Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Kecewa


__ADS_3

"Hey… " Tiba-tiba ada suara lelaki dari belakang yang mengagetkan Aishah. Seketika Aishah langsung mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Lalu Aishah berbalik untuk melihat siapa gerangan yang berada di belakangnya.


"Eh Dokter Dariel." Aishah tersenyum.


"Kok sendirian, ke mana Radit?" Dokter Dariel celingak-celinguk mencari keberadaan Radit.


"Kak Radit sedang bekerja, ada meeting di luar kota. Jadi aku datang ke rumah sakit sendiri" Aishah menjelaskan. Dokter Dariel mengangguk-anggukan kepalanya pertanda mengerti.


"Sepertinya Radit sekarang lebih ceria, dia juga sudah bisa mengontrol emosinya dengan baik. Pasti semua berkat kamu." Dokter Dariel duduk di bangku lain yang berada di sebelah Aishah. Aishah hanya tersenyum.


"Memangnya Kak Radit pernah sakit apa Dok?" Aishah mengernyitkan dahi. Sebenarnya, Aishah sudah lama sejak pertama kali bertemu dengan Dokter Dariel ingin bertanya kepada Radit mengenai penyakitnya dahulu. Namun, tidak pernah kesampaian. Entah karena lupa ataupun memang tidak memiliki waktu yang pas untuk menanyakannya.


"Memangnya Radit tidak pernah cerita denganmu?" Dokter Dariel tampak bingung. Lalu Aishah menggelengkan kepalanya.


"Dulu Radit sangat menyayangi ibunya. Dia sempat depresi karena kepergian ibunya yang tiba-tiba. Sehingga harus berkonsultasi denganku untuk beberapa bulan." Pandangan Dokter Dariel menerawang jauh ke atas langit.


"Jadi Dokter Dariel ini seorang psikolog?" Aishah penasaran.


"Ya, dulu aku memang seorang psikolog. Lebih tepatnya aku ingin menjadi seorang psikolog dan sempat menjadi psikolog sekitar tiga tahunan. Namun, seiring berjalannya waktu dan karena seseorang. Aku ingin menggeluti dunia kedokteran lebih dalam. Sehingga, aku belajar lagi tentang kedokteran. Dan sekarang aku menjadi dokter spesialis dalam." Pandangan Dokter Dariel kembali melayang ke atas langit.


"Lalu bagaimana dengan Kak Radit?" Aishah kembali ke topik pembicaraan.


"Dulu aku dan Radit adalah sahabat dekat. Radit yang ku kenal dulu adalah Radit yang sangat baik, bahkan aku tidak pernah melihatnya marah. Namun, tiba-tiba kecelakaan merenggut nyawa ibunya. Radit syok berat, bahkan sampai depresi. Radit berubah menjadi Radit yang emosian. Setiap hari dia marah-marah, bahkan barang-barang yang ada di rumahnya pecah karena ulahnya. Dan yang membuat dia semakin depresi adalah pacarnya. Pacarnya ketahuan selingkuh dengan ayahnya sendiri dan membuat ibunya kecelakaan dan meninggal." Dokter Dariel mengambil nafas dalam.


"Bella?" Aishah menatap Dokter Dariel.


"Jadi kamu sudah tahu tentang Bella?" Dokter Dariel membelalakan matanya.


"Ya, Bella telah menikah dengan Ayah beberapa tahun yang lalu. Kak Radit juga sudah bercerita tentang Bella yang berselingkuh dengan Ayah dan menyebabkan Ibu kecelakaan. Bella tega merebut semua harta kekayaan yang telah dimiliki Ayah. Bahkan Ayah menghilang dan sampai saat inipun belum diketahui keberadaannya." Aishah tampak bersedih


"Apa! Jadi Bella sekejam itu? Benar-benar wanita itu. Sebenarnya aku juga sudah mengingatkan Radit sejak dia masih berpacaran dengan Bella dulu. Namun, Radit tidak percaya. Dia masih bersikeras mempertahankan hubungannya dengan Bella. Bahkan Radit sempat tergila-gila dengan wanita itu. Entah Radit melihat wanita itu dari sudut mana. Bahkan dulu aku sempat digodanya, padahal Radit masih menjadi kekasihnya." Dokter Dariel menghela nafas panjang.


"Jadi itu yang membuat Kak Radit labil emosi." Aishah mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ya, dulu Radit sempat rutin berkonsultasi denganku selama hampir satu tahun lamanya. Dan selama satu tahun itu Radit menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Emosinya sudah bisa dikendalikan, walaupun belum sepenuhnya stabil. Dulu Radit juga pernah berkata padaku, bahwa akan memenuhi wasiat ibunya untuk menikahi gadis pilihan ibunya yaitu kamu Aishah." Dokter Dariel menjelaskan panjang lebar.


"Pantas saja, kadang aku bingung dengan sikap Kak Radit denganku. Kadang dia sangat baik, tapi kadang juga sangat acuh bahkan kasar. Dia selalu marah jika aku membicarakan Ayah." Aishah menatap jauh di depannya.


