Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Pesan Terakhir Aldi


__ADS_3

Hari semakin terik, matahari mulai bangkit dari tidur lelapnya. Sinar terangnya mulai naik, memancar ke seluruh penjuru bumi. Memberi kehangatan bekas dingin semalam. Dedaunan mulai mengering terkena terpaan sinar matahari dari embun yang membasahi dirinya tadi malam.


Dengan langkah gontai, Aldi terus menyusuri jalanan yang sudah ramai dengan hiruk pikuk kendaraan. Aldi terus menyeret kedua kakinya menuju sebuah apartemen tak jauh dari hotel yang tadi ia singgahi. Keringat dingin perlahan membasahi tubuhnya. Terus mengalir deras di pelipisnya. Namun semua sakit yang dirasakan tak menyurutkan sedikit pun niatnya yang telah menggebu-gebu.


Ini adalah yang terakhir kalinya aku harus kuat, pikirnya. Akhirnya Aldi sampai di depan sebuah pintu apartemen di lantai tiga. Ia menyandarkan kepalanya di dinding sebelah pintu. Rasanya kepalanya sudah hampir copot saking sakitnya. Kembali ke niat semula, Aldi menguatkan kembali langkahnya. Menegakkan kepala dan menguatkan otot-ototnya. Ceklek, suara pintu di depannya terbuka tanpa sempat Aldi mengetuknya.


"Aldi…" Pekik seorang pria dari dalam. Ia menopang tubuh Aldi yang hampir roboh di depannya.


"Ayo masuk dulu."


Ega sangat terkejut dengan kedatangan Aldi yang secara tiba-tiba. Apalagi melihat Aldi dengan wajah pucatnya. Ega melihat keringat bercucuran keluar dari dalam topi yang dikenakan Aldi. Aldi kini tampak kurus dan lemah. Ega segera memapah dan membawa Aldi masuk ke dalam apartemennya. Dengan hati-hati Ega membantu Aldi agar dapat duduk di sofa.


"Kamu kenapa di?" Ega terlihat sangat cemas dengan keadaan Aldi saat ini.


"Aku mau nitip ini buat Aishah." Aldi mengambil sebuah amplop biru yang tertutup rapat dari dalam saku celananya. Lalu menyerahkan amplop tersebut kepada Ega. Sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Apa ini?" Ega merasa penasaran dengan amplop yang diserahkan Aldi kepadanya.


"Kudengar dua hari lagi Aishah akan melangsungkan pernikahannya dengan Radit. Berikan amplop itu kepada Aishah, sebelum pernikahannya berlangsung."


Kedua tangan Aldi memegangi kepalanya. Nampak Aldi sedang menahan sakit luar biasa di kepalanya yang tertutup topi itu.


"Tapi sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu?" Ega sangat khawatir dengan keadaan Aldi yang semakin melemah.


"Aku akan berobat ke luar negeri nanti, itu pun kalau aku masih bisa kembali ke rumah sakit saat ini. hahaha."


Aldi melepaskan tawa getirnya. Ia sadar bahwa kondisinya saat ini benar-benar sedang parah.


"Memang kamu sakit apa?" Ega mencoba mencari tahu sakit yang diderita Aldi, meskipun ia tak yakin Aldi mau mengatakannya dengan jujur.


"Setidaknya sampaikan pesan terakhirku kepada Aishah, maka aku akan pergi dengan tenang."


"Apa yang sedang kamu bicarakan di, jangan ngaco lah."

__ADS_1


Tak ada sahutan lagi dari Aldi. Ega melihat Aldi yang terbujur lemas di sofa, dengan kepala yang masih bersandar. Matanya terpejam dan wajahnya tampak lebih pucat dari sebelumnya. Ega sangat cemas saat ini. Ega mencoba menggoyang-goyangkan bahu Aldi beberapa kali. Namun nihil, Aldi tak bergeming sedikitpun. Dengan paniknya Ega segera melarikan Aldi ke rumah sakit.


. . .


Aishah masih sibuk dengan pekerjaannya. Karena ini hari terakhirnya kerja, sebelum ia mendapatkan cuti pernikahannya. Jadi ia harus segera menyelesaikan pekerjaan nya hari ini juga. Terdengar suara dering telepon dari ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. Tertera nama Radit di layar ponselnya.


"Halo Assalamu'alaikum Kak Radit."


"Walaikum salam Aish. Kamu masih bekerja?" Terdengar suara Radit dari seberang telepon. Sepertinya Radit sangat bahagia, itu terdengar dari suaranya yang sumringah.


"Iya kak, kenapa?"


"Aku hanya ingin berpesan, jangan terlalu capek bekerja. Segeralah pulang dan istirahat."


