
Radit menancap gas sangat kuat, membuat mobil melaju dengan kecepatan penuh. Aishah yang duduk di sampingnya merasa khawatir.
"Sayang, kurangi kecepatanmu, bahaya!" Aishah terus saja meremas tangannya dengan gelisah. Perutnya kini terasa diaduk-aduk. Bahkan Aishah merasa di sekelilingnya berputar-putar.
Radit yang mulai merasakan kegelisahan Aishah, mulai memperlambat laju mobilnya. Radit melihat Aishah yang mulai terlihat pucat. Tangannya terus saja memijat-mijat keningnya yang terasa pusing.
"Kamu kenapa sayang? pusing?" Radit mulai tampak cemas. Aishah hanya terdiam, sepertinya perutnya mulai terasa mual.
Radit memperlambat laju mobilnya, kemudian berhenti di tepi jalan. Radit memeriksa kening Aishah dengan menempelkan punggung tangannya.
"Sebaiknya kita istirahat dulu sebentar di sini." Radit menggenggam tangan Aishah dengan lembut. Mereka keluar dari mobil, lalu Radit membelikan minuman dan camilan untuk Aishah. Kebetulan di dekat situ terdapat taman kota yang cukup terkenal dengan keindahannya. Radit mengajak Aishah untuk mencari udara segar di taman tersebut.
Radit dan Aishah tampak duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari jalan. Radit memijat leher Aishah dengan lembut.
"Bagaimana? sudah mendingan?" Radit masih terus memijat leher dan kepala Aishah.
"Heem." Aishah memejamkan matanya merasakan pijatan tangan Radit di kepalanya. Aishah mendongak memperhatikan Radit. "Kamu pintar memijat juga." Aishah melempar senyuman jenaka kepada suaminya.
"Aku bahkan sudah ketakutan setengah mati dan kamu masih bisa bercanda?" Radit mencubit hidung Aishah, hingga meninggalkan bekas warna merah.
"Habis Kak Radit ngebut, ya Aish kan jadi pusing, mual lagi." Aishah memonyongkan bibirnya dan itu membuat Aishah semakin terlihat menggemaskan. Radit yang melihat tingkah istrinya itu menjadi gemas dan ingin menciumnya. Tapi tidak ia lakukan, Radit mendekap Aishah dan membenamkan wajah Aishah di dadanya.
__ADS_1
"Sayang…" Panggil Aishah sambil memainkan jam tangan Radit yang berada di pergelangan tangan suaminya itu. Radit kini sudah tidak memakai jas, ia menggulung lengan kemejanya ke atas memperlihatkan jam tangan yang ia kenakan di pergelangan tangannya yang kokoh.
"Kenapa?" Radit mengelus kepala Aishah yang terbalut hijab.
"Kenapa Kak Radit begitu membenci ayah? Padahal sepertinya ayah sangat menyayangimu." Kini Aishah mendongakkan kepalanya menatap dagu Radit.
"Cih, ayah macam apa yang tega berselingkuh dengan pacar anaknya setelah istrinya meninggal? Dan kamu masih bisa bilang dia menyayangiku? Bahkan mereka sekarang menikah, padahal aku baru menikah denganmu seminggu yang lalu." Mulai terdengar nada kebencian dalam suara Radit.
"Apakah itu berarti Kak Radit masih mencintai Bella?" Aishah mulai merasa sedih.
"Bukan seperti itu sayang. Sekarang aku hanya mencintaimu istriku. Bella itu hanya masa laluku yang sangat aku sesali keberadaannya." Radit memegang kedua pipi Aishah dan menatap matanya dalam-dalam.
"Karena mereka yang sudah membuatku harus kehilangan ibu untuk selamanya." Radit memandang ke arah lain dengan tatapan nanar. Ada yang mulai menganak sungai di sudut matanya. Aishah menjadi semakin bingung. Ia memang tidak tahu menahu perihal meninggalnya ibu, yang ia tahu hanya ibu meninggal karena kecelakaan itu saja.
"Maksud Kak Radit?" Aishah menatap Radit lalu mengernyitkan dahinya.
"Bella itu bukan wanita baik-baik, dia berusaha menggoda ayah saat dia masih berstatus menjadi pacarku. Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya beberapa bulan yang lalu. Bahkan dia sering tidur dengan bergonta-ganti lelaki, termasuk ayah." Radit menghentikan sejenak ceritanya untuk mengambil nafas panjang.
