Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Hasil Pemeriksaan


__ADS_3

Terdengar bunyi alarm dari ponsel Aishah. Waktu telah menunjukkan pukul empat dini hari. Aishah terbangun dari tidurnya dan mencoba untuk membuka matanya perlahan. Namun, perutnya terasa sesak. Ada sesuatu yang berat menindih tubuhnya, membuat tubuhnya merasa hangat. Dilihatnya Radit yang tengah tertidur pulas dengan memeluk tubuhnya bagaikan guling yang empuk.


"Aduh berat sekali Kak Radit!" Aishah ngomel-ngomel sendiri karena mendapati suaminya tidur dengan menindih tubuhnya. Aishah mencoba memindahkan tubuh Radit dari atas tubuhnya, namun percuma. Tubuh Radit yang kekar membuat Aishah tak dapat berbuat apa-apa.


"Kak,ayo bangun!" Aishah membelai lembut kepala suaminya yang masih tertidur dengan pulasnya itu. Namun, tak ada jawaban. Radit tidak bergeming sedikit pun. Lalu Aishah menggoyang-goyangkan bahu Radit.


"Hmmm…. " Radit hanya menggeliat saja dengan mata masih tertutup rapat.


Aishah masih terus berusaha membangunkan suaminya itu. Namun, Radit masih saja tidak bergeming sedikit pun. Akhirnya kesabaran Aishah habis. Aishah mencubit pinggang Radit dengan kerasnya.


"Aduuuuhh…. "Radit langsung bangkit dari tidurnya kemudian meringis kesakitan sambil mengelus-elus pinggang bekas cubitan Aishah.


"Aish, kenapa kamu tega sekali denganku?" Radit masih meringis kesakitan.


"Habis Kak Radit, tidur sudah kaya orang pingsan saja. Dibangunkan dari jam empat tidak ada jawaban sama sekali." Aishah melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Hehe maaf, kan aku lagi tidur." Radit berusaha membela diri.


"Ya sudah ayo kita sholat sekalian mumpung Kak Radit sudah bangun." Aishah duduk di tepi tempat tidur. Namun, Radit malah kembali berbaring dan membenahi selimutnya.


"Belum juga adzan subuh." Radit menutupinya semua tubuhnya dengan selimut.


Akhirnya, Aishah bangun dan sholat sendiri. Ya memang selalu sendiri. Setelah sholat, Aishah pergi ke dapur untuk memasak. Walaupun kini Aishah telah menjadi orang kaya, namun tak mengubah kebiasaan sehari-harinya untuk memasak dan bersih-bersih rumah. Bahkan kesederhanaan yang melekat pada diri Aishah tak berubah sedikit pun.


"Aish, aku bantu masak?" Kirana tiba-tiba muncul membuat Aishah dan Bibi terkejut.


"Eh, Kirana. Sudah bangun? Tidak usah membantu, sebaiknya kamu mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor saja. Hari ini kamu akan melakukan interview tahap kedua. Jadi lebih baik persiapkan dirimu sebaik mungkin." Aishah menengok sebentar ke arah Kirana lalu tersenyum. Kemudian, Kirana melanjutkan memasaknya dibantu oleh Bibi yang cekatan.


"Eh iya." Kirana melihat dirinya yang masih kumal karena baru bangun tidur. Tadi dia hanya mencuci muka dan menggosok giginya saja. Lalu Kirana kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke kantor.


Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 menit. Radit sudah siap untuk berangkat ke kantor. Aishah dengan telaten memasangkan dasi untuk suaminya. Menyiapkan sepatu kerja dan membawakan tas kerja Radit turun ke bawah. Radit dan Aishah akan makan sarapan bersama.


"Sayang, kamu benar-benar tidak apa-apa kan berangkat ke rumah sakit tanpa aku?" Radit menunjuk menu yang ingin dia makan. Lalu Aishah mengambilkannya. Radit masih merasa khawatir dengan keadaan Aishah.


"Aku tidak apa-apa sayang. Lagi pula aku kan sudah terbiasa ke mana-mana sendiri." Aishah menatap suaminya lalu tersenyum manis.


Kirana yang sedari tadi menyaksikan keromantisan Radit dan Aishah sudah mulai bersungut-sungut. Hatinya terasa panas karena iri.


Dasar kalian tukang pamer! Kirana terus mengumpat dalam hati.


"Sayang, kalian kan berangkat ke kantor yang sama. Bagaimana kalau Kira ikut dengan mobil Kak Radit saja?" Aishah menatap suaminya yang tengah menikmati sarapan paginya dengan lahap.

