
"Silahkan diminum kopinya sayang." Dokter Viola meletakkan segelas kopi di meja yang terletak di depan Aldi. Lalu mengambil posisi duduk di sebelah Aldi yang tengah asyik menonton televisi. Mereka kini sedang berada di ruang keluarga Aldi. Dokter Viola sudah berada di rumah Aldi bahkan sebelum Aldi pulang dari kantor tadi.
Dokter Viola sengaja datang ke rumah Aldi lebih awal dari Aldi, agar dia bisa memasak dan makan bersama dengan Aldi. Namun, ada maksud tersendiri dia menyempatkan datang ke rumah Aldi. Dokter Viola ingin membicarakan tentang kelanjutan hubungannya dengan Aldi. Sepertinya dia sudah mulai was-was karena kedatangan Aishah dalam kehidupan Aldi saat ini. Dokter Viola mulai membaca gelagat Aldi yang perlahan mulai menjauhinya. Sehingga, dia tidak ingin Aldi kembali kepada Aishah.
Dokter Viola sudah mencari tahu tentang masa lalu Aldi dengan detail. Dia sudah tahu bahwa dulu Aldi sangat mencintai Aishah. Bahkan Aishah adalah cinta pertama Aldi. Sampai saat inipun cinta Aldi memang masih untuk Aishah. Dokter Viola sebenarnya sudah mengetahuinya, namun dia berusaha tetap mempertahankan Aldi agar tetap berada di sisinya. Rupanya cinta telah membuatnya enggan untuk memikirkan perasaan Aldi kepadanya. Dia hanya ingin memiliki Aldi seutuhnya.
Perubahan sikap Aldi mulai terlihat dengan jelas ketika Aishah mulai hadir kembali dalam kehidupannya. Aldi kini memang berubah menjadi pribadi yang jauh periang dari pada sebelumnya. Aldi juga sudah tidak menjadi pendiam lagi, dia lebih banyak tertawa dan terlihat lebih bersemangat dalam menjalani hari-harinya. Sebenarnya itu semua sangat baik untuk kesehatan Aldi. Namun, karena semua penyebab dari perubahan sikap Aldi adalah Aishah, Dokter Viola menjadi kurang nyaman.
"Sejak kapan kamu datang kemari?" Aldi tampak bingung dengan kedatangan Dokter Viola yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Sejak tadi sore, aku sengaja datang lebih awal darimu untuk masak makanan spesial kesukaanmu." Dokter Viola merangkulkan tangannya ke pundak Aldi. Lalu tersenyum senang melihat Aldi yang masih fokus dengan televisinya.
"Oh, pantas aku tidak melihatmu tadi." Aldi melihat sekilas ke arah Dokter Viola lalu kembali fokus dengan televisi.
"Maaf tadi aku tidak menyambut kedatanganmu. Aku sedang sibuk di dapur jadi tidak mendengar suara mobilmu datang." Dokter Viola menyandarkan kepalanya ke pundak Aldi dengan tangan yang masih menggenggam lengan Aldi dengan erat.
"Tidak masalah, lagipula aku juga tidak biasa disambut saat pulang bekerja." Aldi mencoba melepaskan genggaman tangan Dokter Viola dengan perlahan agar Dokter Viola tidak menyadari dan curiga jika Aldi sedang berusaha menjauhinya.
"Sebentar lagi, aku akan selalu menyambut kedatanganmu jika kamu pulang dari bekerja. Aku kan selalu pulang cepat jika tidak ada lembur." Dokter Viola membayangkan dirinya dan Aldi sebagai sepasang suami istri, Dokter Viola lah yang akan setiap pagi dan sore hari membawakan tas kerja Aldi sampai di depan mobil. Kemudian sebelum Aldi masuk ke dalam mobil, Aldi menerima tas kerjanya dengan kecupan manis di kening Dokter Viola.
