Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Vila


__ADS_3

"Lepaskan aku Riel!" Dokter Viola menarik tangannya dari genggaman tangan Dokter Dariel. Namun, Dokter Dariel tidak memperdulikan makian Dokter Viola, dia terus saja menarik tangan Dokter Viola menuju area parkir tempat mobilnya diparkirkan. Sepanjang perjalanan Dokter Dariel hanya terdiam, dia tampak geram dengan kelakuan Dokter Viola yang sudah berada di luar kendalinya.


Setelah menemukan mobilnya, Dokter Dariel segera membuka pintu dan mendorong tubuh Dokter Viola masuk ke dalam mobil. Hingga Dokter Viola duduk di samping kemudi. Setelah memastikan Dokter Viola duduk dengan baik, Dokter Dariel segera menutup pintu mobilnya agar Dokter Viola tidak bisa keluar.


"Cepat masuk!" Dokter Dariel ikut masuk ke dalam mobil. Dia duduk di belakang kemudi, kemudian menyalakan mobilnya. Setelah mobil menyala, Dokter Dariel melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.


Dokter Viola tampak kesal, dia melipat tangannya di depan dada. Dia sesekali tampak melirik Dokter Dariel yang fokus mengemudi. Entah dia mau membawaku ke mana pikirnya. Dokter Dariel membawa Dokter Viola menuju vilanya yang berada di perbukitan dekat kebun teh.


Setelah sampai di tempat parkir, Dokter Dariel menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Dia tampak kelelahan karena mengemudi cukup jauh. Tampak di sampingnya, Dokter Viola tidur terlelap bersandarkan kursi. Perlahan Dokter Dariel membelai kepala Dokter Viola dengan lembut. menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.


Kenapa kamu berbuat seperti itu. Semua itu hanya akan membuatmu malu dan semakin sakit hati. Karena cinta Aldi memang hanya untuk Aishah. Andaikan kamu tahu perasaanku yang sebenarnya kepadamu, apakah kamu masih akan berjuang mendapatkan cinta Aldi.


Ternyata sentuhan Dokter Dariel membuat Dokter Viola terbangun. Sambil mengucek kedua matanya, Dokter Viola berusaha mencari kesadarannya.


"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Dokter Dariel tersenyum hangat kepada Dokter Viola yang baru saja terbangun.


"Kita di mana?" Dokter Viola bertanya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Dia mengerjapkan matanya melihat ke sekelilingnya dari balik kaca mobil.


"Sekarang kita sedang berada di vilaku. Sebaiknya kamu menenangkan dirimu dulu di sini. Besok kan hari libur, jadi kita bisa bersantai setidaknya sampai besok sore. Sekalian kita bisa liburan di sini." Dokter Dariel melepaskan sabuk pengamannya lalu memegang pundak Dokter Viola sambil menatapnya dengan senyuman. Dokter Viola menghela nafas panjang.


"Tapi aku tidak membawa baju ganti. Aku pasti akan kedinginan." Dokter Viola memegang bajunya sambil memperhatikan gaun pestanya yang tampak agak terbuka.


"Tenang saja, aku tadi sudah menyuruh pelayan di sini untuk mempersiapkan semuanya dengan baik." Dokter Dariel menunjukkan senyumannya yang manis.


"Lalu bagaimana dengan mobilku? Aku tadi membawa mobil ke cafe itu." Dokter Viola baru teringat akan mobilnya yang tadi dibawanya ke cafe baru Aishah.


"Semuanya sudah beres. Aku sudah menyuruh orang suruhanku untuk membawanya ke rumahku. Tadi aku mengambil kunci mobil di tasmu ketika kamu sedang tidur." Dokter Dariel menunjuk tas Dokter Viola yang terbuka karena telah diobrak-abrik oleh Dokter Dariel tanpa permisi tadi.


Lalu mereka turun dari mobil. Sepertinya suasana hati Dokter Viola sudah mulai membaik. Malam semakin larut, membuat angin malam yang bertiup terasa begitu dingin. Dokter Viola memeluk dirinya sendiri karena merasa kedinginan. Gaunnya yang terbuka membuat angin malam dengan leluasa menjamah tubuhnya.


