Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Kemarahan Aishah


__ADS_3

Setelah perjalanan panjang, akhirnya Aishah sampai di bandara. Pesawatnya mendarat dengan sempurna. Tidak ada halangan yang membuat Aishah terlambat sampai di tujuan. Aishah menyeret koper yang dibawanya. Aishah sengaja tidak memberi kabar kepada Radit, jika dia akan pulang sepagi ini.


Percuma saja memberi tahu Radit tentang kepulangannya, toh dia juga tidak akan peduli, pikir Aishah. Aishah ingin segera menyelesaikan masalah yang terjadi antara dirinya dan suaminya itu. Walaupun Aishah sendiri tidak tahu masalah apa yang sedang menimpa dirinya dan suaminya.


Sepanjang perjalanan pulang, Aishah tidak bisa berhenti untuk memikirkan sikap Radit kepadanya yang tiba-tiba berubah menjadi super cuek. Pasti ada yang menyebabkan Radit bersikap tak acuh kepadanya. Namun, sekeras apapun Aishah memikirkannya, Aishah tak juga mendapatkan jawabannya. Aishah merasa sangat gelisah, tiba-tiba dadanya terasa sesak. Pikirannya terbang ke mana-mana. Bayangan buruk mulai menyerbu pikiran Aishah, namun Aishah juga tidak tahu keburukan apa yang sedang mencoba membuat dirinya dan Radit dalam masalah.


Dari bandara, Aishah memesan taksi online untuk mengantarnya sampai rumah. Hari masih pagi, dilihatnya waktu yang tertera pada layar ponselnya masih menunjukkan pukul enam pagi. Aishah sengaja mengambil penerbangan setelah subuh karena sudah tidak sabar ingin bertemu suaminya. Aishah sudah tidak sabar ingin mengetahui sebenarnya apa yang menyebabkan sikap Radit berubah seperti ini kepadanya.


Setelah sampai di depan rumah, Aishah disambut oleh Bibi dengan gembira. Bibi yang sedang menyirami tanaman, segera berlari untuk membukakan pintu gerbang untuk Aishah.


"Eh Non Aishah sudah kembali. Bagaimana keadaan Pakdhe Non Aishah?" Bibi tersenyum lalu membantu membawakan koper yang dibawa oleh Aishah.


"Alhamdulillah sudah pulang ke rumah Bi, sekarang tinggal masa pemulihannya saja." Aishah membalas senyum pembantunya itu dengan ramah lalu mulai memasuki rumah utama. Tampak Bibi mengikutinya dari belakang.


Aishah terus menaiki anak tangga demi anak tangga.


"Kak Radit belum bangun Bi?" Aishah menghentikan langkahnya sebentar untuk melihat Bibi di belakangnya.


"Anu, be belum sepertinya Non." Bibi berkata dengan takut-takut.


Lalu Aishah meneruskan langkahnya. Aishah membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Betapa terkejutnya Aishah melihat apa yang ada di depan matanya. Aishah melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Radit sedang tidur dengan seorang wanita di sampingnya. Radit sedang memeluk wanita itu dari belakang. Mereka masih dalam posisi tidur yang lelap.


Tiba-tiba dada Aishah terasa sesak, udara di dalam ruangan ini seperti membuatnya tidak dapat bernafas lagi. Rasanya Aishah sedang dijatuhi bom molotov yang langsung meledak di dadanya. Seketika itu tubuhnya terasa lemas, tak berdaya. Hatinya hancur, bahkan remuk tak bersisa. Orang yang selama ini disayanginya dengan sepenuh jiwa dan raganya, dengan teganya berselingkuh di belakangnya. Ternyata perasaan tidak enaknya selama di perjalanan tadi terbukti benar adanya.


Dengan menahan segala rasa yang berkecamuk di dalam dada, Aishah berusaha menyeret kakinya untuk mendekat ke arah tempat tidur. Aishah ingin memastikan siapa wanita yang sedang tidur bersama dengan suaminya itu. Dan sekali lagi betapa terkejutnya Aishah dengan apa yang dilihatnya. Karena ternyata wanita yang sedang berada di dalam pelukan suaminya itu adalah Kirana, sahabat yang telah ditolongnya selama ini.


Aishah menutup mulutnya menahan tangis yang sudah pecah.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini!" Aishah berteriak dengan kerasnya, sehingga membuat Radit dan Kirana terbangun dari tidur mereka.


Tampak Radit dan Kirana bangkit dan berusaha untuk duduk. Radit mengucek-ucek matanya untuk memastikan bahwa wanita yang berada di depan matanya itu benar istrinya. Dan ternyata benar, itu adalah Aishah. Aishah baru saja sampai dari rumah pakdhenya. Radit tidak menyangka jika Aishah akan pulang sepagi ini. Sehingga dia tidak mempersiapkan semuanya dengan baik.

