Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Double Date


__ADS_3

Hari semakin sore, sinar terik sang surya mulai memudar. Semburat jingga memenuhi langit di ufuk barat. Aishah tengah mengemasi barang-barangnya, karena waktu pulang kantor telah tiba. Aishah segera bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Hari sudah sore, dia segera pulang ke rumah.


Setibanya di rumah, Aishah segera mandi untuk menyegarkan dirinya.


kring...kring…


Suara dari dering telepon Aishah berbunyi. Satu pesan yang berasal dari Dokter Dariel masuk ke ponsel Aishah.


Dokter Dariel : Hay Aish, sudah pulang kerja kah?


Aishah : Sudah Dok, memangnya ada apa?


Dokter Dariel : Nanti jam delapan aku jemput ya?


Aishah melihat pesan yang berasal dari Dokter Dariel. Dia teringat bahwa dirinya telah menyetujui untuk makan malam bersama dengan Dokter Viola dan Aldi.


Aishah : Baiklah.


Aishah kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Tidak lama kemudian adzan maghrib sudah berkumandang. Aishah bergegas untuk melaksanakan sholat maghrib. Ketika makan malam tiba, Aishah sengaja tidak ikut makan malam bersama dengan pakdhe dan budhenya. Dia hanya minum air putih saja. Aishah meminta izin kepada pakdhe dan budhenya untuk keluar makan malam bersama dengan Dokter Dariel. Pakdhe dan budhenya pun menyetujuinya.


Dilihat dari cara memperlakukan Dokter Dariel, sepertinya pakdhe dan budhe Aishah menyukainya. Bagaimana tidak, karena Dokter Dariel memang sangat baik dan sopan. Dia sangat dewasa dan ramah. Aishah segera bersiap untuk pergi makan malam. Aishah mengenakan gaun hitam panjang dan jilbab yang senada. Tidak lama kemudian terdengar suara mobil Dokter Dariel datang.


Setelah selesai berdandan, Aishah segera menemui Dokter Dariel yang telah menunggunya di depan. Dokter Dariel tampak akrab mengobrol dengan pakdhe dan budhe Aishah. Aishah terlihat sangat anggun malam ini. Bahkan ketika Dokter Dariel melihat Aishah, dia sampai terpesona dibuatnya.


Wah Aishah cantik sekali dengan gaun itu. Tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu tampil dengan riasan natural. Malam ini Aishah benar-benar seperti tuan putri.


Dokter Dariel sampai tertegun melihat Aishah yang berdiri di depannya.


"Selamat malam Dokter Dariel, sudah lama?" Aishah tersenyum kepada Dokter Dariel. Seketika itu, sapaan Aishah kepada Dokter Dariel mambuyarkan lamunannya.


"Eh Aish, belum kok. Aku baru saja sampai. Kamu sudah siap?" Dokter Dariel berdiri menyambut kedatangan Aishah. Lalu Aishah mengangguk, pertanda mengiyakan pertanyaan Dokter Dariel kepadanya.


"Pakdhe, Budhe kita berangkat dulu ya?" Dokter Dariel berpamitan kepada pakdhe dan budhe Aishah dengan sopan. Lalu Dokter Dariel menghampiri pakdhe dan budhe Aishah untuk bersalaman. Aishah pun mengikuti langkah Dokter Dariel di belakangnya.


"Hati-hati ya, pulangnya jangan malam-malam." Pak Joko tersenyum sambil menerima uluran tangan dari Dokter Dariel.


Pak Joko dan Bu Sekar mengantar Dokter Dariel dan Aishah sampai di depan pintu. Dengan cepat, mobil Dokter Dariel menghilang ditelan kegelapan malam.


"Mereka terlihat sangat serasi ya Bu?" Pak Joko terus memperhatikan kepergian mobil Dokter Dariel hingga tak terlihat.


"Iya ya Pak, andaikan saja Aish bisa segera membuka hatinya." Bu Sekar memandang Pak Joko dengan tatapan penuh harap.


