
Hingga malam tiba, Dokter Dariel masih tetap dengan setia berada di samping Dokter Viola untuk merawatnya. Dokter Dariel sampai rela tidur sambil duduk di tepi tempat tidur Dokter Viola demi menunggu Dokter Viola sampai sembuh.
Dokter Viola mulai bangun dari tidurnya. Badannya kini sudah mulai baikan. Kepalanya pun sudah tidak terlalu pusing lagi. Dia melihat Dokter Dariel tertidur dengan posisi duduk di samping tempat tidurnya. Bahkan saat tidur pun tangannya masih digenggam oleh Dokter Dariel. Dari wajah Dokter Dariel tampak kelelahan menyelimutinya. Seharian penuh dia berada di samping Dokter Viola. Hingga kini Dokter Viola bisa sembuh dengan cepat.
Sebegitu perhatiannya Dariel kepadaku. Sepertinya dia sangat khawatir dengan keadaanku saat ini. Dia sampai rela seharian merawatku dan bahkan kini dia tidur di sini hanya untuk menjagaku. Kenapa aku sampai tidak menyadari perasaannya kepadaku selama ini.
Dokter Viola menarik tangannya dari genggaman Dokter Dariel. Lalu membelai kepala Dokter Dariel dengan lembut. Dokter Viola tersenyum kepada Dokter Dariel yang masih tertidur dengan lelapnya. Sepertinya belaian tangan Dokter Viola membuat Dokter Dariel terbangun dari tidurnya.
"Vio, ada yang kamu butuhkan?" Dokter Dariel mengucek matanya. Terdengar suara serak khas orang bangun tidur. Dokter Dariel berusaha membuka matanya yang masih terasa lengket.
"Ah tidak, aku hanya terbangun saja. Rasanya badanku sudah baikan, kepalaku pun kini sudah tidak terlalu pusing lagi." Dokter Viola tersenyum manis kepada Dokter Dariel yang duduk di sampingnya.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sangat senang mendengarnya. Aku sangat khawatir dengan keadaanmu. Gara-gara aku, kamu jadi sakit seperti ini. Maafkan aku Vio." Dokter Dariel menempelkan punggung tangannya di kening Dokter Viola untuk memastikan keadaan Dokter Viola sudah baikan dengan mengecek suhu tubuhnya.
"Kamu jangan berkata seperti itu Riel, kamu tidak salah kok. Justru aku mau mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Karena kamu telah merawatku hingga aku sembuh." Dokter Viola berusaha duduk di tempat tidur. Dengan tanggap Dokter Dariel pun membantu Dokter Viola untuk duduk dan bersandar di bantal.
"Itu sudah menjadi kewajibanku Vio. Jangankan hanya merawatmu, bahkan untuk melayanimu seumur hidupku pun aku rela. Asalkan kamu bahagia." Dokter Dariel berkata dengan tulus. Tampak raut wajahnya yang lembut.
Dokter Viola pun tersipu. Wajahnya kini sudah tampak bersemu merah. Dia tersenyum malu.
__________________________________
Semua tamu undangan tampak bertepuk tangan dengan riuh setelah mendengarkan Aldi berbicara di atas panggung. Aldi pun tersenyum lalu menundukkan kepalanya dengan sopan kepada semua tamu undangan yang hadir di depannya. Lalu Aldi mulai turun dari atas panggung dengan perasaan yang lega.
Aldi menghampiri Aishah yang duduk satu meja bersama dengan pakdhe dan budhenya.
"Aish, aku benar-benar minta maaf kepadamu dan kepada Pakdhe dan Budhe. Aku tidak tahu jika Viola akan berbuat seperti itu dan mengacaukan acaramu malam ini." Dari raut wajah yang terpancar, Aldi tampak merasa sangat bersalah kepada Aishah.
"Sudahlah Di tidak apa-apa. Acaraku tidak kacau kok. Mungkin yang perlu kamu lakukan saat ini adalah menjelaskan semuanya kepada Dokter Viola tentang kesalah pahaman ini. Jika memang diperlukan, aku akan membantumu untuk berbicara langsung kepada Dokter Viola." Aishah berdiri lalu tersenyum manis kepada Aldi.
