
Dua jam perjalanan telah dilalui, akhirnya Aishah dan Radit sampai di halaman depan rumah Aishah. Nampaknya Aishah masih terlelap di bahu Radit dengan pulasnya. Radit tak tega jika harus membangunkannya. Radit hanya mengelus lembut pundak Aishah.
Dari pintu depan, terlihat Pak Joko dan Bu Sekar keluar dari dalam rumah. Aishah mulai menggerakkan kepalanya. Aishah nampak kaget karena mendapati dirinya tidur bersandar di bahu Radit.
"Maaf Kak, aku tertidur tadi. Apakah kita sudah lama sampai?" Aishah melihat ke sekeliling, dan ternyata ia sudah sampai di halaman depan rumah. Aishah melihat Pakdhe dan Budhenya sedang memperhatikan mereka dari depan pintu. Aishah segera membuka sabuk pengamannya.
"Tidak apa-apa, aku tidak tega saja mengganggu tidurmu yang nyenyak."
Tampak Aishah malu-malu mendengar ucapan Radit. Aishah segera keluar dari mobil kemudian diikuti oleh Radit.
"Assalamu'alaikum"
Aishah menghampiri Pakdhe dan Budhenya untuk bersalaman.
"Wa'alaikum salam, kalian sudah pulang?" Bu Sekar menjawab salam dari Aishah. Dan Aishah hanya menganggukan kepalanya.
"Sudah malam, Radit langsung pulang saja Pakdhe, Budhe." Radit bersalaman dengan Pak Joko dan Bu Sekar.
"Ya sudah hati-hati di jalan." Pak Joko mengijinkan Radit untuk segera pulang. Karena memang waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Aishah segera masuk ke dalam kamarnya. Aishah mandi dengan air hangat lalu mengambil air wudhu. Aishah bergegas mengerjakan sholat isya terlebih dahulu. Setelah itu, Aishah membaringkan dirinya di tempat tidur.
Aishah mengambil ponselnya lalu melihat-lihat hasil jepretannya di pantai tadi. Aishah merasa sangat senang hari ini. Aishah senyum-senyum sendiri melihat foto di ponselnya. Beberapa pesan WhatsApp masuk ke ponselnya. Aishah membukanya, dan ternyata dari Radit.
Radit : Terima masih untuk hari ini.
Radit mengirimkan satu pesan diakhiri dengan emoticon tersenyum.
Aishah : Sama-sama kak, Aish juga senang bisa melihat sunset di pantai bersama Kak Radit.
Radit : Selamat malam, tidur yang nyenyak.
Aishah meletakkan ponselnya di meja, lalu membaringkan tubuhnya untuk tidur.
______________________________________________
Radit nampak sibuk dengan ponselnya. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil menyandarkan kepalanya di bantal.
Awal yang baik, kelihatannya Aishah sudah mulai merasa nyaman denganku. Pokoknya aku harus berusaha semakin keras untuk mendapatkan hati Aishah.
Radit bergumam sendiri di kamar hotelnya. Radit mengambil sebatang rokok yang tergeletak di meja dekat tempat tidurnya. Ia menyulut sebatang rokok yang berada di mulutnya, kemudian kepulan asap mulai keluar dari dalam mulutnya.
Radit memegangi sebuah bingkai foto di tangannya, kemudian ia memandangi wajah seorang wanita yang tengah memeluk putranya dari belakang. Tampak kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua orang di dalam foto tersebut. Radit terus memandangi foto tersebut hingga matanya mulai berkaca-kaca. Kemudian Radit memeluk erat foto itu sampai ia tertidur.
______________________________________________
__ADS_1
Di meja makan, Aishah, Bu Sekar dan Pak Joko tengah menikmati sarapan pagi mereka.
"Rencananya nanti Aish akan mengajukan cuti untuk satu minggu."
"Kamu jadi pulang ke kampung nduk?"
"Iya Budhe, Aish mau meminta restu dari Bapak dan Ibu di kampung."
"Jadi Aish sudah setuju menikah dengan Radit?" Tanya Pak Joko
"Insyaallah Pakdhe."
Selesai sarapan, Aishah segera berangkat ke kantor. Kali ini Aishah berangkat dengan mengendarai sepeda motornya.
Sampai di kantor Aishah segera menuju meja kerjanya. Aishah mengerjakan seluruh pekerjaannya dengan cepat. Ia harus menyelesaikan proyek yang dipegangnya dengan segera, agar bisa mendapatkan cuti. Tiba-tiba Aldi menghampirinya.
"Aish, tadi aku dapat perintah dari Pak Bima untuk membantu menyelesaikan proyek yang kamu tangani. Sepertinya proyek ini harus segera diselesaikan."
Aldi berdiri di depan meja sambil membaca file yang tergeletak di atas meja kerja Aishah.
"Apakah kamu sudah mempelajarinya?" Aishah mendongak.
"Kemarin waktu rapat aku sudah mempelajarinya sedikit." Radit sibuk membaca file di tangannya.
"Ini beberapa file yang bisa kamu kerjakan, nanti kita diskusikan bersama jika ada kesulitan."
