Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Aryo


__ADS_3

Hari berganti hari, tidak terasa sudah satu minggu Aishah tinggal kembali di rumah pakdenya. Perasaan Aishah kini semakin membaik. Hari ini rencananya Aishah akan mencari pekerjaan untuknya. Selama satu minggu ini, Aishah hanya mengurung dirinya di rumah, menyibukkan diri dengan memasak dan beres-beres rumah saja ternyata membuat dirinya sangat bosan.


Aishah memang masih memiliki uang di dalam tabungannya dengan jumlah yang banyak. Itulah Aishah, dia tidak pernah lupa untuk menabung. Baginya uang yang dia dapatkan setiap bulannya dari hasil bekerja, akan disisihkan setengahnya untuk ditabung. Aishah tidak pernah menghambur-hamburkan uangnya untuk membeli sesuatu yang tidak penting. Aishah juga tidak suka berfoya-foya. Bahkan Radit saja tidak tahu jika uang yang berada di dalam tabungan Aishah sebenarnya masih sangat banyak. Bahkan jumlahnya masih separuh banyaknya dari jumlah kekayaan Aishah yang diberikan kepada Radit saat ini. Hanya saja Aishah menyimpannya dalam bentuk uang.


Aishah adalah istri yang cerdas dan mandiri. Jika dia bekerja, uang yang didapatkannya tidak pernah dibelanjakan, melainkan ditabungkan semuanya. Nah, baru uang jatah bulanannya yang akan dipergunakan Aishah untuk berbelanja dan bersedekah. Jika keuangan dikelola oleh Aishah, sudah pasti akan berjalan dengan sangat baik. Karena Aishah sangat pandai dalam memanajemen keuangan. Itu sudah terbukti dari usaha kateringnya yang sukses. Usaha yang dirintis seorang diri dari nol bisa berhasil dan sukses seperti saat ini. Itu semua berkat kepandaian Aishah dalam mengatur keuangan.


Rencananya Aishah akan melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan. Aishah juga membuka usaha makanan sebagai sampingannya. Aishah memulai semuanya dari nol lagi. Namun, Aishah selalu bersemangat dan pantang menyerah. Di belakangnya selalu ada keluarganya yang selalu mendukung dan mendoakannya. Dukungan itulah yang membuat Aishah bersemangat kembali dalam menjalani kehidupannya yang baru.


Pagi-pagi sekali Aishah sudah bersiap-siap untuk berangkat melamar pekerjaan. Setelah selesai sarapan bersama, Aishah segera menuju mobilnya untuk mencari kerja. Tampak sebuah mobil memasuki halaman rumah pakdhenya itu. Aishah terus memperhatikan mobil itu hingga sang pengemudi turun dari dalam. Dan ternyata itu Aryo, salah satu adik kembar Aishah.


"Assalamu'alaikum." Aryo mendekati Aishah untuk bersalaman dengannya.


"Wa'alaikum salam." Aishah membalas uluran tangan Aryo.


"Tumben Kak Aish ada di sini?" Aryo masih belum tahu kalau Aishah sudah pindah ke rumah pakdhenya lagi.


"Iya, aku tinggal di sini lagi. Sudah satu minggu ini." Aishah tersenyum kepada Aryo. Aishah terus memperhatikan tubuh adiknya yang semakin gagah itu.


"Kak Radit mana?" Aryo tampak celingak-celinguk mencari Radit di dalam mobil dan di dalam rumah.


"Kak Radit ada di rumahnya." Aishah tersenyum getir.


"Loh kok bisa? Memangnya Kak Aishah sedang marahan?" Aryo semakin penasaran.


"Kita sudah bercerai Yo. Sekarang sedang dalam proses persidangan." Aishah menatap nanar wajah adiknya itu.


"Apa! Tapi bagaimana bisa Kak? Kenapa? Dan sejak kapan?" Aryo sangat terkejut dengan perkataan Aishah.


"Ceritanya panjang. Memangnya kamu mau ke mana?" Aishah malah ganti bertanya.


"Aryo ingin bertemu dengan Pakdhe dan Budhe. Ada yang ingin Aryo sampaikan. Tapi sepertinya dengan Kak Aishah juga." Aryo terlihat senang dengan berita yang dibawanya.


"Wah sepertinya berita penting. Tapi Kakak harus segera berangkat dulu keburu siang. Sepertinya Pakdhe juga akan cek up ke rumah sakit pagi ini." Aishah mengarahkan kepalanya ke arah pakdhe dan budhenya yang sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.


"Memang Kak Aish mau ke mana?" Aryo tampak penasaran.


"Kakak akan memasukkan lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan ternama di sini." Aishah menunjuk amplop besar yang tergeletak di kursi depan.


"Kalau begitu biar Aryo antar saja, nanti Aryo akan berbicara kepada pakdhe dan budhe setelah mereka pulang dari rumah sakit. Kebetulan hari ini aku libur." Aryo memberi usul kepada Aishah.


