Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Tertangkapnya Bella


__ADS_3

Hari semakin sore, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Radit pulang dari kantor sesuai dengan jam kerjanya. Lalu mereka berangkat untuk mengantar Kakek Rinto dan Bu Tari kembali ke rumahnya. Perjalanan yang begitu jauh membuat para penumpang tertidur lelap. Kini hanya tinggal Radit sebagai pengemudi dan Kakek Rinto sebagai penunjuk jalan saja yang masih terjaga.


"Apakah masih jauh Kek?" Radit berulang kali bertanya rute yang masih harus dilaluinya.


"Masih Mas, kita masih harus melewati satu hutan lagi. Tapi jalanannya juga tidak semuanya beraspal. Karena lokasi yang jauh dari kota, membuat pembangunan di desa ini jauh tertinggal dari desa-desa lainnya." Kekuatan Kakek Rinto yang sudah renta ternyata justru melebihi kekuatan orang-orang yang jauh lebih muda darinya. Kakek Rinto sudah terlalu banyak makan asam garam, sehingga kekuatannya baik fisik maupun rohani sudah teruji dengan baik.


Radit sudah mulai kelelahan, dia merasa kewalahan dengan jalan yang dilaluinya. Rute dan jalanan yang terjal membuat perjalanan semakin lama. Jalanan yang berlubang membuat mobil tidak bisa berjalan dengan cepat. Untung saja tidak musim penghujan, kalau saja hujan turun mungkin jalanan ini akan berubah menjadi tempat genangan air dan lumpur.


"Sudah Mas, mobilnya diparkirkan di sini saja. Saya akan minta izin dengan orang yang punya rumah." Setelah mobil berhenti, Kakek Rinto segera turun untuk meminta izin kepada sang empunya rumah untuk memarkirkan mobil Radit di halaman rumahnya.


"Boleh Mas Radit, Mas Radit bisa memarkirkan mobil Mas Radit di depan rumah ini. Saya tadi sudah mendapat izin dari Pak rt yang punya rumah ini." Kakek Rinto datang dengan nafas yang mulai ngos-ngosan


"Memangnya di mana rumah Kakek?" Aishah yang sudah terbangun dari tadi karena jalanan yang terjal semakin penasaran.


"Masuk melalui area persawahan ini Mbak, jadi kalau mobil tidak bisa masuk sampai depan rumah." Kakek Rinto menunjuk jalan kecil di persawahan yang luas. Suasananya sepi dan gelap, hanya ada beberapa lampu penerangan jalan yang sengaja dibuat oleh warga.


Lalu setelah memarkirkan mobil, mereka berjalan menyusuri area persawahan untuk menuju rumah Kakek Rinto dan Bu Tari. Sepanjang perjalanan Radit tak henti-hentinya terheran-heran. Bagaimana bisa mereka hidup dalam keadaan seperti ini. Kemudian setelah sampai di rumah Kakek Rinto, Radit semakin merasa prihatin dengan keadaan rumah yang lebih tepat disebut gubuk bambu itu.


Rumah Kakek Rinto terbuat dari bambu anyam yang reyot. Banyak lubang yang menganga di antara dinding bambu tersebut. Keadaan rumah ini benar-benar memprihatinkan, pikir Radit. Ukuran rumahnya pun tidak terlalu besar. Hanya ada ruang tamu, dapur dan dua kamar tidur. Dan semuanya dibatasi oleh gorden yang seadanya. Sepanjang malam Radit tidak bisa memejamkan matanya. Radit memang terbiasa hidup mewah sejak dia kecil.


Bagaimana bisa mereka tinggal di tempat yang jauh dengan jalan seperti ini. Apalagi harus melewati area persawahan yang luas di malam-malam seperti ini.


Berbeda dengan Aishah yang sudah terbiasa dengan kehidupannya yang sederhana. Aishah bisa bertahan hidup di manapun dia berada. Bahkan ketika harus tidur di lantai yang dingin hanya dengan beralaskan tikar pun Aishah tidak pernah mengeluh. Justru Aishah merasa bersyukur karena kehidupannya sekarang masih lebih baik dari kehidupan orang-orang yang kurang beruntung seperti Kakek Rinto dan Bu Tari.


