Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Aldi Keluar dari Kantor


__ADS_3

Setelah 3 jam perjalanan, pesawat bersiap-siap untuk landing. Aishah, Ibu serta kedua Adik kembarnya tiba di bandara. Mereka dijemput oleh Pak Joko dan Bu Sekar. Selama perjalanan menuju rumah Pak Joko, Arya dan Aryo tak henti-hentinya mengobrol, rupanya mereka tengah menyiapkan jadwal jalan-jalan mereka selama di sini. Ibu yang sedari tadi diam menikmati perjalanannya hanya menjawab iya iya saja ketika duo kembar melemparkan persetujuan kepada Ibunya itu.


Kembali ke rutinitas biasanya, ini adalah hari pertama Aishah masuk kerja setelah mendapat cuti beberapa hari. Kakinya masih terasa pegal-pegal untuk menapaki dunianya kembali. Rasanya masih enggan untuk berkecimpung ke dunia kerja, hatinya masih merasa enggan untuk melepas masa liburannya yang sebentar itu. Tapi apalah daya, demi sebuah tanggung jawab yang telah ia pikul selama ini, pekerjaan merupakan kewajiban yang harus ditunaikan tanpa merasa berat hati.


Hari ini sangat cerah, meskipun tak secerah semangat Aishah pagi ini. Hanya nampak sedikit senyuman yang terlintas di bibir Aishah. Seharusnya setelah pulang dari kampung halamannya kemarin, Aishah berencana untuk memanjakan dirinya dengan pergi ke spa. Karena selama di desa, Aishah sudah blusukan ke mana-mana, tentunya jalan-jalan ekstremnya itu membuat badannya pegal-pegal semua. Bahkan kulit halus dan putihnya pun ternodai oleh teriknya matahari.


Tapi saking sayangnya Aishah dengan Adik kembarnya itu, Aishah dengan berat hati malah mengikuti ajakan Adiknya untuk pergi jalan-jalan ke mall. Sungguh itu sangat melelahkan dan membuat Aishah ngomel-ngomel tak jelas kepada duo kembar itu. Mereka malah menanggapi omelan Kakaknya dengan candaan dan tawa bahagia. Seketika itu pula darah Aishah yang telah mendidih berubah membeku bagaikan disiram air es, karena melihat tawa bahagia kedua Adik kembarnya itu.


Kembali ke dunia kerja Aishah. Selama di kantor, Aishah sibuk dengan pekerjaannya. Sampai ia tak memperhatikan Aldi. Biasanya setelah masuk kantor pertama kali yang ia cari adalah sosok Aldi. Bahkan mereka sudah seperti amplop dan perangko saja yang selalu menempel kemana-mana. Akhir-akhir ini Aldi memang sengaja ingin menjauhi Aishah. Bahkan selama Aishah di kampung, tak ada satu pesan pun yang datang dari Aldi. Beda dengan Radit yang selalu bertanya keadaan Aishah setiap waktu.


Kok Aldi tidak kelihatan ya, apa dia tidak ingin tahu tentang liburanku. Atau dia masih marah denganku gara-gara masalah waktu itu. Eh bukannya harusnya aku yang marah ya.


Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di kepala Aishah. Aishah juga tak bisa menebak bagaimana sebenarnya yang terjadi pada Aldi. Tapi rupanya kini Aishah terpengaruh dengan sifat tak acuhnya Aldi. Ia juga masih malas untuk mencari tahu tentang keadaan Aldi. Jadi Aishah memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk.


Matahari mulai menyingsing, Aishah memutuskan untuk pulang meskipun pekerjaannya masih menumpuk.


"Ini sudah lewat waktunya pulang."


Aishah bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motornya. Sampai di rumah, Aishah sudah dapat mengenali mobil yang terparkir di halaman depan rumahnya itu.


"Assalamu'alaikum" Aishah segera menghampiri keluarganya


"Duduklah Aish." Pakdhe menunjuk sofa di sebelahnya agar Aishah bisa duduk di sana. Aishah menuruti kata-kata Pakdhenya itu. Di depannya sudah ada Radit yang tengah duduk di seberang meja dengan senyumnya.


"Rencananya, pernikahanmu dengan Radit akan diadakan dua minggu lagi." Pak Joko memulai percakapannya kembali.

__ADS_1


"Apa! Tapi kenapa harus buru-buru?" Aishah terkejut, ia merasa bingung. Kenapa harus secepat ini. Bukankah mengurus acara pernikahan itu tidak bisa secepat kilat.


"Tidak baik menunda hal baik, kalau kalian sudah sama-sama siap untuk bersama, kenapa harus menunggu lama-lama. Memangnya apa yang masih perlu ditunggu?"