"Lambat laun, dengan kebaikan dan perhatian yang diberikan Dokter Dariel kepada Aish, Bapak yakin Aish akan segera terbuka hatinya dengan sendirinya." Pak Joko merangkul bahu Bu Sekar dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Tapi Ibu kok ndak yakin ya Pak. Ibu sangat hafal dengan sikap Aish. Dia itu tidak mudah membuka hatinya begitu saja. Bahkan dalam pernikahannya dulu pun, Aish membutuhkan waktu yang sangat lama hingga dia benar-benar bisa mencintai suaminya dengan seutuhnya. Apalagi sekarang Aldi kembali muncul dalam kehidupannya." Bu Sekar mengikuti langkah Pak Joko masuk ke dalam rumah. Lalu Bu Sekar menutup pintu dan segera duduk di sofa bersama dengan Pak Joko.


"Ya semoga saja Bu, Bapak sudah kasihan melihat Aish ke mana-mana seorang diri. Apalagi dia itu janda yang masih cantik, sekarang saja sudah banyak tetangga yang membicarakannya." Pak Joko terlihat was-was.

__ADS_1


"Ibu sangat paham dengan kekhawatiran Bapak. Ya sebagai orang tua, kita doakan saja yang terbaik untuk kebahagiaan Aish Pak. Ibu tidak ingin memaksa Aish untuk menikah dengan siapapun lagi. Ibu sudah kapok Pak, biarkan Aish memilih calon suaminya sendiri. Aishahkan juga sudah bukan anak kecil lagi, dia sudah berpengalaman dalam hal mencari pasangan hidup. Biarkan Aish memilih jalan kebahagiaannya sendiri. Dulu Radit juga terlihat sangat baik. Namun, tidak tahunya dia malah mengkhianati Aish seperti itu. Sebenarnya Ibu benar-benar masih sakit hati dengan anak itu Pak." Bu Sekar terlihat geram.


"Sudahlah Bu, yang lalu biarlah berlalu. Jadikan semua itu pembelajaran hidup yang sangat berarti untuk menjalani kehidupan kedepannya. Kalau dipikir juga Bapak sangat marah dengan kelakuan Radit itu. Tapi kita harus tetap kuat di depan Aishah. Kita tidak boleh membuat luka lama Aishah terungkit kembali." Pak Joko menepuk bahu Bu Sekar beberapa kali dengan lembut.


__________________________________


Dokter Dariel melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Rupanya membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai di restoran tempat mereka akan mengadakan makan malam bersama. Jaraknya memang lumayan cukup jauh.


Setibanya di restoran, Dokter Dariel segera mencari tempat parkir yang pas untuk memarkirkan mobilnya. Restoran itu terletak di atas pegunungan. Udara di sana lumayan cukup dingin. Untung saja, Aishah selalu mengenakan pakaian panjang, sehingga udara dingin yang menusuk kulitnya tidak begitu terasa.


Dokter Dariel turun dari mobil dan segera mengajak Aishah mencari tempat duduk. Ternyata Dokter Viola dan Aldi sudah tiba di sana terlebih dahulu. Tampak dari kejauhan Dokter Viola melambaikan tangan kepada Dokter Dariel dan Aishah yang sedang mencari-cari keberadaan mereka. Ternyata restoran itu adalah pilihan dari Dokter Viola. Dokter Viola sengaja memilih restoran yang romantis untuk makan malamnya kali ini. Jelas saja, karena makan malam kali ini memang makan malam yang spesial baginya.


Terlihat Aldi dan Dokter Viola mengenakan pakaian hitam yang senada. Bahkan tanpa jenjian pun mereka berseragam mengenakan warna pakaian yang sama yaitu warna hitam. Tampak Aldi dan Dokter Dariel kompak mengenakan jas hitam mereka. Dokter Viola juga mengenakan gaun hitam selutut, dengan lengan pendek. Rambutnya digulung ke atas memperlihatkan lehernya yang putih. Baju bagian depannya dibuat agak terbuka agar terlihat kesan menawannya.


"Hay maaf harus membuat kalian menunggu cukup lama. Aku tadi sempat salah mengambil jalan, jadi kita harus memutar jalan untuk menemukan jalan utama menuju arah restoran ini." Dokter Dariel menarik kursi di sebelah Dokter Viola agar Aishah bisa duduk di sana.