__ADS_1


"Aku harus pergi ke beberapa tempat terlebih dahulu sebelum ke kantor." Tanpa menatap Kirana dan Aishah, Radit masih fokus dengan sarapannya.


Jual mahal sekali kamu Radit! Aku semakin penasaran, sampai seberapa lama kamu bisa menahan diri dariku.


"Tidak perlu Aish, aku bisa berangkat ke kantor sendiri kok. Lagipula aku juga tidak enak terus-terusan merepotkan kalian." Kirana menyelesaikan sarapannya.


"Bagus kalau begitu. Sayang, aku berangkat ke kantor dulu." Radit berjalan menuju pintu depan. Aishah mengikutinya dari belakang dengan membawakan tas kerja suaminya.


Setelah sampai di depan pintu, Radit mengulurkan tangannya kepada Aishah, lalu mengecup kening Aishah dengan lembut. Aishah mengecup punggung tangan suaminya lalu menyerahkan tas kerjanya. Radit melambaikan tangan kepada Aishah lalu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya dari tadi. Ada sopir khusus untuk mengantar Radit kerja. Dan jika Radit ingin pergi tapi malas mengemudi, Radit menggunakan jasa sopir itu untuk mengantarkannya.


Setelah kepergian Radit, Kirana juga ikut berpamitan.


"Aish, aku berangkat dulu ya." Kirana melambaikan tangan kepada Aishah.


"Iya, hati-hati Kira. Semoga interviewmu lancar." Aishah membalas lambaian tangan dari Kirana.


Setelah Radit dan Kirana pergi ke kantor. Aishah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Sopir yang akan mengantar Aishah sudah sejak pagi tadi menunggunya dengan sabar. Aishah dan Radit memang memiliki sopir sendiri-sendiri. Meskipun tidak selalu mereka gunakan.


Aishah berangkat ke rumah sakit di antar oleh seorang sopir yang telah menunggunya. Aishah sudah tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan laboratoriumnya. Meskipun dalam hati Aishah merasa khawatir, namun Aishah berusaha mengusir kekhawatiran itu dengan tetap bersikap tenang. Aishah menyerahkan semua hasilnya kepada Tuhan. Semoga Tuhan memberikan hasil yang terbaik untuknya.


Aishah berjalan mendekati ruangan dokter spesialis kandungan yang kemarin memeriksa dirinya.


Tok...tok...tok…


"Masuk." Dokter kandungan di dalam menyahut.


Lalu Aishah masuk ke dalam ruang dokter kandungan itu. Setelah membuka pintu, Aishah tersenyum kepada dokter kandungan itu. Dengan cepat dokter kandungan itu memoersilahkan Aishah untuk duduk di kursi depan mejanya.


"Silahkan duduk Ibu Aishah." Dokter kandungan itu menunjuk kursi di depannya.


"Terima kasih Dok." Aishah duduk di tempat duduk yang ditunjuk.


"Bagaimana Dok hasil pemeriksaan lab saya?" Aishah tampak berharap-harap cemas. Lalu dokter kandungan itu menyerahkan sebuah amplop coklat besar kepada Aishah. Aishah menerima amplop itu lalu membukanya. Aishah tampak bingung dengan isi kertas yang berada di dalam amplop tersebut.


"Apa artinya Dok?" Setelah membaca kertas yang di tangannya, Aishah mengernyitkan dahi.


"Begini Ibu Aishah, hasil pemeriksaan lab pada perut Ibu Aishah, ditemukan penyakit endometriosis." Dokter kandungan itu menghela nafas.


"Endometriosis?" Aishah tidak mengerti dengan perkataan dokter kandungan itu.


"Jadi, endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang membentuk lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rahim. Jaringan yang disebut endometrium ini dapat tumbuh di indung telur, usus, tuba falopi atau saluran telur, ******, atau di rektum yaitu bagian akhir usus yang terhubung ke anus.

__ADS_1


Sebelum menstruasi, endometrium akan menebal sebagai tempat untuk menempelnya sel telur yang sudah dibuahi. Bila tidak dalam kondisi hamil, endometrium tersebut akan luruh, lalu keluar dari tubuh sebagai darah menstruasi.


Pada kasus endometriosis, jaringan endometrium di luar rahim tersebut juga ikut menebal, tetapi tidak dapat luruh dan keluar dari tubuh. Kondisi tersebut dapat menimbulkan keluhan nyeri, bahkan dapat menyebabkan kemandulan. Dan itulah bahayanya." Dokter kandungan menjelaskan panjang lebar.


"Tapi, kenapa itu bisa terjadi Dok?" Aishah mengernyitkan dahi.


