Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Kelicikan Bella


__ADS_3

"Sayang, kudengar Aishah kini telah hamil." Bella melingkarkan tangannya ke pinggang Pak Banu yang tengah duduk di sofa kamar, lalu menelusupkan kepalanya ke dada suaminya itu.


"Benarkah? Itu berarti aku akan memiliki cucu bukan?" Pak Banu membalas pelukan istrinya dengan kecupan lembut di keningnya. Pak Banu terlihat sangat bahagia mendengar ucapan Bella.


Jleb. Mendengar kata cucu yang keluar dari mulut suaminya, tiba-tiba Bella merasa ada bom waktu yang dilemparkan tepat di depannya yang bisa meledak setelah kelahiran cucunya itu. Bella memang tidak mencintai Pak Banu, bahkan sampai saat ini cintanya masih terpatri pada Radit yang kini sudah menjadi anak tirinya. Bella menikahi Pak Banu tak lain hanya karena hartanya.


Bisa gawat kalau wanita pelakor itu sampai melahirkan anak Radit, keturunan dari keluarga Bramantyo.


Bella terus bergumam dalam hati. Hatinya kini merasa kesal, tak bisa dibayangkan olehnya jika harus melihat Radit, orang yang masih dicintainya mempunyai anak dari Aishah.


"Bagaimana kalau kita mengunjungi mereka sayang? Walau bagai manapun juga mereka kan sudah aku anggap sebagai anak-anakku sendiri." Nampaknya Bella mulai merancang siasat liciknya.


"Tapi aku tidak yakin Radit akan menerima kedatangan kita." Pak Banu menyeruput kopinya.


"Apa salahnya jika kita coba dulu. Mungkin jika kita datang dengan niat baik, hati Radit akan terbuka dan mau memaafkan kita." Bella berakting bak malaikat saja. Bella memang seorang aktris, jadi wajar saja jika akting yang diperankannya sangat natural dan tampak nyata. Pak Banulah orang yang selalu termakan setiap bujuk rayu istrinya itu.


"Tapi kamu tidak akan mendekati Radit lagikan? Kamu sekarang sudah menjadi milikku jadi jangan pernah berpikir untuk menggoda Radit lagi. Awas kalau sampai kamu berani macam-macam!" Pak Banu memeluk erat Bella lalu menjatuhkan dirinya bersama Bella ke sofa. Dengan buasnya Pak Banu menyerang tubuh Bella yang berpakaian sangat mini itu.


"Biar apa? Bahkan aku sudah mendapatkan semua yang aku inginkan darimu." Bella membalas serangan Pak Banu dengan lebih ganas.


"Sepertinya aku masih pantas jika dipanggil ayah oleh seorang bayi." Pak Banu mulai kehilangan kendali dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.


__________________________________


Ting tong…. ting tong…


Suara bel rumah berbunyi. Mbok Minah segera bergegas menuju pintu depan untuk melihat siapa yang berkunjung. Mbok Minah membukakan pintu.


"Pak Banu." Melihat Pak Banu dan Bella yang datang, Mbok Minah menundukkan kepalanya hormat.


"Radit dan Aishah ada di rumah?" Pak Banu tampak melepas kacamata hitamnya.


"Ada pak, silahkan masuk dulu." Mbok Minah mempersilahkan orang yang pernah menjadi majikannya itu.


"Panggilkan Radit, saya ingin bertemu dengannya!" Pak Banu dan Bella melangkahkan kaki mereka ke dalam rumah. Tampak Bella dengan pakaian seksinya menggandeng lengan Pak Banu dengan mesra. Bella memang sudah hafal seluk beluk rumah itu. Dulu sewaktu ia masih menjadi kekasih Radit, Bella sering berkunjung, bahkan hampir setiap hari Bella datang tanpa diundang.

