Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Dokter Viola Sakit


__ADS_3

"Aku tidak berharap kamu menjawabnya malam ini. Aku hanya sekedar ingin mengungkapkan perasaanku selama ini kepadamu. Aku tahu malam ini kamu masih menjadi kekasih Aldi." Dokter Dariel memberikan setangkai bunga mawar kepada Dokter Viola.


Ternyata Dariel sangat mencintaiku. Kepada aku sampai sebodoh ini tidak bisa menyadari perasaannya kepadaku selama ini. Tapi bagaimana dengan Aldi. Saat ini aku masih sangat mencintainya. Aku belum rela jika harus melepaskannya untuk Aishah.


Suasana menjadi canggung. Dokter Viola tidak tahu harus berkata apa. Dia mengakui perlakuan Dokter Dariel kepadanya memang berbeda dari yang lain. Perlakuan itu memang tidak sepantasnya jika ditujukan hanya untuk seorang teman.


"Sepertinya besok pagi aku harus segera pulang." Dokter Viola memecah keheningan di antara mereka.


"Kenapa harus buru-buru? Kamu tidak ingin menginap di sini beberapa malam lagi?" Dokter Dariek tampak heran. Dia merasa perubahan sikap Dokter Viola karena ungkapan perasaannya tadi.


"Masih banyak pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan." Dokter Viola berusaha mencari alasan agar bisa cepat kembali.


"Aku sangat tahu semua jadwal pekerjaanmu. Jangan karena aku ada rasa denganmu, kamu mencoba menjauhiku. Aku tidak berharap kamu membalas perasaanku kepadamu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa ada seseorang yang sangat mencintaimu di sini. Orang yang rela melakukan apapun demi kebahagiaanmu." Dokter Dariel menatap mata Dokter Viola dengan tatapan penuh makna.


"Cobalah buka mata dan telingamu Vio. Untuk apa kamu mencintai orang yang tidak mencintaimu. Aldi itu hanya mencintai Aishah. Kamu hanya akan terus menyakiti hatimu jika kamu masih terus memaksakan cinta Aldi kepadamu. Bukankah sebenarnya kamu sudah tahu tentang bagaimana perasaan Aldi yang sebenarnya kepadamu. Tentang seberapa besar cinta Aldi untuk Aishah. Jadi aku harap kamu bisa lebih bijak Vio." Dokter Dariel berusaha menyadarkan Dokter Viola bahwa dirinya selama ini telah salah mencintai.


Dokter Viola hanya diam. Kini kepalanya tertunduk dalam. Di dalam hati Dokter Viola membenarkan perkataan Dokter Dariel. Namun, dia sudah terlanjur jatuh cinta kepada Aldi. Dia tidak bisa melepaskan Aldi begitu saja. Selama ini perasaan Dokter Viola kepada Dokter Dariel hanyalah sebatas teman dan tidak lebih. Walaupun mereka sudah sangat dekat, namun entah mengapa Dokter Viola lebih nyaman jika mereka berteman saja.


"Tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta kepada Aldi Riel, maafkan aku." Dokter Viola berkata dengan lirih.


"Aku sudah tahu, tapi satu hal yang harus kamu tahu. Bahwa cinta sejati Aldi adalah Aishah. Buktinya walaupun mereka sudah terpisah, bahkan Aishah sudah menikah pun kini mereka dipertemukan kembali. Dan dalam keadaan Aldi belum menikah, sementara Aishah sudah bercerai. Apakah itu sebuah kebetulan? Tentu tidak kan." Dokter Dariel menjelaskan panjang lebar. Walaupun dia tidak berharap lebih untuk bisa memiliki hati Dokter Viola dengan perkataannya itu, setidaknya Dokter Viola akan memikirkan kata-katanya itu.


Benar sekali apa yang dikatakan Dariel. Sepertinya perlahan aku memang harus melupakan Aldi. Aku harus berusaha mencintai Dariel yang sudah jelas-jelas mencintaiku dan selalu ada untukku.


"Kenapa takdir begitu jahat kepadaku?" Dokter Viola menghela nafas panjang. Dia merasa menjadi orang yang tidak beruntung.


