Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Keputusan Aishah


__ADS_3

Dokter Dariel merasa sangat marah dengan kelakuan Radit. Dia tidak menyangka, jika Radit masih tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.


"Memang apa alasan Radit itu?" Dokter Dariel mengernyitkan dahi.


"Aku sedang mengidap penyakit endometriosis Dok, sejenis penyakit yang membuatku tidak bisa hamil." Aishah tertunduk sedih.


"Kalau setahuku, pengidap endometriosis masih bisa sembuh dan hamil kok. Tapi harus melalui pengobatan yang rutin dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar." Dokter Viola yang sedari tadi hanya diam saja ikut ambil suara.


"Dokter kandungan yang sekarang menanganiku juga berkata demikian. Tapi sudah beberapa bulan ini aku melakukan pengobatan secara rutin dan belum menunjukkan hasilnya." Aishah menatap Dokter Viola dengan tatapan putus asa.


"Kamu jangan pernah putus asa Aish, aku yakin kamu akan sembuh. Memang butuh waktu dan ketelatenan untuk menyembuhkan penyakitmu itu. Tapi jika kamu bisa bersabar, nanti kamu pasti akan sembuh dan memiliki anak. Karena setahuku sudah banyak pasien yang mengalaminya. Dan dengan ketelatenan mereka, kini mereka bisa sembuh dan memiliki keturunan." Dokter Viola berusaha meyakinkan Aishah yang mulai putus asa dengan penyakitnya itu.


Aishah menatap Dokter Viola. Aishah melihat masih ada harapan untuk dirinya bisa sembuh. Semangatnya kini kembali pulih. Namun, dia masih ragu dan bimbang jika harus kembali dengan Radit lagi. Kepercayaannya kepada suaminya itu kini benar-benar telah hancur berkeping-keping. Sehingga sulit untuk Aishah jika harus menyusun gelas kaca yang sudah pecah menjadi bentuk semula lagi. Seperti itulah kurang lebih perasaan Aishah saat ini.


"Lalu apakah kamu akan menyerah begitu saja, setelah semua pengorbanan yang telah kamu lakukan untuk Radit selama ini?" Dokter Dariel tersenyum dengan kecut.


"Aku juga tidak tahu Dok. Aku tidak yakin bisa kembali percaya lagi dengan Kak Radit. Karena aku sendiri tidak tahu apakah hubunganku dengan Kak Radit masih bisa diperbaiki atau tidak." Aishah mulai putus asa dengan hubungannya dengan Radit.


"Kalau itu semua terserah kepadamu Aish. Kamu yang menjalani rumah tanggamu. Jadi hanya kamu yang berhak menentukan kelanjutannya. Aku dan Viola sebagai teman, hanya bisa memberi saran. Tapi semua itu kembali kepada dirimu lagi." Dokter Dariel menepuk bahu Aishah beberapa kali.


"Untuk saat ini, aku belum bisa memutuskannya Dok, hatiku masih sangat kacau. Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku." Aishah menatap Dokter Dariel dengan tatapan sayu.


"Sebaiknya memang kamu menenangkan diri dan hatimu dulu Aish. Aku tahu bagaimana perasaan yang sedang kamu rasakan saat ini. Sulit menerima kembali orang yang pernah mengkhianati kepercayaan kita." Dokter Daniel menatap Aishah dengan tatapan yang lembut. Aishah pun membalas tatapan Dokter Dariel hingga tatapan mereka bertemu satu sama lain.


Sepertinya Dariel sangat perhatian dengan Aishah. Apakah dia menyimpan rasa kepada Aishah? Rasanya perhatian yang Dariel berikan kepada Aishah memang tidak biasa.


Dokter Viola bergumam dalam hati. Dokter Viola merasakan ada yang berbeda dengan perhatian yang diberikan Dokter Dariel kepada Aishah. Walaupun Dokter Viola sendiri juga belum yakin akan hal itu.


"Sudah siang, apa tidak sebaiknya kita mencari makan dulu? Aku sudah lapar." Dokter Viola memecahkan keheningan yang terjadi di antara mereka.


"Aku juga sudah lapar. Ayo kita cari tempat makan yang enak!" Dokter Dariel berdiri dari tempat duduknya diikuti oleh Aishah dan Viola.


"Aku tahu tempat makan yang enak di sekitar sini." Aishah memimpin langkah mereka.


Setelah berjalan menyusuri danau, tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk tadi, Aishah menunjukkan sebuah tempat makan yang sederhana. Di sana banyak sekali menu yang dapat di pesan. Walaupun tempatnya terlihat sederhana, namun masalah rasa jangan ditanya lagi. Aishah saja yang sudah fasih dengan rasa masakan, bisa memuji menu yang dijual di sini.


Setelah memesan menu sesuai dengan keinginan masing-masing, mereka menyantap makanan mereka dengan lahapnya.


"Hmm enak sekali makanan di sini." Viola memakan suapan terakhirnya.


