
Tidak terasa waktu cepat berlalu. Empat tahun sudah Aishah dengan setia menemani perjalanan hidup Radit. Di kala senang maupun susah, Aishah selalu berada di samping suaminya itu, selalu mendukung, memberi semangat serta melayani tanpa mengharap imbalan apapun. Kesetiaan Aishah kepada Radit telah teruji di kala Radit jatuh ke dalam jurang keterpurukan. Namun, Aishah dengan setia tetap berdiri kokoh di samping suaminya itu sekokoh karang di lautan yang tak akan tergerus ombak pasang.
Kini, kaki Radit sudah sembuh total. Berkat kegigihannya dalam melatih kakinya untuk berjalan, Radit menuai hasil kerja kerasnya itu. Meski tidak membutuhkan waktu yang sebentar, namun perjuangan Radit terbayar sudah dengan kesembuhan yang didapatkannya. Radit dapat berjalan tanpa bantuan tongkatnya lagi. Bahkan Radit sudah bisa berjalan dengan normal seperti sedia kala kembali. Radit sangat bahagia dengan kesembuhannya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di hati Radit.
Radit masih punya janji yang belum ditepati. Meskipun sudah sekian lama, luka yang ditorehkan Bella kepadanya. Sepertinya luka itu belum juga sembuh. Bahkan kini menganga kembali. Radit masih memiliki dendam kepada Bella jauh di dalam lubuk hatinya. Radit masih mempunyai ambisi untuk merebut kembali harta yang telah dirampas Bella dari tangannya. Bahkan, Radit ingin membalas ayahnya yang hingga saat ini tidak ditemukan keberadaannya.
Namun, untuk saat ini Radit belum memiliki strategi untuk menjalankan rencana balas dendamnya. Radit belum memikirkan langkah yang akan diambil kedepannya untuk membalas perlakuan Bella kepada keluarganya. Radit juga masih menyembunyikan rencana balas dendamnya dari Aishah. Karena Aishah pasti tidak akan mendukungnya, bahkan Aishah pasti akan melarangnya dengan keras. Sehingga, Radit harus menyimpannya dengan rapat-rapat untuk dirinya sendiri.
Aishah kini tengah sibuk menjalankan usaha kateringnya yang berkembang dengan pesat. Kini usaha kateringnya telah mempunyai tiga cabang perusahaan dan puluhan restoran yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Aishah dan Radit kini kembali menjadi seorang Milyarder. Berkat usaha dan kerja keras mereka sendiri, tanpa campur tangan dari nama besar orang tua keduanya.
Radit kini menjabat sebagai Presiden Direktur dan Aishah sebagai wakilnya. Usaha mereka juga merambah ke sektor olahan pangan cepat saji dan wisata kuliner khas daerah. Jadi tak hanya resep turun temurun yang selalu mereka jaga dengan baik saja yang menjadi daya tarik usaha katering yang dijalankan Aishah. Namun, segala aspek makanan telah masuk ke dalam usaha katering yang Aishah kemas dalam olahan pangan instan. Walaupun instan, namun tetap sehat. Begitu slogan yang selalu Aishah dan Radit koar-koarkan dalam promosinya.
Radit dan Aishah mengelola usaha katering mereka dengan sangat baik. Setelah jatuh bangun melewati jalanan naik turun, berkelok-kelok dan penuh kubangan, akhirnya Radit dan Aishah bisa sampai di tahap ini. Pencapaian yang sangat luar biasa untuk pasangan muda ini. Mereka tanpa kenal lelah terus maju pantang mundur. Mereka benar-benar pasangan yang mempunyai kegigihan yang sepadan.
Suatu pagi yang cerah, Radit dan Aishah sedang menikmati secangkir teh di gazebo taman belakang rumah. Taman belakang rumah memang sengaja dibuat untuk tempat bersantai. Suasananya yang tenang membuat hati dan pikiran ikut tenang. Terdengar gemericik air dari air mancur yang digunakan sebagai tempat hidupnya ikan-ikan hias. Pohon-pohon buah yang ditanam mengelilingi taman tersebut membuat udara di sekitar menjadi segar. Bunga warna-warni yang bertaburan membuat mata sedap memandang.
