denganmu loh Aish." Bu Sekar mencoba menebak isi hati Dokter Dariel.
"Ah Budhe, ya tidak mungkin. Aish sadar diri kok siapa Aish sekarang. Dokter Dariel itu terlalu baik untuk Aish, dia berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Aish. Lagi pula, sebenarnya Dokter Dariel juga sudah mencintai seseorang saat ini. Hanya saja mereka tidak bisa bersatu." Aishah bercerita panjang lebar.
Bu Sekar dan Pak Joko hanya terdiam, mereka tidak ingin memaksakan kehendak mereka kepada Aishah sehingga membuat Aishah tertekan. Mereka sangat menyayangi Aishah, jadi apapun yang akan dilakukan Aishah, selama itu hal positif, mereka akan selalu mendukungnya. Setelah selesai sarapan, Aishah segera berangkat ke kantor. Sementara Pak Joko dan Bu Sekar berangkat menuju restoran Aishah yang sekarang dikelola mereka berdua.
Aishah mengemudikan mobilnya dengan pelan-pelan. Dia tidak ingin buru-buru sampai di kantor hari ini, karena memang hari masih pagi. Sehingga Aishah ingin menikmati suasana jalanan yang masih sepi. Karena belum banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Udara di jalanan pun tergolong masih segar, ya walaupun tidak sesegar di pedesaan.
Sepanjang perjalanan, Aishah memikirkan kembali kata-kata pakdhe dan budhenya tadi.
Benar juga apa kata Pakdhe dan Budhe. Untuk apa aku bekerja sekeras ini, jika nantinya tidak memiliki seseorang yang akan kuajak menikmati hasil kerja kerasku selama ini bersama-sama. Dokter Dariel sebenarnya baik juga. Tapi sepertinya dia sudah terlanjur cinta mati dengan Dokter Viola.
Tidak terasa, mobil Aishah sudah tiba di depan perusahaan tempatnya bekerja. Melamun ternyata dapat mempercepat perjalanannya. Aishah segera menuju area parkir untuk memarkirkan mobilnya. Tidak sengaja mobil Aishah berpapasan dengan mobil Aldi yang juga baru sampai. Aishah segera turun dari mobil.
"Aish tunggu!" Aldi mengejar langkah Aishah dari belakang. Aishah menghentikan langkahnya lalu menengok ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Kenapa Pak? Ada yang bisa saya bantu?" Aishah bersikap sangat sopan kepada Aldi. Karena memang Aldi adalah atasannya yang sekaligus sebagai pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Setelah sembuh dari penyakitnya yang mematikan, Aldi kembali bangkit untuk menata kehidupannya. Meskipun sangat berat, karena telah kehilangan sosok wanita yang selama ini dicintainya Aldi tetap bertahan dengan sekuat tenaga. Serta berkat semangat dan dukungan dari orang-orang di sekitar yang menyayanginya Aldi kembali menemukan semangat hidupnya. Kemudian Aldi meneruskan perusahaan keluarganya yang berada di luar negeri.
Seiring berjalannya waktu, Aldi mampu mengembangkan perusahaannya hingga merambah kembali ke dalam negerinya. Lalu Aldi memutuskan untuk kembali ke negara asalnya. Lagi pula Aldi juga tidak tega jika melihat kakek dan neneknya hanya tinggal berdua. Aldi mengajak serta semua keluarganya untuk kembali. Juga karena Alya telah menyelesaikan kuliahnya di sana. Keluarganya setuju untuk kembali, dan mereka kini telah menetap di sini.
Selain keluarga yang selalu bersamanya untuk mendukung dan memberikan semangat untuk Aldi, ada salah satu orang yang sangat berjasa dalam kehidupan Aldi. Orang itu adalah Dokter Viola. Dokter Violalah yang telah berhasil membuat Aldi sembuh dari penyakit kanker otak yang hampir merenggut nyawanya. Dengan sabar dan telaten, Dokter Viola merawat Aldi dengan penuh keyakinan bahwa Aldi bisa sembuh. Maka dari keyakinan Dokter Viola itu kemudian menular kepada Aldi. Semangat hidup Aldi kembali bersemi seiring perkembangan kesehatan yang dialaminya.
Kebersamaan Aldi dan Dokter Viola selama ini, ternyata membuat Dokter Viola jatuh hati kepada Aldi. Dokter Viola bahkan ikut pindah ke sini agar bisa tetap dekat dengan Aldi. Berkat semua kebaikan yang telah dilakukan Dokter Viola kepada Aldi, membuat hati Aldi luluh. Aldi berusaha membuka kembali hatinya yang sudah tertutup rapat. Aldi berusaha membalas perasaan Dokter Viola kepadanya selama ini. Namun, setelah bertemu dengan Aishah, hati Aldi kembali berdetak kencang. Apalagi setelah tahu jika Aishah sudah bercerai dengan Radit, itu membuat hati Aldi kembali gundah.