"Terima kasih Aish, kamu memang orang yang sangat baik. Semoga usahamu ini bisa maju pesat." Aldi menundukkan kepalanya kepada Aishah beserta pakdhe dan budhenya.
"Sama-sama Aldi. Terima kasih juga karena kamu sudah meluangkan wantumu untuk datang di acaraku malam hari ini." Aishah juga menundukkan kepalanya kepada Aldi.
Kemudian acara berlangsung dengan lancar. Semua tamu yang hadir tampak menikmati hidangan yang disediakan dengan lahapnya. Menu yang dihidangkan oleh katering Aishah memang sangat nikmat. Hingga akhir acara Aldi dan Aishah tampak bahagia. Mereka tak melepaskan senyum di bibir mereka.
Setelah acara selesai, semua tamu pun satu persatu mulai berpamitan untuk pulang. Sebelum pulang, para tamu undangan bersalaman dan memberi selamat kepada Aishah beserta pakdhe dan budhenya.
"Selamat ya Aish atas dibukanya cafe baru kamu, semoga semakin sukses ke depannya." Aldi bersalaman kepada Aishah untuk memberikannya selamat.
"Iya Aldi, sama-sama." Aishah membalas salaman Aldi disertai senyumnya yang sangat menawan.
Setelah acara selesai, Aishah segera pulang ke rumah pakdhe dan budhenya. Sebelum dia pulang, Aishah sudah memastikan bahwa semuanya sudah beres. Kemudian untuk persiapan pembukaan cafe hari pertama besok juga sudah disiapkan Aishah dengan baik.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Aishah merasa sangat lelah. Namun, semua lelah yang dirasakannya terbayar sudah dengan hasil yang diperolehnya. Walaupun sempat ada kendala dalam acaranya, namun semua kendala dapat teratasi, sehingga acara bisa berjalan dengan lancar.
Malam ini pun Aishah bisa tidur dengan nyenyak. Karena besok pagi Aishah masih harus bekerja di kantor Aldi. Aishah sudah mempertimbangkan dengan matang rencananya untuk keluar dari kantor Aldi. Karena dia sudah merasa kewalahan dengan pekerjaannya yang banyak.
Hari sudah pagi, Aishah sudah siap untuk berangkat bekerja. Kini Aishah beserta pakdhe dan budhenya sudah
mengelilingi meja makan untuk sarapan pagi mereka. Setelah sarapan pagi, Aishah segera berpamitan untuk berangkat bekerja.
Aishah segera menuju meja kerjanya. Hari ini Aishah merasa tidak enak hati. Semua karyawan yang hadir dalam acaranya tadi malam masih membicarakan kedekatannya dengan Aldi. Gosip mengenai hubungannya dengan Aldi pun semakin menyebar ke seluruh kantor.
Aishah tidak mengira kalau masalah ini masih diperbincangkan di kalangan karyawan. Karena setahu Aishah masalahnya dengan Aldi sudah selesai. Tapi ternyata kini gosip itu semakin hangat diperbincangkan. Bahkan semua karyawan tampak tidak suka dengan Aishah. Melalui tatapan mereka, Aishah merasa dikucilkan. Sampai ada beberapa karyawan yang dengan terang-terangan membicarakan hubungan Aishah dengan Aldi.
"Eh pantas ya si Aishah itu, baru bekerja sebentar di kantor ini saja sudah mendapat promosi untuk naik jabatan. Ternyata tidak tahunya dia ada main dengan Pak Aldi." Salah satu karyawan berbicara dengan lantangnya dengan karyawan lain ketika Aishah lewat di dekatnya.
"Iya ya, padahal dulu aku kira Aishah itu benar-benar wanita yang sholeh log. Dia kan selalu memakai kerudung. La kok ternyata kerudungnya itu hanya dia gunakan sebagai kedok kebusukannya." Karyawan lain menanggapi dengan antusias.
Gosip yang beredar kini semakin gencar merebak di seluruh penjuru kantor. Hingga Aldi pun mendengarnya. Aldi semakin merasa bersalah kepada Aishah. Dia pikir dengan klarifikasinya dalam acara Aishah kemarin sudah menyelesaikan masalah ini. Namun, ternyata masalah ini semakin menjadi-jadi.