"Baiklah terserah saja, mungkin itu jauh lebih baik. " Aishah mengangkat kedua bahunya bersamaan.


Lalu Aryo berpamitan dengan Pak Joko dan Bu Sekar. Aryo mengantar Aishah menuju perusahaan-perusahaan yang akan dimasuki lamaran pekerjaan olehnya.

__ADS_1


Setelah selesai mengedarkan surat lamaran pekerjaan, Aishah dan Radit memutuskan untuk mampir ke mall untuk mencari makan siang terlebih dahulu. Mereka memasuki sebuah food court lalu menikmati pesanan mereka. Mereka makan di sana dengan nikmatnya.


"Memang apa yang akan kamu sampaikan kepadaku Yo?" Aishah bertanya dengan Aryo yang sibuk dengan makanan di tangannya. Bahkan Aryo sendiri hampir lupa dengan tujuan utamanya datang ke rumah pakdhe dan budhenya.


"Sebentar lagi aku akan bertunangan Kak." Aryo tampak sangat bahagia.


"Wah selamat Yo, akhirnya kamu berhasil menemukan pendamping hidupmu juga. Memangnya siapa yang akan menjadi calon istrimu itu Yo?" Aishah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Namanya Alyasa Kak. Dia lulusan dari luar negeri. Dia belum lama pindah ke sini. Kami bertemu saat ada seminar di luar negeri. Dan dia adalah satu-satunya orang yang aku kenal saat seminar waktu itu. Alyasa sangat baik kepadaku. Bahkan aku jatuh cinta kepadanya sejak pandangan pertama." Pandangan Aryo menerawang jauh menembus keramaian mall siang itu.


"Ciyee yang sedang jatuh cinta. Rencananya kapan pertunanganmu akan dilangsungkan?" Aishah ikut senang mendengar kabar baik dari salah satu adik kembarnya itu.


"Minggu depan Kak. Rencananya, Bapak Ibu akan datang kemari dua hari sebelum hari pertunanganku berlangsung." Aryo terlihat sangat antusias dengan ceritanya.


"Bapak Ibu akan ke rumah Pakdhe terlebih dahulu?" Aishah penasaran.


"Mereka inginnya seperti itu. Tapi, sekarang aku kan sudah membeli rumah baru. Jadi aku meminta Bapak Ibu untuk ke rumahku saja." Aryo memakan habis makanannya dengan cepat.


"Pantas saja kamu sudah berani menikah. Ternyata kamu sudah memiliki rumah sendiri sekarang? Bagaimana usahamu saat ini? Lancar kan?" Aishah tampak menyelidik. Sepertinya kepiawaian dalam mengelola usaha adiknya ini menurun dari Aishah.


"Alhamdulillah Kak, berkat doa dan bimbingan Kakak selama ini, usahaku saat ini lancar. Buktinya Aryo sudah bisa membeli rumah, mobil dan beberapa aset dengan hasil Aryo sendiri sekarang." Aryo tersenyum bangga.


"Bagus, lalu bagaimana dengan Arya sekarang?" Aishah merasa penasaran dengan adik kembar satunya.


"Kamu bisa saja." Aishah mengusap kepala Aryo dengan lembut.


"Lalu bagaimana dengan Kak Aish? Kenapa Kak Aish bisa sampai bercerai dengan Kak Radit?" Aryo mengalihkan topik pembicaraannya.


"Kak Radit selingkuh dengan Kirana Yo." Aishah menatap nanar adiknya itu.


"Apa! Kirana? Tapi bagaimana bisa dengan Kak Kirana?" Aryo semakin bingung. Dia tidak menyangka jika Radit berbuat sejahat itu dengan kakaknya.


"Aku telah membantunya mencarikan pekerjaan, namun dia malah menggoda Kak Radit di belakangku. Dia menghasut Kak Radit dan menuduhku berselingkuh dengan teman Kak Radit. Dan akhirnya Kak Radit jatuh ke dalam perangkapnya. Aku benar-benar tidak pernah mengira semua ini akan terjadi." Aishah bercerita panjang lebar. Hatinya kembali mengingat luka perih yang pernah dirasakannya.


"Kirana dan Kak Radit benar-benar sudah keterlaluan! Aku akan membalas semua yang telah mereka lakukan kepada Kakak!" Aryo meninju telapak tangannya sendiri.


"Jangan Aryo! Tidak perlu. Biarkan saja. Yang terpenting saat ini aku bisa lepas dari Kak Radit saja aku sudah senang." Aishah melerai kemarahan adiknya itu.


"Tapi mereka sudah sangat keterlaluan Kak. Aku tidak bisa menerima perlakuan mereka terhadap Kakak!" Aryo kembali bersungut-sungut saking marahnya.


"Memangnya apa yang mau kamu perbuat?" Aishah penasaran dengan keberanian adiknya itu.


"Aku akan menghajar habis Kak Radit dan Kirana tanpa ampun." Aryo meremas tangannya.