Radit dan Aishah memang paling suka bersantai di sana. Apalagi di saat hari libur seperti ini. Radit dan Aishah tak pernah absen untuk bersantai di sini. Bahkan mereka bisa menghabiskan waktu seharian liburan mereka hanya di taman ini. Karena tamannya yang cukup luas, sehingga di sana terdapat pula sebuah kolam renang. Tiba-tiba pembantu rumah Aishah dan Radit keluar menghampiri dua majikannya yang sedang asyik mengobrol di taman belakang itu.
"Maaf Non, ada seorang perempuan yang ingin bertemu dengan Non Aishah." Pembantu itu berbicara sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena berlari dari pintu depan tadi.
"Siapa Bi?" Aishah memandang pembantunya itu lalu mengernyitkan dahi.
"Saya juga kurang tahu, tadi katanya teman Non Aishah." Pembantu itu menundukkan kepalanya.
"Bibi tidak bertanya namanya?" Aishah masih mencari kejelasan.
"Oh iya Non, maaf tadi Bibi lupa menanyakan namanya." Pembantu itu garuk-garuk kepala.
"Ya sudah, sebentar lagi aku akan menemuinya." Aishah tersenyum tipis.
"Baik Non, kalau begitu saya permisi kembali ke dapur dulu." Pembantu itu menundukkan kepalanya dengan sopan, kemudian berlalu pergi menuju dapur.
"Siapa yang datang pagi-pagi seperti ini?" Radit mengernyitkan dahi.
"Aish juga kurang tahu Kak." Aishah mengangkat kedua bahunya.
"Ya sudah, Aish lihat dulu sana! Siapa tahu penting." Radit menyeruput tehnya.
"Baik Kak." Aishah beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ruang tamu. Aishah sangat penasaran dengan temannya itu. Biasanya jika ada teman yang ingin menemuinya, selalu memberi kabar terlebih dahulu. Apalagi ini hari Minggu, Aishah jarang sekali menerima tamu.
"Hai Aish, sudah lama ya kita tidak bertemu." Wanita muda dengan dandanan cukup menor itu berdiri dari tempat duduknya, kemudian tersenyum melihat Aishah muncul di hadapannya.
"Kirana?" Aishah tampak sedikit pangling. Aishah memperhatikan dandanan Kirana yang jauh berbeda dengan Kirana yang dia temui terakhir kali.
"Silahkan duduk." Aishah duduk di sofa yang berbeda.
"Bagaimana kabarmu sekarang Aish?" Kirana kembali duduk di tempatnya tadi.
"Alhamdulillah baik, bagaimana denganmu Kira?" Aishah balik bertanya.
"Ya seperti inilah Aish, aku sekarang sudah tidak memiliki pekerjaan lagi. Aku tidak tahu harus kemana lagi mencari pekerjaan." Kirana tertunduk lesu.
"Kamu yang sabar ya Kira." Aishah menepuk lembut pundak Kirana beberapa kali.
Lalu pembantu Aishah keluar dari dapur membawa sebuah nampan berisi dua cangkir teh.
__ADS_1
"Silahkan Non." Pembantu itu meletakkan dua cangkir teh di atas meja, lalu pergi kembali ke dapur.
"Terima kasih ya Bi." Aishah tersenyum kepada pembantunya itu.
"Apakah kamu bisa membantuku Aish?" Kirana memohon, Kirana memegang tangan Aishah. Aishah terdiam, Aishah terus berpikir, pekerjaan apa yang tepat untuk temannya itu.
"Berikan aku pekerjaan Aish. Aku mohon, aku harus membantu keuangan keluargaku di kampung. Kedua orang tuaku saat ini sudah tidak bekerja. Bapak di kampung punya banyak hutang. Dan mau tidak mau, aku yang harus menjadi tulang punggung keluargaku saat ini." Perlahan, air mata mulai jatuh membasahi pipi Kirana.
Aishah tidak tega melihat Kirana bersedih. Apalagi keadaan keluarga Kirana memang sedang sulit. Dulu, keluarga Kirana memang kaya. Namun, karena hutang yang melilit Bapaknya harus membuat Kirana dan keluarganya jatuh miskin. Aishah berpikir keras, pekerjaan apa yang cocok untuk Kirana.