"Rencananya, kamu akan pulang kapan Vio?" Dokter Dariel menatap Viola yang sudah selesai dengan makanannya.

__ADS_1


"Mungkin besok atau lusa. Karena masa liburanku sudah habis. Aku sudah hampir satu minggu di sini. Aku sudah sangat merindukannya." Viola senyum-senyum sendiri sambil membayangkan seseorang dalam bayang-bayangnya.


"Ehem… aku akan mengantarmu sampai bandara." Dokter Dariel membuyarkan lamunan Viola.


"Baik, besok akan ku kabari bagaimana selanjutnya. Aku juga sudah melamar di beberapa rumah sakit di sana dan ada satu rumah sakit yang sudah menyetujuinya."


Setelah selesai dengan makanan mereka. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Mungkin memang aku harus melepaskanmu Vio. Walaupun saat bersamaku kamu selalu merasa bahagia. Namun, perasaanmu bukanlah untukku. Jika dia bisa membuatmu bahagia, aku akan merelakanmu untuknya.


Dokter Dariel merasa sedih, namun semua itu bisa ditutupi dengan baik. Dokter Dariel memang tipe orang yang suka bergurau, jadi dia bisa dengan baik menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.


Aishah kembali ke rumah setelah sore hari. Aishah memutuskan untuk tidur di kamar tamu saja. Dia belum bisa jika harus tidur bersama dengan Radit. Setelah sampai di rumah, Aishah segera menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Kelihatannya Radit sedang keluar, karena mobilnya tidak ada di garasi.


Selama perjalanan pulang dari danau, Aishah memikirkan tentang kelanjutan hubungannya dengan Radit. Aishah merasa kalut, jauh di dalam lubuk hatinya Aishah merasa takut kejadian ini terjadi kembali menimpa rumah tangganya. Aishah takut jika Radit mengulangi kesalahannya dan berpaling lagi dengan wanita lain. Karena Aishah yang tak kunjung memiliki anak. Aishah sangat tahu keinginan suaminya yang besar untuk segera memiliki momongan itu sudah sejak lama.


Apa memang sebaiknya aku bercerai dengan Kak Radit saja ya. Kak Radit juga berhak mendapatkan kebahagiaannya. Kak Radit pasti sangat menginginkan anak saat ini. Tapi aku belum juga bisa memberikannya. Dan pengobatan yang kujalani selama ini juga belum menunjukkan hasil apa-apa. Aku takut jika aku memaksakan hubunganku terus berlanjut dengan Kak Radit, nantinya malah aku sendiri yang akan sakit hati.


Aishah menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dia mencari baju ganti miliknya. Setelah menemukan baju tidurnya, Aishah segera menuju kamar tamu. Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil Radit datang. Radit tampak mencari-cari keberadaan Aishah. Aishah yang menyadari hal itu, langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Bi, aku bantu masak ya?" Aishah menepuk bahu Bibi yang sedang sibuk memasak. Aishah memang selalu baik kepada semua orang. Bahkan Bibi yang sudah bekerja cukup lama dengannya pun sudah dianggap Aishah seperti orang tuanya sendiri. Aishah tetap menghormatinya, walaupun statusnya di dalam rumah Aishah hanya sebagai seorang pembantu.


"Ah si Bibi bisa aja. Masakan Bibi juga tidak kalah enak kok. Buktinya, aku selalu kangen dengan masakan Bibi." Aishah menyenggol pundak Bibi hingga mereka tertawa bersama. Walaupun hatinya sedang sakit, Aishah tetap bisa memposisikan dirinya dengan baik di manapun dia berada. Dia tetap bisa tersenyum ceria meskipun di dalam hatinya menahan sakit yang luar biasa.


Non Aishah benar-benar luar biasa, di saat hatinya sedang sakit seperti ini pun dia masih bisa tertawa semanis ini. Tapi sungguh malang nasibnya. Aku jadi kasihan sekali kepadanya, dikhianati suami dan sahabatnya sendiri yang sudah ditolongnya. Tuan Radit benar-benar keterlaluan. Sudah mendapatkan wanita secantik dan sebaik Non Aishah kok masih bisa-bisanya nyeleweng dengan wanita lain.


Bibi terus bergumam dalam hati sambil memotong sayuran yang akan dimasak bersama Aishah.


"Bi, jangan melamun! Itu sayurnya loh yang dipotong jangan sampai salah." Aishah membuat Bibi kaget dan membuyarkan lamunan Bibi.


Radit tampak melihat Aishah yang sedang asyik memasak dengan Bibi.


Sepertinya Aishah sudah tidak marah lagi. Pasti dia sudah memaafkanku juga.


Radit merasa lega, karena jika Aishah sudah tidak marah lagi, dia tidak perlu merayu-rayu Aishah lagi.


Akhirnya telah tiba waktunya makan malam. Semua makanan sudah tersedia di meja makan. Malam ini menjadi malam yang cukup berat untuk Aishah. Baru kali ini Aishah merasa enggan untuk makan malam bersama dengan suaminya. Aishah masih belum bisa memaafkan kesalahan suaminya yang dianggapnya fatal itu.