Dokter Viola membayangkan kemesraan dirinya dengan Aldi ketika mereka telah menikah kelak. Dia menatap langit-langit ruangan sambil senyum-senyum sendiri. Dokter Viola memang sangat mencintai Aldi. Ketika Aldi sakit, dialah satu-satunya orang yang masih percaya dan yakin bahwa Aldi masih bisa sembuh. Sehingga dengan sekuat tenaga, dia merawat Aldi. Berkat kerja kerasnya, Aldi bisa berhasil melalui masa komanya dan kini bisa pulih kembali.
Rupanya kedekatannya selama merawat Aldi membuat Dokter Viola jatuh hati kepada Aldi. Bahkan cintanya semakin bersemi ketika tahu sikap Aldi yang baik dan lembut. Aldi memang selalu memperlakukan wanita dengan lembut. Wajahnya yang tampan juga ikut menyumbang alasan dari kasih sayang yang diberikan oleh Dokter Viola kepadanya.
"Vio, jangan melamun!" Suara Aldi yang tiba-tiba, membuat lamunan Dokter Viola buyar. Dokter Viola tampak tersenyum malu-malu. Pipinya kini telah berubah menjadi merah seperti udang rebus.
"Eh, tidak kok. Aku hanya membayangkan kita ketika nanti sudah menikah. Betapa bahagianya aku sebagai seorang wanita jika bisa mendampingimu nanti di pelaminan." Dokter Viola menatap keluar jendela.
Kenapa jadi serumit ini. Aku menjadi tidak tega jika harus berbicara jujur tentang perasaanku yang sebenarnya kepadanya.
"Hahaha kamu jangan menghayal yang tidak-tidak." Aldi tergelak, dia berusaha menutupi kecemasannya dengan tertawa. Aldi benar-benar tidak bisa membohongi perasaannya. Dia tidak bisa mencintai Dokter Viola seperti Dokter Viola mencintainya. Cintanya tetaplah untuk Aishah seorang. Hubungannya dengan Dokter Viola bisa menjadi sangat dekat karena keinginannya untuk balas budi.
__ADS_1
Aldi ingin membalas semua kebaikan yang telah dilakukan Dokter Viola kepadanya. Aldi juga tidak mengira bahwa Aishah bisa bercerai dengan Radit. Awalnya Aldi berpikir bisa melupakan Aishah dengan adanya Dokter Viola. Karena selama ini Dokter Viola sangat baik dan perhatian kepadanya. Namun, ternyata Aishah hadir kembali dalam kehidupannya, mengisi hari-harinya dan membuatnya kembali jatuh cinta kepadanya. Bahkan cintanya kini semakin besar.
Kini Aldi semakin mencintai Aishah dan takut kehilangannya. Apalagi dia tahu jika Radit telah menyakiti Aishah. Aldi semakin ingin melindungi Aishah. Karena dari dulu Aldilah orang yang selalu menghibur Aishah di kala Aishah sedih. Namun, kini Aldi telah memiliki kekasih, Aldi tidak tahu bagaimana caranya untuk tidak menyakiti salah satu dari dua wanita yang kini sedang dekat dengannya.
"Aku tidak sedang menghayal Aldi, aku sudah bicara dengan kedua orang tuaku tentang pertunangan kita. Rencananya satu minggu lagi mereka akan datang dari luar negeri untuk membicarakan pertunangan kita dengan kedua orang tuamu." Dokter Viola tampak begitu senang dengan berita yang dibawanya.
Namun, tidak dengan Aldi. Aldi merasa sangat terkejut dengan perkataan Dokter Viola barusan. Kini perasaan Aldi semakin kalut. Dia semakin bingung harus bagaimana.
"Tapi kenapa kamu tidak membicarakannya terlebih dahulu denganku?" Aldi tampak terkejut. Dia menatap Dokter Viola dengan tatapan tajam.
"Sekarang aku sedang membicarakannya kan? Lagi pula memang apa yang salah? Bukankah hubungan kita sudah berjalan lama. Dan selama ini kita sudah sangat cocok. Kita juga sudah sama-sama matang kan di usia kita yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Kedua orang tua kita juga sudah tahu dan sama-sama setuju. Lalu apa lagi?" Dokter Viola menjelaskan panjang lebar. Dia memegang tangan Aldi lalu menatap mata Aldi dengan lembut.