"Lalu bagaimana denganku Vio. Apakah takdir tidak lebih jahat kepadaku? Tapi aku tidak akan menyalahkah takdir tentang kehidupanku. Walaupun aku hanya bisa mencintai satu kali dalam hidupku. Aku tidak bisa mencintai wanita lain kecuali dirimu. Jika aku menyalahkan takdir, tentu aku sekarang sudah putus asa dengan hidupku." Dokter Dariek menatap Dokter Viola dengan tatapan nanar.


Hal itu membuat Dokter Viola tidak tega melihatnya. Dokter Viola sudah sangat hafal dengan Dokter Dariel. Sehingga dia mempercayai semua perkataan Dokter Dariel. Karena memang tidak mungkin jika Dokter Dariel berbohong kepadanya. Karena setahu Dokter Viola, Dokter Dariek adalah orang yang jujur. Jika untuk hal serius seperti ini sepertinya mustahil jika Dokter Dariel hanya bercanda apalagi berbohong.


"Jadi aku harus bagaimana? Apakah aku harus memutuskan Aldi?" Dokter Viola kini sudah pasrah. Karena memang perjuangannya selama tiga tahun terakhir untuk membuat Aldi jatuh cinta kepadanya hanya sia-sia, tidak membuahkan hasil sesuai yang diinginkannya.


"Semua keputusan berada di tanganmu Vio. Jika memang itu yang terbaik, lakukanlah. Tapi jangan memutuskan Aldi hanya karena aku. Karena aku akan merasa sangat bersalah kepada Aldi nantinya. Putuslah dengan Aldi jika memang itu yang terbaik untuk dirimu, jika itu memang demi kebahagiaanmu. Aku akan selalu mendukung keputusanmu. Aku akan selalu ada di belakangmu untuk mendukung dan menguatkanmu." Dokter Dariel menggenggam tangan Aishah yang berada di atas meja.


Dokter Viola benar-benar memikirkan perkataan Dokter Dariel dengan baik. Semua yang dikatakan Dokter Dariel memang benar adanya. Dan Dokter Viola hanya bisa termenung.

__ADS_1


"Ini sudah sangat larut. Sebaiknya kita segera kembali ke vila. Udara di sini juga sangat dingin. Tidak baik untuk kesehatanmu." Dokter Dariel memperhatikan sekujur tubuh Dokter Viola yang sudah tampak kedinginan.


Meskipun sudah memakai jaket, namun jaket tidak membuat udara dingin kewalahan untuk menyebarkan hawa dinginnya. Udara dingin perlahan menelusup masuk ke dalam tubuh melalui sela-sela jaket. Tentu itu membuat badan terasa menggigil.


Akhirnya mereka berdiri dari tempat duduk lalu berjalan kembali menuju vila. Tampak Dokter Dariel merengkuh bahu Dokter Viola agar dia merasa hangat. Mereka kembali ke vila dan menuju kamar tidur masing-masing.


Setibanya di depan kamar, Dokter Dariel membukakan pintu kamar Dokter Viola. Lalu Dokter Viola masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian tidur. Dokter Dariel pun menuju kamar tidurnya. Dokter Dariel membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Hmmm lega rasanya. Bisa mengungkapkan perasaanku selama ini kepada Viola. Aku pikir tadi Viola akan marah kepadaku. Tapi ternyata dia tidak marah, bahkan di luar dugaanku jika dia berpikir akan putus dengan Aldi." Dokter Dariel merasa lega. Perasaannya malam ini begitu lega. Akhirnya Dokter Viola bisa tahu tentang perasaannya yang sebenarnya kepadanya.


Aku benar-benar sudah tergila-gila dengan Viola. Aku tidak bisa mencintai wanita lain lagi kecuali dia. Semoga saja dia bisa segera membalas cintaku. Aku berjanji akan membuatnya bahagia. Sampai dia lupa bagaimana rasanya sakit hati lagi.


Lalu Dokter Dariel memejamkan matanya. Perlahan nafasnya mulai terdengar teratur. Pertanda bahwa dia sudah terlelap dan jatuh ke alam mimpi.


Sementara di kamar lain, Dokter Viola tampak membolak-balikkan badannya ke kanan dan ke kiri. Sulit sekali baginya untuk memejamkan matanya. Dokter Viola masih memikirkan kata-kata Dokter Dariel tadi. Dia kini sangat bingung harus bagaimana. Apakah dia bisa putus dan melupakan Aldi, pikirnya.