"Tidak apa, kita juga belum lama kok." Dokter Viola tersenyum ramah menyambut kedatangan Aishah dan Dokter Dariel.


Suasana di restoran itu sangat romantis. Sepertinya, restoran itu memang khusus dibuat untuk para tamu yang berpasangan. Dari tempat duduk mereka, mereka bisa melihat view pemandangan kota jauh di bawah sana. Lampu-lampu di gedung-gedung kota terlihat gemerlap saking kecilnya. Tempat duduk mereka terletak di atas bukit, dengan sebuah gazebo sebagai pelindung dari dinginnya malam.


Bintang-bintang tampak berkerlap-kerlip di atas sana membuat suasana semakin romantis. Ditemani dengan iringan biola yang mendayu-dayu seolah malam itu hanya milik sepasang anak manusia yang sedang dimabuk asmara. Udara di sana semakin malam semakin dingin saja. Tampak Dokter Viola yang hanya mengenakan gaun pendek mulai kedinginan. Sepertinya dia tidak mempersiapkan semuanya dengan baik, karena dia tidak membawa jaket ataupun baju panjang untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya udara malam di perbukitan itu.


Dengan tanggap Dokter Dariel segera mengenakan jaket yang tadi sengaja dibawanya. Dokter Dariel memang sudah hafal dengan keadaan di sana, karena dulu dia memang pernah datang ke restoran itu saat malam hari. Dan memang Dokter Dariellah yang merekomendasikan restoran itu kepada Dokter Viola. Aldi dan Aishah yang melihat Dokter Dariel mengenakan jaketnya untuk Dokter Viola tampak memandang cukup lama.


Mereka memang terlihat sangat cocok. Gumam Aishah di dalam hati.


"Maaf Di, aku tidak bermaksud.." Dokter Dariel menatap Aldi dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Seharusnya aku malah mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Aku saja yang tidak mempersiapkan semuanya dengan baik." Aldi tersenyum kecut kepada Dokter Dariel. Dokter Dariel merasa semakin tidak enak hati.


Tidak lama kemudian, dua pelayan mengantarkan pesanan mereka. Keadaan malah menjadi canggung. Mereka hanya saling diam tanpa berbicara apapun selain menikmati makanan mereka masing-masing.


"Wah makanan di sini lezat hlya, pemandangannya juga sangat indah." Aishah memecah keheningan di antara mereka.


"Iya Aish, aku sangat suka makan di sini. Ini adalah tempat favoritku. Saat pertama aku datang ke sini, aku langsung jatuh hati dengan tempat ini." Dokter Viola menunjukkan kekagumannya dengan tempat itu.


Kring… kring…


Terdengar dering telepon dari ponsel Dokter Viola. Dokter Viola segera meraih tas di atas meja lalu mengambil ponsel yang berada di dalamnya.


"Halo…" Suara Dokter Viola.


"Maaf Dok, harus mengganggu anda malam-malam seperti ini. Tapi keadaan pasien di ruang UGD yang sedang dalam penanganan anda sekarang dalam keadaan kritis. Kita harus segera melakukan tindakan operasi sekarang juga." Suara perawat dari seberang telepon terdengar begitu cemas.


"Baik, saya akan segera ke sana." Dokter Viola juga terdengar ikut cemas.


"Ada apa Vio?" Aldi bertanya dengan penuh rasa penasaran.

__ADS_1


"Aku harus segera datang ke rumah sakit saat ini juga. Pasienku yang berada di ruang UGD dalam keadaan kritis. Harus segera dilakukan tindakan operasi. Karena kalau tidak, nyawa pasien itu dalam keadaan bahaya." Dokter Viola berdiri dari tempat duduknya.


"Kalau begitu aku akan mengantarmu sekarang." Aldi juga berdiri dari tempat duduknya.


"Sepertinya aku saja yang pergi bersama dengan Viola. Karena aku juga bertanggung jawab atas keselamatan pasien di ruang UGD tersebut." Dokter Dariel ikut bangkit juga.


Aishah yang tidak tahu menahu hanya diam seribu bahasa.