"Aldi untuk apa kita menunggu lama-lama jika semua sudah beres. Bukankah lebih baik jika kita segera meresmikan hubungan kita?" Dokter Viola menunjukkan wajah ibanya. Dia tampak berusaha keras merayu Aldi.
"Tapi aku belum siap Vio. Pernikahan bukanlah hal yang main-main. Kita harus mempersiapkan semuanya benar-benar dengan matang. Pernikahan itu untuk selamanya." Aldi mencoba memberi pengertian kepada Dokter Viola.
"Aku tahu, aku sangat tahu Di. Dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Aku ingin kita menua bersama hingga menjadi kakek dan nenek nanti. Aku sangat mencintaimu Di. Apakah itu kurang?" Dokter Viola kembali membayangkan kemesraan masa tuanya bersama dengan Aldi.
"Apa semua itu karena Aishah?" Dokter Viola tampak geram. Dia menatap Aldi dengan tatapan tajam penuh makna.
Apa, jadi Viola sudah tahu tentang aku dan Aishah. Rupanya dia sudah tahu tentang masa laluku dengan Aishah selama ini.
Aldi terdiam, dia tidak bisa berkata apapun lagi. Pertanyaan Dokter Viola membuat Aldi kalah telak. Aldi bingung harus menjawab apa. Lalu Aldi berdiri, dia berjalan menjauhi Dokter Viola.
"Jadi benar jika semua ini gara-gara Aishah? Jawab Aldi!" Dokter Viola ikut berdiri, dia sudah tampak emosi. Dokter Viola melipat kedua tangannya di depan dada.
"Vio dengarkan aku, aku belum siap jika harus menikah secepat itu. Jujur saja, aku belum siap menjadi suami yang baik untukmu. Aku belum bisa memberikan hatiku sepenuhnya untukmu. Aku tidak ingin nantinya membuatmu terluka dan sakit." Aldi mendekat ke arah Dokter Viola berdiri. Aldi memegang kedua bahu Dokter Viola lalu berusaha menatap matanya yang sudah dipenuhi rasa cemburu kepada Aishah.
Aldi berusaha mencairkan suasana dengan bersikap sangat lembut kepada Dokter Viola. Aldi tidak ingin merusak hubungan yang sudah terjalin dengan baik antara Aishah dan Dokter Viola. Aldi memang ingin bersama dengan Aishah, namun dengan melepaskan Dokter Viola secara baik-baik dan memastikan kebahagiaannya bersama dengan Dokter Dariel terlebih dahulu.
"Jadi benarkan dugaanku selama ini. Kamu dan Aishah memang ada main di belakangku. Kalian memang jahat!" Dokter Viola menepis tangan Aldi dari bahunya. Dia mulai meneteskan air mata. Dokter Viola semakin sesenggukan. Aldi tidak tega melihat wanita di depannya itu menangis karena dia.
__ADS_1
"Vio, sudah jangan menangis. Aishah tidak salah dalam hal ini. Aku yang salah, aku yang tidak bisa menjadi seorang lelaki yang baik." Aldi menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Dokter Viola. Aldi membelai rambut Dokter Viola yang tergerai dengan lembut. Dokter Viola pun memeluk Aldi dengan erat.
"Aku tidak mau kehilanganmu Di. Aishah itu hanya seorang janda. Dia tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Memang apa yang bisa kamu banggakan dari dia!" Dokter Viola mendekap tubuh Aldi dengan sangat erat. Dia membenamkan wajahnya di dada Aldi yang bidang. Dari nada bicaranya, Dokter Viola sangat kesal dengan Aishah.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu! Aishah itu wanita yang sangat baik. Tidak ada wanita yang lebih baik dari dirinya." Aldi melepaskan pelukan Dokter Viola dengan paksa.
"Jangan sekali-kali kamu bicara buruk tentang Aishah lagi. Karena aku tidak akan tinggal diam. Kamu tidak berhak bicara apapun tentang Aishah. Karena kamu tidak tahu apa-apa tentang Aishah." Aldi memperingatkan Dokter Viola. Aldi tampak serius, kelembutannya seketika hilang mendengar perkataan Dokter Viola yang buruk tentang Aishah.