"Apakah aku bisa melihat berkas-berkas lamaran pekerjaanmu?" Aishah melihat amplop coklat yang dipegang Kirana.
"Ini adalah berkas-berkas lamaran pekerjaanku, aku sudah berkeliling mencari pekerjaan. Namun, tak ada satupun perusahaan yang menerimaku." Kirana terlihat sedih. Beberapa kali Kirana terlihat mengusap air matanya.
"Aku akan melihat berkas-berkas ini dulu. Nanti akan kuberi informasi mengenai kelanjutannya." Aishah tersenyum manis kepada Kirana.
"Aku sudah mencoba menghubungimu beberapa kali, tapi tidak pernah bisa." Kirana mengernyitkan dahi.
"Aku sudah mengganti nomorku yang dulu Kira, maaf tidak memberitahumu." Aishah.
"Tidak apa-apa Aish. Aku mengerti, memang siapa diriku." Kirana tersenyum getir.
"Bukan seperti itu Kira, hanya saja banyak kontak di ponselku yang hilang." Aishah menjadi merasa bersalah sendiri.
"Tidak apa-apa Aish. Tapi saat ini, aku salon sangat berharap kepadamu, aku mohon. Hanya kamu harapanku satu-satunya." Kirana terus memohon.
"Kamu tenang saja, aku akan membantumu sebisaku." Aishah memegang tangan Kirana.
"Terima kasih Aish, kamu memang sahabatku yang paling baik." Kirana tersedu lalu memeluk Aishah. Aishah pun membalas pelukan Kirana, lalu menepuk bahunya beberapa kali dengan lembut.
"Oh ya Kira, bagaimana keadaan keluarga di kampung?" Aishah melepas pelukannya.
"Alhamdulillah Aish, keluarga di kampung sehat. Mungkin keadaan finansial saja yang membuat kehidupan keluargaku saat ini terlunta-lunta." Kirana meratapi keadaan keluarganya.
"Kamu yang sabar Kira, aku juga pernah berada di posisimu. Tapi kamu tidak boleh putus asa, kamu harus tetap berjuang dan yakin, bahwa Tuhan itu selalu ada untuk kita." Aishah tersenyum.
"Terima kasih Aish, aku tahu kamu memang orang yang sangat baik." Kirana tersenyum senang.
"Tapi bagaimana kamu bisa mengetahui alamat rumahku yang sekarang?" Aishah mengernyitkan dahi.
"Kemarin aku sempat ke rumah pakdhemu. Dan pakdhemulah yang memberikanku alamat rumahmu ini." Kirana menjelaskan.
"Oh begitu, lalu bagaimana keadaan Pakdhe dan Budhe?" Aishah tampak penasaran.
"Kemarin kulihat mereka dalam keadaan baik-baik saja." Kirana.
"Alhamdulillah, baguslah kalau begitu. Aku sudah lama tidak mengunjungi mereka." Tiba-tiba Aishah merasa rindu dengan pakdhe dan budhenya itu.
"Lalu bagaimana dengan kabar Lintang?" Tiba-tiba Aishah bertanya hal yang membuat Kirana terkejut. Terjadi perubahan yang drastis terlihat pada raut wajah Kirana. Tiba-tiba Kirana berubah sedih. Matanya mulai berkaca-kaca. Ada yang menganak sungai di sudut matanya. Perlahan butiran kristal jatuh di pipi Kirana.
"Lintang sudah menikah." Kirana tertunduk sedih.
"Menikah? Dengan siapa?" Aishah terkejut. Karena setahu Aishah, Kirana adalah kekasih Lintang.
"Lintang menikah dengan anak kepala desa yang menjadi kembang desa di desa waktu itu." Kirana kembali meneteskan air mata.
__ADS_1
"Tapi bukankah kamu kekasihnya?" Aishah mengernyitkan dahi.
"Iya memang, tapi ternyata Lintang bermain api di belakangku. Lintang telah mengkhianati kesetiaan cintaku kepadanya." Kirana menangis tersedu-sedu.