Melihat Dokter Viola yang tampak kedinginan, Dokter Dariel segera melepas jasnya kemudian dia pakaikan ke tubuh Dokter Viola.


"Pakailah! Akan sedikit membuatmu lebih hangat." Dokter Dariel tersenyum senang setelah memakaikan jasnya kepada Dokter Viola.


Kemudian dengan gagahnya, Dokter Dariel merangkulkan tangannya ke pundak Dokter Viola untuk mengajaknya masuk ke dalam vilanya. Dokter Viola pun tampak dengan pasrah mengikuti langkah Dokter Dariel menuju vilanya. Vila Dokter Dariel terletak di atas pegunungan. Sehingga, mobil tidak bisa naik karena jalanan yang sempit dan terlalu menanjak. Sehingga, disediakan tempat parkir khusus di bawah untuk pengunjung vila Dokter Dariel.


Vila Dokter Dariel terbilang sangat luas dan besar. Ada 20 kamar di sana dengan bangunan-bangunan kecil seperti gazebo dengan ukuran yang lebih besar. Yang muat untuk satu kamar tidur, bagi pengunjung yang menginginkan kamar tersendiri di luar rumah besar. Di vila tersebut ada satu kamar khusus untuk Dokter Dariel. Dokter Dariel sengaja tidak menyewakan satu kamar eksklusif tersebut. Karena kamar tersebut hanya digunakan untuk dirinya saja ketika sewaktu-waktu datang ke vila tersebut.


Di dalam vila, seorang pelayan perempuan datang membukakan pintu dan menyambut kedatangan mereka berdua. Pelayan wanita itulah yang bertugas menjaga dan membersihkan vila tersebut. Sebenarnya ada banyak pelayan di sana. Berhubung vila tersebut sangat luas, sehingga membutuhkan banyak pelayan untuk merawatnya. Namun, hanya beberapa orang pelayan saja yang tinggal di vila tersebut. Sementara lainnya pulang pergi.


Ketika Dokter Dariel dan Dokter Viola tiba di sana, tampak banyak mobil yang terparkir di tempat parkir bawah. Itu artinya, banyak pengunjung yang menginap di vila Dokter Dariel tersebut. Vila itu memang selalu ramai oleh pengunjung karena memang tempatnya yang sangat nyaman dan cocok untuk menenangkan diri dari lelahnya aktivitas di kota. Karena itulah Dokter Dariel menyediakan kamar khusus untuk dirinya.

__ADS_1


Sehingga sewaktu-waktu dia bisa datang kapanpun yang dia inginkan untuk menenangkan pikiran dan badannya. Dokter Dariel memilih kamar yang berhadapan langsung dengan alam. Ada pegunungan dan sawah-sawah yang terbentang luas sejauh mata memandang dari atas balkon kamar.


"Selamat malam Pak Dariel dan Non Viola." Pelayan perempuan itu tersenyum lalu menunduk kan kepalanya dengan sopan kepada Dokter Dariel dan Dokter Viola.


"Selamat malam, apakah semua sudah kamu persiapkan dengan baik?" Dokter Dariel berjalan dengan langkah yang diperlambat. Pelayan wanita itu mengikuti langkah Dokter Dariel dan Dokter Viola dari belakang.


"Dua kamar beserta baju wanita untuk Non Viola sudah saya siapkan Pak. Air hangat di kedua kamar juga sudah siap jika Pak Dariel dan Non Viola ingin mandi." Pelayan wanita itu mengikuti langkah Dokter Dariel.


"Sepertinya ada banyak pengunjung yang datang." Dokter Dariel menghentikan langkahnya lalu berbalik badan untuk melihat pelayan wanita itu sebelum menaiki anak tangga.


"Benar Pak, hampir seluruh kamar terisi. Hanya tinggal dua kamar pengunjung saja yang masih tersisa. Dan rata-rata pengunjung yang datang satu keluarga." Pelayan wanita itu menghentikan langkahnya dan kini dia berhadapan langsung dengan Dokter Dariel.


"Apakah selalu seperti ini? Aku sudah lama tidak datang ke mari." Dokter Dariel melihat ke sekeliling ruangan.


"Iya Pak, setiap hari memang selalu ada saja tamu yang datang. Tetapi tidak seramai jika hari libur seperti ini." Pelayan wanita itu berbicara sambil menundukkan kepalanya.