"Aku harus turun tangan. Aku akan mencari tahu siapa dalang dari semua ini. Pasti sekarang Aishah merasa sangat sedih." Aldi menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya dengan keras.
Lalu Aldi memanggil sekretarisnya untuk datang menemuinya di ruangannya. Aldi pun menekan tombol telepon untuk memanggil sekretarisnya melalui sambungan telepon. Setelah mendapat jawaban dari seberang telepon Aldi pun berbicara dengan tegasnya.
"Segera datang ke ruanganku sekarang juga. Ada hal penting yang harus aku bicarakan." Lalu Aldi menutup teleponnya.
Tidak lama kemudian, sekretarisnya pun datang ke ruangannya.
"Pagi, silahkan duduk." Aldi menyuruh sekretarisnya untuk duduk di kursi depan mejanya. Sekretaris itupun segera menuruti perintah dari atasannya itu.
"Kamu pasti sudah tahu kan gosip yang sedang beredar di kantor ini?" Aldi menatap sekretarisnya yang duduk di seberang meja depannya.
"Iya Pak, saya sudah tahu." Sekretaris itu berbicara dengan menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu segera cari tahu siapa dalang dari masalah ini. Aku tidak mau masalah ini semakin melebar." Aldi berdiri lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Kemudian Aldi berjalan menuju dinding kaca besar di sudut ruangan yang memperlihatkan ramainya suasana kota di bawah sana.
"Baik Pak, saya akan segera mencari tahu biang dari masalah ini." Sekretaris Aldi dengan cepat dapat mengerti apa yang diperintahkan kepadanya. Karena sekretaris Aldi memang sudah bekerja lama di kantor itu. Bahkan sebelum Aldi masuk ke dalam kantor itu. Dulunya, sekretaris itu bekerja sebagai sekretaris ayah Aldi.
Lalu sekretarisnya meminta izin untuk keluar. Aldi masih berdiri di depan kaca sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana. Terdengar suara pintu diketuk. Aldi mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk ke ruangannya. Dan ternyata orang itu adalah Aishah.
"Maaf Pak saya minta izin mengganggu waktu Bapak sebentar." Aishah masuk lalu menundukkan kepalanya kepada Aldi.
"Silahkan duduk." Aldi berjalan menuju meja kerjanya lalu duduk di kursinya.
"Ada apa Aish?" Setelah Aishah duduk, Aldi segera melayangkan pertanyaan kepadanya.
__ADS_1
"Begini Pak, saya ingin mengajukan surat pengunduran diri saya." Aishah menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Aldi.
Aldi sangat terkejut karena Aishah yang tiba-tiba ingin keluar dari pekerjaannya. Padahal Aishah kini sedang mendapatkan promosi untuk naik jabatan. Aldi semakin merasa bersalah kepada Aishah.
Apakah Aishah ingin keluar dari pekerjaannya kini karena gosip yang beredar tentang kedekatanku dengannya ya?
"Tapi kenapa kamu tiba-tiba ingin keluar dari pekerjaanmu Aish? Bukankah saat ini kamu sedang mendapat promosi untuk naik jabatan?" Aldi mengernyitkan dahinya. Dia merasa sangat penasaran dengan alasan Aishah untuk keluar dari pekerjaannya.
"Benar sekali Pak. Tapi sepertinya saya sudah tidak bisa bekerja di sini lagi." Aishah menundukkan kepalanya. Keputusannya kini sudah bulat untuk keluar dari pekerjaannya.
"Apakah semua itu karena gosip tentang kedekatan kita yang sedang menjadi bahan perbincangan seluruh isi kantor?" Aldi mencoba menebak alasan Aishah untuk keluar dari pekerjaannya.
"Bukan Pak. Bukan karena itu. Saya ingin berhenti bekerja karena usaha saya yang tidak bisa ditinggalkan. Kini saya sudah mulai kewalahan dalam mengurus semua pekerjaan saya yang banyak. Saya ingin fokus dengan usaha saya saja." Aishah menjelaskan panjang lebar tentang alasannya untuk berhenti bekerja.
