
Setelah membeli satu buah lingerie, Aishah dan Radit melanjutkan niatnya untuk memeriksa rekaman cctv di tempat parkir, sebelum kecelakaan yang dialami Radit dan Aishah terjadi. Radit dan Aishah menuju ruang security.
"Permisi Pak, selamat siang." Aishah menundukkan kepalanya sopan. Terlihat seorang security tengah sibuk dengan layar komputer di depannya. Sepertinya security itu sedang mengawasi keamanan, melalui rekaman cctv yang sedang dilihatnya pada layar di depannya itu.
"Selamat siang, silahkan masuk." Security itu berdiri, lalu menatap Aishah. Badannya tinggi dan kekar, dengan raut wajah yang terlihat angker. Membuat Aishah ngeri sendiri melihat otot-otot lengannya yang sixpack itu.
Aishah mendorong kursi roda Radit mendekati meja tempat security itu berdiri.
"Silahkan duduk dulu." Security itu duduk di tempatnya kembali. Kemudian Aishah duduk di kursi seberang meja.
"Ada yang bisa saya bantu?" Security itu bertanya dengan sopan.
"Begini Pak, apakah kami boleh melihat rekaman cctv dua bulan yang lalu?" Aishah berharap-harap cemas.
"Mohon maaf sebelumnya, tapi ada kepentingan apa kalian ingin melihat rekaman cctv kami?" Security itu menyelidik. Rupanya security itu sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan. Security itu tidak mudah memberikan informasi kepada orang yang baru dikenal. Karena memang itu adalah sebagian dari tugas yang harus dijalankan.
"Begini Pak, kami adalah korban kecelakaan. Ada orang yang dengan sengaja ingin membuat kami celaka. Orang itu sengaja memutus kabel rem mobil kami, saat mobil kami berada di tempat parkir mall malam itu." Radit berusaha meyakinkan security itu. Terlihat dari raut wajah secirity itu sedang berpikir keras, menimbanh-nimbang keputusan yang akan diambil. Security itu tampak beberapa kali memperhatikan kaki Radit.
"Ini adalah akibat dari kecelakaan itu Pak. Sampai saat ini, kaki saya masih tidak bisa digunakan untuk berjalan. Bahkan kaki saya mengalami kelumpuhan." Radit memperlihatkan kakinya yang tidak bisa berjalan.
"Sebenarnya, dua hari yang lalu. Pihak kepolisian sudah datang kemari untuk memeriksa rekaman cctv itu." Security itu memandang Radit dan Aishah secara bergantian.
"Lalu bagaimana hasilnya?" Radit sangat antusias ingin mengetahui hasilnya.
"Entahlah, para Polisi itu tidak mengatakan apapun perihal hasil yang mereka peroleh." Security itu mengangkat kedua bahunya bersamaan.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian melihatnya sendiri secara langsung." Security itu mencari file rekaman kejadian pada malam kecelakaan yang menimpa Radit dan Aishah.
Namun, tak ada apapun di sana. Pada rekaman cctv itu hanya terlihat deretan mobil yang terparkir dengan rapi dan lalu lalang orang berjalan keluar masuk tempat parkir dengan kendaraannya.
"Bella benar-benar wanita licik! Dia pasti sudah merencanakan ini semua dengan matang." Radit terlihat sangat geram. Dari belakang, Aishah mengusap punggung Radit agar suaminya itu bisa lebih sabar dan menahan emosinya.
Karena kurang puas dengan rekaman cctv yang ditunjukkan oleh security itu, Radit meminta izin untuk mencari rekaman cctv itu sendiri. Setelah memperoleh izin dari security, Radit segera melihat langsung hasil rekaman cctv itu secara teliti. Rupanya Radit menemukan keganjilan dalam rekaman cctv itu. Yaitu waktu yang ditunjukkan dalam rekaman itu tidak runtut. Ada jeda waktu yang hilang dalam rekaman cctv itu.
Kemudian Radit melihatnya lebih detail untuk memastikan dugaannya. Dan ternyata benar, ada jeda waktu yang hilang dalam rekaman cctv itu. Sepertinya, ada orang yang sengaja mematikan cctv itu beberapa waktu, kemudian menyalakannya kembali.
"Kenapa ini bisa seperti ini Pak?" Radit menunjuk waktu yang ditunjukkan pada rekaman cctv itu tidak runtut, bahkan ada yang terpotong.