Di malam yang gelap ini, Radit duduk di bawah sinar rembulan yang terang. Dia melihat hamparan sawah di depannya yang terkena terpaan sinar rembulan. Malam telah menjelang pagi, Radit memutuskan untuk tidak membaringkan tubuhnya. Karena walaupun dia berusaha dengan keras untuk tidur pun tak akan ada gunanya. Dia baru menyadari bahwa kehidupannya selama ini ternyata sudah lebih dari pada cukup. Selama ini apa yang dia keluhkan dan dia tidak syukuri ternyata banyak orang yang jauh lebih sengsara dari hidupnya.

__ADS_1


Melihat keadaan Kakek Rinto yang memprihatinkan akhirnya Aishah memutuskan untuk membantu membangun rumah Kakek Rinto. Aishah memberikan banyak bantuan uang dan bahan makanan untuk keluarga Kakek Rinto. Setelah pagi harinya, Pak Banu berteriak kesakitan. Semua orang menjadi terkejut dibuatnya. Radit dan Kakek Rinto yang sedang mengobrol di depan rumah segera menghampiri Pak Banu, begitupun Aishah dan Bu Tari yang sedang memasak di dapur.


"Ayah kenapa?" Radit tiba paling dulu di antara yang lainnya. Terlihat Pak Banu tampak kesakitan. Pak Banu tak henti-hentinya memegangi kepalanya. Melihat Ayahnya yang semakin kesakitan, Radit pun mendekat.


"Radit? Aku di mana? Kenapa kita bisa berada di sini?" Pak Banu tampak berusaha mengingat apa yang sedang terjadi padanya.


"Kita sedang berada di rumah Kakek Rinto Yah." Radit melihat ke arah Kakek Rinto.


"Bella, Bella sudah sangat jahat. Aku harus menjebloskannya ke dalam penjara. Aku harus segera melaporkannya ke polisi sekarang juga." Pak Banu tiba-tiba berkata hal yang mengagetkan.


"Jadi Ayah sudah mengingat tentang Bella?" Radit mengernyitkan dahinya.


"Bella yang sudah membuat Ayah jadi seperti ini." Pak Banu melihat ke sekujur tubuhnya yang penuh bekas luka.


"Apa saja yang sudah diperbuat Bella Ayah?" Radit terus mendesak Pak Banu agar terus bercerita tentang kejahatan yang telah diperbuat oleh Bella.


"Kalau begitu kita harus segera melaporkannya ke polisi." Radit semakin bersemangat, karena memang inilah yang selama ini dia tunggu-tunggu yaitu balas dendam dengan Bella.


Akhirnya Radit, Aishah dan Pak Banu segera pulang ke kota. Mereka segera menuju ke kantor polisi untuk melaporkan kejahatan Bella. Rasa kantuk yang dirasakan Radit karena tidak bisa tidur semalam suntuk pun seketika sirna. Radit sangat antusias dengan kasus ini. Radit berharap Bella bisa dihukum seberat-beratnya.


"Selamat siang Pak." Radit mendekat ke meja polisi yang berada di dekatnya.


"Selamat siang silahkan duduk, ada yang bisa kami bantu?" Polisi yang sedang sibuk mengetik sesuatu di komputernya langsung menatap Radit dan menunjuk kursi di depannya agar Radit bisa duduk di sana.


Lalu Pak Banu menceritakan kejadian yang telah dialaminya. Pak Banu bercerita dengan detail semua kejahatan yang telah dilakukan Bella kepadanya dan keluarganya. Polisi itu kemudian memproses laporan Pak Banu.

__ADS_1


"Kami akan segera menangkap Ibu Bella secepatnya. Bapak jangan kuatir. Tapi kami mohon kerjasamanya." Polisi tadi berkata dengan tegas.


Akhirnya mereka langsung mendatangi kediaman Bella. Ketika itu hanya Mbok Minah yang berada di rumah.