"Tapi bukankah selama ini semuanya baik-baik saja. Semua biss kamu tangani dengan baik. Lagipula masih ada pakdhe dan budhe yang membantu mengurus usahamu kan?" Aldi berusaha menahan Aishah agar tetap bekerja di kantornya.
"Benar Pak, tapi semenjak saya membuka cabang cafe saya yang baru, saya mulai merasa kewalahan. Takutnya nanti pekerjaan saya tidak bisa saya selesaikan dengan maksimal karena pikiran saya yang terpecah-pecah." Aishah masih bersikeras untuk berhenti bekerja.
"Kamu benar juga. Jika kamu terus memaksakan menyelesaikan semua pekerjaanmu yang banyak itu, kamu akan memforsir tenagamu. Dan pasti itu tidak akan baik untuk kesehatanmu." Akhirnya Aldi pun bisa memahami alasan Aishah untuk berhenti bekerja. Aldi juga tidak ingin membuat Aishah terlalu kelelahan karena harus mengurus pekerjaan sekaligus usahanya.
"Terima kasih Pak atas pengertiannya. Jadi mulai kapan saya sudah boleh berhenti untuk bekerja Pak?" Aishah mengernyitkan dahinya.
"Saya belum mengizinkan kamu berhenti bekerja sebelum masalah tentang gosip kedekatan kita selesai. Saya ingin masalah ini selesai dulu. Aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut dan membuat citra perusahaan ini menjadi buruk." Tatapan Aldi terbang jauh menembus kaca jendela melihat awan biru yang cerah di atas langit.
"Saya harap kamu bisa mengerti Aish, jika kamu keluar saat ini. Pasti semua karyawan akan menganggap bahwa gosip ini benar. Jadi saya mohon kamu jangan berhenti bekerja dulu. Aku akan segera temukan orang yang ada di belakang dari semua masalah kita ini." Aldi menatap Aishah dengan lembut.
"Baik Pak, saya akan menuruti semua perintah Bapak. Demi nama baik perusahaan ini, saya akan berhenti bekerja setelah semua masalah ini selesai." Aishah kembali menundukkan kepalanya.
"Maaf ya Aish. Karena aku, kamu jadi harus menanggung semuanya. Kamu tenang saja, semua akan segera selesai." Aldi meyakinkan Aishah dengan perkataannya yang meyakinkan.
"Tidak apa-apa Pak, saya yakin semua akan segera terselesaikan. Karena ini semua hanya kesalahpahaman saja." Aishah tersenyum kepada Aldi.
"Terima kasih Aishah." Aldi pun membalas senyuman Aishah.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan." Aishah berdiri lalu menundukkan kepalanya dengan sopan kepada Aldi sebagai batasannya.
"Baiklah." Aldi juga berdiri dan mempersilahkan Aishah untuk keluar dari ruangannya.
Kemudian Aishah berjalan keluar ruangan Aldi. Ketika baru keluar dari ruangan Aldi, sudah ada dua karyawan wanita yang memperhatikan Aishah sambil berbisik-bisik. Sepertinya mereka tengah membicarakan Aishah. Itu dapat terlihat dari tatapan mata mereka yang terlihat sinis.
Tanpa memperdulikan dua karyawan tersebut, Aishah melenggang begitu saja berjalan melewati mereka. Aishah tidak peduli lagi dengan gosip murahan yang sudah ramai diperbincangkan seluruh isi kantor. Karena dia yakin, jika dirinya memang tidak seperti gosip yang sedang beredar. Kebenaran pasti akan menang.
Sepertinya aku memang harus menjelaskan semua masalah ini dengan Dokter Viola. Aku tidak mau jika Dokter Viola semakin berpikir yang tidak-tidak tentang diriku dan Aldi. Aku juga tidak mau jika hubunganku dengan Dokter Viola menjadi renggang gara-gara salah paham ini.
__ADS_1
Pikiran Aishah terus berkecamuk. Aishah memang tampak tidak terlalu memperdulikan gunjingan para karyawan yang terus saja mendesaknya. Namun, jauh di dalam hatinya, Aishah ingin segera mengakhiri masalah ini.
Sepertinya semua yang telah dikatakan Aldi tadi ada benarnya juga.