"Aldi, jadi kamu benar-benar lebih memilih janda itu daripada aku? Aku ini kekasihmu Di. Kamu tidak boleh memperlakukanku seperti ini." Dokter Viola meneteskan air mata. Kini tangisnya semakin menjadi-jadi.
"Kamu jahat Aldi, kamu jahat!" Dokter Viola memukul-mukul dada Aldi yang kokoh berkali-kali. Hingga Aldi merasa kesakitan.
"Maafkan aku Vio.Tapi tolong jangan berkata buruk tentang Aishah. Aishah tidak salah di sini. Aku juga sudah berusaha mencintaimu selama ini. Tapi semakin aku berusaha melupakan Aishah, semakin besar pula cintaku kepadanya." Aldi menatap Dokter Viola dengan tatapan nanar. Aldi merasa sangat bersalah dengan Dokter Viola.
"Aku tidak pernah bermain di belakangmu dengan Aishah selama ini, percayalah! Aku hanya ingin meyakinkan hatiku, dengan siapa sebenarnya hatiku berlabuh. Tolong berikan aku waktu untuk meyakinkan hatiku." Aldi kembali melunakkan suaranya. Dia memaklumi sikap Dokter Viola saat ini. Karena memang dia yang bersalah dalam hal ini.
"Jadi kamu hanya ingin menjadikanku ban cadangan begitu? Kamu hanya akan memberikanku harapan palsu kan?" Dokter Viola merasa tidak terima dengan perlakuan Aldi kepadanya.
Benar juga apa yang dikatakan Viola. Aku hanya akan memberikannya harapan palsu jika aku menyuruh dia untuk menunggu keyakinan hatiku. Karena sudah pasti hatiku hanya untuk Aishah seorang. Lalu bagaimana lagi, aku tidak bisa jika harus memaksa hatiku untuk mencintai Vio. Aku sudah berusaha selama tiga tahun ini, namun nihil.
"Jadi kamu sudah tahu kan? Lalu untuk apa kamu masih memaksakan kehendakmu? Maaf Vio aku memang bukan lelaki yang baik untukmu." Aldi menundukkan kepalanya. Dia merasa sangat bersalah kepada Dokter Viola.
Tanpa berkata sepatah kata lagi, Dokter Viola segera pergi meninggalkan rumah Aldi. Tangisnya pun tak bisa dielakkan lagi. Dokter Viola mengambil tasnya yang berada di dapur kemudian pergi menuju mobilnya terparkir. Dokter Viola pergi dengan penuh linangan air mata. Hatinya kini sakit, harapannya pun hancur. Ternyata selama ini usahanya untuk mendapatkan hati Aldi untuk sepenuhnya hanya sia-sia. Dokter Viola tidak menyangka jika Aldi tega berkata seperti itu kepadanya.
"Ini semua gara-gara Aishah! Kalau saja dia tidak kembali, Aldi pasti sudah menjadi milikku untuk selamanya!" Dokter Viola memukul-mukul setir di depannya. Dia kini merasa sangat marah kepada Aishah. Di jalanan yang macet, Dokter Viola terus menekan klakson agar mobil di depannya bisa segera berjalan. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil. Dia justru malah membuat keributan di jalanan saja.
"Sial! kenapa sih dengan mobil-mobil ini! kenapa mereka tidak mau berjalan." Dokter Viola semakin frustasi karena kemacetan di depannya. Saat ini yang dia inginkan adalah segera pulang. Bahkan hingga gema adzan isya berkumandang pun Dokter Viola masih terjebak di antara kemacetan yang mengular entah seberapa jauhnya.
Malam ini adalah malam peresmian cafe baru Aishah. Aldi pasti datang ke sana sekarang. Aku tidak bisa tinggal diam begitu saja. Lihat saja, aku akan membalas apa yang telah kamu lakukan kepadaku Aldi!
Dokter Viola tampak sangat geram. Dia tak henti-hentinya mengomel di sepanjang jalan. Bahkan dia terus memaki Aishah dan Aldi.
__ADS_1