
Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu datang juga. Acara paling penting dalam pesta malam itu yaitu acara tukar cincin antara Aryo dan Alya. Hati Aryo mulai berdegup kencang. Aryo terlihat gugup di depan pandangan mata para tamu undangan yang hadir. Aishah melihat perubahan ekspresi wajah Aryo, maka Aishah segera mendekat ke arah Aryo.
"Semangat Aryo, kamu pasti bisa!" Aishah mengepalkan tangannya di depan muka Aryo sebelum Aryo dan Alya naik ke atas panggung yang telah disediakan. Aryo hanya tersenyum melihat ulah kakaknya yang selalu berhasil membuatnya terhibur itu.
Namun, tingkah Aishah yang aneh itu justru membuat Aryo tidak gugup lagi. Aryo kini dengan gagahnya naik ke atas panggung tanpa rasa gugup lagi. Dan akhirnya, acara puncak telah berlangsung dengan lancar. Semua bertepuk tangan senang. Aryo merasa sangat lega, step by step telah berhasil dilaluinya dengan lancar. Dan kini tinggal menunggu satu step lagi maka Aryo dan Alya akan sah menjadi pasangan suami istri.
Setelah acara tukar cincin berlangsung dengan lancar, kini tinggal acara hiburan. Para artis dan penyanyi mulai unjuk penampilannya. Mereka tampak berusaha dengan keras menghibur para tamu undangan yang datang. Semua orang yang datang tampak bahagia. Hanya Aishah yang merasakan kesedihan di sini Aishah masih merasa sedih, tapi bukan karena Radit mantan suaminya, melainkan karena Aldi dan Dokter Viola.
Aishah masih merasa cemburu dengan kedekatan mereka. Tapi Aishah berusaha dengan keras membuang jauh perasaan itu. Akhirnya Aishah keluar dari ruang pesta yang gemerlap itu. Aishah sengaja ingin mencari tempat yang tenang untuk memenangkan perasaannya yang sedang tidak baik.
Aishah keluar dari pintu belakang rumah. Aishah melihat sebuah taman yang berada di belakang rumah Kakek Aldi. Aishah mendekati taman itu dan duduk di sebuah bangku yang tersedia. Aishah memandang langit yang dipenuhi dengan taburan bintang yang kelap-kelip.
"Haaah… tenangnya berada di sini. Hanya ada aku, bulan dan para bintang yang indah." Aishah menikmati suasana malam yang hening di taman belakang rumah Kakek Aldi.
"Ngapain kamu berada di sini? Bukankah pestanya berada di dalam?" Tiba-tiba sebuah suara membuat Aishah terkejut. Aishah mencari-cari sumber dari suara tersebut. Namun, tak juga ditemukannya.
"Aldi?" Aishah agak ragu memanggil nama Aldi.
"Kenapa kamu malah berada di sini. Pastanya belum selesai di dalam sana." Aldi bangun dari tidurnya, kemudian duduk beralaskan rumput taman. Ternyata Aldi sedang tiduran di bawah, di rumput taman. Aldi sedang menikmati heningnya suasana malam di taman belakang rumah kakeknya sambil memandangi bintang-bintang yang berkilauan di atas langit.
"Kamu sendiri kenapa malah berada di sini? Bukankah itu pesta pertunangan adikmu?" Aishah balik bertanya kepada Aldi.
"Hahaha kamu masih sama seperti Aishah yang dulu ya? Aishah yang imut dan jahil." Aldi tertawa di bawah sinar bulan yang terang.
"Kamu juga tidak berubah Di. Kamu masih Aldi yang ku kenal dulu." Aishah tersenyum senang. Walaupun saat ini Aishah tidak dapat melihat wajah Aldi. Karena Aldi duduk membelakangi Aishah.
Kemudian Aldi berdiri, dia berjalan menghampiri Aishah yang sedang duduk di bangku taman. Aldi ikut duduk di sebelah Aishah. Aldi menatap lekat-lekat wajah Aishah dari bawah sinar bulan yang terang. Aldi tersenyum, entah apa arti senyumnya itu hanya Aldi dan Tuhan yang tahu.
"Aku sangat senang kamu bisa kembali sembuh seperti sedia kala lagi Di." Aishah menatap Aldi yang sudah menatapnya sejak tadi.
"Jadi kamu senang kan aku kembali lagi." Aldi tersenyum senang.