"Sebaiknya kamu antar Aishah pulang saja. Kasihan jika dia harus pulang sendiri. Lagipula di sekitar sini sangat sulit mencari transportasi umum jika sudah malam seperti ini." Dokter Dariel mulai mengambil ponsel dan kunci mobilnya.


"Benar Aldi, sebaiknya aku bersama dengan Dariel saja. Maaf makan malam kita harus menjadi seperti ini. Walau bagaimanapun aku adalah seorang dokter. Bagi seorang dokter nyawa pasien adalah hal yang paling penting." Dokter Viola juga hendak bergegas untuk pergi.


"Baiklah, tidak apa-apa. Aku mengerti kok." Aldi memegang bahu Dokter Viola dengan lembut.


"Aish maafkan aku tidak bisa mengantarmu pulang. Kamu pulanglah bersama Aldi." Dokter Dariel menatap Aishah sebentar.


"Tidak apa-apa Dokter, berhati-hatilah di jalan. Semoga kalian berhasil menyelamatkan nyawa pasien itu." Aishah tersenyum kepada Dokter Dariel sebelum Dokter Dariel pergi. Lalu Dokter Dariel dan Dokter Viola segera bergegas pergi menuju rumah sakit.


Kini tinggallah Aldi dan Aishah di sana. Mereka tampak agak canggung. Mereka hanya saling diam. Sesekali Aldi menatap Aishah di depannya.


"Malam ini sangat indah ya?" Aldi memecah keheningan di antara mereka.


"Iya, malam ini cerah sekali. Sayang, Dokter Viola dan Dokter Dariel harus cepat-cepat pergi." Aishah melihat pemandangan jauh di bawah sana.


"Mungkin semesta memang menginginkan malam ini milik kita berdua." Aldi menatap Aishah dengan lembut. Membuat Aishah tersipu. Aishah tidak sanggup untuk membalas tatapan mata Aldi.


Tiba-tiba jantung Aishah berdegup dengan kencangnya. Aishah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya kepada Aldi. Tampaknya udara malam semakin menusuk kulit saja. Aishah tampak kedinginan karena hembusan angin malam yang berkali-kali menerpa dirinya. Aldi segera melepas jasnya, lalu mengenakannya kepada Aishah.


"Tidak perlu Di. Aku tidak apa-apa kok, nanti kamu yang kedinginan." Aishah berusaha melepas jas di bahunya, namun Aldi segera mencegahnya.


"Kamu lebih membutuhkannya saat ini. Aku sudah cukup merasa hangat dengan kemejaku ini." Aldi melihat kemeja panjang yang dikenakannya.


"Dariel dan Viola kelihatannya sangat serasi ya, mereka selalu kompak." Aldi menatap jauh pemandangan di bawah sana.


"Kamu cemburu?" Aishah menatap Aldi dengan penasaran.


"Entahlah, ini perasaan cemburu atau senang." Aldi mengangkat kedua bahunya tanpa melihat ke arah Aishah.


"Eh, kenapa seperti itu?" Aishah merasa tambah keheranan.


"Kamu pasti sudah tahu alasannya. Karena dulu, sekarang dan esok perasaanku kepadamu akan tetap sama. Tidak pernah berubah atau berkurang sedikit pun." Aldi menatap mata Aishah dengan tatapan lembutnya.


"Apakah kamu tidak merasa berdosa jika kita seperti ini?" Aishah membuang muka dari tatapan Aldi.


"Memangnya apa yang kita perbuat?" Aldi berusaha membela diri.


"Setidaknya kamu harus menjaga kepercayaan Dokter Viola kepadamu." Aishah menatap langit malam yang penuh dengan bintang.

__ADS_1


"Dari dulu, aku juga sudah berusaha dengan keras mencintai Viola, tapi perasaanku tetaplah sama. Cintaku tetaplah untuk dirimu seorang Aish, aku bisa apa lagi." Aldi kembali menatap mata Aishah. Dan kini tatapannya semakin dalam. Aishah semakin tidak sanggup untuk membalas tatapan mata Aldi. Jika Aishah menatap mata Aldi, Aldi pasti akan bisa dengan cepat membaca perasaan Aishah kepadanya.


__ADS_2