"Sepertinya cctv itu mati ketika itu. Dan memang dua bulan yang lalu cctv kami rusak. Mungkin itu masalahnya." Security itu mencoba mengingat-ingat kejadian yang telah dilaluinya.
"Bukankah ini benar-benar aneh, kenapa bisa kebetulan seperti ini?" Kecurigaan Radit semakin kuat.
"Maaf Pak, tapi saya harus bekerja. Jadi jika sudah tidak ada kepentingan lagi, saya harap Bapak tidak mengganggu pekerjaan saya." Security itu mengusir Radit yang sedari tadi berada di depan layar tempat kerjanya dengan halus.
Sudah dua jam lebih Radit berada di sana, namun Radit tak juga menemukan petunjuk yang memberatkan Bella. Sepertinya jalan ini sudah buntu, Radit tak dapat melanjutkan pelacakannya lagi.
"Sayang sudah, ayo kita pergi dari sini!" Aishah berbisik di telinga Radit.
"Tapi sebentar lagi aku akan menemukan buktinya!" Radit merasa kesal.
"Kak, percayalah. Jika memang sudah waktunya. Semua akan terbukti." Aishah memegang pundak Radit dari belakang.
__ADS_1
Akhirnya Radit menyerah, Aishah mengajak Radit untuk pergi dari ruang security tersebut. Karena wajah security yang sedari tadi sudah memperhatikan mereka dengan tatapan angkernya.
Kepala Radit tertunduk lesu, harapannya kembali hilang. Rasanya semangat hidupnya kini menghilang, tak ada lagi yang bisa diharapkan. Bahkan pihak kepolisian pun sudah menyerah dengan kasus ini.
"Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk membuktikan kejahatan Bella." Suara Radit terdengar getir.
"Aish juga sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa." Aishah mendorong kursi roda Radit menuju pintu keluar mall.
"Mungkin kita masih bisa mengharapkan Ayah." Aishah berkata dengan hati-hati.
"Apa yang bisa kita harapkan dari orang yang sudah tergila-gila dengan wanita ular berkepala dua itu." Radit tersenyum getir, lalu bibirnya nenyeringai.
"Bahkan sampai saat inipun tidak ada kabar mengenai tindak lanjut yang dilakukan oleh Ayah, seperti apa yang Ayah katakan waktu itu." Radit.
Aishah sudah tidak tahu lagi harus berkata apa. Sepertinya ini memang akhir dari perjuangan mereka untuk mendapatkan kembali harta yang sudah Bella rebut dari tangan Radit. Bahkan Radit dan Aishah juga belum tahu kabar mengenai Ayahnya.
Aishah menghentikan langkahnya, dia mencari taksi online yang sudah dipesannya untuk mengantar mereka pulang ke apartemen. Tiba-tiba sebuah taksi menghampiri mereka, tepat berhenti di depan Radit dan Aishah. Ternyata itu taksi online yang telah Aishah pesan. Mereka pun masuk ke dalam taksi, lalu bergegas untuk pulang.
Sesampainya di apartemen, Aishah membantu Radit untuk berbaring di tempat tidur. Sepertinya Radit kelelahan, sehingga Aishah menyuruh suaminya itu untuk tiduran terlebih dahulu, sambil menunggu Aishah mengambilkan makanan untuknya.
Dengan cepat Aishah kembali menghampiri Radit yang asyik menonton televisi dengan membawa semangkuk sup dan segelas minuman.
"Kak Radit makan dulu, pasti Kak Radit sudah kelaparan kan." Aishah tersenyum lalu duduk di samping suaminya. Dengan hati-hati Aishah memberikan suapan pertamanya kepada Radit.
"Kamu pasti juga sudah lapar. Ayo kita makan bersama." Radit mengambil mangkok yang dibawa Aishah, lalu memakannya sendiri.
__ADS_1
Aishah pun mengambil semangkuk sup pula untuk dirinya. Kemudian mereka makan bersama dengan lahapnya. Karena mereka memang sudah kelaparan. Terlihat beberapa kali Radit menyuapi Aishah, begitu sebaliknya, Aishah juga menyuapi Radit. Sehingga mereka terlihat sangat romantis, walaupun dalam keadaan yang sederhana.
Aishah merasa bersyukur, karena dengan adanya cobaan yang menimpa mereka, hubungan Aishah dan Radit semakin harmonis. Emosi Radit pun juga lebih mudah dikontrol. Sekarang, Radit sudah tidak pernah berbuat kasar lagi dengan Aishah.