Hingga pukul tiga dini hari, Dokter Viola tak kunjung bisa memejamkan matanya. Dokter Viola malah merasa sangat kedinginan. Padahal penghangat ruangannya sudah dinyalakan. Sekujur tubuhnya kimi menggigil karena kedinginan.


Matahari pun mulai menampakkan sinarnya. Sinar hangatnya menerpa seluruh isi alam semesta. Menghangatkan tubuh-tubuh yang kedinginan karena angin malam yang telah berhasil membuat orang-orang menggigil kedinginan. Perlahan sinar matahari yang mulai merangkak naik menelusup melalui gorden jendela kamar Dokter Viola. Menerpa tubuh Dokter Viola yang terbalut selimut tebal di sekujur tubuhnya, hingga kepalanya tidak terlihat.


Ada apa dengan Viola, kenapa dia tidak keluar dari kamar. Pintu kamarnya pun tidak dibuka padahal dari tadi aku sudah mengetuknya.


Pikiran Dokter Dariel pun ke mana-mana. Dia mulai mengkhawatirkan keadaan Dokter Viola. Dia takut terjadi apa-apa dengan Dokter Viola. Akhirnya Dokter Dariel memutuskan untuk membuka pintu kamar Dokter Viola sendiri. Karena tak juga mendapat jawaban, Dokter Dariel mencoba untuk membuka pintu itu dan ternyata tidak terkunci.


Ketika pintu telah terbuka, tampak di tempat tidur selimut menggulung tubuh Dokter Viola hingga seluruh tubuh Dokter Viola tidak terlihat lagi. Dokter Dariel melihat ke sekeliling ruangan, namun tak juga ditemukannya Dokter Viola berada. Akhirnya Dokter Dariel mendekati tempat tidur. Dia mencoba membuka lilitan selimut yang menutupi tubuh Dokter Viola.


Dan ternyata benar, Dokter Viola masih terlelap di dalam selimut. Dokter Dariel melihat Dokter Viola tampak menggigil di dalam selimut. Pelipisnya penuh dengan keringat yang terus mengalir. Diperiksanya suhu tubuh Dokter Viola.


"Ya ampun Vio, badanmu panas sekali! Kamu sakit ya?" Dokter Dariel terkejut ketika menempelkan punggung tangannya di kening Dokter Viola.


Suhu tubuh Dokter Viola sangat tinggi. Sepertinya Dokter Viola kini sedang demam. Tubuhnya tidak berhenti menggigil. Namun, mata Dokter Viola masih terpejam. Beberapa kali Dokter Viola terlihat mengigau.


"Vio...Viola…." Dokter Dariel membelai kepala Dokter Viola sambil memanggil namanya, berusaha membangunkan Dokter Viola agar sadar dari igauannya. Namun, Dokter Viola tak kunjung membuka matanya. Dia malah terus mengigau dengan tubuh yang semakin menggigil.


Dokter Dariel semakin panik melihat keadaan Dokter Viola yang lemah. Sebagai seorang dokter, akhirnya Dokter Dariel memutuskan untuk memeriksa keadaan Dokter Viola dengan peralatan dokternya yang memang disediakan di vila tersebut untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu dia membutuhkannya.

__ADS_1


Setelah memeriksa keadaan Dokter Viola, Dokter Dariel memberikan resep obat kepada pelayan dan menyuruhnya untuk membelikan obat di apotek terdekat. Dengan sigap pelayan itu segera menuju apotek untuk membeli obat yang telah Dokter Dariel buatkan resep. Kemudian sambil menunggu pelayan membelikan obat, Dokter Dariel mengambil air hangat untuk mengompres Dokter Viola. Setidaknya itu akan membantu menurunkan suhu panas Dokter Viola sebelum obat datang.


Dokter Dariel terlihat sangat cemas. Dia terus menyalahkan dirinya atas sakitnya Dokter Viola. Dokter Dariel menganggap bahwa penyebab sakitnya Dokter Viola adalah karena dirinya mengajak Dokter Viola tadi malam keluar hingga sangat larut. Sehingga angin malam membuatnya sakit. Karena Dokter Dariel sempat melihat Dokter Viola kedinginan bahkan sampai menggigil.