"Baguslah kalau seperti itu." Dokter Dariel mulai menaiki anak tangga diikuti oleh Dokter Viola.


"Apakah makan malamnya bisa saya siapkan sekarang Pak? Pelayan wanita itu kembali menawarkan jasanya sebelum dia kembali dengan pekerjaannya.


"Tidak perlu, kami akan makan di luar saja." Dokter Dariel menengok sebentar.


"Apakah masih ada yang dibutuhkan Pak?" Pelayan wanita itu menghentikan langkah Dokter Dariel kembali.


"Terima kasih Pak." Pelayan wanita itu kembali ke belakang menyelesaikan pekerjaannya sebelum dia pergi untuk tidur.


Dokter Dariel dan Dokter Viola pun menuju kamar tidur di atas yang telah dipersiapkan oleh pelayan wanita tadi. Dokter Dariel telah meminta pelayan wanita tadi untuk menyiapkan sebuah kamar tidur yang berdekatan dengan kamarnya.


"Kamu bisa tidur di sini." Dokter Dariel membuka pintu kamar untuk Dokter Viola, dia memeriksa kelengkapan barang-barang yang tadi sudah dipersiapkan oleh pelayan. Dan ternyata benar, semua sudah tersedia dengan lengkap.


"Aku akan mandi dengan air hangat terlebih dahulu." Dokter Viola melepaskan jas yang dipakaikan oleh Dokter Dariel tadi kepadanya. Lalu menyerahkannya kepada Dokter Dariel. Dokter Dariel pun menerimanya lalu beranjak menuju kamarnya.


"Ya sudah aku akan ke kamarku. Nanti kalau sudah selesai, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Dokter Dariel menuju pintu lalu keluar menuju kamarnya.


Dokter Dariel berjalan menuju kamarnya. Dia juga mandi dengan air hangat untuk menyegarkan badannya. Karena udara yang dingin membuat Dokter Dariel merasa kedinginan jika harus mandi dengan air dingin, lagipula hari juga sudah malam. Namun, jika dia tidak mandi, badannya terasa lengket dan tidak nyaman. Sebenarnya Dokter Dariel lebih suka mandi dengan air dingin. Namun, karena udara yang dingin, membuatnya tidak berani mengambil risiko.


Setelah selesai mandi, Dokter Dariel bersiap-siap untuk makan malam bersama dengan Dokter Viola.


"Vio…" Dokter Dariel mengetuk pintu kamar Dokter Viola beberapa kali. Lalu pintu terbuka, tampak Dokter Viola sudah siap untuk pergi bersama dengan Dokter Dariel. Dokter Viola tampak cantik dengan baju yang telah dipersiapkan oleh pelayan wanita tadi. Bajunya juga pas di badan Dokter Viola.


"Sudah malam begini memangnya kamu mau mengajakku ke mana Riel?" Dokter Viola mengernyitkan dahinya. Dia tampak penasaran ke mana Dokter Dariel akan mengajaknya pergi malam-malam seperti ini.

__ADS_1


"Sudahlah ikut saja, tidak jauh kok." Dokter Dariel menarik tangan Dokter Viola dengan lembut. Dokter Viola dengan pasrahnya mengikuti perkataan Dokter Dariel dengan patuh.


Lalu Dokter Dariel dan Dokter Viola berjalan keluar dari vila. Dokter Dariel mengajak Dokter Viola ke sebuah taman bunga yang tidak jauh dari vila. Di sana sudah tersedia meja dan makanan untuk makan malam dengan lilin-lilin di sekelilingnya. Suasananya begitu romantis. Dokter Viola tampak senang melihat semua yang telah dipersiapkan oleh Dokter Dariel Dengan begitu indah.


Dokter Viola menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tampak berbunga-bunga seperti taman bunga di sekelilingnya.


"Silahkan duduk tuan putri." Dokter Dariel menarik kursi agar Dokter Viola bisa duduk di sana. Dokter Viola tampak tersipu. Dia merasa tersanjung dengan perlakuan Dokter Dariel yang tidak seperti biasanya.


