Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Keberangkatan Aishah


__ADS_3

Belakangan ini hubungan Aishah dan Aldi sudah mulai membaik, walaupun Aldi masih menjaga jarak dengan Aishah. Aldi benar-benar bekerja dengan cepat, ia berhasil menyelesaikan proyeknya bahkan lebih cepat dari yang dibayangkan Aishah. Aldi mendesain gambarnya dengan sangat baik, bahkan sangat minim kesalahan.


Baiklah sudah selesai, tinggal menyerahkan ke bagian produksi. Aishah pasti akan sangat senang.


Aldi bergumam dalam hati. Aldi memeriksa kembali hasil kerjanya, ia tak mau membuat Aishah kecewa sedikitpun. Aldi sudah cukup puas dengan hasil kerjanya. Aldi memutuskan untuk menyerahkan hasil kerjanya kepada Aishah. Ternyata benar, Aishah sangat senang dengan hasil kerja Aldi. 


"Wah, kamu benar-benar menyelesaikannya dengan cepat di, aku jadi bisa pulang kampung lebih cepat hihi." Aishah terlihat sangat senang.


"Apa Aish? Kamu mau pulang kampung?" Aldi nampak penasaran dengan ucapan Aishah.


"Iya, aku akan pulang kampung setelah mendapat persetujuan cuti dari Pak Bima." Aishah masih memegangi hasil pekerjaan Aldi.


"Berapa hari?" Aldi masih saja penasaran.


"Pengajuanku sih satu minggu, tapi tidak tahu juga Pak Bima mau memberikan cuti berapa hari." Aishah mengangkat bahunya.


"Tapi ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba ingin pulang kampung?" Aldi menyelidik.


"Aku hanya rindu saja. Mungkin aku akan segera menikah."


Sebenarnya berat hati Aishah harus menyampaikan hal ini dengan Aldi. Tapi toh juga Aldi sudah punya pacar, ini juga tidak akan berpengaruh pada hatinya. Aishah kembali meyakinkan dirinya untuk menerima kenyataan dengan lapang dada.


Aldi sangat terkejut dengan perkataan Aishah, bagaikan dijatuhi bom atom dari ketinggian. Buumm hatinya hancur berkeping-keping. Aldi langsung merasa lemas, bahkan serasa kakinya mati rasa, ia tak kuasa melangkahkan kakinya.


Apakah ini memang akhir dari perjuangan cintaku? Apakah aku benar-benar sudah tidak memiliki kesempatan lagi? Hei apa yang ada di pikiranmu itu, bukankah kau sudah merelakan Aishah, kenapa masih saja linglung begitu, wahai hati sadarlah… sadarlah…


Tanpa sadar Aldi memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Kenapa di?" Aishah merasa bingung dengan apa yang dilakukan Aldi.


"Eh, aku hanya pusing saja setelah menyelesaikan pekerjaan ini."


Aldi gelagapan, ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang telah ia lakukan di depan Aishah.


Harusnya aku lebih bisa menguasai diriku di depan Aishah.


Kemudian Aishah kembali menghadap Pak Bima, dan benar Aishah mendapat persetujuan cuti yang diajukannya. Bahkan karena dapat menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat Aishah dan Aldi akan mendapat bonus.


______________________________________________

__ADS_1


Aishah bersiap-siap untuk pulang ke kampung halamannya. Aishah mengepak baju dan barang-barang yang akan dibawanya ke dalam koper. Tak lupa oleh-oleh untuk keluarganya telah ia siapkan dengan baik. Hampir satu tahun Aishah tidak pulang ke kampung halamannya. Ini kedatangan pertamanya setelah lebaran tahun lalu.


Aishah memutuskan pulang kampung dengan kereta. Karena ia ingin menikmati indahnya pemandangan alam sekitar saat perjalanan pikirnya. Apalagi saat mulai masuk ke kampung halamannya, udara di sekitar sangat sejuk diikuti pemandangan hamparan sawah hijau yang permai. Di samping kanan kiri jalan dipenuhi dengan pepohonan yang rindang membuat mata semakin segar.


Aishah sudah senyum-senyum sendiri di dalam kamarnya. Tiba-tiba Bu Sekar sudah duduk di samping Aishah. 