"Iya kak, ini juga hari terakhir Aish kerja kok. Besok juga Aish sudah cuti. Terima kasih untuk perhatiannya."


"Iya, Aish harus benar-benar menjaga kondisi Aish dengan baik. Ya sudah aku..."


Ponsel Aishah ternyata sudah mati sebelum Radit menyelesaikan kalimatnya. Aishah mencoba mencari charger di dalam tasnya. Tapi ia tak juga menemukannya.


Salah seorang rekan kerja menghampiri meja kerjanya. Aishah segera meletakkan ponselnya ke dalam tas, lalu bergegas ke ruangan Pak Bima untuk menemuinya.


. . .


Di ruang tunggu rumah sakit, Ega nampak mondar-mandir dengan cemas. Beberapa kali nampak ia menghubungi seseorang dari sambungan teleponnya. Wajahnya terlihat kesal karena teleponnya tak kunjung mendapat jawaban.


"Aishah ayo angkat…" Ega terus mencoba menghubungi Aishah.


"Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk." Terdengar suara ramah dari operator telepon. Lalu Ega mencoba hingga beberapa kali.


"Kenapa malah enggak aktif sih nomor telepon Aishah. Mana hari ini aku ada kerjaan diluar kota selama 2 hari lagi."


Tampak Ega menendang udara di depannya dengan kesal.

__ADS_1


"Ega, bagaimana keadaan Aldi saat ini?"


Dari kejauhan kakek dan nenek Aldi berlarian menghampiri Ega.


"Sangat lemah kek, tadi dokter sudah memeriksanya. Dan kini Aldi belum bisa dijenguk." Dengan berat hati Ega menyampaikan keadaan Aldi yang sebenarnya kepada kakek dan neneknya itu.


"Tapi bagaimana Aldi bisa bersama denganmu?" Nenek sangat penasaran, karena Aldi tiba-tiba menghilang dari rumah sakit tanpa sepengetahuan siapapun.


"Aldi datang ke apartemenku seorang diri secara tiba-tiba. Aku sangat terkejut dengan keadaannya, dia ingin aku menyampaikan amplop ini kepada Aishah sebelum pernikahannya."


Ega memperlihatkan amplop yang diberikan Aldi kepadanya.


"Kenapa anak itu bisa senekat itu." Kakek mengepalkan tangan kanan lalu menonjokkan ke telapak tangan kirinya.


Seorang dokter keluar dari ruang UGD. Kakek, nenek dan Ega segera menghampirinya.


"Bagaimana dok keadaan cucu saya?" Kakek segera melemparkan pertanyaan kepada dokter yang baru saja menutup pintu ruang UGD.


"Keadaannya sudah sangat lemah." Dokter itu menganggukan kepalanya dengan sopan dan berlalu pergi.


"Sebaiknya, Aldi segera kita bawa ke luar negeri saja. Kita sudah tidak punya waktu lagi." Nenek memberikan usul kepada kakek yang sudah hampir kehilangan semangatnya.


Kakek segera mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Sementara Ega segera pergi ke luar kota untuk pekerjaan yang sudah menunggunya.


. . .


Aishah keluar dari kantor, lalu menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motornya. Aishah melajukan sepeda motornya menuju rumah Aldi. Setelah perjalanan yang cukup menguras tenaga, akhirnya Aishah sampai juga di rumah Aldi.


Enggak kebayang gimana bisa Aldi setiap hari pulang balik kantor menempuh perjalanan sejauh ini. Aku kasih applaus yang banyak deh buat kamu di. Salut aku.


Aishah masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Aishah memarkirkan sepeda motornya di depan pintu gerbang. Rumah besar bercat warna hijau dengan dua lantai itu nampak sepi. Berulang kali Aishah memencet bel yang ada di dinding pagar, namun tak juga ada jawaban dari dalam.


Sepertinya tidak ada orang. Pikirnya.

__ADS_1


Aishah menunggu cukup lama di depan pintu gerbang. Ia tak henti-hentinya memencet bel dan mengucap salam. Hingga hari semakin gelap. Setelah sekian lama menunggu, dan tak membuahkan hasil, akhirnya Aishah memutuskan untuk pulang. Sedih, kecewa sekaligus rasa penasaran bercampur menjadi satu. Dengan langkah gontai Aishah menyalakan mesin sepeda motornya lalu melesat pulang.


Cukup berat meninggalkan rumah Aldi tanpa hasil sedikitpun. Pikirannya masih berkecamuk. Tanda tanya mulai bermunculan di kepalanya. Namun tak ada satupun pertanyaan yang mampu ia uraikan.


__ADS_2