__ADS_1


Sementara Kirana mendekap selimutnya dengan erat. Mereka masih dalam keadaan telanjang. Baru kali ini Kirana melihat kemarahan Aishah. Aishah tampak berapi-api. Kedua tangan Aishah berada di pinggang dengan sorot mata yang tajam menakutkan. Sudah seperti sedang bersiap-siap untuk memangsa habis lawan di depannya saja.


Kenapa Aishah bisa berada di sini sih! Kirana merasa terkejut sekaligus kesal melihat Aishah yang tiba-tiba membangunkannya dari tidur nyenyaknya bersama Radit.


"Aish, kapan kamu pulang?" Radit mencoba melunakkan hati Aishah. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kemarahan Aishah sudah tidak bisa dihindari lagi. Aishah sudah kepalang marah, hatinya benar-benar sakit melihat kenyataan di depan matanya.


"Memang apa pedulimu tentang kepulanganku? Jadi ini alasanmu tidak pernah mengangkat telepon dariku?" Suara Aishah sudah meninggi. Mungkin ini pertama kalinya dalam hidup Aishah, dia bisa sampai semarah ini.


"Kamu.. Kamu benar-benar wanita tidak tahu diri! Aku ini sahabatmu, aku yang telah menolongmu mendapatkan pekerjaan. Bahkan aku sudah mengizinkanmu untuk tinggal di sini. Kurang baik apa lagi aku denganmu? Kenapa kamu malah tega berselingkuh dengan suami sahabatmu sendiri?" Aishah menunjuk ke arah Kirana dengan kemarahan yang sudah memuncak.


Kirana hanya terdiam. Memang mau apa lagi yang bisa dikatakannya di depan Aishah. Toh Aishah juga sudah memergokinya sendiri bahwa Kirana sedang tidur dengan Radit. Membela diri pun rasanya tidak akan ada gunanya. Kirana menunduk, bukan karena merasa bersalah melainkan karena tidak ada kata yang tepat untuk membela dirinya.


"Wanita ini yang terus saja menggodaku." Radit mencoba membela dirinya.


"Kamu juga sama saja! Tidak punya malu, apa Kak Radit tidak pernah berpikir ulang untuk berselingkuh di belakangku? Apakah perasaan Kak Radit sudah mati? Apakah Kak Radit tidak ingat masa-masa sulit Kak Radit dulu? Siapa yang selalu setia mendampingi Kak Radit sampai saat ini? Siapa yang sudah membantu Kak Radit membangun kerajaan bisnis sampai di puncak seperti ini?" Aishah benar-benar marah besar.


"Kamu jangan sok suci Aish, kamu duluan yang membuatku berselingkuh di belakangmu. Kamu juga sudah berselingkuh dengan Dokter Dariel kan di belakangku selama ini?" Radit masih berusaha membela dirinya.


"Kamu tidak bisa mengelak lagi Aish. Karena aku punya buktinya." Kirana mengambil ponselnya yang tergeletak di dekatnya, lalu mencari foto kedekatan Aishah dengan Dokter Dariel.


Aishah memperhatikan foto itu. Dia berusaha mengingat kapan foto itu diambil.


"Bukti apa? Mana yang menunjukkan aku sedang berkencan? Apakah Dokter Dariel memegang tanganku? Ataukah kami sedang berciuman? Kamu pikir jika ada dua orang yang sedang duduk bersama bisa dikatakan sedang berkencan?" Aishah memberikan jawaban kebenaran.


"Sekarang juga kamu angkat kaki dari rumahku!" Aishah menunjuk tangan ke arah pintu pertanda mengusir Kirana dari rumahnya.


Kirana menatap Radit, mencoba mencari dukungan. Namun, Radit tidak bergeming. Radit masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Radit sedang mencoba mencerna kata-kata Aishah. Memang benar tidak ada bukti yang kuat yang menunjukkan Aishah sedang berkencan dengan Dokter Dariel di dalam foto itu.


Radit tolong aku, hanya kamu harapanku satu-satunya saat ini. Sorot mata Kirana mengisyaratkan meminta bantuan dari Radit. Tapi bahkan Radit sendiri belum tentu bisa membantu dirinya sendiri.


"Tunggu apa lagi, sekarang juga kamu pergi dari rumahku!" Aishah mengulangi kata-katanya.

__ADS_1


"Mas Radit, aku akan tetap tinggal di sini kan?" Kirana memegang lengan Radit.


"Oh jadi kalian ingin pergi dari rumah ini bersama seperti itu? Rumah ini masih atas namaku. Jadi aku yang berhak atas rumah ini, jika Kak Radit keberatan Kirana pergi dari rumah ini. Kak Radit bisa ikut pergi bersamanya." Aishah mulai melunakkan suaranya.