Setelah mengompres kening Dokter Viola, Dokter Dariel kembali turun ke dapur. Dia menyuruh pelayan lain untuk membuatkan Dokter Viola bubur.


"Mbak tolong buatkan saya bubur ya, nanti kalau sudah jadi, tolong bawa semangkuk bubur itu ke kamar atas. Ke kamar Viola ya." Dokter Dariel kembali menuju ke kamar Viola untuk memeriksa kembali keadaannya.


"Baik Pak." Pelayan itu menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


Lalu Dokter Dariel naik ke kamar atas untuk menunggu Dokter Viola di tepi tempat tidur. Suhu badan Dokter Viola mulai menurun. Namun, Dokter Viola masih tampak menggigil. Tidak lama kemudian, pelayan yang disuruh oleh Dokter Dariel untuk membelikan obat di apotek sudah datang.


"Permisi Pak, ini obatnya sudah saya beli." Pelayan wanita itu mengetuk pintu kamar Viola. Lalu setelah mendapat persetujuan dari Dokter Dariel, pelayan itu masuk dan memberikan obat yang telah dibelinya.


"Terima kasih ya Mbak. Sekarang tolong Mbak turun ke dapur untuk melihat bubur untuk Viola apakah sudah jadi apa belum. Jika sudah jadi, tolong bawa ke sini agar Viola bisa segera makan dan minum obat." Dokter Dariel menyuruh pelayan wanita itu untuk segera turun ke dapur.


"Baik Pak." Pelayan wanita itu menundukkan kepalanya dengan sopan kepada Dokter Dariel lalu berlalu pergi menuju dapur.


Tidak lama kemudian, pelayan itu kembali datang ke kamar Viola dengan membawa semangkuk bubur panas yang telah dipesan Dokter Dariel tadi.


"Permisi Pak, ini buburnya sudah matang." Pelayan wanita itu meletakkan bubur panas di meja dekat tempat tidur Viola. Lalu Dokter Dariel mengambil mangkuk bubur itu untuk menyuapi Dokter Viola.


"Vio, bangun ya, kamu harus makan dulu." Dokter Dariel membelai kepala Dokter Viola dengan lembut. Perlahan Dokter Viola mulai membuka matanya. Dokter Dariel membantu Dokter Viola bangun dan menyandarkannya di tempat tidur dengan kepala bersandarkan bantal.


"Kamu makan bubur ini dulu ya." Dengan telaten Dokter Dariel menyuapi Dokter Viola yang tampak lemah dengan bubur yang telah dibuatkan pelayan tadi.


"Emm, sudah Riel aku sudah kenyang." Dokter Viola hanya memakan sedikit bubur itu. Dia sudah tidak berselera lagi untuk makan.


"Sedikit lagi Vio, kamu harus menghabiskan bubur ini agar kamu cepat sembuh." Dokter Dariel masih membujuk Dokter Viola untuk memakan bubur.


"Aku sudah kenyang Riel, rasanya aku ingin muntah jika terus memakan bubur itu." Dokter Viola menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Ya sudah kalau begitu kamu minum obat ini saja." Dokter Dariel pun mengalah, nampaknya terus memaksa Dokter Viola untuk terus makan hanya akan membuatnya semakin tidak berselera makan lagi. Lalu Dokter Viola pun menuruti perkataan Dokter Dariel untuk minum obat.


Setelah minum obat, Dokter Viola pun mulai tertidur. Dengan hati-hati, Dokter Dariel menyelimuti Dokter Viola dengan selimut yang nyaman. Lalu Dokter Dariel kembali ke kamarnya untuk mandi dan membersihkan dirinya. Karena dari bangun tidur tadi, dia belum sempat membersihkan diri. Hingga siang hari, Dokter Dariel tak juga turun ke bawah untuk makan. Dia turun hanya untuk mengambilkan keperluan Dokter Viola.

__ADS_1


Seharian penuh Dokter Dariel hanya menunggu Dokter Viola dan merawatnya di kamar tanpa melakukan aktivitas lainnya. Karena khawatir, seorang pelayan sampai mengantarkan makanan untuk Dokter Dariel ke kamar.


__ADS_2