
Malam mulai berganti pagi, lambat laun waktu berjalan begitu saja tanpa disadari. Gelapnya malam pun mulai lenyap terkena terpaan sinar mentari pagi. Hari semakin terang, kini waktu menunjukkan pukul 04.30 dini hari. Suara gema adzan mulai berkumandang, terdengar dari segala penjuru masjid. Pak Joko yang sedari tadi duduk di depan ruang ICU, menunggu hasil pemeriksaan dokter terkait dengan keadaan Radit saat ini, segera bangkit dari tempat duduknya. Mendengar panggilan adzan, Pak Joko segera menuju mushola terdekat yang berada di rumah sakit tersebut untuk menunaikan sholat subuh.
Sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter, Pak Joko melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan terlebih dahulu. Baru setelah melaksanakan sholat subuh, Pak Joko kembali menunggu Radit di depan ruang ICU. Pak Joko sudah berusaha menghubungi keluarga Radit sejak Pak Joko datang, namun belum ada satupun yang terlihat batang hidungnya. Sekitar kurang lebih 15 menit menunggu, akhirnya seorang dokter dan beberapa perawat keluar dari ruang ICU. Pak Joko segera menghampiri dokter yang telah menangani Radit di dalam ruang ICU itu.
"Bagaimana dok keadaan keponakan saya?" Pak Joko sangat penasaran.
"Untuk saat ini, Pak Radit masih dalam keadaan koma. Keadaan ini akan berlangsung selama satu sampai 2 jam. Untuk itu saya harap pihak keluarga dengan sabar menunggu dan mengawasi perkembangannya. Nanti, jika Pak Radit sudah siuman, saya harap Bapak segera memanggil dokter ataupun perawat." Dokter itu beranjak pergi dari hadapan Pak Joko.
"Baik dok, terima kasih." Pak Joko mengangguk pertanda mengerti.
Kemudian setelah menggunakan pakaian steril yang lengkap, Pak Joko masuk ke dalam ruang ICU untuk memastikan keadaan Radit. Dilihatnya dari kejauhan, tubuh Radit yang terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan kepala diperban. Wajahnya penuh dengan luka dan lebam. Radit tampak lemah di sana, badannya yang kekar kini terlihat lemah. Wajahnya pucat dengan mata yang tertutup rapat. Selimut rumah sakit membalut kakinya hingga perut. Selang infus serta alat bantu pernafasan terpasang di tubuh Radit.
Pak Joko mendekat, melihat keadaan Radit lebih dekat. Ia merasa tak tega melihat keadaan Radit yang memprihatinkan ini.
Kemana keluarga Radit saat ini? Kenapa mereka tak kunjung datang. Padahal aku sudah memberi tahu mereka sejak tadi. Apakah seburuk itu hubunganmu dengan ayahmu saat ini? Apakah benar kabar mengenai keretakan hubunganmu dan ayahmu yang selama ini kudengar itu? Pak Joko bergumam dalam hati.
Pak Joko menyentuh tangan Radit yang terkulai lemas. Menatap wajah Radit dengan sorot mata iba. Melihat setiap detail luka di wajah Radit yang tampan.
__ADS_1
"Semoga keadaanmu lekas membaik." Nada suara Pak Joko terdengar sedih. Kemudian Pak Joko duduk di kursi yang tersedia.
__________________________________
Kriing… kriing…
Suara telepon dari ponsel Pak Banu berbunyi beberapa kali. Bella yang merasa terganggu dengan suara ponsel suaminya itu terbangun.
"Siapa sih malam-malam begini menelepon! Apa tidak bisa besok pagi, mengganggu orang tidur saja!" Bella membuka matanya untuk melihat ponsel siapa yang berdering. Dan ternyata ponsel Pak Banulah yang berdering. Bella nampak sangat gusar. Kemudian Bella membangunkan suaminya yang sedang tidur dengan pulas.
"Beiby bangun, ponselmu berdering dari tadi. Mengganggu tidurku saja!" Bella mengguncang-guncangkan tubuh Pak Banu yang tidur lelap di sampingnya hingga beberapa kali. Namun Pak Banu tidak terbangun juga.
"Ada yang meneleponmu itu, angkat sana!" Bella mengguncang-guncang kembali tubuh suaminya yang memeluknya dengan erat.