"Nduk, apa kamu sudah siap?" Suara Bu Sekar membuyarkan lamunan Aishah.


"Eh Budhe, iya, Aish sudah siap." Aish nampak kaget karena tidak melihat Budhenya masuk ke dalam kamarnya tadi. 


"Itu Radit sudah menunggumu di depan." Bu Sekar melihat ke arah luar.


"Apa?"  Aishah nampak terkejut dengan kedatangan Radit yang tiba-tiba. Karena ia tidak pernah merasa memberi tahu Radit tentang hari keberangkatannya.


"Kenapa?" Bu Sekar agak bingung dengan pertanyaan Aishah.


"Hehe, tidak apa-apa kok Budhe, ini kan masih sangat pagi. Aish kaget saja sepagi ini Kak Radit sudah sampai disini." Aishah meringis.


"Kalau sudah selesai segera keluar, Radit akan mengantarmu ke stasiun." Bu Sekar beranjak keluar kamar.


"Baik Budhe." Aishah segera keluar dari kamar sambil menyeret koper yang dibawanya. Radit menghampirinya dan membantu Aishah membawakan koper tersebut. Aishah berpamitan dengan Pakdhe Budhenya. Radit memasukkan koper Aishah ke dalam bagasi mobilnya. Lalu mereka melesat menuju stasiun kota.


"Berapa hari Aish di sana?" Radit memecah keheningan diantara mereka. 


"Aku pasti akan merindukanmu." Radit menengok sebentar ke arah Aishah, lalu kembali fokus mengemudi.


Aishah menengok ke arah Radit mendengar ucapan Radit, lalu memalingkan wajahnya melihat jalanan di samping. Nampaknya Aishah ingin menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Radit yang melihat wajah Aishah memerah hanya tersenyum dengan tetap fokus menyetir. Setelah sampai di stasiun, Aishah langsung mencari gerbongnya. Kereta akan segera berangkat. Aishah melambaikan tangan ke arah Radit sebelum masuk ke dalam gerbongnya.


______________________________________________


Aldi terus memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, menjambak rambutnya yang cepak. Aldi duduk di pojok ruang kamarnya, menyandarkan badannya di tembok sepertinya ia sudah tak tahan merasakan sakit di kepalanya. Aldi berusaha meraih gelas yang berisi air putih di meja dekat tempat tidurnya.


Pranggg….. 


Terdengar suara gelas pecah dari dalam kamar. Nenek segera berlari menuju sumber suara. Nenek mencoba memanggil Aldi dan mengetuk pintu beberapa kali namun tak juga mendapat jawaban. Nenek sangat khawatir dengan keadaan Aldi yang akhir-akhir ini terlihat lesu. Akhirnya Nenek mencari kunci cadangan untuk membukanya. 


Setelah pintu kamar dibuka, pandangan Nenek menyapu sisi ruang kamar yang berantakan, bantal yang berhamburan kemana-mana, sprei yang sudah tidak pada tempatnya. Dan Nenek menemukan Aldi tergeletak di pojok kamar tidurnya dengan gelas yang pecah berserakan di sampingnya.


"Aldi…." Nenek berlari menghampiri Aldi.

__ADS_1


Nenek mengangkat kepala Aldi ke pangkuannya, lalu menggoyang - goyangkan tubuh Aldi, namun Aldi tidak bergerak sedikitpun. Tak ada reaksi yang muncul dari tubuh Aldi, Nenek sangat cemas. Nenek mencoba memindahkan tubuh Aldi ke tempat tidur. Namun nihil Nenek tak kuat mengangkat berat badan Aldi yang jauh lebih besar darinya.


Nenek kembali meletakkan kepala Aldi ke lantai, beliau mengambil bantal lalu menyelipkan ke bawah kepala Aldi. Dengan langkah seribu Nenek segera menghampiri telepon rumah untuk menghubungi ambulan. Tak lama kemudian ambulan datang, Aldi segera dilarikan ke rumah sakit.


Kakek datang dengan tergesa-gesa menghampiri Nenek yang panik mondar-mandir menunggu Aldi di depan ruang UGD.


"Bagaimana keadaan Aldi sekarang?"


Dengan mengatur nafas yang masih tersengal-sengal, Kakek berusaha memastikan bagaimana keadaan Aldi yang sebenarnya. Usianya yang sudah cukup makan asam garam membuat tenaganya tidak se fit dulu lagi. 