"Apa yang kamu katakan! Dasar wanita penggoda! Kamu sudah menghancurkan hubunganku dengan Aishah dan sekarang kamu juga mau menghancurkan hidupku?" Radit merasa sangat kesal dengan sikap Kirana kepadanya.


"Kenapa kamu tega berbuat seperti ini denganku Kira? Aku pikir kamu ini sahabatku. Aku sudah menolongmu dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan apapun darimu. Tapi apa balasannya untukku? Kenapa kamu malah dengan teganya menusukku dari belakang. Di mana hatimu? Apakah kamu benar-benar sudah tidak punya hati?" Aishah benar-benar tidak dapat menahan air mata yang sedari tadi sudah membanjiri pipinya itu.


"Sadarlah wahai Aishah, kamu ini wanita mandul yang tidak bisa memberikan keturunan kepada suamimu. Suamimu itu sudah sangat menantikan hadirnya seorang anak. Apakah kamu tidak pernah berpikir tentang kekuranganmu itu? Suamimu juga lelaki normal yang membutuhkan anak untuk melanjutkan keturunannya!" Kirana berkata tidak kalah kerasnya kepada Aishah.


Deg, hati Aishah terasa dicincang-cincang oleh perkataan Kirana. Aishah memang menyadari kekurangannya selama ini. Tapi dia tetap berusaha berbuat semaksimal yang dia bisa agar bisa memiliki keturunan. Aishah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya benar-benar sudah hancur.


Akhirnya dengan sangat kesal, Kirana pergi dari dalam kamar itu dengan melilitkan selimut pada tubuhnya. Dengan cepat Radit segera memakai bajunya yang berserakan di lantai. Tampak Bibi memalingkan wajahnya ketika melihat Radit tidak memakai baju.


Kirana pergi menuju kamarnya untuk mengepak semua bajunya ke dalam koper. Kirana sudah diusir oleh Aishah, jadi dia harus segera pergi dari rumah itu. Kemudian Bibi mengikuti langkah Kirana pergi menuju dapur. Kini tinggal Radit dan Aishah yang masih berada di dalam kamar.


Aishah menyilangkan kedua tangannya di dadanya, kemudian membelakangi Radit sambil terus berusaha menghapus air matanya yang sudah membuat pipinya basah kuyup. Suasana di dalam ruang kamar itu tiba-tiba berubah menjadi hening. Hanya terdengar isakan tangis Aishah yan berusaha Aishah tahan agar tidak terlalu keras.


"Sayang." Radit memegang bahu Aishah dengan lembut.


"Kenapa Kak, kenapa Kak Radit tega mengkhianatiku?" Aishah terus berusaha menahan isakannya.


"Aish, wanita itu yang terus saja menggodaku. Dia sengaja menjebakku agar tidur dengannya. Dia juga sudah meracuni pikirannku." Radit mendekat ke arah Aishah dari belakang. Dia memandang wajah Aishah lalu mengecup tangan Aishah dengan lembut.


"Apakah Kak Radit tidak memikirkan perasaanku sedikit pun? Dan apakah benar semua yang telah dikatakan oleh Kirana?" Aishah berusaha menahan sakit hati yang melandanya. Radit hanya terdiam, dalam hatinya Radit membenarkan perkataan Kirana. Nanun, tidak berani untuk mengatakannya kepada Aishah secara langsung.


Aishah masih merasa sakit hati. Pengkhianatan yang dilakukan Radit benar-benar membuatnya luka parah. Dan yang membuatnya lebih sakit adalah Kirana. Sahabatnya yang selama ini dia perjuangkan dengan membantu kehidupannya justru malah mengkhianatinya. Aishah benar-benar tidak pernah berpikir hal ini bisa terjadi.


Pikirannya masih kacau, hatinya masih teramat sakit. Aishah belum bisa berpikir dengan jernih. Aishah tidak mau mengambil keputusan di saat dirinya sedang marah ataupun sakit hati. Karena tentu imbasnya tidak akan baik pada akhirnya. Lalu Aishah pergi keluar untuk mencari udara segar. Aishah mencoba menenangkan pikirannya dengan menyendiri. Menjauh untuk sementara waktu dengan Radit mungkin bisa membuat hatinya lebih tenang. Pikir Aishah.


Sementara tinggallah Radit di dalam kamarnya seorang diri.

__ADS_1


"Sial! Kenapa semua menjadi seperti ini. Aku tidak mungkin marah kepada Aishah, karena bisa-bisa Aishah malah mengusirku juga dari rumah ini. Karena semua harta yang kumiliki saat ini masih atas nama Aishah." Radit meninju tembok kamarnya dengan keras, sehingga darah segar mulai mengalir dari tangan Radit.


"Tanpa harta, saat ini aku tidak akan bisa apa-apa lagi. Aku tidak akan bisa balas dendam dengan Bella. Pokoknya, aku harus berhasil merebut hati Aishah kembali." Radit menyandarkan kepalanya di dinding kamar.


__ADS_2