"Tapi sepertinya kamu bisa membuat Radit menahan emosinya. Bisa menstabilkan emosi Radit. Aku saja dulu sampai kewalahan." Dokter Dariel terkekeh.


"Walau bagaimanapun sikap Radit, sekarang aku sangat merindukannya. Dulu dia sangat baik, semoga Radit bisa kembali seperti dulu lagi seutuhnya." Dokter Dariel menerawang jauh ke atas langit.


"Aku juga berharap seperti itu Dok. Sudah siang, aku harus pulang." Aishah bangkit dari tempat duduknya.


"Kapan-kapan aku akan berkunjung ke rumah. Alamatnya masih sama seperti yang dulu kan?" Dokter Dariel ikut berdiri dari tempat duduknya.


"Kami sudah pindah rumah. Bella sudah merampas semua dari Kak Radit." Aishah menatap Dokter Dariel dengan tatapan nanar.

__ADS_1


"Apa! Jadi rumah juga? Benar-benar keterlaluan dia! Kalau begitu aku minta alamat rumahmu yang baru." Dokter Dariel mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.


Mereka bertukar nomor telepon, lalu Aishah mengirimkan alamat lengkap rumahnya yang baru. Mereka berpisah di lorong rumah sakit. Aishah pulang ke rumah, sementara Dokter Dariel kembali bekerja.


__________________________________


Siang semakin terik, panas matahari semakin membara. Kirana baru selesai interview tahap keduanya. Namun, ternyata Kirana gagal untuk mendapatkan posisi yang diinginkannya. Kirana merasa sangat kesal.


"Bagaimana mungkin mereka tidak menerima aku untuk bekerja di sini? Mereka benar-benar sudah bodoh." Kirana terus saja mengumpat di dalam hati. Kirana berjalan gontai keluar dari ruang interview.


Hari ini, Radit sedang rapat ke luar kota. Aku tidak bisa menemuinya sekarang. Mungkin aku bisa merengek pada Aishah, agar aku bisa diterima kerja di perusahaannya tanpa seleksi.


Kemudian Kirana mengambil ponsel dari dalam tasnya. Setelah mencari satu nama di kontaknya, Kirana menekan tombol panggil.


Tut… tut… tut…


Terdengar nada sambungan telepon dari seberang sana.


"Halo, assalamu'alaikum Kira."


"Wa'alaikum salam Aish."


"Ada apa?"


"Aish, bolehkah aku meminta satu permintaan lagi padamu? Aku mohon?" Kirana terdengar mengiba pada Aishah.


"Terimalah aku untuk bekerja di perusahaanmu. Tolonglah, aku tidak tahu harus kerja di mana lagi. Hiks hiks." Kirana mulai bersandiwara dengan mengeluarkan air mata buayanya.


"Loh, bukannya kamu sedang interview? Memangnya kamu tidak lolos?" Aishah tambah bingung.


"Iya Aish, sudah ada yang mengisi posisi yang akan aku lamar." Suara Kirana bernada sedih.


"Sekarang kami di mana?" Aishah mulai simpati.


"Aku masih di kantor. Aku malu jika harus kembali ke rumahmu. Lalu bagaimana aku akan melanjutkan hidupku jika aku tidak mendapatkan pekerjaan. Aku tidak mungkin pulang kampung Aish. Huahua." Tangis Kirana semakin dibuat-buat.


"Ya sudah, kamu pulang dulu. Nanti kita bicarakan di rumah. Aku juga masih perjalanan pulang sekarang." Aishah.


"Aku malu denganmu Aish. Apalagi dengan suamimu, aku tidak mungkin terus menumpang di rumahmu jika tidak memiliki pekerjaan sama sekali." Kirana.


"Sudahlah jangan terlalu memikirkan hal seperti itu. Kita kan teman, sudah menjadi kewajibanku untuk membantumu." Aishah.


Akhirnya Kirana berhasil membuat Aishah simpati kepadanya. Ketika Kirana kembali ke rumah Aishah, Aishah sudah tiba di rumah lebih dulu. Aishah sudah menunggu kedatangan Kirana di sofa ruang tamu.


"Assalamu'alaikum Aish." Kirana masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikum salam. Ayo duduk sini dulu Kira." Aishah menepuk sofa di dekatnya, agar Kirana duduk di sana. Dengan hati-hati Kirana duduk di tempat yang telah ditunjuk Aishah tadi.

__ADS_1


"Aish, aku minta tolong sekali lagi padamu. Berikan aku kerjaan. Aku bisa bekerja apapun kok. Atau aku akan bantu Bibi bersih-bersih di rumah ini. Rumah ini kan besar, jadi aku akan menjadi pembantu di rumah ini. Apakah kamu mengizinkan aish? Aku tidak mungkin pulang kampung dengan tangan kosong Aish." Kirana berlutut di depan Aishah sambil menunjukkan wajah sedihnya kepada Aishah.