Selama makan malam berlangsung, Aishah hanya terdiam tanpa bicara sepatah kata pun. Namun, dia tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, yaitu melayani suaminya. Aishah mengambilkan makanan dan minuman untuk Radit.


"Terimakasih sayang." Radit mendongak melihat wajah Aishah lalu tersenyum. Namun, Aishah tidak menanggapinya. Bahkan tidak melihat ke arah Radit sedikit pun.

__ADS_1


Malam ini Aishah ingin berbicara serius dengan Radit, bahwa Aishah sudah tidak bisa bersama dengan Radit lagi. Aishah ingin bercerai dengan suaminya itu. Aishah sudah memikirkannya matang-matang. Selain karena Radit telah berselingkuh dengan Kirana, Aishah juga tahu diri. Aishah menyadari kekurangannya yang belum bisa menjadi wanita yang sempurna. Wanita yang bisa memberikan keturunan kepada suaminya. Padahal Radit sudah sangat menginginkan anak di dalam pernikahannya itu.


Jauh di dalam hati Aishah, Aishah sudah tidak percaya lagi dengan Radit. Aishah tidak bisa lagi bersama dengan seorang pengkhianat. Hatinya benar-benar sudah hancur dan tidak bisa kembali percaya lagi kepada Radit. Untuk masalah harta, Aishah akan membagi dengan adil harta yang mereka miliki. Walaupun, sebenarnya semua harta yang mereka kumpulkan adalah hasil jerih payah Aishah yang dirintisnya sejak dari nol. Radit hanya membantunya setelah usaha itu berhasil.


Namun, sepertinya Radit belum menyadari sikap Aishah yang ingin berpisah dengannya. Radit justru menganggap dengan diamnya berarti Aishah telah memaafkannya. Radit sudah sangat senang dengan sikap Aishah yang sudah tidak marah-marah lagi kepadanya.


"Kak, ada yang ingin Aish bicarakan dengan Kak Radit." Aishah membuka percakapan di antara mereka.


"Ada apa sayang? Katakan saja." Radit memakan suapan pertamanya.


Sebelum Aishah sempat bicara, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari depan.


"Bi, sepertinya ada yang mengetuk pintu." Aishah sedikit berteriak memanggil Bibi.


Mendengar dirinya dipanggil, Bibi segera menuju pintu depan untuk melihat siapa yang bertamu malam-malam. Bibi membukakan pintu, Bibi merasa asing dengan wajah orang-orang di depannya. Tampak dua orang polisi bersama dengan dua lelaki dan satu perempuan. Yang satu sudah sangat tua, sementara lelaki satunya tampak berusia 60 an ke atas. Lalu satu-satunya perempuan yang bersama mereka sekitar berusia 50an tahun.


"Selamat malam Bu, apakah benar ini kediaman Bapak Raditya Bramantyo?" Salah satu polisi bertanya kepada Bibi dengan sopan.


"Benar Pak, silahkan masuk. Saya akan panggilkan Tuan Radit di dalam." Bibi mempersilahkan para tamunya untuk masuk ke dalam rumah.


"Baik, terima kasih." Kemudian mereka masuk bersama ke dalam rumah.


"Silahkan duduk dulu." Bibi menunjuk sofa, agar mereka bisa duduk di sana. Lalu Bibi menuju ruang makan untuk memberitahukan kepada majikannya bahwa ada polisi yang sedang mencarinya.


Sementara di ruang makan, Aishah masih bingung harus dari mana dia bicara dengan Radit tentang keputusannya itu.


"Kak, sepertinya hubungan kita memang sudah tidak bisa dilanjutkan lagi. Aku sudah tidak bisa…" Aishah menghentikan kata-katanya.


"Siapa Bi yang bertamu?" Melihat Bibi yang setengah berlari menuju ruang makan, Radit segera melemparkan pertanyaan.


"Maaf Tuan Radit, Non Aishah ada polisi yang sedang menunggu di ruang tamu." Bibi menundukkan kepalanya sopan.


"Memang ada apa Bi?" Aishah mengernyitkan dahi. Dia merasa sangat penasaran mengapa polisi datang ke rumahnya malam-malam seperti ini.


"Saya juga tidak tahu Non, saya tadi tidak sempat bertanya. Tapi polisi itu bersama dengan dua laki-laki yang sudah tua dan satu perempuan setengah baya." Bibi menjelaskan kepada Aishah sambil mengingat-ingat orang-orang yang bersama dengan kedua polisi di depan.


"Apakah Bibi mengenalnya?" Aishah menyelidik. Dia merasa tambah penasaran


"Saya tidak tahu Non, saya belum pernah melihat wajah mereka." Bibi menggelengkan kepalanya.


Akhirnya Radit dan Aishah pergi menuju ruang tamu untuk menemui polisi di depan dan melihat siapa yang sedang bersama dengan polisi itu. Mereka sangat penasaran ada apa polisi datang malam-malam seperti ini ke rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2