"Selamat sore Bu, kami dari pihak kepolisian. Bisa kami bertemu dengan Ibu Bella?" Salah satu polisi berkata dengan tegas.


"Maaf Pak, Bu Bellanya sedang keluar rumah." Mbok Minah tampak takut-takut.


Betapa terkejutnya Mbok Minah ketika melihat Pak Banu, Radit dan Aishah datang bersama lima orang polisi.


"Tuan Banu, Mas Radit dan Mbak Aishah." Mbok Minah yang sekarang tampak kurus dan tua itu masih bisa mengenali mantan majikannya dengan baik.


Setelah mempersilahkan Radit, Aishah, Pak Banu dan para polisi untuk masuk, Mbok Minah dan Pak To menceritakan semua kejahatan yang telah diperbuat Bella selama ini. Tentang kejahatan Bella lima tahun yang lalu, yang telah membuat Pak Banu tidak sadarkan diri dan membawanya pergi hingga beredar kabar bahwa Pak Banu masuk ke dalam jurang. Kini lengkap sudah bukti kejahatan yang telah Bella lakukan. Dengan semua bukti yang terkumpul, Bella dapat dihukum seberat-beratnya sesuai dengan kejahatan yang telah diperbuatnya. Sehingga para polisi akan langsung menangkap Bella jika bertemu dengannya.


Tidak lama kemudian terdengar suara mobil Bella pulang. Para polisi segera menghampiri Bella yang baru datang. Para polisi membuka paksa mobil yang dikendarai Bella dan sekretarisnya. Namun, dengan cepat Bella dapat kabur. Hanya sekretarisnya yang berhasil para polisi amankan. Lalu terjadilah kejar-kejaran yang cukup melelahkan. Bella sangat pandai untuk melarikan diri. Keadaan yang ramai membuat para polisi kewalahan untuk mengejar Bella.


Akhirnya karena sudah kewalahan dengan Bella yang terus menghindar, salah satu polisi itu melepaskan satu tembakannya.


Dor…. Suara gema tembakan membuat merinding setiap orang yang mendengarnya. Satu tembakan berhasil mendarat di betis Bella. Bella menjerit kesakitan. Namun, dia hanya berhenti sejenak lalu bangkit kembali untuk berusaha terus berlari. Dengan terus menyeret kakinya yang sudah berlumuran darah, Bella berusaha terus menghindar dari kejaran polisi. Bella benar-benar tidak mau menyerah.


Ketika Bella hendak menyeberang jalan, tiba-tiba datang truk dari arah samping dengan kecepatan yang tinggi. Bella yang berjalan dengan terseok-seok dengan terus memegangi kakinya tidak bisa menghindar lagi.


Bruk…. Dan terjadilah kecelakaan. Bella tertabrak sebuah truk besar yang melintas. Para polisi yang mengejar Bella langsung datang untuk melihat keadaan Bella. Bella sudah tergeletak di tengah jalan dengan kepala penuh darah. Polisi berusaha dengan segera membawa Bella ke rumah sakit terdekat. Namun, nyawa Bella tidak dapat tertolong lagi. Bella meninggal ketika berada di perjalanan menuju rumah sakit.


Akhirnya hanya sekretarisnya saja yang dimasukkan ke dalam penjara. Dan semua harta yang dimiliki Bella jatuh kembali ke tangan Pak Banu dan Radit. Betapa puasnya Radit dengan semua ini. Radit sangat bahagia karena dendamnya selama ini bisa terbalas dengan setimpal. Akhirnya semua bisa terselesaikan malam itu juga. Hanya tinggal mengurus pemindahan harta Bella ke tangan Pak Banu kembali.

__ADS_1


Lalu Radit, Pak Banu dan Aishah bisa pulang ke rumah dengan tenang. Mereka merasa sangat lega, karena kasusnya dapat terselesaikan dengan cepat. Dan kini ingatan Pak Banu telah kembali seperti semula. Pak Banu sudah dapat mengingat semuanya dengan baik.


__ADS_2