Aishah pun termakan bualan Kirana. Aishah tidak tega melihat Kirana sampai berlutut kepadanya. Akhirnya Aishah memutuskan untuk menerima Kirana bekerja di perusahaannya, tetapi di bagian pengemasan barang sehingga tidak perlu melalui tahap seleksi.


"Jangan berlutut seperti itu. Bangunlah, aku akan merekomendasikanmu ke bagian pengemasan barang." Aishah membantu Kirana untuk bangun lalu duduk di sofa.


"Terima kasih Aish, aku sangat senang akhirnya bisa bekerja." Kirana menggenggam tangan Aishah.


Tak apalah di bagian apapun, yang terpenting saat ini adalah aku bisa masuk ke dalam rumah ini, lalu ke dalam perusahaan, dan akhirnya aku akan masuk ke dalam rumah tanggamu Aish. Hahaha


Kirana bergumam dalam hati. Kirana memang masih memiliki dendam kepada Aishah, karena Lintang dulu. Dan kini Kirana ingin membalas dendamnya dengan merebut hati Radit dari Aishah.


Malam hari Radit baru pulang kerja. Radit tidak sempat makan malam di rumah. Radit baru tiba di rumah sekitar pukul sepuluh malam. Dengan setia, Aishah menunggu kedatangan suaminya.


"Kamu belum tidur sayang?" Radit keluar dari dalam mobil lalu menyerahkan tas kerja beserta jasnya kepada Aishah. Aishah hanya menggelengkan kepalanya. Aishah menggandeng tangan suaminya menaiki anak tangga.


"Oh ya bagaimana dengan hasil pemeriksaanmu tadi?" Radit menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.


Aishah tertunduk lesu, lalu ikut duduk di samping suaminya. Aishah mengambil sebuah amplop coklat besar di atas meja lalu menyerahkannya kepada Radit. Radit bangun untuk duduk di tepi tempat tidur. Radit mulai membuka amplop coklat tersebut lalu membacanya.


"Aku tidak mengerti, apa maksud dari surat ini? Apa kamu bisa menjelaskan?" Radit mengernyitkan dahi.


Aishah menghela nafas panjang.


"Maaf Kak." Aishah menundukkan kepalanya. Radit menatap mata Aishah.


"Kenapa?" Radit terlihat bingung.


"Aish menderita endometriosis Kak." Aishah menatap mata suaminya, mulai terlihat ada yang menganak sungai di sudut matanya.


"Apa itu?" Radit semakin bingung.


"Nyeri yang berlebih saat haid. Endometriosis bisa terjadi karena perut Aish pernah mengalami benturan hebat. Dan akibatnya Aish sulit untuk hamil." Aishah tidak berani membalas tatapan mata Radit.


"Apa! Jadi kamu tidak bisa memberiku keturunan?" Radit sangat terkejut dengan perkataan Aishah. Aishah hanya tertunduk sedih. Aishah tak dapat lagi membendung air mata yang sedari tadi sudah ditahannya. Aishah sudah menduga Radit akan sangat kecewa mendengar semua kenyataan ini.


"Bisa Kak, tapi mungkin butuh waktu agak lama untuk itu. Aish harus melakukan pengobatan secara rutin selama beberapa bulan terlebih dahulu." Kini Aishah telah berurai air mata.


Radit hanya terdiam. Jujur dari dalam hati, Radit merasa sangat kecewa dan sedih dengan hasil pemeriksaan Aishah. Namun, ini semua juga bukan sepenuhnya kesalahan Aishah. Radit benar-benar terpukul dengan semua ini. Selama ini, Radit sudah sangat mendambakan hadirnya buah hati di tengah-tengah pernikahannya dengan Aishah. Namun, semua itu harus Radit tahan sampai Aishah sembuh. Iya kalau bisa benar-benar sembuh. Kalau tidak, Radit harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk memiliki anak.


"Tapi kamu pasti bisa sembuh kan?" Radit membelai rambut Aishah yang tergerai. Radit ingin memastikan bahwa dirinya masih memiliki harapan untuk memiliki keturunan.


"Aish yakin, Aish bisa sembuh." Aishah berkata dengan penuh keyakinan.


Kenapa Kak Radit seolah tidak peduli dengan perasaanku. Apakah Kak Radit tidak memikirkan sedikit pun tentang bagaimana perasaanku saat ini? Hatiku hancur Kak, apalagi mendapati kenyataan bahwa Kak Radit bahkan tidak ada rasa kasihan sedikit pun kepadaku. Aku butuh dukungan dari Kak Radit. Aku butuh semangat dari Kak Radit.


Aishah terus meratapi dirinya. Aishah merasa semakin hancur. Serasa dirinya kini tidak bisa menjadi wanita sempurna lagi. Wanita yang bisa mengandung dan melahirkan anak ke dunia. Aishah merasa tidak ada gunanya lagi. Aishah terus mengutuk dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2