__ADS_1


"Itu hanya akan menambah masalah. Sudahlah, semua akan ada balasannya masing-masing. Apalagi sebentar lagi kamu akan bertunangan, aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu. Jadi jangan pernah berbuat yang macam-macam." Aishah melarang keras keinginan Aryo yang sudah menggebu-gebu.


Aryo memang sangat perhatian dan peduli dengan Kakak perempuannya itu. Aryo tidak bisa melihat kakaknya bersedih. Lalu untuk mengusir rasa sedih kakaknya, Aryo mengajak Aishah untuk bermain di wahana permainan yang ada di mall tersebut. Aryo dan Aishah sangat menikmati permainan di wahana tersebut. Saking asyiknya, sampai-sampai mereka lupa waktu.


Hari sudah malam, sementara Aishah dan Aryo masih asyik bermain. Mereka mencoba hampir semua wahana permainan yang tersedia. Sudah banyak hadiah yang mereka dapatkan. Aishah pun bisa tertawa lepas kembali. Sejenak dia bisa melupakan semua masalah yang sedang bergelut dengannya.


"Yo, sudah malam. Ayo kita pulang." Aishah menarik tangan Aryo untuk mengajaknya pulang.


"Sebentar lagi Kak, nanggung." Namun, sepertinya Aryo masih enggan untuk meninggalkan permainannya.


"Aryo kita harus sholat magrib sekarang, keburu waktunya habis lho." Aishah mengingatkan adiknya yang masih betah bermain.


"Baiklah." Aryo menghentikan permainannya dan mengikuti langkah kaki kakaknya untuk mencari tempat sholat magrib terdekat.


Setelah menemukan mushola terdekat yang berada di dalam mall tersebut, Aishah dan Aryo segera melaksanakan kewajibannya. Setelah sholat, mereka memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu.


"Sebaiknya kita bungkus saja Kak. Aku ingin makan malam bersama dengan Pakdhe dan Budhe. Sudah lama aku tidak makan bersama mereka. Aku sudah sangat merindukan suasana kebersamaan itu." Aryo menatap Aishah dengan senyum manisnya.


Aishah pun menyetujui permintaan Aryo, kemudian mereka pulang dengan membawa makanan yang sengaja mereka bungkus untuk makan malam di rumah bersama Pak Joko dan Bu Sekar. Aryo dam Aishah menuju tempat parkir untuk mengambil mobil mereka. Barang bawaan mereka kini sangat banyak, karena hadiah dari permainan yang mereka berhasil kumpulkan lumayan banyak.


Setelah sampai di rumah, Pak Joko dan Bu Sekar sudah bersiap untuk makan malam. Aishah dan Aryo segera menghampiri mereka.


"Assalamu'alaikum." Aishah masuk ke dalam rumah dan segera menuju meja makan.


"Wa'alaikum salam. Bagaimana Aish sudah adakah yang menerima surat lamaran kerjamu?" Pak Joko menyuap makanan yang telah Bu Sekar ambilkan di piringnya.


"Aish baru memasukkan surat lamarannya Pakdhe, nanti Aish akan dihubungi melalui telepon untuk melakukan interview dan tes lebih lanjut." Aishah duduk di dekat Bu Sekar dan mulai mengambil makanan yang akan disantapnya.


Lalu Aryo menyampaikan maksud dirinya datang ke sana.


"Pakdhe, Budhe maksud kedatangan Aryo kemari untuk meminta restu dari Pakdhe dan Budhe. Rencananya, Aryo akan melangsungkan pertunangan Aryo minggu depan. Jika ada waktu Aryo minta kalian untuk ikut mengantar Aryo ke rumah calon tunangan Aryo." Aryo berkata dengan sopan.


"Tentu kami bersedia mengantar Aryo. Kami sangat senang, akhirnya kamu akan segera menikah. Kapan Bapak Ibu akan datang kemari?" Pak Joko mengernyitkan dahi.


"Rencananya dua hari sebelum pertunangan Pakdhe." Aryo menyantap makanannya.


"Antar mereka mampir ke sini ya Yo. Budhe sudah rindu sekali dengan Ibumu." Bu Sekar tersenyum senang.


"Pasti Budhe, Aryo akan mengajak mereka ke sini." Aryo juga terlihat sangat bahagia.


Melihat kebahagiaan yang tengah dirasakan adiknya, Aishah juga ikut merasakan kebahagiaan itu. Aishah bersyukur hatinya bisa terobati melihat kebahagiaan yang dirasakan adiknya saat ini. Aishah tersenyum bahagia. Aishah tak henti-hentinya menggoda adiknya yang sedang dimabuk asmara. Aryo pun tampak malu-malu.


Setelah selesai makan malam, mereka melanjutkan ngobrol mereka di ruang keluarga. Tampak kebahagiaan memancar di antara obrolan mereka. Aishah pun kini perlahan bisa mengobati hatinya yang terluka itu. Aryo pun memutuskan untuk menginap di tempat pakdhenya itu.

__ADS_1


__ADS_2