Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Dokter Spesialis Kandungan


__ADS_3

Cuaca semakin terik, panas matahari di luar terlihat memanggang aspal jalanan. Membuat para pengguna jalan merasa kepanasan. Keringat terus mengucur ke seluruh tubuh. Apalagi ditambah dengan udara yang penuh dengan debu dan asap kendaraan. Benar-benar membuat cuaca semakin panas.


Di sudut rumah sakit, tampak Radit sedang mondar-mandir dengan tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan dokter terhadap istrinya di dalam ruang UGD. Sudah 15 menit Aishah berada di dalam ruang UGD, namun tak satupun yang keluar dari sana. Radit berharap-harap cemas, semoga saja istrinya baik-baik saja.


Tak beberapa lama, seorang dokter keluar dari ruang UGD. Radit segera menghampiri dokter itu.


"Bagaimana Dok, keadaan istri saya?" Radit terlihat sangat khawatir.


"Istrimu sedang masa pemulihan di dalam. Saya sudah memberikannya obat, agar nyeri pada perutnya berkurang. Dia butuh istirahat. Tapi jika boleh saya memberi saran, sepertinya Anda harus memeriksakan kandungan istri anda kepada dokter spesialis kandungan." Dokter itu menjelaskan panjang lebar.


"Begitu ya Dok." Radit tampak mencerna perkataan dokter itu dengan baik.


"Istri anda sudah boleh pulang nanti, setelah obat yang saya berikan benar-benar bereaksi. Nanti setelah dia sadar dan sudah merasa baikan. Isteri anda sudah boleh dibawa pulang. Tapi akan lebih baik, jika Anda memeriksakan dulu kandungan isteri anda ke dokter spesialis kandungan. Kebetulan dokter kandungan di rumah sakit ini sudah profesional." Dokter itu menjelaskan panjang lebar.


Lalu dokter itu meninggalkan Radit yang tampak masih berdiri mematung menyaksikan kepergiannya. Kemudian, Radit masuk ke dalam ruang UGD untuk melihat keadaan Aishah. Selang beberapa menit kemudian, Aishah mulai tersadar. Aishah mulai membuka matanya perlahan, dilihatnya Radit sedang berada di sampingnya dengan tangan yang terus menggenggam tangannya.


"Sayang, kamu sudah siuman." Radit mendekatkan wajahnya. Aishah berusaha untuk duduk dengan susah payah. kepalanya masih terasa agak pusing. Dengan sigap, Radit membantu menopang bahu Aishah, agar Aishah dapat duduk.


"Minumlah dulu." Radit memberikan segelas air putih yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit. Aishah menerimanya, Aishah meminumnya sedikit.


"Ayo minum lagi sayang." Radit membujuk Aishah agar minum lagi. Namun, Aishah menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kata dokter Kak? Aish tidak apa-apa kan?" Aishah bersandar pada bantal yang Radit letakkan di belakangnya.


"Aku juga belum tahu. Tadi dokter hanya berkata bahwa kita perlu memeriksakan kandunganmu ke dokter spesialis kandungan." Radit duduk di samping Aishah sambil memegang tangannya. Radit mencoba mengingat-ingat kembali apa yang tadi dikatakan oleh dokter yang merawat Aishah.


"Memangnya kenapa dengan kandunganku Kak?" Aishah tampak bingung.


"Aku juga kurang tahu." Radit mengangkat kedua bahunya.


"Kira-kira apa yang terjadi dengan kandunganku ya Kak? Aish jadi cemas." Aishah terlihat cemas.


"Kita berharap yang terbaik saja. Semoga tidak terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan ya Kak." Aishah menatap suaminya itu dengan tatapan lembutnya. Lalu membalas genggaman tangan Radit yang sedari tadi memegang tangannya.


"Kamu tidak usaha khawatir, semua pasti akan baik-baik saja." Radit berusaha meyakinkan Aishah bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Setelah tubuh Aishah dirasa sudah baikan, Aishah dan Radit segera menuju ruangan dokter yang memeriksa Aishah tadi secara bersama-sama. Di sepanjang lorong rumah sakit, Aishah tak pernah melepaskan genggaman tangannya. Begitu pula dengan Radit. Dengan begitu, Radit berharap akan lebih menguatkan hati Aishah.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil nama Radit dari kejauhan.


"Radit… " Suara itu semakin jelas mendekati Radit dan Aishah.


Kemudian, Radit dan Aishah menengok ke belakang secara bersamaan. Dari kejauhan tampak seorang lelaki muda berjalan mendekat. Lelaki itu mengenakan snelli putih dengan stetoskop yang dikalungkan di lehernya. Dia memakai kacamata dengan rambut cepak yang disisir rapi. Sepatu hitam mengkilat tampak menghiasi kakinya yang tinggi. Sepertinya dia seorang dokter. Terlihat senyuman menghiasi wajahnya yang penuh berewok.


Dengan gagahnya lelaki itu mendekati Aishah dan Radit.