Perlakuan Dokter Dariel kepada Dokter Viola memang selalu baik. Namun, malam ini sikap Dokter Dariel benar-benar berbeda. Dia bersikap sangat lembut dan romantis kepada Dokter Viola.


"Terima kasih, tapi kenapa kamu begitu romantis kepadaku?" Dokter Viola terlihat sangat senang.


Dokter Dariel hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Dokter Viola. Kemudian Dokter Dariel menuangkan minuman ke gelas Dokter Viola.


Apakah kamu masih juga belum bisa merasakan perasaanku selama ini kepadamu?


"Ayo kita makan malam dulu. Kamu pasti lapar. Kamu tadi belum sempat makan malam kan?" Dokter Dariel mulai memotong steak yang berada di dalam piringnya. Lalu menyuapkan ke dalam mulutnya.


"Sebenarnya apa maksud dari semua ini Riel?" Dokter Viola semakin curiga dengan sikap Dokter Dariel yang tidak seperti biasanya itu.


"Apakah kamu masih belum bisa mengartikan dari semua ini?" Dokter Dariel menatap lembut mata Dokter Viola. Sehingga kini mereka saling pandang.


"Aku tidak bisa melihatmu sakit. Apalagi melihatmu seperti di cafe tadi. Kamu seperti bukan Viola yang aku kenal." Dokter Dariel menggenggam tangan kiri Dokter Viola, kemudian dia mengecup dengan lembut punggung tangan Dokter Viola. Itu membuat Dokter Viola tersipu malu. Pipinya kini sudah berubah menjadi merah merona.


"Kenapa kamu bisa seperti itu?" Dokter Dariek bertanya dengan sangat hati-hati.


"Aku sakit hati kepada Aldi. Ternyata selama ini Aldi telah berselingkuh dengan Aishah di belakangku." Dokter Viola menatap Dokter Dariel dengan tatapan geram.


"Apakah kamu yakin? Apakah kamu punya buktinya?" Dokter Dariel masih tidak percaya dengan perkataan Dokter Viola. Karena setahu Dokter Dariel, Aishah adalah wanita yang sangat baik. Jadi tidak mungkin jika Aishah berbuat seperti itu. Aishah juga sudah berjanji kepada Dokter Dariel untuk mempersatukan Dokter Viola dengan Aldi.


"Aku memang belum mempunyai buktinya, tapi aku yakin mereka sudah bermain di belakangku." Dokter Viola meremas tangannya. Doa tampak semakin geram.


"Sudahlah Vio, jangan berpikir yang buruk. Tenangkanlah hati dan pikiranmu di sini. Jika kamu ingin menginap di sini untuk beberapa hari kedepan, tidak apa-apa. Aku akan menghandle pekerjaanmu dulu." Dokter Dariel berusaha menenangkan emosi Dokter Viola.


"Terima kasih Riel, kamu benar-benar baik kepadaku." Dokter Viola tersenyum kepada Dokter Dariel.


"Kamu tidak perlu sungkan. Kita kan sudah berteman lama jadi sudah menjadi kewajibanku untuk selalu menghiburmu." Dokter Dariel berdiri kemudian mendekat ke arah Dokter Viola.


Dokter Dariel mengambil setangkai bunga mawar di belakang kursi. Dia telah mempersiapkannya tadi. Dokter Dariel tampak berlutut di depan Dokter Viola. Dia menyerahkan setangkai bunga mawar itu kepada Dokter Viola.


"Malam ini kamu terlihat begitu cantik. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya kepadamu. Bahwa sebenarnya selama ini aku sangat mencintaimu. Aku jatuh cinta kepadamu sudah sejak lama. Kupikir Aldi bisa membahagiakanmu. Jika memang dirimu benar-benar mencintai Aldi demi kebahagiaanmu, aku rela kamu bersama dengannya." Dokter Dariel mendongak menatap wajah Dokter Viola dengan setangkai bunga mawar masih di tangannya.

__ADS_1


Dokter Viola terkejut mendengar pengakuan perasaan dari Dokter Dariel kepadanya. Dokter Viola tidak menyangka jika selama ini Dokter Dariel menyimpan perasaan kepadanya. Pantas saja sikap Dokter Dariel sangat baik. Selama ini Dokter Dariel juga tidak memiliki kekasih, ternyata itu alasannya.


__ADS_2