Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Berbuat Semena-mena


__ADS_3

"Mbok Minaaahh. . . !" Bella berteriak-teriak. "Di mana sih pembantu di rumah ini? Sejak tadi dipanggil tidak menyahut." Bella mulai kesal.


"Iya mbak sebentar. . ." Terdengar suara Mbok Minah dari dapur. Tak beberapa lama Mbok Minah muncul di hadapan Bella.


"Lelet banget sih, cepat ke sini sekarang juga!" Bella marah-marah.


"Iya Mbak, ada apa?" Mbok Minah menghadap Bella dengan tergopoh-gopoh.


"Dasar pembantu tidak becus, kalau aku panggil itu segera datang, jangan malah mengurusi yang lain! Aku ini sekarang sudah menjadi majikanmu. Jadi jangan coba-coba untuk menguji kesabaranku!" Bella berkata dengan ketus.


"Maafkan saya Mbak, saya tadi sedang mencuci piring di dapur."Mbok Minah mencoba membela diri.


"Mbak Mbek Mbak Mbek! Kamu pikir aku ini Mbak mu apa? Panggil aku Nyonya!" Bella melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ba baik Nyonya." Mbok Minah terbata saking takutnya. Mbok Minah menundukkan kepalanya tanpa berani memandang wajah Bella sedikit pun.


"Sekarang juga kamu buang semua barang-barang sampah yang ada di rumah ini!" Bella menunjuk foto-foto yang terpajang di dinding.


Mbok Minah terdiam, matanya terus memandangi foto-foto yang selalu dirawatnya dengan baik itu. Ia ragu untuk membuang semua foto-foto yang sangat berharga bagi majikannya yang dulu itu. Selama bekerja di rumah itu, Mbok Minah tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk, apalagi sekasar Bella. Sehingga perlakuan Bella yang semena-mena itu membuat Mbok Minah kaget setengah mati.


"Tunggu apa lagi!" Bella membentak Mbok Minah yang berdiri mematung. Seketika itu, Mbok Minah hampir melompat dari tempatnya saking kagetnya.


"I iya Nyonya." Dengan langkah seribu, Mbok Minah segera menurunkan semua pigura foto yang terpajang dengan apik di dinding.


"Kenapa cuma yang itu! Aku bilang apa tadi? Se-mu-a-nya! Aku tidak mau ada barang rongsokan yang mengotori rumah ini. Kalau nanti masih kulihat sampah ada di rumah ini, awas saja kamu! Bersiap-siaplah untuk kehilangan pekerjaanmu!" Bella marah-marah sambil menunjuk kening Mbok Minah.


Mbok Minah yang sudah ketakutan setengah mati, sampai menggigil. Kakinya yang menggigil, tak dapat ia tahan lagi. Mbok Minah segera mengumpulkan semua foto keluarga Radit dan membawanya ke dapur.


"Sayang sekali jika harus membuang semua barang-barang ini. Inikan barang yang sangat berharga bagi Mas Radit. Pasti Mas Radit akan sangat sedih jika tahu semua barang-barang Ibunya harus dibuang." Mbok Minah termenung melihat semua barang milik Ibu Radit.

__ADS_1


Akhirnya, ia memiliki ide untuk menaruh semua barang Ibu Radit di gudang. Ia akan merawatnya di sana. Tentunya, tanpa sepengetahuan Bella. Dengan hati-hati, Mbok Minah memindahkan semua barang itu ke gudang. Ia menyimpannya di dalam kardus besar agar tidak berdebu, lalu ia beri tanda silang di bagian luar kardus untuk membedakannya dengan kardus yang lain. Kemudian kardus itu ia tumpuk bersama tumpukan kardus lainnya.


"Pasti wanita jahat itu tidak akan tahu." Gumam Mbok Minah.


Lalu Mbok Minah kembali menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Tiba-tiba, terdengar suara bel pintu depan berbunyi. Mbok Minah segera berlari untuk melihat siapa yang bertamu.


Ceklek, suara pintu terbuka.


"Eh Tuan Besar." Mbok Minah menundukkan kepalanya sopan.


"Apakah Bella ada di sini?" Pak Banu masuk ke dalam rumah, lalu celingak-celinguk mencari seseorang.


"Iya Tuan" Mbok Minah menghentikan langkahnya.