__ADS_1


"Hey Radit, bagaimana kabarmu saat ini?" Dokter muda itu berhenti tepat di depan Aishah dan Radit. Kemudian dia tersenyum sangat ramah.


"Dokter Dariel...Radit melebarkan kelopak matanya. Memastikan bahwa lelaki di depannya adalah teman lamanya yang sudah sekian tahun tidak berjumpa.


"Ya seperti yang Dokter lihat saat ini, keadaanku sangat baik." Radit tersenyum senang.


"Baguslah, lalu ini istrimu?" Dokter Dariel melirik ke arah Aishah yang sedari tadi memperhatikannya.


"Ya perkenalkan ini Aishah istriku." Radit memperkenalkan Aishah kepada Dokter Dariel.


"Dariel… " Dokter Dariel mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Aishah.


"Aishah." Aishah pun membalas uluran tangan Doktor Dariel diikuti senyuman.


"Kenapa tidak memberiku kabar jika kamu sudah menikah?" Dokter Dariel protes.


"Waktu itu kamu sedang bertugas di luar negeri. Jadi tidak mungkin kamu datang ke pesta pernikahanku empat tahun yang lalu." Radit membela diri.


"Setidaknya kan kamu bisa meneleponku atau mengirimkan pesan." Dokter Dariel terus saja memojokkan Radit.


"Aku tidak ingin merepotkanmu saja." Radit menepuk bahu Dokter Dariel.


"Memang kamu menganggapku apa! Bahkan aku sudah menganggapmu seperti saudara laki-lakiku sendiri. Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu." Dokter Dariel mulai kesal.


"Maaf-maaf aku benar-benar tidak ingin mengganggumu, sudah terlalu sering aku merepotkanmu. Aku hanya tidak ingin terlalu berhutang budi padamu." Radit tersenyum tipis.


"Pantas saja kamu sudah tidak pernah berkonsultasi denganku lagi, rupanya kamu sudah memiliki dokter baru yang selalu di sampingmu 24 jam sekarang." Dokter Dariel melirik ke arah Aishah.


"Haha kamu bisa saja." Radit terkekeh.


"Jadi kamu sudah kembali ke sini?" Radit menyelidik.


"Ya, tugasku di sana sudah selesai, jadi aku dipindah tugaskan di sini. Sekarang aku praktek di rumah sakit ini." Dokter Dariel menjelaskan.


Aishah hanya melongo mendengarkan percakapan dua sahabat yang sudah lama tidak berjumpa ini. Karena Aishah tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Aishah menangkap dua hal penting dalam pembicaraan itu. Pertama Dokter Dari adalah sahabat lama Radit yang sudah lama tidak bertemu. Dan yang kedua Dokter Dariel pernah menjadi dokter Radit.


Memang Kak Radit peenah sakit apa ya? Aishah bergumam dalam hati.


"Kalian mau periksa kandungan?" Dokter Dariel menebak tujuan Aishah dan Radit, karena mereka sekarang tepat di depan ruang dokter spesialis kandungan.


"Kami akan memeriksakan kandungan Aishah." Radit menjawab dengan cepat.


"Ya sudah kalau begitu, kita lanjutkan lain waktu ngobrolnya. Sepertinya kamu sudah mengganti nomor teleponmu, jadi kita harus bertukar nomor telepon agar kita bisa berkomunikasi lagi dengan mudah." Dokter Dariel mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Kemudian Radit dan Dokter Dariel bertukar nomor telepon.


Setelah Dokter Dariel berlalu pergi, Radit dan Aishah mulai memasuki ruang spesialis kandungan.

__ADS_1


Tok… tok… tok…


Radit mengetuk pintu ruangan dokter tadi.


"Ya masuk."


Terdengar sahutan dari dalam. Radit segera membuka pintu ruangan tersebut yang ternyata tidak dikunci. Kemudian Aishah dan Radit masuk ke dalam ruangan tersebut. Tampak seorang dokter wanita yang sudah cukup usia tengah duduk dengan tangan yang sibuk menuliskan sesuatu di lembaran-lembaran kertas di depannya.


"Silahkan duduk." Dokter wanita itu menunjuk kursi di depan mejanya. Lalu Radit dan Aishah duduk di tempat yang telah ditunjuk oleh dokter wanita tadi.


"Terima kasih." Radit menjawab dengan sopan lalu duduk.


"Ada yang bisa saya bantu?" Dokter kandungan itu bertanya dengan ramah.


"Begini Dok, perut saya ini sering terasa nyeri saat datang bulan. Namun, tadi adalah yang terparah hingga saya tidak dapat berdiri sendiri." Aishah menjelaskan apa yang dirasakannya.


"Penyebab nyeri haid bisa bermacam-macam. Nyeri haid atau dismenore adalah hal yang sering terjadi pada sebagian besar wanita. Nyeri dapat terasa ringan atau tidak mengganggu. Namun, nyeri haid berat yang dirasakan di masa menstruasi atau nyeri menetap dan semakin berat setelah menstruasi dapat menandakan adanya penyakit atau kondisi tertentu.


