
Aishah berdiri mematung di depan suaminya, ia bingung harus berbuat apa. Tubuhnya terasa berat untuk digerakkan. Cobaan datang silih berganti, mulai dari kecelakaan yang tiba-tiba merenggut calon anaknya. Kecelakaan itu pula yang membuat suaminya harus mengalami kelumpuhan. Dan sekarang suaminya harus kehilangan pekerjaannya karena ulah ibu tirinya. Aishah terpaku melihat suaminya yang sedari tadi sudah berapi-api. Rasanya dunia begitu asing, ia tak mampu berpikir dengan jernih saat ini.
Aishah mendekati suaminya yang masih marah-marah sendiri. Lalu Aishah duduk di samping suaminya, menggenggam tangannya lalu memeluknya. Aishah membenamkan dirinya ke dalam dada suaminya yang bidang. Radit pun membalas pelukan dari istrinya itu dengan hangat. Lama kelamaan mulai terdengar isakan dari dalam dada Radit. Radit melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Aishah.
"Kamu kenapa sayang?" Radit menyeka air mata yang mulai mengalir di sudut mata Aishah. Aishah tidak bergeming, ia masih terus sesenggukan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Radit memegang dagu Aishah dengan lembut menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk. Radit mulai mencium bibir istrinya yang merah merekah itu. Dikulumnya bibir Aishah dengan lembut. Lama kelamaan isakan tangis Aishah sudah tak terdengar lagi. Aishah terbawa suasana, ia mulai membalas ciuman Radit dengan mesranya. Mereka berciuman cukup lama. Memang sudah cukup lama mereka tidak melakukan itu.
Mungkin dengan ini Kak Radit bisa melupakan semua masalahnya. Semoga amarah Kak Radit juga bisa segera reda.
Radit yang sudah lama merindukan tubuh Aishah, tak dapat lagi menahan hasratnya untuk diluapkan. Disuruhnya Aishah mengunci pintu ruang perawatannya. Dengan patuh, Aishah berjalan menuju pintu, menguncinya dari dalam agar tak ada orang yang melihat apa yang mereka perbuat di dalam. Ruang perawatan yang ditempati oleh Radit merupakan ruang perawatan eksklusif. Di dalamnya pun terdapat sofa, televisi dan kamar mandi. Ruangannya pun cukup luas, sehingga terasa cukup nyaman.
Setelah selesai mengunci pintu dilihatnya Radit yang sudah melambaikan tangannya pertanda meminta Aishah untuk mendekat. Aishah pun mendekati suaminya, duduk di depannya. Kemudian Radit memeluk pinggang istrinya itu, mendekatkan wajahnya, hingga wajah keduanya menempel.
Radit mulai melepaskan jilbab yang dikenakan oleh Aishah dan melemparkannya ke sembarang tempat. Radit mengecup leher Aishah dengan cukup keras, meninggalkan tanda merah kepemilikannya. Radit terus menelusuri leher Aishah dengan tangan yang sudah tidak bisa dikondisikan. Tangannya mulai menelusup masuk ke dalam baju Aishah, bermain di dalamnya dengan asyiknya.
"Aku sangat merindukanmu sayang." Radit berbisik di telinga Aishah, membuat Aishah merasa geli.
Lama-kelamaan mereka sudah tidak memakai pakaian mereka lagi. Radit menelusuri setiap lekukan tubuh istrinya itu dengan eksotisnya. Aishah mulai berbaring di samping suaminya, melayani suaminya yang sudah sangat bernafsu itu dengan senang hati. Mereka melakukannya cukup lama, hingga mereka sama-sama puas dibuatnya.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan kewajibannya, Aishah segera beranjak dari tempat tidur. Dilihatnya Radit yang sudah kelelahan. Badannya penuh dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Dengan lembut Aishah mengecup kening suaminya lalu memunguti baju mereka yang berserakan di lantai. Dengan cepat Aishah memakai bajunya kembali, kemudian memakaikan baju Radit. Aishah segera membuka kunci pintu, karena sebentar lagi dokter akan datang memeriksa keadaan Radit.
Aishah segera beranjak ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Namun Radit menahannya, sepertinya Radit juga ingin mandi. Akhirnya Aishah membantu Radit pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya pula. Karena Radit belum bisa mandi sendiri, dengan telaten Aishah selalu memandikan suaminya itu setiap hari. Dengan hati-hati Aishah membuka baju Radit, ternyata Radit ingin mandi bersama. Akhirnya Aishah juga membuka bajunya.
