
"Aku? Tentu saja aku menyayangimu sebagai teman baikku. Aku akan selalu mendukungmu selama itu untuk kebahagiaanmu. Bahkan aku sudah menganggapmu seperti Alya, adikku sendiri."
Dengan menahan sakit hatinya Aldi terus berpura-pura tetap terlihat tegar dan tetap biasa di depan Aishah.
"Tapi, perhatianmu selama ini kepadaku, apakah hanya sebatas itu?"
Aishah masih berharap Aldi mengatakan bahwa ia menyayangi Aishah lebih dari teman. Namun, nampaknya Aldi tidak terpengaruh dan masih kekeuh dengan pendiriannya.
"Aish, kita sudah lama berteman, dan perasaan itu tetap sama, kamu adalah teman baikku dari SMA dan selamanya akan seperti itu."
Aldi mengatakannya tanpa menatap mata Aishah, bahkan sesekali Aldi menghadap ke belakang melihat-lihat keramaian mall. Semua itu Aldi lakukan untuk menutupi perasaannya yang hancur berkeping - keping seperti remahan debu. Aldi tak ingin Aishah melihat kesedihan yang terpancar sangat jelas di wajahnya, sehingga Aldi selalu mengalihkan pandangan dari Aishah.
Tampak mata Aishah mulai menganak sungai. Butiran-butiran kristal putih mulai menetes dari ujung matanya. Sekuat apapun dia menahan tak juga dapat membendung derasnya air mata yang terus mengalir di pipinya.
Tega kamu Aldi, padahal jelas sekali di wajahmu bahwa kamu sedang berbohong. Aku sangat hafal dengan sikapmu yang tidak tenang jika sedang berbohong. Tapi kenapa? kenapa kamu harus membohongi perasaanmu sendiri? Padahal aku sudah membuang jauh semua rasa maluku untuk bertanya langsung tentang perasaanmu kepadaku. Agar kamu bisa jujur kepadaku. Tapi apa, kamu malah membuat hatiku hancur. Apakah kamu benar-benar hanya menganggapku sebatas teman? Apakah kamu benar-benar tidak memiliki rasa sayang seperti aku menyayangimu?
Aishah terus saja bergumam dalam hati. Air mata yang terus mengalir hanya dia seka dengan kedua tangannya.
"Maaf Aish, tapi jangan menangis di sini nanti dilihat banyak orang." Aldi menyodorkan satu kotak tisu yang tergeletak di atas meja. Namun Aishah menolaknya dan langsung pergi meninggalkan Aldi begitu saja.
"Aish, kamu mau ke mana?" Aldi berdiri dari tempat duduknya. Aldi beranjak untuk mengejar Aishah. Namun Aishah terus pergi meninggalkan Aldi tanpa memperdulikan pertanyaan Aldi.
Namun langkah Aldi terhenti, percuma ia mengejarnya. Karena hatinya saja sedang hancur, apa yang mau dikatakannya lagi dengan Aishah. Itu hanya akan memperburuk hubungan mereka berdua. Pikir Aldi. Lalu Aldi membenamkan kepalanya di kedua tangannya yang bertumpu di atas meja. Aldi terus memukuli kepalanya sendiri.
"Bodoh… bodoh… bodoh.."
Aldi terus mengatakan bahwa dirinya bodoh. Dia merasa menjadi orang terbodoh sedunia karena telah membuat orang yang sangat dicintainya menangis. Ini pertama kalinya Aldi membuat Aishah menangis.
__ADS_1
Karena biasanya Aldi adalah orang yang selalu mengusap air mata Aishah ketika Aishah sedang menangis, selalu ada untuk Aishah saat Aishah membutuhkan, selalu melindungi Aishah dan membuatnya selalu tersenyum. Tapi apa yang Aldi lakukan kali ini telah membuat Aishah benar-benar sakit hati.
"Maaf Aish……" Aldi berteriak lirih dengan air mata yang telah membanjiri kedua tangannya.
"Ini semua demi kebahagiaanmu. Maaf aku harus menyakitimu sedalam ini. Karena kamu akan lebih sakit jika terus bersamaku."
Aldi terus bergumam lirih. Aldi benar-benar tak kuat jika harus melihat Aishah menangis. Dulu segala cara Aldi lakukan agar Aishah tidak menangis. Agar Aishah bisa tersenyum senang.
Bahkan pernah di suatu hari, Aldi rela menjadi badut agar Aishah tidak bersedih. Ketika itu Aishah dimusuhi oleh kakak kelas SMA nya, karena Aishah dianggap telah merebut pacar kakak kelas tersebut. Padahal Aishah tidak pernah melakukannya, justru pacar kakak kelasnya itu yang selalu mengganggu Aishah.
Aldi yang mengetahui hal tersebut, langsung mendatangi pacar kakak kelasnya itu dan memukulinya hingga babak belur. Sehingga membuat Aldi mendapat masalah besar. Bahkan Aldi harus mendapat skors selama seminggu dari guru kelasnya, karena terlibat perkelahian tersebut.
