Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Radit Lumpuh


__ADS_3

Pak Joko melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul 06.00 pagi, Pak Joko masih dengan sabarnya menunggu Radit di ruang ICU. Ia tak tega jika harus meninggalkan Radit seorang diri. Apalagi jika Pak Joko menemui Aishah saat ini dan Aishah bertanya tentang keadaan suaminya kepadanya. Entah ia harus menjawab apa, karena jika saja Aishah mengetahui keadaan Radit saat ini, pasti Aishah akan semakin terpukul.


Kesedihan Aishah karena telah kehilangan kandungan saja sudah membuatnya sangat terpukul, apalagi jika Aishah sampai mengetahui keadaan suaminya yang memprihatinkan saat ini. Pasti Aishah akan semakin sedih. Pikir Pak Joko.


Selang beberapa menit, terlihat jari telunjuk Radit bergerak perlahan. Pak Joko segera mengamati lebih dekat, untuk memastikan apa yang baru saja dilihatnya adalah benar. Dan benar saja, Radit menggerakkan jari-jarinya diikuti dengan gerakan kepala. Radit mulai membuka matanya secara perlahan. Pak Joko merasa sangat senang, ia sangat bersyukur karena doanya telah dikabulkan dan Radit benar-benar sadar.


Dengan langkah seribu Pak Joko segera keluar untuk mencari dokter. Pak Joko memanggil seorang dokter yang kebetulan lewat di depan ruang ICU.


"Dok, pasien di ruang ICU sudah siuman." Dengan nada suara yang agak keras Pak Joko memberitahu dokter yang lewat tadi tentang keadaan Radit. Dokter itu segera masuk ke dalam ruang ICU dan memeriksa keadaan Radit.


"Bagaimana dok, keadaannya saat ini?" Pak Joko segera melemparkan pertanyaan kepada dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Radit.


"Pak Radit sudah siuman, tapi mungkin untuk waktu yang cukup lama, Pak Radit harus istirahat total terlebih dahulu di sini. Baru setelah keadaannya benar-benar pulih, Pak Radit baru boleh menjalani rawat jalan. Tapi semua itu tergantung kepada perkembangan kesehatan Pak Radit sendiri. Jika Pak Radit bisa pulih dengan cepat, itu akan membuat Pak Radit semakin cepat pulang." Dokter itu menjelaskan panjang lebar.


"Iya dok, terima kasih." Pak Joko menjabat tangan dokter dengan antusias saking senangnya. Pak Joko mendekati Radit, melihat lebih dekat perkembangan keadaannya saat ini.


"Pakdhe, bagaimana keadaan Aish saat ini?" Radit mencoba berbicara dengan terbata. Lalu, dengan susah payah Radit berusaha untuk bangun.

__ADS_1


"Kenapa ini, kenapa kakiku tidak bisa digerakkan!" Radit mencoba menggerakkan kakinya dengan sekuat tenaga, namun tak juga membuahkan hasil. Pak Joko merasa bingung, akhirnya Pak Joko memutuskan untuk memanggil dokter.


Setelah bertemu dengan dokter, Pak Joko beserta dokter itu menuju ruang ICU tempat Radit dirawat. Lalu dokter memeriksa kaki Radit. Dokter itu terlihat beberapa kali mengetuk kaki Radit, namun Radit tidak memberikan reaksi apapun.


"Ada apa dok dengan kaki saya? Kenapa kaki saha tidak bisa digerakkan sama sekali?" Radit mencoba mengangkat kakinya dengan tangan untuk turun dari tempat tidur. Namun semakin Radit mencoba untuk menggerakkan kakinya, semakin sulit pula kakinya bergerak. Kakinya kini mati rasa.


"Sangat disayangkan, kaki anda mengalami kelumpuhan. Ada beberapa saraf yang tidak bisa berfungsi dengan baik." Dokter itu terus memeriksa keadaan kaki Radit.


"Apa! tidak mungkin! Aku tidak mungkin lumpuh, dokter pasti salah!" Radit mulai histeris. Radit tidak percaya akan apa yang dialaminya, dadanya sangat sesak, dirinya kini seperti dihembas ombak besar yang membuatnya hanyut terbawa alirannya, entah bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri. Bahkan untuk mengangkat kepalanya saja, terasa sangat berat. Pak Joko yang sedari tadi menjadi saksi dalam kebisuan, berusaha untuk menenangkan Radit.