"Kenapa dulu kamu harus menyembunyikan penyakitmu dariku sih?" Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin Aishah lontarkan kepada Aldi. Aishah ingin marah besar kepada Aldi. Namun, Aishah tidak bisa. Aishah tidak bisa marah kepada Aldi, justru malah sekarang Aishah sangat senang dengan hadirnya kembali Aldi. Meskipun, Aishah tidak bisa memiliki Aldi.
"Karena aku tidak ingin melihat air mata jatuh di pipimu." Aldi menjawab pertanyaan Aishah dengan cepat.
__ADS_1
"Apa aku tidak salah dengar. Yang ada juga justru kamu yang telah membuatku terus menangis, bahkan hingga saat ini." Aishah membuang mukanya.
"Aku dulu tidak pernah berpikir akan sembuh. Aku benar-benar sudah putus asa dengan hidupku." Aldi menatap jauh ke atas langit yang penuh bintang.
"Tapi kamu kan bisa mengatakannya dengan jujur kepadaku Di. Aku ini sahabatmu bahkan sahabat terdekatmu. Tapi kenapa kamu malah dengan tega membohongiku?" Aishah merasa kesal dengan perlakuan Aldi kepadanya dulu.
"Aku merindukanmu Aish." Tiba-tiba Aldi nyeletuk, membuat Aishah salah tingkah. Wajah Aishah kini sudah merah padam dibuatnya. Aishah tersipu malu, dia tahu jika Aldi masih ada rasa dengannya.
Tapi Aishah segera berusaha dengan segenap hatinya untuk menyadarkan perasaannya tentang posisinya saat ini. Walaupun saat ini mereka sudah tahu tentang perasaan masing-masing, namun semua itu hanya percuma. Mereka tetap tidak akan pernah bisa bersama. Aldi adalah kekasih Dokter Viola dan mereka akan segera menikah. Jadi sudah tidak ada kesempatan untuk Aishah lagi bisa bersama dengan Aldi.
"Aku akan masuk ke dalam." Aishah berdiri dari tempat duduknya lalu beranjak pergi untuk masuk ke dalam pesta lagi.
"Tunggu Aish! Apakah kamu tidak rindu denganku?" Aldi memegang tangan Aishah, menahannya agar tetap berada di sana bersamanya.
"Memangnya kenapa kalau aku rindu denganmu Di? Kita tidak boleh egois." Aishah melelapkan genggaman tangan Aldi.
"Kalau kamu masih rindu denganku, jangan buru-buru masuk, aku masih ingin mengobrol banyak denganmu. Egois? Maksudnya apa?" Aldi mengernyitkan dahinya.
"Baiklah, aku akan tinggal sebentar di sini. Apakah Dokter Viola tidak marah jika tahu kalau kita mengobrol di sini sekarang?" Aishah kembali duduk di tempatnya semula.
"Kamu harus menjaga perasaan Dokter Viola Di, dia kan sebentar lagi yang akan menjadi pendamping hidupmu." Aishah berusaha membuka dan menerima kebenaran yang ada dengan lapang dada.
"Dia sudah sangat berjasa dalam hidupku. Dia yang sudah membuatku sembuh dari penyakit ganasku dulu yang terus menggerogoti tubuhku." Aldi menatap jauh di depan matanya.
"Maka dari itu, jangan pernah membuatnya sakit hati. Dokter Viola itu orang yang baik." Aishah menasihati Aldi.
"Dari mana kamu tahu? Memangnya kalian sudah lama mengenal?" Aldi merasa penasaran.
"Ya lumayan, kita saling kenal karena dia teman Dokter Dariel. Dan Dokter Dariel adalah teman Kak Radit. Dan setahuku, Dokter Viola orangnya sangat baik." Aishah berusaha menjelaskan dengan gamblang, agar Radit mudah menerimanya.
"Dia memang baik, bahkan sangat baik denganku. Tapi entah kenapa perasaanku sudah terpatri kepadamu Aish. Aku tidak bisa memaksakannya kepada orang lain." Aldi berkata dengan terus terang, membuat Aishah semakin tersipu. Aishah menjadi merasa bersalah dengan Dokter Viola, dia tidak enak jika diam-diam dekat dengan Aldi. Aishah sangat tahu bagaimana rasanya dikhianati, jadi Aishah tidak akan sampai hati untuk melakukannya.
"Aldi, kamu tidak boleh seperti itu. Apakah kamu juga ingin menyakiti adikmu Alya? Kita sudah terikat menjadi saudara karena ikatan Aryo dan Alya. Jadi tolong jangan kamu biarkan hatimu itu berlarut-larut denganku." Aishah berkata dengan berat hati. Sebenarnya, Aishah sangat senang mendengar Aldi masih mencintainya. Namun, semua sudah berubah. Aishah tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri. Karena akan menyakiti hati banyak orang nantinya.