Pak Joko tampak serius dengan ucapannya. Beliau berhenti sejenak lalu mengambil nafas dalam untuk meneruskan ucapannya.


"Tadi kami sudah membicarakan hal ini, Radit juga sudah bersedia mempersiapkan semua ***** bengek yang perlu dipersiapkan untuk melaksanakan acara pernikahan kalian nanti."


Aishah masih nampak kurang setuju dengan perkataan Pakdhenya itu.


"Tapi bukannya butuh waktu untuk mempersiapkan semua ini?" Aishah masih dengan argumennya.


"Nanti akan kupersiapkan segala sesuatunya tepat pada waktunya Aish, kamu cukup percayakan semuanya padaku. Semua akan beres."


Hari-hari berlalu penuh kesibukan, tak ada lagi celah untuk berleha-leha bahkan sekedar berdiam sejenak. Aishah sibuk mempersiapkan acara pernikahannya. Mulai dari baju pengantin, undangan, catering, gedung dan masih banyak lagi yang harus dipersiapkan. Walaupun dengan sadarnya Radit bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah persiapan acara pernikahan sendiri, namun Aishah juga tak mau hanya berpangku tangan saja menerima hasilnya tanpa melakukan apapun.


Satu minggu telah berlalu, 50% persiapan acara pernikahan sudah beres. Walaupun Aishah hanya sebagai pemilih konsep pernikahan saja tanpa terlibat langsung di dalam persiapannya, namun Aishah tetap bertanggung jawab dengan pilihannya.


H-7 pernikahan Aishah, namun Aldi tak pernah terlihat juga batang hidungnya di kantor. Tiba-tiba terlintas perasaan sesak yang cukup mengusik ketenangan hati Aishah. Entah kenapa ingatan kenangan tentang Aldi terus berputar di ingatan Aishah tanpa ia minta. Tak ada jeda sedikit pun, bahkan untuk memikirkan lanjutan persiapan pernikahan pun Aishah tak dapat berpikir lagi. Aishah sampai gusar dibuatnya.


Kenapa ini, kenapa tiba-tiba saja aku teringat Aldi, sekelebat bayangannya muncul dan memenuhi seluruh ruangan di otakku. Apa aku sungguh keterlaluan tidak pernah berkabar dengan Aldi.


Aishah mencoba mencari ponsel yang berada di dalam tasnya. Lalu mengirim satu pesan WhatsApp.


Aishah : Aldi, bagaimana kabarmu?

__ADS_1


Pesan terkirim, beberapa lama Aishah menunggu balasan tak kunjung datang. Aishah mencoba mengiriminya pesan lagi.


Aishah : Aku mau menikah satu minggu lagi di. Aku harap kamu bisa datang, ajak Rina juga ya.


Aishah meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas. Aishah mencoba mencari kebenaran tentang keberadaan Aldi saat ini yang tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Aishah mulai mendekat ke meja kerja Ega.


"Ega, Aldi kok tidak pernah kelihatan di kantor?"


Ega masih berkutat dengan pekerjaannya. Seketika Ega menghentikan pekerjaannya mendengar pertanyaan dari Aishah. Ega mendongak ke arah Aishah.


"Memang kamu belum tahu, kalau Aldi sudah keluar dari kantor?" Ega mengernyirkan dahinya.


"Apa!" Aishah nampak sangat terkejut dengan perkataan Ega. Aishah masih belum bisa terima dengan apa yang dikatakan Ega.


"Kenapa?" Aishah masih bertanya.


Ega hanya mengangkat kedua bahunya.


Deg, tiba-tiba hati Aishah terasa ngilu seperti ada paku tajam yang menancap dengan kerasnya di sana. Menggores luka yang semakin dalam. Luka, ya luka yang menyakitkan namun tak berdarah. Aishah berusaha mencari-cari alasan apa yang bisa membuat Aldi keluar dari pekerjaan ini, sekuat tenaga pikirannya berpacu mengolak-alik fakta apa yang sedang terjadi kepada Aldi.


Apakah Aldi keluar karena aku? Tapi bukankah Aldi sudah memiliki kekasih dan bahkan Rina bekerja di sini. Lalu apa?


Aishah masih berusaha dengan keras mengulur benang yang terikat dengan simpul mati. Setelah beberapa lama ia coba membuka ikatannya, namun tak juga ketemu titik terangnya. Akhirnya Aishah berpikir realistis dan tidak mau menduga - duga dengan apa yang terjadi pada Aldi. Setelah bergelut dengan pikirannya yang masih kalut, akhirnya Aishah memutuskan untuk mengunjungi Aldi ke rumahnya.


Aku akan ke rumah Aldi nanti.

__ADS_1


__ADS_2