"Kakek duduklah dulu, Aldi sedang diperiksa dokter di dalam." Nenek meraih pundak Kakek, lalu menuntunnya untuk duduk. Nenek sangat tahu kecemasan Kakek saat ini, karena Kakek adalah orang yang paling menyayangi Aldi bahkan melebihi sayang orang tua Aldi sendiri.


Setelah lama menunggu, dokter pun keluar dari ruang UGD. Kakek segera menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana dok keadaan Aldi?"


Dokter yang memang sudah lama merawat Aldi sejak pertama Aldi divonis mengidap penyakit kanker otak itu menghela nafas dalam. Ia mencoba memilih kata yang pas untuk menyampaikan keadaan Aldi yang sebenarnya kepada Kakek.


"Apakah Aldi sedang ada masalah?" Dokter malah balik bertanya.


"Akhir-akhir ini Aldi memang terlihat murung, bahkan aku sudah lupa kapan terakhir dia tertawa seperti biasanya." Nenek mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada Aldi belakangan ini.


"Mungkin itu yang menyebabkan keadaan Aldi menjadi drop, imunitas tubuhnya tak mampu lagi menahan penyakit yang terus menggerogotinya. Bisakah kita bicara di ruangan saya?"


Dokter itu menawarkan kepada Kakek dan Nenek karena ada hal yang harus dibicarakan secara privat. Akhirnya Kakek mengikuti langkah dokter menuju ruangannya. Sementara Nenek masuk ke dalam ruang UGD melihat keadaan Aldi.


"Harus berat saya sampaikan, bahwa penyakit Aldi semakin parah. Bahkan sudah sampai stadium akhir. Jika dilihat dari segi kedokteran, mungkin usia Aldi sudah tidak lama lagi. Saya juga sempat kaget dengan keadaan ini. Setahu saya Aldi adalah orang yang sangat bersemangat untuk kesembuhannya. Bahkan dia sangat memperhatikan pola hidupnya. Saya sudah yakin kala itu kalau Aldi bisa mengalahkan penyakitnya. Saya tidak menyangka kejadian ini bisa terjadi."


Dokter itu memang sangat akrab dengan Aldi sejak Aldi rutin berkonsultasi dengannya. Setahunya Aldi adalah anak yang periang, selalu menuruti apa yang diucapkannya demi kesembuhan dirinya.


"Saya kecolongan dok, belakangan ini saya sangat sibuk sehingga tidak memperhatikan suasana hati Aldi. Padahal dalam satu minggu ini Aldi sudah masuk rumah sakit tiga kali." Kakek terlihat lesu.


"Langkah yang bisa kita ambil saat ini adalah dengan kemoterapi. Atau jika ingin pengobatan yang lebih baik, saya sarankan untuk membawa Aldi berobat ke luar negeri. Di sana Aldi akan mendapatkan pengobatan yang lebih baik, karena peralatan yang lebih canggih." Dokter menyarankan.


"Saya belum yakin dok Aldi mau dibawa ke luar negeri. Saya akan bicarakan ini dengan Aldi terlebih dahulu." Kakek merasa ragu.


"Jangan khawatir, disana saya memiliki teman dokter yang hebat. Bahkan beliau sudah banyak menangani kasus seperti ini. Jadi kemungkinan untuk sembuh akan lebih besar." Dokter meyakinkan Kakek.


"Jadi Aldi masih bisa sembuh kan dok?" Kakek bertanya dengan sangat antusias, secerca harapan muncul dari raut wajahnya.

__ADS_1


"Hidup dan mati seseorang itu di tangan Tuhan. Kami sebagai dokter, hanya bisa berusaha semaksimal yang kami bisa. Tapi untuk Aldi, semoga bisa sembuh, walaupun kesempatannya sangat kecil. Yang terpenting dukungan dan semangat dari orang-orang terkasih sangat dibutuhkan saat ini." Dokter menjelaskan panjang lebar.


"Baik, terima kasih banyak dok. Saya akan membawa Aldi untuk berobat ke luar negeri, agar bisa mendapat pengobatan yang lebih baik." Kemudian Kakek meninggalkan ruangan dokter tersebut untuk menuju ruangan Aldi dirawat.


__ADS_2