
"Alhamdulillah, hari ini hasil tes kaki Kak Radit menunjukkan perkembangan yang bagus." Aishah tersenyum senang sambil mendorong Radit yang berada di atas kursi roda, menyusuri koridor rumah sakit. Mereka telah selesai memeriksakan kaki Radit, dan kini mereka hendak kembali.
"Iya Aish, aku sudah tidak sabar menapakkan kakiku kembali." Radit mendongak melihat senyum indah yang terukir di wajah istrinya itu.
"Pokoknya Kak Radit harus lebih semangat lagi berlatih berjalan!" Aishah menghentikan langkahnya, kemudian membungkuk ke arah Radit dengan mengepalkan tangannya ke udara.
"Pasti! Karena aku benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan keadaan ini." Suara Radit terdengar geram.
"Kak Radit jangan bicara seperti itu. Walau bagaimanapun juga, ini semua adalah ujian dari Allah Kak. Pasti ada hikmah di balik semua masalah yang kita hadapi saat ini." Aishah mencoba menasihati suaminya yang mulai geram.
Aku tidak boleh lemah terus! Aku akan berlatih terus hingga kakiku benar-benar bisa berjalan lagi dengan cepat.
Radit bergumam dalam hati. Rupanya dia tak mau memperlihatkan kekesalannya terhadap Bella kepada Aishah. Karena pasti Aishah akan langsung menceramahinya. Radit sudah paham betul bagaimana sifat isterinya itu. Aishah yang berhati bagaikan malaikat, yang tidak pernah menyimpan dendam terhadap siapa saja. Sekalipun dengan orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Bahkan dengan mudahnya, Aishah memaafkan kesalahan mereka tanpa syarat.
Sehingga jika Aishah sudah menasehatinya, Radit lebih memilih untuk diam seribu bahasa. Radit tidak ingin, Aishah berpikir yang buruk mengenai dirinya. Lagipula, tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Radit benar-benar sudah kalah telak dari Bella.
"Sekarang kita pergi ke mall dulu ya Kak." Aishah mendorong kursi roda Radir menuju pintu keluar.
Kata-kata Aishah membuat semangat Radit berkobar kembali. Harapan mulai terlihat bersinar menyinari masalah Radit yang gelap gulita. Radit kembali bersemangat untuk membuktikan bahwa Bellalah dalang dari kecelakaan yang telah dialaminya. Radit meremas tangannya berulang kali, dia tidak sabar untuk menemukan bukti-bukti kejahatan yang telah dilakukan Bella kepadanya.
Aishah menghentikan langkahnya di depan rumah sakit, matanya menyapu halaman dan jalanan depan rumah sakit. Aishah sedang mencari-cari taksi online yang telah dipesannya. Aplikasi di ponselnya menunjukkan bahwa taksi online yang telah Aishah pesan sudah berada di sekitar rumah sakit. Aishah celingak-celinguk mencari keberadaan taksi tersebut berhenti. Akhirnya setelah beberapa lama mengamati, Aishah menemukan taksi yang dipesannya itu bertengger di pinggir jalan raya.
Aishah mendorong kursi roda Radit mendekati taksi tersebut. Lalu dengan sigap, sopir taksi yang telah menunggu kedatangan penumpangnya itu keluar dari mobil, membantu Radit untuk masuk ke dalam taksinya. Radit duduk di bangku belakang.
"Mari Mas saya bantu." Sopir taksi itu membantu Aishah memapah Radit masuk ke dalam taksinya.
__ADS_1
"Terima kasih Pak." Aishah tersenyum kepada sopir taksi itu lalu duduk di sebelah Radit.
Sopir taksi itu kembali duduk di belakang kemudinya, lalu melesatkan taksinya memecah jalanan yang ramai menuju tempat tujuan. Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di mall. Taksi yang dinaiki Radit dan Aishah mulai memasuki pelataran mall. Seperti biasa, keadaan mall sangat ramai sekali dengan pengunjung. Setelah taksi berhenti, Radit dan Aishah turun dari taksi kemudian berjalan memasuki mall.
Aishah mendorong kursi roda Radit dengan hati-hati. Karena banyaknya pengunjung yang datang, membuat Aishah harus dengan susah payah berdesak-desakan memasuki pintu masuk mall. Wajar saja, karena hari ini adalah hari Minggu. Sehingga banyak orang yang berkunjung ke mall untuk menikmati hari libur mereka. Tiba-tiba Radit menahan laju kursi rodanya, membuat Aishah terkejut.