"Oke." Aldi menerima beberapa file yang diberikan Aishah lalu kembali menuju meja kerjanya. Aldi berusaha menjaga jarak dengan Aishah, Aldi berusaha membatasi kedekatan mereka agar hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja saja.
Kenapa kamu sekarang berubah di? Kamu sudah bukan Aldi yang ku kenal lagi.
Aishah melihat Aldi pergi tanpa permisi. Aishah masih berharap hubungannya dengan Aldi bisa membaik dan kembali seperti dulu lagi.
______________________________________________
Aldi membaca beberapa file yang diberikan oleh Aishah tadi. Ia melihat informasi mengenai perusahaan Radit. Di sana tertera pula informasi tentang Presdir sekaligus pemilik perusahaan yakni seorang Banu Bramantyo. Dan Raditya Bramantyo sebagai Wakil Presiden Direkturnya.
Aldi membacanya dengan sangat teliti. Aldi memang sengaja mengusulkan dirinya untuk membantu menyelesaikan proyek Aishah. Agar dirinya bisa mencari informasi yang akurat mengenai Radit.
Ternyata Radit seorang pengusaha yang sukses. Ia memiliki banyak cabang perusahaan yang tersebar di seluruh negeri. Bahkan Radit dapat meningkatkan kemajuan perusahaan - perusahaannya dengan cepat. Kini Aldi semakin yakin melepaskan Aishah untuk Radit.
Jika bersama dengan Radit, kehidupan Aishah pasti akan terjamin. Sekarang aku tinggal mencari tahu mengenai kepribadian Radit.
Aldi mencari ponselnya lalu mencatat nomor telepon Radit. Aldi mencatat alamat rumahnya yang berada di luar kota. Namun ketika Aldi mencari alamat Radit yang ada di sini tak juga ia temui.
__ADS_1
Sepulang kantor nanti, Aldi berinisiatif untuk mencari tahu alamat tinggal Radit. Ia sempat mendengar dari Pak Bima bahwa Radit tinggal di sebuah hotel tak jauh dari kantornya.
Setelah jam pulang kantor tiba, Aldi segera menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motornya. Aldi berencana untuk mencari tahu dimana Radit tinggal. Akhirnya Aldi pergi menuju kantor Radit. Di sana tampak Radit keluar dari kantor menuju mobilnya. Aldi memperhatikan kemana Radit akan pergi dari seberang jalan.
Aldi mengikuti kemana mobil Radit pergi. Setelah beberapa lama mengikutinya, Radit ternyata tidak langsung menuju hotel tempat ia menginap. Radit masuk ke sebuah rumah dengan bangunan yang sederhana. Aldi melihat banyak anak kecil yang menyambut Radit dengan hangat di sana.
Setelah beberapa lama, Radit keluar dari rumah tersebut. Radit meninggalkan rumah tersebut dengan mobilnya. Aldi yang melihat Radit telah pergi merasa penasaran.
Rumah siapa ini? Kenapa Radit datang kemari, ada urusan apa?
Untuk memenuhi rasa penasarannya, Aldi memberanikan untuk masuk ke rumah yang sederhana tersebut. Aldi menemui salah satu wanita yang tinggal di sana.
"Permisi Bu."
Aldi memasuki halaman rumah tersebut sambil mengamati sekeliling rumah. Di depan tembok rumah terdapat plakat kecil bertuliskan PANTI ASUHAN ANANDA. Aldi baru tahu bahwa ternyata rumah itu adalah sebuah panti asuhan.
Pantas saja banyak anak kecil di sini. Lalu apa yang dilakukan Radit di sini? Apakah dia menyumbang untuk anak-anak ini?
Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di dalam pikiran Aldi.
"Iya Mas ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita tua datang menghampiri Aldi.
"Maaf Bu, saya ingin bertanya alamat, apakah Ibu tahu alamat ini?" Aldi menyodorkan sebuah catatan kecil yang sengaja ia catat tadi agar ibu tadi tidak curiga tentang dirinya yang ingin mengorek informasi mengenai Radit.
"Oh iya Mas, dari sini mas lurus saja, setelah lima ratus meter nanti ada pertigaan Mas belok kanan, nanti di sana Mas tinggal cari nomor rumahnya."
Radit mengagguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Walaupun sebenarnya ia telah mengetahui alamat tersebut. Kebetulan Aldi memiliki teman di sekitar sana. Tapi Aldi tak pernah memperhatikan ada panti asuhan di sekitar sini.
"Apakah ini sebuah panti asuhan Bu?" Aldi memulai percakapan dengan Ibu tadi.
"Iya Mas."
"Sepertinya saya melihat mobil Pak Radit keluar dari sini tadi?"
"Benar Mas mobil tadi adalah Pak Radit anak dari pendiri panti asuhan ini."
"Oh kebetulan saya adalah teman Pak Radit."
"Pak Radit selalu datang kemari setiap akhir bulan, untuk memberikan rejekinya kepada anak-anak yang tinggal di sini. Bahkan beliau menjadi donatur tetap panti asuhan ini."
Ternyata Radit orang yang baik. Bahkan ia peduli kepada anak-anak di sini.
"Baik Bu terima kasih, saya permisi dulu."
__ADS_1