Nyeri haid umumnya dirasakan sebagian wanita pada awal masa menstruasi. Pada beberapa wanita, rasa sakit di perut bagian bawah ini tidak begitu terasa hingga mereka tetap dapat beraktivitas seperti biasa. Namun, sebagian lain merasakan nyeri yang tidak tertahankan hingga tidak mampu melakukan apa pun.


Sepanjang waktu, terjadi kontraksi halus pada otot dinding rahim yang umumnya tidak terasa. Namun, pada masa menstruasi, kontraksi ini menjadi makin kencang sebagai bagian dari peluruhan dinding rahim saat haid. Kontraksi tersebut menekan pembuluh darah yang mengelilingi rahim, sehingga memutuskan suplai darah dan oksigen ke rahim. Ketiadaan oksigen inilah yang menyebabkan jaringan rahim melepaskan bahan kimia yang menciptakan rasa nyeri." Dokter kandungan itu menjelaskan panjang lebar.


"Lalu apakah nyeri haid yang saya rasakan ini merupakan suatu penyakit Dok?" Aishah mulai tampak cemas, wajahnya pucat pasi.


"Saya belum bisa memastikan sebelum pemeriksaan lebih lanjut. Karena rasa nyeri semakin buruk karena tubuh juga mengeluarkan bahan kimia bernama prostaglandin yang memicu otot rahim terus berkontraksi lebih banyak. Prostaglandin adalah bahan kimia yang diproduksi oleh tubuh wanita dan dapat menyebabkan banyak gejala yang berhubungan dengan ketidaknyamanan saat menstruasi. Selain itu, prostaglandin juga memicu kondisi lain seperti mual, diare, lemas, dan sakit kepala yang kerap menyertai nyeri. Diduga, sebagian wanita memproduksi prostaglandin dalam jumlah lebih banyak sehingga lebih merasakan nyeri dibandingkan yang lain." Dokter itu mencoba menjelaskan apa yang diketahuinya kepada Aishah dan Radit.


"Jadi sebaiknya sekarang kita melakukan pemeriksaan kepada Ibu terlebih dahulu." Dokter kandungan itu menyuruh Aishah untuk berbaring di atas tempat tidur agar mempermudah pemeriksaan. Dengan patuhnya, Aishah segera berbaring di tempat yang telah ditunjuk oleh dokter kandungan tadi.


"Bagaimana Dok?" Aishah sudah tidak sabar mendengar hasil pemeriksaan dokter kandungan itu.


"Sebenarnya sebagian wanita lebih berisiko merasakan nyeri haid karena volume haid lebih banyak, mengalami menstruasi pertama sebelum usia 11 tahun, mengalami obesitas, belum pernah hamil, atau karena mengonsumsi minuman beralkohol atau merokok.


Jadi upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mengonsumsi obat-obatan pereda rasa sakit, umumnya nyeri haid dapat diredakan secara mandiri dengan pijatan, mandi air hangat, minuman hangat, berbaring dengan kaki diangkat, atau menempelkan koyo pada bagian yang sakit.


Nyeri haid tidak bisa dianggap sepele. Anda harus segera periksakan diri ke dokter jika terjadi perdarahan berlebihan, periode menstruasi lebih lama dari biasanya, disertai demam, terdapat keputihan yang tidak normal, nyeri timbul tiba-tiba dan terasa intens pada panggul, serta adanya tanda-tanda infeksi seperti demam atau menggigil dan nyeri tubuh saat menstruasi. Anda juga sebaiknya memeriksakan diri ke dokter jika mengalami nyeri haid disertai gangguan lain, seperti sulit hamil." Dokter kandungan itu benar-benar memberi pengetahuan yang luas kepada Aishah dan Radit.


"Jadi nyeri haid yang saya rasakan itu hanya sebatas nyeri biasa kan Dok?" Aishah memastikan. Aishah turun dari tempat tidur, lalu duduk di samping Radit.


"Saya belum bisa memastikan. Jadi sementara itu, tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin E, asam lemak omega-3, vitamin B1, vitamin B6, dan magnesium. Bahan-bahan tersebut rupanya dapat mengurangi nyeri haid secara efektif. Selain itu, olahraga teratur sehingga berat badan tetap normal, menghindari konsumsi minuman beralkohol dan rokok dan mengurangi stres yang dapat meningkatkan risiko kram dan nyeri haid yang parah" Dokter kandungan itu memberi saran.


"Lalu bagaimana selanjutnya Dok?" Aishah masih penasaran.


"Kalian bisa kembali ke sini lagi besok. Besok hasil pemeriksaan Ibu Aishah akan keluar." Dokter kandungan itu tersenyum ramah.


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu Dok." Radit dan Aishah meninggalkan ruang dokter kandungan itu bersama. Lalu kembali ke rumah.

__ADS_1


Radit sengaja menyuruh Aishah untuk istirahat di rumah saja. Semua pekerjaan Aishah, akan Radit handle sendiri.


__ADS_2