Di sekujur tubuh Aishah terasa perih, karena penuh dengan tanda merah yang diberikan Radit kepadanya. Karena sudah lama mereka tidak melakukannya, sehingga mereka meluapkan kerinduan mereka hingga dua jam lamanya. Radit tersenyum nakal melihat tubuh istrinya yang polos itu. Radit mulai tergoda dengan tubuh Aishah yang memang seksi itu. Radit kembali melakukan aksinya berulang kali sebelum mereka mandi bersama.
Sepertinya suasana hati Radit sudah mulai membaik. Hatinya mulai mencair. Radit sudah tampak menyunggingkan senyum menawananya kepada Aishah. Mereka baru saja keluar dari kamar mandi setelah mandi bersama. Aishah memang tahu obat yang paling manjur untuk menyembuhkan penyakit hati suaminya itu.
__________________________________
Siang telah berganti malam. Udara panas kini berubah menjadi dingin. Matahari pun kembali ke peraduannya. Sang bulan sudah bertengger dengan gagah menggantikan sinar mentari, ditemani oleh taburan bintang yang menghiasi langit malam.
Ceklek… Suara pintu terbuka.
"Ayo masuk, aku sudah menunggumu sejak tadi." Lelaki yang datang bertamu itu memeluk bahu Bella, kemudian mengikuti langkah Bella menuju tempat tidur.
Dengan cepat lelaki itu membuka jas yang menempel di tubuhnya. Dilihatnya tubuh Bella yang seksi, membuat hasratnya kian membara. Tanpa menunggu persetujuan dari Bella, lelaki itu memeluk tubuh Bella dengan erat. ******* bibir Bella dengan ganas.
"Kau mau permainan yang kasar rupanya." Bella berbisik di telinga lelaki itu.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan kicauan Bella, lelaki itu terus saja melanjutkan aksinya. Lelaki itu terus menggila melihat lingeria Bella yang seksi. Dengan gerakan cepat ditariknya lingeria Bella hingga terlepas. Lelaki itu kini telah melepaskan semua pakaian Bella, begitu pula dengan pakaian yang dikenakannya. Dengan ganas lelaki itu menerkam Bella tanpa ampun. Memainkan tubuhnya hingga Bella tidak bisa berhenti mendesah, yang membuat aksi lelaki itu semakin menggila.
Rupanya lelaki itu sangat menikmati malam panjangnya bersama Bella. Ia tak sedikitpun menyia-nyiakan waktunya bersama Bella. Mereka menikmati malam panjang mereka dengan liar. Desahan demi desahan semakin tak terkondisikan. Hingga pagi tiba pun tak membuat mereka lelah dengan aktivitas malam mereka. Mereka terus melakukan aksinya untuk memuaskan nafsu mereka.
Hingga sinar matahari naik cukup tinggi, mereka baru bisa tertidur dengan pulasnya. Hari ini adalah weekend, jadi hari ini adalah hari libur. Bella dan lelaki itu tak kunjung keluar dari ruang apartemen Bella hingga sore hari. Entah apa saja yang mereka lakukan di dalam hingga membuat mereka bertahan sampai selama itu.
Bella duduk bersandarkan bantal di tempat tidurnya. Mengambil satu batang rokok yang tergeletak di meja dekat tempat tidurnya. Kemudian menyulutnya dengan korek api. Dilihatnya lelaki yang tidur dengan pulas di sampingnya.
"Tenagamu kuat juga! Hahaha" Bella tergelak melihat lelaki di sampingnya yang berbaring di dalam selimut nyamannya.
Lelaki itu bangun karena merasa sangat lapar. Ia melirik jam dinding di sudut ruangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 siang.
"Pantas saja aku sudah kelaparan." Lelaki itu bangun dari tempat tidurnya, memunguti bajunya yang berserakan di lantai lalu mengenakannya.
Bella sudah duduk di sofa dengan rokok di mulutnya. "Kemarilah! aku sudah menyiapkan makanan untukmu." Bella menatap lelaki itu sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke luar apartemen. Dilihatnya keramaian kota di bawah sana melalui kaca apartemennya.
Dengan patuh, lelaki itu menghampiri Bella dan segera melahap makanan yang sudah disediakan Bella di atas meja.
"Apa rencana kita selanjutnya?" Lelaki itu berkata dengan makanan yang penuh di mulutnya.
__ADS_1
"Ikuti saja apa mauku, maka semua akan berjalan sesuai rencanaku. Hahaha." Bella tersenyum licik dengan seringai di bibirnya.