__ADS_1


Tok… tok… tok…


Terdengar suara ketukan pintu kamar. Membuat Aishah bangkit dari duduknya. Aishah tengah asyik mengobrol dan menikmati segelas susu bersama suaminya di balkon. Hari ini adalah akhir pekan, jadi Radit libur dari rutinitas pekerjaannya.


"Ada apa mbok?" Aishah membuka pintu lalu melihat Mbok Minah berdiri di hadapannya.


"Di bawah ada Pak Banu dan Mbak Bella mbak, Pak Banu menyuruh saya untuk memanggilkan Mas Radit dan Mbak Aishah katanya ingin bertemu." Mbok Minah tampak takut-takut.


"Ya sudah nanti akan kuajak Radit turun. Terimakasih mbok." Aishah menengok ke arah Radit yang tengah menyeruput kopi paginya.


"Kalau begitu saya ke dapur dulu mbak." Mbok Minah menunduk sopan.


"Iya mbok terimakasih." Aishah menutup pintu kamarnya lalu menghampiri Radit.


"Sayang, ada ayah dan Bella di bawah." Aishah mendekati Radit lalu duduk disampingnya.


"Untuk apa mereka kesini? Merusak suasana hatiku saja." Radit mulai merasa kesal.


"Apa tidak sebaiknya kita temui mereka di bawah? Walau bagaimanapun juga mereka adalah tamu kita. Apalagi mereka adalah orang tua kita, orang yang wajib kita hormati." Aishah mencoba merayu Radit agar mau menemui ayahnya.


"Ya sudah kalau begitu Aish turun duluan ya kak?" Aishah beranjak dari tempat duduknya.


"Jangan! Tidak perlu. Jika ingin menemui mereka nanti saja bersamaku. Lagi pula kamu harus mandi dulu biar badanmu segar." Radit mulai masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintunya.


Setelah Radit dan Aishah selesai mandi, mereka memutuskan untuk menemui Pak Banu dan Bella yang sudah menunggu lama di bawah. Radit nampak menggandeng tangan Aishah dengan mesranya, sesekali Radit membisikkan sesuatu di telinga Aishah, sehingga membuat Aishah merasa geli dan mereka tertawa bersama.


Ternyata Bella sedari tadi memperhatikan apa yang mereka lakukan. Bella menatap kebahagiaan mereka dengan penuh rasa kebencian. Sorot matanya tajam seperti ingin membabat habis apapun yang berada di depannya. Radit yang menyadari hal itu, semakin tertarik untuk memancing kemarahan Bella. Dengan sengaja Radit semakin memamerkan kemesraannya. Bahkan tanpa rasa malu sedikitpun, Radit mencium pipi dan bibir Aishah di depan Pak Banu dan Bella.


Cih apa-apaan mereka ini! Dasar wanita tidak tahu malu, sudah merebut Radit dariku dan sekarang mau pamer kemesraan di depanku!


Bella terus menggerutu dalam hati. Wajahnya kini sudah tampak seperti udang rebus. Sepertinya Pak Banu menyadari kegelisahan istrinya, ia langsung mengalungkan tangan kirinya ke bahu Bella lalu mengelusnya dengan lembut.


Aishah menghampiri Pak Banu lalu bersalaman dengan senyuman manisnya. Pak Banu membalasnya dengan senyuman pula. Namun Bella yang merasa tidak senang melihat Aishah tersenyum kepadanya langsung buang muka. Sementara Radit hanya berlalu melewati Pak Banu dan Bella kemudian duduk di sofa.


"Kudengar kamu sedang mengandung Aish? Selamat ya." Pak Banu tersenyum ramah. Pak Banu memang selalu bersikap baik kepada Aishah, bahkan sejak pertama mereka bertemu dan kebaikannya itu memang tulus.

__ADS_1


"Iya alhamdulillah ayah, kini Aish sedang mengandung tiga bulan saat ini." Aishah tersenyum sambil mengelus perutnya.


"Oh ya kami ke sini membawakan beberapa hadiah untuk kalian, terutama untuk Aishah yang sebentar lagi akan menjadi calon ibu." Bella menunjuk beberapa kado dan paperbag yang tergeletak di atas meja.