Namun Aldi tak pernah merasa menyesal mendapat hukuman dari gurunya. Bahkan Aldi malah merasa puas sudah membuat kakak kelasnya yang kurang ajar selalu mengganggu Aishah tersebut jera. Aishah mengetahui hal tersebut, sehingga Aishah merasa sangat bersalah.
Hingga suatu hari Aishah dan Aldi pergi ke taman, di sana ada badut yang sedang menghibur anak-anak. Aldi masih melihat wajah Aishah yang sedih dan merasa bersalah karena membuat Aldi harus dihukum. Aldi mendatangi badut tersebut tanpa sepengetahuan Aishah. Aldi mengenakan kostum badut lalu mendatangi Aishah dan memberikannya bunga mawar yang banyak. Membuat Aishah merasa sangat senang bukan kepalang.
Tiba-tiba Aldi merasa sangat pusing. Kepalanya terasa sangat sakit. Aldi tak kuat menahan berat badannya dan membuatnya jatuh terkulai di lantai. Aldi pun tak sadarkan diri. Ketika Aldi bangun, ia sudah berada di rumah sakit.
"Mas Aldi sedang berada di rumah sakit." Salah seorang laki-laki dengan kemeja berwarna putih berdiri di samping tempat tidur menjawab pertanyaannya.
"Bapak siapa?" Aldi bertanya kepada laki-laki tersebut karena merasa belum pernah melihatnya.
"Saya Manager restoran yang Mas Aldi datangi tadi, kebetulan saya teman kakek Mas Aldi. Saya sering pergi ke rumah Mas Aldi, namun sepertinya Mas Aldi tidak pernah melihat saya." Lelaki itu menjelaskan panjang lebar.
"Oh, terima kasih banyak sudah membawa saya kemari. Saya tadi hanya merasa pusing dan tidak ingat apa-apa lagi."
"Tadi Mas Aldi pingsan, makanya langsung saya bawa kemari, saya sudah menghubungi kakek Mas Aldi, sebentar lagi pasti beliau kemari."
__ADS_1
Dan benar saja, kakek Aldi segera datang ke rumah sakit bersama dengan neneknya.
"Aldi kamu kenapa?" Nenek Aldi segera menghampirinya lalu menaruh punggung tangannya di kening Aldi untuk mengecek suhu tubuh Aldi.
"Aldi tidak apa-apa Nek, Aldi cuma sedikit pusing" Aldi tersenyum kepada kakek dan neneknya itu.
"Kalau begitu saya pamit dulu, saya harus kembali ke restoran." Laki-laki yang mengantarkan Aldi ke rumah sakit tadi meminta ijin untuk kembali ke restorannya.
"Baik Pak terima kasih sudah mengantarkan cucu saya ke rumah sakit." Kakek Aldi mengantarkan laki-laki yang merupakannya temannya tersebut sampai ke depan pintu.
"Aldi harus menemui Aishah sekarang Nek." Aldi bangkit dari tempat tidurnya, lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu masih sakit Di, kamu belum bisa pergi." Nenek Aldi tampak menenangkan cucunya itu.
"Tapi Nek Aldi tidak apa-apa, Aldi hanya pusing tadi" Aldi melepas infus yang terpasang di tangannya dengan paksa. Aldi berdiri lalu membenahi lengan kemejanya.
"Aldi harus segera ke kantor Nek, Aldi harus bertemu dengan Aishah, Aldi sudah membuat Aishah bersedih, Aldi harus minta maaf."
Aldi berpamitan dengan kakek dan neneknya lalu pergi. Nenek Aldi mencoba mencegahnya, namun kakek Aldi memegang pundak nenek Aldi sambil berkata.
"Sudah biarkan dia pergi"
Sesampainya di kantor Aldi mencari Aishah, namun tak menemukannya juga.
"Rin, apakah Aishah sudah memberikanmu hasil rapat?" Aldi bertanya kepada Rina.
"Belum, tadi Aishah menelponku izin untuk langsung pulang ke rumah karena tidak enak badan, kamu tadi yang menemani Aishah rapat kan? kenapa kamu bertanya Aishah kepadaku?" Rina mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Anu.. tadi Aishah menyuruhku untuk ke kantor duluan, namun ban mobilku kempes dan aku harus memperbaikinya di bengkel." Aldi hanya asal mencari alasan agar Rina tidak bertanya lebih banyak kepadanya. Aldi merasa tambah bersalah dengan Aishah. Aldi harus meminta maaf langsung dengan Aishah. Aldi harus menemui Aishah.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, itu artinya waktu pulang kantor tinggal satu jam lagi. Aldi berencana untuk pergi ke rumah Aishah setelah pulang kantor nanti. Aldi ingin melihat keadaan Aishah dan meminta maaf kepadanya. Aldi merasa sangat gelisah selama berada di kantor. Ia tak bisa fokus dengan pekerjaannya. Pikirannya tak pernah lepas dari bayangan Aishah.