Bahkan saat tidur pulas begini saja kau masih bisa memelukku sekencang ini, dasar mesum! Dia itu tidur apa mati sih, ponselnya berisik begitu masih saja tidak bangun. Sudah ku bangunkan juga tidak menyahut.
Bella melepaskan pelukan suaminya dengan kasar, berharap suaminya bisa bangun karena dorongannya yang keras. Kemudian Bella menarik selimut hingga menutupi wajahnya lalu memejamkan mata. Namun lagi-lagi Pak Banu hanya menggeliat lalu berpindah posisi membelakangi Bella. Sepertinya Pak Banu merasa sangat kelelahan. Karena seharian tadi Pak Banu bekerja dengan keras sampai harus lembur dan pulang larut malam. Tidak beberapa lama suara dengkuran tidur Pak Banu pun terdengar.
__ADS_1
Karena semakin lama ponsel itu terus berdering, akhirnya Bella merasa terganggu dengan suara ponsel suaminya, Bella kemudian bangun untuk melihat siapa yang menelepon malam-malam begini. Dengan gusar, Bella membuka selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian bangkit lalu duduk di tepi tempat tidur. Ponsel Pak Banu terletak di meja dekat sofa, sehingga Bella Harus berdiri dan berjalan untuk mengambilnya. Dengan langkah yang masih sempoyongan, Bella memaksa tubuhnya untuk bangun, kemudian menyeret kakinya untuk berjalan sampai di sofa.
Bella mengambil ponsel suaminya yang masih berdering, melihat siapa yang menelepon suaminya.
"Pak Joko! Ada apa dia menelepon malam-malam seperti ini?" Bella melihat waktu di ponsel yang dipegangnya menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Baru saja Bella hendak mengangkat, bunyi telepon itu sudah mati. Kemudian tak beberapa lama, masuk sebuah pesan WhatsApp dari Pak Joko.
Pak Joko : Radit dan Aishah mendapat kecelakaan, sekarang mereka berada di rumah sakit Harapan.
Apa! Aku tidak salah baca kan? Hahaha ****** kalian! Bella bergumam dalam hati. Bella merasa sangat senang malam itu. Karena rencananya berjalan dengan mulus. Bella merasa sangat kegirangan, hingga tertawa-tawa sendiri tanpa mengeluarkan suara. Bella tidak mau Pak Banu sampai bangun dan mendengar kabar tentang kecelakaan Radit. Karena pasti Pak Banu akan mengajaknya menjenguk Radit malam itu juga. Karena Pak Banu selalu mengkhawatirkan keadaan Radit.
Sebenarnya, Pak Banu sangat menyayangi Radit. Hanya saja cinta membuatnya buta, sehingga tega berselingkuh di belakang Radit dengan Bella yang dulu masih berstatus sebagai pacar anaknya sendiri. Walaupun Radit sangat membenci Pak Banu, tapi Pak Banu tidak pernah membalas kebencian anaknya itu. Justru Pak Banu memberikan tanggung jawab besar kepada Radit sebagai wakil presiden direktur di kantornya.
Pak Banu juga sempat merasa bersalah kepada Radit, namun mulut Bella yang licik mampu membuat Pak Banu melupakan rasa bersalahnya. Bella berhasil merayu Pak Banu hingga Pak Banu cinta buta dengannya. Pak Banu tidak peduli bahwa Bella adalah kekasih anaknya. Dan demi harta, Bella rela menikahi ayah kekasihnya sendiri. Menghianati kesetiaan Radit dan bermain di belakang Radit dengan ayah kekasihnya itu sendiri.
Bella meletakkan kembali ponsel suaminya tanpa membalas pesan dari Pak Joko. Bella berjalan mengendap-endap menuju tempat tidur lalu berbaring di samping suaminya. Bella tersenyum puas, lalu bibirnya menyeringai. Bella memperhatikan suaminya yang masih tidur pulas di sampingnya.
Selangkah lagi, rencanaku akan berhasil. Sekarang giliranmu yang akan segera ku singkirkan. Dasar tua bangka! Hahahaha sebentar lagi aku akan mendapatkan semua hartamu dan menjadi orang kaya.
__ADS_1
Kemudian Bella memejamkan matanya, malam ini ia bermimpi sangat indah. Hingga ia tertidur dengan pulasnya sampai pagi.