__ADS_1
Bayangan Aishah selalu muncul di dalam hati dan ingatannya. Dan Rasa cinta yang selama ini Aldi kubur dalam-dalam, kembali menyeruak ke permukaan. Semua itu tentu membuat Aldi semakin gundah. Di sisi lain ada Dokter Viola yang sudah menyelamatkan hidupnya bahkan sangat baik kepadanya. Namun, di sisi lain juga hatinya tidak bisa berbohong, bahwa Cinta Aldi masih untuk Aishah.
"Tidak perlu berbicara formal seperti itu denganku." Aldi menghampiri Aishah.
"Maaf Pak, tapi kedudukan saya di sini sebagai karyawan Bapak. Jadi sudah seharusnya saya bersikap sopan dan menghormati Bapak sebagai atasan saya." Aishah menundukkan kepalanya.
"Tapi kamu tetap menduduki kedudukan paling tinggi di hatiku Aish." Aldi menatap mata Aishah dengan tatapan penuh makna.
"Maaf Pak ini di kantor dan saya tidak mengerti dengan ucapan Bapak. Jika tidak ada hal penting, saya akan kembali bekerja." Aishah masih bersikap formal kepada Aldi. Aishah segera berlalu pergi, namun segera dicegah oleh Aldi.
"Sebentar Aish. "Aldi memegang lengan Aishah, membuat Aishah berhenti. Aishah memandang lengannya yang dipegang oleh Aldi. Menyadari tatapan dari Aishah, Aldi segera melepaskannya.
"Aku ingin berbicara empat mata denganmu." Aldi berkata dengan suara pelan.
"Maaf, tapi ini sudah jam kerja Pak." Aishah berusaha menolak permintaan Aldi kepadanya.
"Tidak sekarang, tapi nanti sore sepulang kerja. Bagaimana? apakah kamu bersedia?" Aldi tampak memohon.
"Maaf Pak, tapi saya sedang ada urusan. Jadi sepertinya saya tidak bisa." Aishah menolak permintaan dari Aldi.
"Kenapa kamu terus menghindar dariku Aish? aku hanya ingin berbicara denganmu, itu saja." Aldi menatap mata Aishah dengan tatapan penuh permohonan.
"Sekali lagi maaf Pak, tapi saya benar-benar ada urusan yang harus saya selesaikan nanti sore." Aishah menunduk, dia tidak berani menatap mata Aldi saat ini.
Aldi hanya terdiam, dia merasa sedih. Seolah kini dia merasa telah benar-benar kehilangan sosok Aishah di dalam hidupnya. Padahal beberapa waktu yang lalu Aldi merasa sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan Aishah. Apalagi tahu jika Aishah sudah tidak bersuami lagi. Aldi berpikir bahwa dia masih memiliki kesempatan untuk bisa bersama dengan Aishah. Namun, dengan keadaan yang seperti ini, semangat Aldi kembali kendur. Aldi tidak yakin bisa bersama dengan Aishah.
"Saya masuk dulu Pak, mari." Aishah pergi masuk ke dalam kantor meninggalkan Aldi seorang diri yang masih terus memandang kepergiannya.
Maaf Di, bukan maksudku untuk membuatmu sedih. Hanya saja, aku tidak ingin memberikanmu harapan lagi. Aku tidak ingin membuat Dokter Viola sakit hati. Apa lagi aku sekarang sadar diri akan statusku. Aku tidak pantas untukmu, Dokter Viola jauh lebih pantas untuk mendampingimu.
Aishah berjalan memasuki pintu masuk perusahaan tempatnya bekerja. Tampak di sudut matanya ada yang mulai menganak sungai. Aishah segera menyekanya sebelum jatuh membasahi pipinya. Aishah juga tidak ingin ada orang lain yang melihat kesedihan yang sedang dirasakannya saat ini. Lalu Aishah segera menuju ruang kerjanya. Aishah segera menyibukkan dirinya dalam pekerjaan yang telah menunggunya. Aishah sengaja membenamkan dirinya dalam kesibukan, agar tidak ada lagi celah kesedihan untuk berusaha menelusup masuk ke dalam hati dan pikirannya.
Kenapa hubungan kita menjadi seperti ini Aish? Kemarin aku sempat sudah senang karena bisa bertemu denganmu lagi. Tapi ternyata semua tidak semudah yang kubayangkan. Bahkan, kini jalan kita semakin sulit. Bisakah kita bersatu Aish?
__ADS_1
Aldi terus bergumam di dalam hati. Lalu dia mengikuti langkah Aishah yang sudah tidak terlihat masuk ke dalam kantor. Aldi segera menuju ruangannya untuk bekerja.