"Terima kasih tante." Aishah tampak canggung.


"Kenapa Aish memanggilku tante? Kita kan sudah menjadi satu keluarga. Bahkan kalian sudah ku anggap sebagai anakku sendiri. Kalian bisa memanggilku mami." Bella mulai mengeluarkan muka sok imutnya.


"Cih keluarga…" Radit tersenyum sinis lalu bibirnya menyeringai. Lalu Mbok Minah datang membawakan minuman.


"To the point saja, sebenarnya apa yang kalian inginkan sampai datang kemari?" Radit melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan keluar ruangan.


"Jaga ucapanmu! Bahkan kau masih bisa tinggal disini itu berkat belas kasihan ayah! Sopanlah sedikit kepada kami!" Pak Banu mulai terpancing emosi.


"Oh jadi ayah ingin aku pergi dari sini? Baiklah tidak masalah bagiku. Tapi perlu ayah ingat, setengah dari aset yang ayah miliki saat ini adalah milik ibu. Dan dulu ibu juga bekerja keras di belakang ayah sampai ayah bisa sampai di posisi saat ini." Radit tak kalah emosi. Radit menghela nafas panjang.


"Apakah ayah lupa modal usaha yang ayah gunakan pertama kali untuk membuka perusahaan ayah saat ini dari mana? Harusnya ayah tidak bisa mengelak bahwa modal utama perusahaan ini adalah dari hasil kerja keras ibu sewaktu muda di tambah dengan semua warisan yang ibu miliki. Semua harta yang ibu miliki, beliau serahkan untuk ayah, agar ayah bisa membuka perusahaan dan mulai berbisnis. Tapi apa balasan ayah untuk ibu? Bahkan untuk setiapun ayah tak bisa?" Radit mulai tak bisa menahan emosinya.


"Bahkan ibu harus kehilangan nyawanya karena ayah! " Radit berdiri menghampiri ayahnya, mencengkram kerah baju ayahnya hingga ayahnya berdiri dengan leher yang kesakitan.


"Sudah kak lepaskan.." Aishah mencoba melerai emosi suaminya itu. Begitu pula dengan Bella yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Radit di leher suaminya.


"Kami datang ke sini baik-baik, tapi apa yang kamu lakukan kepada ayahmu! Apakah kalian sudah tidak punya hati nurani?" Bella mulai mengeluarkan air mata buayanya untuk menarik simpati Radit.


"Maafkan atas sikap Kak Radit kepada ayah dan ibu." Aishah menundukkan kepalanya.


"Untuk apa kamu meminta maaf kepada mereka? Hah! Jadi sekarang kamu lebih membela mereka dari pada suamimu sendiri?" Radit membentak Aishah dengan keras. Mendengar bentakan Radit, seketika keluar butiran-butiran kristal membanjiri pipi Aishah.


"Bukan begitu kak, Aish cuma minta maaf atas perbuatan Kak Radit." Aishah tampak berlinang air mata.


"Jadi sekarang kamu menyalahkanku! Kamu mau menentang suamimu begitu! Beraninya kau!" Radit memegang pundak Aishah, dengan sorot mata tajam dan menakutkan.


Yah itulah yang dari tadi aku tunggu-tunggu. Tapi kenapa hanya membentaknya saja, harusnya kau tampar saja wanita kurang ajar itu! Hahaha


Bella tampak puas dengan apa yang baru saja menjadi tontonan serunya. Karena maksud kedatangan Bella ke situ memang sengaja ingin membuat hubungan Aishah dan Radit menjadi renggang. Ia sangat hafal dengan sikap Radit yang lepas kendali jika Radit sedang marah.

__ADS_1


"Sudah Aish, kami akan pergi sekarang. Kamu jangan melawan suamimu lagi." Bella dan Pak Banu segera bergegas pergi.


__ADS_2