Pak Banu segera membuka pintu kamar satu persatu untuk mencari keberadaan Bella. Kemudian menemukan Bella di salah satu kamar di lantai atas. Betapa terkejutnya Pak Banu dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Bella!" Pak Banu mendobrak masuk ke dalam kamar yang digunakan Bella bersama Sekretarisnya. Bella dan Sekretarisnya sedang bermesraan di dalam sana. Bahkan Bella hanya memakai pakaian dalam saja. Dan Sekretarisnya bertelanjang dada dengan hanya memakai celana kolor.


Sial, kenapa si tua bangka ini bisa ada di sini!


"Lepaskan aku!" Bella mencoba melawan dengan sekuat tenaganya, namun kekuatannya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Pak Banu.


Kemudian Sekretarisnya itu membalas pukulan Pak Banu dan berusaha membantu Bella untuk lepas dari tangan Pak Banu. Pak Banu jatuh tersungkur, kemudian Sekretarisnya itu terus memukuli Pak Banu sampai babak belur. Adu pukul pun tak dapat terelakkan lagi. Karena Pak Banu berhasil melawan Sekretarisnya itu dan hampir menang, Bella mengambil vas bunga yang berada di atas meja. Kemudian dengan kuat Bella memukul kepala belakang Pak Banu dengan vas bunga itu.


Prang…


Suara kaca pecah menggema di dalam kamar itu. Darah segar mulai mengalir di pelipis Pak Banu. Pak Banu mulai tak sadarkan diri.


"Kenapa bisa jadi seperti ini?" Sekretaris itu panik.

__ADS_1


"Aku juga tidak menyangka kalau si tua bangka itu akan kembali secepat ini. Pasti ini semua ulah Radit, Radit sengaja memberitahu Ayahnya tentang apa yang sudah kulakukan padanya. Dasar tukang ngadu!" Bella menggigit jari-jarinya. Bella berjalan mondar-mandir memikirkan apa yang akan diperbuatnya selanjutnya.


"Lalu bagaimana ini?" Sekretaris itu mengecek nafas Pak Banu.


"Bagaimana kalau kita bunuh saja si tua bangka ini." Dengan sadisnya, Sekretaris itu menatap Bella dengan tatapan licik.


Bella terdiam sejenak melihat Pak Banu yang tergeletak tak sadarkan diri dengan muka penuh luka lebam dan darah yang keluar dari kepalanya.


"Tidak mungkin! Polisi pasti akan menyelidikinya, dan kita bisa dipenjara." Bella berkata dengan suara pelan.


"Lalu rencanamu selanjutnya apa?" Sekretaris itu mendesak Bella.


"Kita bawa saja si tua bangka ini ke rumah sakit." Bella mengusulkan hal aneh.


"Apa kau sudah gila?" Sekretaris itu menyeringai.


"Kita katakan saja kalau tua bangka ini kita temukan di jalan sedang dipukuli oleh segerombolan jambret yang akan mencuri uangnya." Bella tersenyum licik.


"Bagus juga idemu." Sekretaris itu memuji Bella kemudian mendekat lalu mencium bibir seksi Bella dengan penuh gairah.


"Hentikan! Kita urus dulu tua bangka sialan ini." Bella mendorong tubuh Sekretaris yang sudah menempel di tubuhnya itu hingga Sekretaris itu mundur beberapa langkah ke belakang.


"Baiklah." Sekretaris itu tersenyum nakal.


Lalu mereka mengenakan pakaian mereka masing-masing. Sekretaris itu memapah Pak Banu yang terkulai pingsan. Bella membantu memapahnya menuruni anak tangga. Setelah sampai di bawah, Mbok Minah dan Pak To tengah membersihkan ruangan tengah. Sepasang suami istri itu sangat kaget dengan apa yang dilihatnya. Namun, mereka tidak ada nyali untuk bertanya, bahkan melihat pun dengan sembunyi-sembunyi.


Ternyata, Bella menyadari tatapan curiga dua pembantunya itu.


"Kalian harus tutup mulut! Jangan bilang kepada siapa pun tentang apa yang kalian lihat saat ini!" Bella menghentikan langkahnya, lalu menatap kedua pembantunya itu dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


Kedua pembantu itu hanya menunduk tanpa berani melihat Bella sedikit pun. Mereka menganggukkan kepala bersamaan. Lalu Bella dan Sekretaris itu pergi membawa Pak Banu. Bella mengambil mobilnya, lalu membantu memapah Pak Banu masuk ke dalam mobil. Sekretaris itu segera duduk di belakang kemudi, diikuti Bella yang duduk di sampingnya. Dengan cepat mobil itu pergi dari halaman rumah yang luas itu menuju rumah sakit.


__ADS_2