"Maafkan aku Kira, aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Aishah merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Aish, itulah sebabnya aku tidak bisa menghadiri pesta pernikahanmu waktu itu." Kirana mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Waktu itu, aku berencana untuk mengajak Lintang datang bersama ke pesta pernikahanmu. Tapi ketika aku hendak ke rumahnya. Di perjalanan, aku melihat Lintang bersama gadis itu sedang bermesraan di dekat danau. Seketika itu hatiku hancur, aku menghampiri mereka berdua lalu memutuskan hubunganku dengan Lintang. Selang satu minggu setelah kejadian itu, aku mendapat kabar bahwa Lintang telah melamar anak kepala desa itu." Kirana menjelaskan panjang lebar, lalu Kirana kembali tersedu-sedu.
"Mungkin memang Lintang bukan jodohmu Kira. Pasti suatu hari nanti, kamu akan mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Lintang." Aishah mencoba menenangkan Kirana.
Tiba-tiba Radit muncul, membuat Aishah dan Kirana menghentikan obrolan mereka. Kirana berdiri lalu melemparkan senyumnya kepada Radit. Dengan ramah, Radit membalas senyuman Kirana kepadanya. Lalu, Radit duduk di samping Aishah.
"Sayang, perkenalkan ini temanku dari kampung, namanya Kirana." Aishah menengok ke arah Radit lalu ke arah Kirana.
"Kirana." Kirana tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
"Radit." Radit membalas uluran tangan Kirana.
Wah tampan sekali suami Aishah. Pantas saja Aishah mau dijodohkan dengannya. Sudah tampan, kaya lagi. Benar-benar lelaki idaman. Andaikan aku bisa mendapatkannya.
Kirana terus bergumam dalam hati. Sampai-sampai dia melamun dan tidak melepaskan uluran tangannya.
"Ehem." Aishah merasa tidak nyaman dengan perlakuan Kirana kepada suaminya itu.
Mendengar Aishah berdehem, membuat Kirana terkejut. Deheman Aishah membuyarkan lamunan Kirana. Lalu dengan cepat, Kirana segera menarik tangannya.
"Maaf" Kirana tampak malu. Kirana menundukkan kepalanya.
"Kak, Kirana datang kemari untuk mencari pekerjaan." Aishah mengakhiri suasana canggung yang terjadi di antara mereka. Radit memperhatikan Kirana dengan seksama.
"Mohon bantuannya Mas Radit." Kirana tersenyum lalu menundukkan kepalanya kembali.
"Ini surat lamaran kerja dan berkas-berkas yang diperlukan." Aishah menyerahkan amplop coklat dari Kirana tadi kepada Radit. Radit menerimanya lalu membaca isi di dalamnya dengan teliti.
Radit memang sudah sangat berpengalaman dalam masalah penerimaan karyawan baru. Bahkan semua karyawan yang bekerja kepada mereka harus melewati tahap-tahap pengujian dari Radit. Radit memastikan bahwa karyawan yang dipekerjakan adalah pekerja yang berkualitas.
"Jadi kami ingin melamar sebagai Sekretaris?" Radit masih fokus membaca surat lamaran kerja dari Kirana.
"Iya Mas Radit." Kirana menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, besok kamu bisa datang ke kantor untuk interview awal." Radit memeriksa kelengkapan surat lamaran kerja Kirana.
"Benarkah?" Kirana terperanjat saking senangnya, Kirana menatap Radit dan Aishah secara bergantian dengan tatapan gembira. Aishah ikut tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih ya Mas Radit, Aishah. Aku benar-benar bahagia. Besok aku akan datang tepat waktu. Kebetulan aku mengontrak di dekat sini. Tapi di mana alamat kantornya?" Kirana sangat bahagia.
"Nanti biar Aish kirimkan alamat lengkap kantornya. Ingat! Pukul delapan kamu harus sudah sampai di sana. Karena kedisiplinan sangat kami utamakan." Radit memperingatkan Kirana.
"Baik Mas Radit, saya berjanji akan tepat waktu. Saya akan bekerja dengan sangat baik." Kirana menganggukkan kepalanya.
"Kamu belum saya terima untuk bekerja. Ini baru interview awal. Masih ada interview lainnya, jadi berusahalah dengan keras." Radit menatap Kirana dengan tatapan tajam. Membuat Kirana ngeri sendiri dibuatnya.
"I iya Mas Radit maaf."
__ADS_1
Bodoh sekali kamu Kirana, kamu harus bisa jaga sikap. Kirana bergumam dalam hati.