"Biasanya endometriosis diduga terkait dengan gangguan sistem kekebalan tubuh, atau aliran darah menstruasi yang berbalik arah.Kondisi ini umumnya ditandai dengan beberapa gejala, seperti, nyeri di perut bagian bawah dan panggul.


Volume darah yang berlebihan saat menstruasi. Sakit saat buang air besar atau buang air kecil. Tapi sepertinya ada riwayat benturan keras di perut yang pernah Ibu alami. Sehingga membuat dinding rahim Ibu menjadi terluka. Dan ketika sudah subuh pun lapisan dinding rahim akan menjadi semakin tipis."


"Lalu apakah saya masih bisa sembuh Dok?" Aishah berharap mendapat jawaban sesuai apa yang diinginkannya.


"Pada kasus yang pernah saya tangani, masih ada harapan untuk sembuh. Pemilihan metode pengobatan tergantung tingkat keparahan dan apakah penderita masih ingin memiliki anak. Pengobatan endometriosis bisa meliputi, pemberian obat antiinflamasi non steroid atau OAINS. Terapi hormon untuk menghentikan produksi hormon estrogen. Atau juga bisa prosedur operasi, seperti laparoskopi, laparotomi, histerektomi. Tapi kembali lagi, semua itu tergantung pada tingkat keparahan yang dialami oleh si penderita."


"Memang sudah separah apa penyakit saya Dok?"


"Sebenarnya penyakit yang Ibu Aishah alami belum terlalu parah. Artinya masih dalam tahap sedang. Tapi Ibu Aishah juga tidak bisa menyepelekannya."


"Tapi saya masih memiliki harapan untuk memiliki anak kan Dok?" Aishah tampak sedih.


"Tentu, kebanyakan penderita yang saya tangani berhasil sembuh dan memiliki anak. Yang terpenting adalah harus telaten dan yakin akan kesembuhannya." Dokter kandungan itu terlihat meyakinkan. Aishah kembali menemukan semangat untuk memiliki anak lagi.


"Lalu, dari kasus yang pernah Dokter tangani, berapa lamakah rata-rata pengobatan yang harus dijalani hingga penderita benar-benar sembuh?" Aishah mencoba menggali informasi lebih dalam.


"Sebenarnya tingkat kesembuhan yang bisa di dapat juga tergantung tubuh penderita. Daya imunitas serta tingkat keparahan penyakit bisa menjadi pemicu kesembuhan yang paling utama. Pada penderita seperti yang dialami oleh Ibu Aishah saat ini, tentu tidak membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun untuk sembuh. Ya rata-rata hanya membutuhkan hitungan bulan." Dokter kandungan itu mencoba mengingat-ingat.


"Seberapa seringkah pengobatan rutin yang harus saya lakukan Dok?"


"Minimal harus cek up setiap sebulan sekali. Tapi untuk hasil maksimal, lebih baik setiap satu minggu sekali Ibu Aishah rutin cek up menemui saya."


"Baik Dok, saya akan rutin menemui Dokter setiap satu minggu sekali." Aishah mulai bersemangat.


"Jadi bisa kita atur pertemuan kita setiap hari apa?" Dokter kandungan itu menunjukkan lembaran kertas jadwal cek rutin.


"Bagaimana kalau setiap hari Minggu saja Dok? Saya mendapat libur kerja setiap hari Minggu." Aishah terlihat mulai antusias.


"Baiklah, jadi kita bertemu setiap hari Minggu ya Ibu Aishah?"


"Iya Dok. Kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih Dok." Aishah berdiri lalu menyalami dokter kandungan itu. Aishah menyeret kakinya pergi keluar.


Aishah merasa sangat sedih mendengar hasil pemeriksaannya. Rasanya Aishah tidak ingin pulang. Entah apa yang harus dia katakan pada suaminya nanti. Aishah sangat mengerti keinginan Radit yang sudah sangat menginginkan hadirnya buah hati di tengah-tengah pernikahan mereka. Karena memang usia pernikahan mereka yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi.

__ADS_1


Aishah tidak ingin membuat suaminya kecewa. Tapi apa yang harus dikatakannya nanti. Bagaimana reaksi suaminya jika mengetahui penyakit yang dideritanya nanti? Pikir Aishah. Aishah kini merasa sangat kalut. Aishah merasa kakinya sangat berat untuk melangkah. Lalu Aishah duduk di sebuah bangku yang yang terletak di taman rumah sakit. Ada yang menganak sungai di sudut matanya. Butiran kristal perlahan jatuh di atas pipinya. Tangis pun tak dapat Aishah tahan lagi.


__ADS_2