"Tapi Pak Radit jangan putus asa dulu, karena kasus ini sering dialami oleh pasien seperti Pak Radit. Kasus ini terjadi karena kaki pasien pernah mengalami benturan yang cukup keras dalam waktu yang cukup lama, hingga membuat syaraf-syaraf yang berada di kaki Pak Radit tidak dapat berfungsi dengan baik atau bisa dikatakan syaraf pada kaki Pak Radit mengalami kerusakan. Tapi Pak Radit tenang saja, Pak Radit masih memiliki harapan untuk sembuh dan dapat berjalan kembali." Dokter tersenyum dan membuat harapan Radit untuk sembuh tumbuh kembali.


"Tentu saja, dengan syarat, Pak Radit harus selalu menjaga pola hidup sehat dan melakukan terapi secara rutin, hingga kaki Pak Radit benar-benar sembuh." Penjelasan dari dokter itu benar saja membuat semangat Radit kembali menyala, setelah hampir padam. Kemudian dokter meninggalkan ruang ICU.


Tinggallah Radit dan Pak Joko. Pak Joko yang sedari tadi hanya berdiam diri akhirnya angkat bicara.


"Kamu pasti bisa Radit, kamu pasti akan segera sembuh." Pak Joko menatap Radit dengan tatapan yang meyakinkan. Radit hanya diam sambil memperhatikan perkataan Pak Joko. Radit terdiam, merenungi nasibnya.

__ADS_1


Lalu Radit kembali teringat kepada Aishah.


"Bagaimana dengan keadaan Aish Pakdhe?" Radit tampak cemas. Pak Joko terdiam, otaknya bekerja keras, mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Radit. Pak Joko harus menyusun kata yang tepat, agar Radit tidak khawatir berlebihan sehingga membuat keadaannya semakin memburuk.


"Aishah sekarang sudah dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan Aish sudah dirawat di ruang perawatan." Pak Joko menghentikan perkataannya.


"Syukurlah, lalu kandungannya juga baik-baik saja kan Pakdhe?" Radit masih penasaran. Pak Joko terdiam, kepalanya menunduk ke bawah, raut wajahnya kini berubah pilu.


"Itu yang menjadi masalahnya Radit. Sangat berat harus ku katakan, bahwa kandungan Aish tidak bisa diselamatkan." Suara Pak Joko terdengar getir.


"Apa! Jadi anakku tidak bisa diselamatkan?" Radit mulai histeris.


"Saat terjatuh dari dalam mobil, perut Aish mengalami benturan hebat sehingga membuat kandungan Aish mengalami keguguran. Bahkan dokter mengatakan, saat Aish di bawa kesini, bayi dalam kandungan Aish sudah tidak bernyawa lagi." Pak Joko merasa bahwa perkataannya sudah cukup membuat Radit paham. Sepertinya jika ia menyampaikan lebih detail, akan mengganggu pikiran Radit dan mempengaruhi perkembangan kesehatannya, jadi Pak Joko menghentikan perkataannya.


"Tidak mungkin Pakdhe! Anakku pasti baik-baik saja. Aku tidak mungkin kehilangan anakku! Aku tidak mau anakku meninggal!" Duar… bagai disambar petir di siang hari. Hatinya dirundung kesedihan yang mendalam. Anak yang selama ini sangat dinanti-nantikannya harus meninggalkannya bahkan sebelum dilahirkan ke dunia. Radit mulai terisak, dadanya sangat sesak, bahkan nafasnya pun memburu. Hatinya hancur berkeping-keping dengan keadaannya saat ini.


Radit semakin histeris, bahkan lebih histeris dari Aishah. Memang selama ini Raditlah orang yang paling bahagia dan sangat menginginkan segera ingin memiliki anak. Anak yang sangat dinantikannya, bahkan dapat mengubahnya menjadi seorang malaikat yang sangat baik hati. Mengubah sikap kasarnya menjadi selembut kapas. Selepas kejadian ini apakah Radit masih bisa mempertahankan sikap lembutnya, ataukah kembali dengan sikap kasarnya dulu, entahlah.

__ADS_1


Radit teringat akan kata-kata ibunya dulu. Ibu Radit tidak menyetujui hubungannya dengan Bella, sehingga Ibu Radit ingin melihat Radit menikah dengan Aishah dan segera menimang cucu. Tapi semua itu hanya menjadi angan-angan semata, karena bahkan sebelum Radit menikahi Aishah, Ibu Radit sudah tak ada. Sehingga meskipun ibunya telah tiada, dengan sekuat tenaga Radit berusaha untuk memenuhi permintaan ibunya satu persatu. Dan saat ini, Radit harus kehilangan calon anaknya, kehilangan orang yang sangat disayangi untuk yang kedua kalinya.


__ADS_2