"Ada apa Kak?" Aishah mengernyitkan dahinya.
"Aish lihat itu?" Radit menunjuk salah satu manekin yang terpajang di deretan manekin-manekin lain.
"Kenapa Kak?" Aishah masih bingung, dia belum mengerti dengan apa yang dimaksudkan Radit.
"Antar aku ke sebelah sana!" Radit menunjuk arah yang ingin dituju.
"Ayolah bawa aku ke sana." Radit masih kekeuh dengan pendiriannya.
Aishah merasa bingung sendiri. Akhirnya Aishah mengikuti saja apa kata suaminya itu dengan patuh.
"Lihat ini!" Radit menunjuk salah satu manekin yang terpajang menggunakan lingerie berwarna merah menyala.
"Memangnya kenapa dengan lingerie itu Kak?" Seketika Aishah menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia teringat akan keinginan suaminya untuk memakai baju tidur seksi itu.
"Kak Radit hanya bercanda kan?" Aishah tergelak. Namun, Radit tidak bergeming. Matanya terus menatap lingerie itu sambil membayangkan tubuh Aishah yang terbalut dengan lingerie seksi itu.
"Aku tidak sedang bercanda. Bahkan kamu sudah janji denganku, akan menuruti permintaanku itu bukan?" Radit mulai tersenyum nakal.
__ADS_1
"Tapi Kak, baju itu bahkan tidak menutupi sebagian tubuhku." Aishah menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu mengintip lingerie itu dari belahan jari-jarinya.
"Memang apa yang mau kamu tutupi dariku? Toh aku juga sudah melihat semuanya darimu." Senyum nakal yang ditunjukkan Radit semakin menjadi-jadi.
Dengan menyeret kakinya yang terasa sangat berat, Aishah perlahan mendekati lingerie itu. Dia bahkan tidak bisa membayangkan, baju kurang bahan itu menempel di tubuhnya. Aishah mengamati harga yang dibandrol di sana.
"Terlalu mahal Kak." Aishah berbisik di telinga suaminya. Aishah berpikir dengan alasan itu, Radit akan mengurungkan niatnya untuk membeli lingerie itu.
Lalu Radit memeriksa sendiri harga lingerie itu. Dulu, uang sebanyak itu tidak ada artinya baginya. Tapi sekarang, uang sebanyak itu sangatlah berarti untuknya, untuk kelanjutan hidupnya dan istrinya. Radit dan Aishah harus benar-benar menghemat uang yang masih dimiliki. Dengan berat hati, Radit mengurungkan niatnya untuk membelikan Aishah lingerie itu.
Radit benar-benar merasa sedih. Dia tidak pernah menyangka, bahwa dirinya akan jatuh miskin seperti ini. Bahkan untuk biaya pengobatannya pun ditanggung oleh Pak Joko. Dan uang yang masih dimiliki Radit saat ini, hanya cukup untuk biaya kebutuhan sehari-hari saja. Itupun hanya bisa bertahan untuk beberapa hari ke depan.
"Kak Radit jangan sedih, Aish masih memiliki uang di tabungan kok." Aishah berlutut di depan suaminya.
"Itu uangmu, hasil kerja kerasmu sebelum Aish menikah denganku. Simpan baik-baik uang itu." Radit menundukkan kepalanya.
"Uangku kan uang Kak Radit juga. Kita ini suami istri, jadi tidak ada lagi kata aku ataupun kamu. Yang ada kini hanyalah kita." Aishah menggenggam tangan Radit lalu menatap matanya dengan lembut.
"Maafkan aku sayang." Radit menggenggam kedua tangan Aishah yang berada di depannya dengan lembut, mata mereka saling bertemu pandang. Aishah tersenyum manis lalu menggelengkan kepalanya.
"Kak Radit tidak perlu minta maaf." Aishah menyentuh bibir Radit dengan jari telunjuknya.
Aku berjanji, jika aku sudah memiliki semua hartaku lagi. Aku akan membeli banyak lingerie untuk mengganti semua baju tidur Aish yang lama.
Aishah tidak bisa melihat Radit sedih. Tampak di wajah Radit kekecewaan yang mendalam. Akhirnya demi membahagiakan suaminya, Aishah membeli lingeria itu. Aishah membeli satu buah lingeria berwarna pink. Meskipun dirinya masih ragu untuk memakainya nanti.
__ADS_1