"Ternyata ibu mengetahuinya, ibu melihat ada bekas lipstik dan parfum wanita di baju ayah. Tentu itu membuat hati ibu hancur. Hampir setiap hari ibu menangis. Aku sempat memergokinya di dalam kamar saat ibu memegang kemeja ayah yang ada bekas lipstiknya. Walaupun ibu mencoba menyembunyikannya darimu, tapi aku sudah lebih dulu tahu, bahkan aku sudah hafal dengan parfum Bella. Semenjak saat itulah ayah dan ibu menjadi semakin sering bertengkar. Ayah selalu berbohong saat ibu bertanya perihal bajunya yang penuh parfum wanita. Dan semenjak saat itulah tidak ada lagi keharmonisan dalam keluargaku." Radit menghela nafas sambil mengingat-ingat kejadian yang menimpa keluarganya itu.
"Tapi ibu tak pernah memperlihatkannya kepada keluarganya terutama aku. Ibu selalu terlihat riang. Aku mencoba mengorek informasi dari ibu, tapi nihil. Ibu tidak pernah mengatakan apapun tentang ayah. Ibu terlalu pandai menutupi kesedihannya dariku. Akhirnya aku berusaha mencari tahu sendiri tentang apa yang sedang terjadi. Dan ternyata dugaanku benar, aku selalu memantau ayah dan orang suruhanku memergoki ayah sedang berduaan di kamar villa bersama Bella. Bahkan aku mendapat kiriman foto-foto mesra mereka." Radit terhenti, tangannya mengepal dan menonjok bangku di sebelahnya.
__ADS_1
"Dan pada saat itu pula Bella menjebak ibu. Bella mengirimi pesan kepada ibu dengan ponsel ayah. Bella menyuruh ibu datang untuk dinner bersama ayah di villa. Ibu sangat senang, ibu berpikir ayah telah berubah. Ibu berangkat mengendarai mobil seorang diri menuju villa. Betapa terkejutnya ibu, ketika sampai di villa. Ibu melihat ayah yang sedang bermesraan dengan Bella di samping kolam renang. Ibu melihat mereka sedang menikmati dinner yang dijanjikan kepada ibu. Dengan perasaan hancur berkeping-keping, ibu berlari menuju mobil dan langsung menancapkan gasnya untuk pulang." Radit terdiam, memberi jeda ceritanya. Sambil mengatur nafasnya, sepertinya ia mencoba menahan sesak di dadanya.
"Dan saat perjalanan pulang, ibu mendapat kecelakaan." Radit sudah tak bisa membendung air matanya lagi. Butiran kristal putih mulai jatuh di pipinya.
Aishah yang sedari tadi mendengarkan cerita Radit, hanya terdiam dengan sesekali menggenggam tangan Radit.
"Sayang yang kuat." Sambil menyeka air mata yang keluar dari kelopak mata Radit.
"Jika bukan karena pesan terakhir ibu, mungkin mereka berdua sudah tidak ada lagi di dunia ini." Radit tampak gusar, wajahnya kini sudah memerah saking marahnya.
"Boleh Aish tahu pesan terakhir ibu?" Aishah menggenggam tangan Radit. Lalu Radit menatapnya.
"Ibu berpesan agar aku menikahimu dan memaafkan segala kesalahan ayah." Radi menatap mata Aishah lekat-lekat. Lalu Aishah tersenyum lalu memeluk tubuh Radit yang ukurannya dua kali lebih besar darinya.
"Setelah ibu meninggal, aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Tapi ayah melarangku dan memilih untuk pergi dari rumah itu. Tapi ternyata ini alasannya memilih pergi dari rumah. Karena ayah ingin menikahi Bella." Radit tersenyum getir.
"Lalu bagaimana hubungan Kak Radit dengan Bella saat itu?" Aishah penasaran.
"Sekali aku bertemu dengan Bella, aku mengakhiri hubunganku dengannya, bahkan ku beri dia tamparan beberapa kali. Ternyata itu tak membuatnya jengah. Bella terus saja berusaha menemuiku, tapi aku selalu menghindarinya. Sebenarnya sudah sejak lama ibu tidak menyetujui hubunganku dengan Bella, tapi bodohnya aku yang terlalu percaya bisa-bisa kelicikan ular kobra itu." Radit mengepalkan tangannya kembali.
Cukup lama Radit dan Aishah duduk berdua di taman beralaskan rumput tanpa bersuara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Radit merebahkan badannya berbantal pada kaki Aishah. Radit terlihat memejamkan matanya untuk menenangkan hatinya. Aishah membelai-belai rambut Radit dengan lembut. Sampai matahari terbenam mereka masih duduk di taman dengan mesranya. Berdua melihat indahnya matahari yang mulai pulang ke peraduannya.
__ADS_1