Lalu Aishah pergi masuk kembali ke dalam ruang pesta. Dia meninggalkan Aldi seorang diri di taman belakang rumah. Sementara Aldi hanya termenung sendiri. Dia menatap indahnya langit malam sendirian. Malam semakin larut. Pesta pertunangan Aryo dan Alya pun selesai. Semua orang kembali ke rumahnya masing-masing.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah, Aishah segera membaringkan tubuhnya. Namun, mata Aishah tak juga dapat terpejam. Malam ini, Aishah dan semua keluarga berkumpul dan tidur di rumah Aryo yang baru. Sepertinya kegundahan hati Aishah dapat dibaca oleh Bu Sekar. Bu Sekar tadi sempat melihat Aishah sedang mengobrol dengan Aldi.
Aishah keluar dari rumah lalu menatap bintang-bintang malam di atas langit. Aishah duduk di teras rumah Aryo. Bu Sekar mengikutinya dari belakang.
"Kok belum tidur to Nduk?" Suara Bu Sekar membuyarkan lamunan Aishah. Aishah menjadi terkejut dibuatnya.
"Eh iya Budhe kenapa?" Aishah sedang melamun, jadi tidak mendengarkan dengan baik pertanyaan Bu Sekar.
"Kenapa belum tidur? Kamu sedang memikirkan apa? "Bu Sekar tampak penasaran dengan apa yang sedang Aishah pikirkan.
" Aishah tidak bisa tidur Budhe." Aishah menatap langit malam.
"Pasti karena memikirkan Aldi ya?" Bu Sekar menebak isi pikiran Aishah. Aishah terperangah, dia tidak menyangka kalau budhenya itu tahu tentang perasaannya.
"Kok Budhe tahu sih?" Aishah meringis.
"Tadi Budhe melihat kalian mengobrol. Tapi sepertinya Aldi sudah memiliki seorang kekasih ya?" Bu Sekar ikut menatap ke atas langit malam. Aishah terdiam, dia tidak menjawab pertanyaan budhenya.
"Pasti itu yang menyebabkan Aish tidak bisa tidur sampai saat ini." Bu Sekar menatap Aishah yang hanya terdiam.
"Aish tidak akan merusak hubungan mereka kok Budhe. Aish tahu bagaimana rasanya dikhianati, jadi Aish tidak akan melakukannya kepada orang lain." Aishah menatap budhenya lalu tersenyum.
"Bagus kalau begitu. Budhe juga tidak ingin melihat kamu terus sakit hati Aish. Cobalah membuka lembar baru. Lupakan semua masa lalumu, entah itu Radit ataupun Aldi." Bu Sekar mencoba menasihati Aishah.
"Begitu ya Budhe. Saat ini Aish juga sedang berusaha Budhe. Tapi sangat sulit. Mungkin untuk Kak Radit yang sudah menyakiti sih mudah saja. Tapi untuk Aldi akan lebih sulit." Aishah menyandarkan kepalanya di bahu Budhenya.
"Kamu yang sabar ya Nduk, jika memang jodoh, mau terpisah sejauh apapun akan tetap bersatu. Tapi jika tidak jodoh, mau sekuat apapun kita bersatu, akan tetap berpisah juga." Bu Sekar membelai kepala Aishah dengan lembut.
"Sekarang, lebih baik Aish ambil air wudhu sana. Aish sholat dulu minta dimudahkan semua urusan Aish. Nanti hati Aish akan lebih tenang." Bu Sekar berkata dengan bijak.
"Terima kasih ya Budhe. Budhe memang paling tahu tentang perasaan Aish. Tapi Aish benar-benar salut dengan kesetiaan Pakdhe dan Budhe. Kalian bisa melewati cobaan yang sangat sulit sekalipun bersama-sama. Aish berharap Aish bisa menemukan orang yang kesetiaannya seperti Pakdhe dan Budhe." Aishah berdiri meluruskan posisi kepalanya.
"Suatu saat, Aish pasti akan bertemu dengan jodoh yang sesuai dengan Aish. Tugas Aish sekarang adalah, teruslah memperbaiki diri Aish. Tingkatkan ibadahnya. Budhe sudah mengantuk." Bu Sekar masuk ke dalam rumah lalu membaringkan badannya untuk tidur.
Kemudian Aishah menuruti perkataan budhenya. Aishah mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat. Kemudian setelah sholat, hati Aishah lebih merasa tenang dan akhirnya Aishah bisa tertidur juga.
__ADS_1