
Aishah selalu disibukkan dengan pekerjaannya. Jam makan siang telah berlalu. Tak terasa sudah tiba waktunya pulang kantor. Aishah segera mengemasi barang-barangnya untuk segera pulang. Setelah ini, masih banyak pekerjaan yang menunggunya. Dengan cepat Aishah menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Ternyata di tempat parkir, sudah ada yang menunggu kedatangan Aishah. Aldi sudah menunggunya di mobil dari beberapa waktu yang lalu bahkan sebelum jam pulang kantor tiba.
Aishah yang tidak tahu jika dirinya telah ditunggu oleh Aldi, langsung menuju mobilnya lalu membuka pintunya.
"Aish.." Tiba-tiba suara Aldi membuat kaget Aishah. Aishah yang sudah sangat hafal dengan suara itu menengok ke arah sumber suara.
"Iya Pak Aldi ada apa?" Aishah menundukkan kepalanya kepada Aldi dengan sopan.
"Ini sudah bukan jam kerja Aish. Berhentilah berkata formal denganku." Aldi tertawa kecil.
"Tapi ini masih di area kantor Pak. Biarkan saya tetap menghormati Pak Aldi sebagai atasan saya." Aishah tetap bersikeras dengan pendiriannya.
"Aish Aish, kamu itu menggemaskan sekali. Ya sudahlah terserah kamu saja, jika itu yang kamu inginkan." Akhirnya Aldi mengalah dengan sikap keras kepala Aishah yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi.
"Lalu ada kepentingan apa Pak Aldi memanggil saya?" Aishah kembali ke topik pembicaraan.
"Aku ingin berbicara sebentar denganmu. Aku mohon Aish, sebentar saja. Aku janji tidak akan lama kok." Aldi masih berusaha mengajak Aishah untuk mengobrol.
"Ya sudah bicara saja di sini." Dengan cepat Aishah membalas perkataan Aldi.
"Tidak mungkin Aish, karena sebentar lagi karyawan yang lain juga pasti akan pulang. Kamu tidak lihat mobilmu itu menghalangi jalan mereka." Aldi menunjuk ke arah mobil Aishah dengan kepalanya.
Akhirnya Aishah menyetujui permintaan Aldi. Mereka menuju ke sebuah taman kota untuk mengobrol. Aldi mengajak Aishah duduk di sebuah bangku yang terletak di taman tersebut. Di sana terdapat satu bangku panjang dan dua bangku kecil, dengan meja kayu yang berada di tengahnya. Aishah dan Aldi duduk berseberangan berhadapan dengan meja kayu tersebut sebagai pembatasnya.
"Kita sekarang sudah bukan berada di area perusahaan lagi. Apakah kamu masih keras kepala untuk berbicara formal denganku?" Aldi terkekeh.
Melihat Aldi yang terkekeh, Aishah menggelengkan kepalanya.
Jika boleh jujur, sebenarnya aku sangat merindukan tawamu itu Di.
Aishah menatap Aldi untuk beberapa saat, lalu tersenyum kecil. Untuk sejenak, Aishah mengobati rasa rindunya itu dengan melihat tawa Aldi yang menenangkan. Dulu bagi Aishah, tawa Aldi adalah obat dari segala kesedihan yang melandanya. Karena dulu Aldi selalu menghibur Aishah, kala Aishah sedang sedih. Dan Allah juga berhasil membuat Aishah ikut tertawa.
"Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku?" Aishah membuat Aldi mengakhiri tertawanya. Lalu Aldi menghadap ke arah Aishah, untuk menatap matanya dalam-dalam.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu menghindar dariku?" Aldi menatap Aishah dengan rass pemasarannya.
"Aku tidak menghidarimu, aku hanya sedang sibuk saja." Aishah tidak membalas tatapan mata Aldi kepada dirinya. Aishah memang paling tidak bisa untuk berbohong. Jika dia sedang berbohong, pasti dia akan berusaha menyembunyikan tatapan matanya dari orang yang diajak bicara.
"Oh ya? Padahal aku sangat merindukan masa-masa bersama denganmu dulu.Aku ingin kita bisa seperti dulu lagi. Kamu mau kan?" Aldi kembali menatap mata Aishah dengan tatapan penuh harapan.
"Maksud kamu?" Aishah masih merasa bingung dengan ucapan Aldi. Aishah tidak ingin salah paham dengan maksud dari perkataan Aldi.
"Ya kita bisakan berteman kembali seperti dulu lagi?" Aldi menatap ke arah anak-anak yang berada tidak jauh dari tempat duduknya sedang asyik bermain dengan sepeda mereka.
Oh teman. Mungkin tidak apa-apa jika aku menyetujui permintaan Aldi. Selama aku bisa menjaga perasaan ini dengan rapat. Lagi pula memang tidak ada salahnya jika kita berteman. Toh juga sebentar lagi kita akan menjadi saudara.
"Kita memang masih berteman kan? Aku juga masih menganggapmu sebagai temanku seperti dulu kok." Aishah mencoba membela diri.
"Tapi aku merasa, sekarang kamu mulai menjauhiku. Kamu selalu berusaha menjaga jarak di antara kita. Memang apa yang membuatmu berbuat seperti itu kepadaku?" Aldi merasa penasaran.
__ADS_1
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Tapi, mungkin sekarang kita memang tidak bisa seakrab dulu lagi." Aishah menghela nafas panjang.
"Kenapa? Bahkan sekarang sebenarnya kita sudah mengetahui perasaan kita masing-masing kan? Kenapa kita tidak bisa dekat? Apa itu semua karena Viola?" Aldi mencoba menebak apa yang menjadi alasan Aishah menjauhinya selama ini.
"Mungkin itu menjadi salah satu alasannya. Namun, bukan hanya itu." Aishah menghentikan perkataannya. Berat hati rasanya untuk meneruskan perkataannya.
"Lalu?" Aldi merasa sangat penasaran.
"Kita sudah bukan kita delapan tahun yang lalu Di. Kita sudah punya kehidupan masing-masing." Aishah mencoba meyakinkan Aldi dengan perkataannya.
"Memangnya kenapa Aish? Dari dulu kita memang mempunyai kehidupan masing-masing, tapi kita masih bisa bersama." Aldi tertawa kecil.
"Hmmm…." Aishah menghela nafas panjang.
"Sekarang kamu sudah memiliki Dokter Viola Di. Dia sangat mencintaimu. Jika kita berteman terlalu dekat seperti dulu lagi, aku tidak mau membuat Dokter Viola sakit hati." Aishah berusaha menyadarkannya Aldi akan perasaan Dokter Viola yang begitu besar padanya.
Tidak bisa kupungkiri, Cinta Viola kepadaku memang sangat besar. Bahkan aku juga sudah sangat banyak berhutang budi kepadanya. Tapi hati ini tetaplah mempunyai pemilik, yang tidak bisa dipindah hak kepemilikannya dengan mudah begitu saja. Sebenarnya, dulu aku sempat menaruh simpati kepada Viola. Namun, setelah kehadiran Aishah kembali di hidupku, simpati itu hilang entah ke mana, bak ditelan bumi.
Aldi terdiam, dia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Semua perkataan Aishah memang benar.
"Tapi kamu tahu kan sebenarnya seperti apa perasaanku kepadamu selama ini? Perasaanku kini kepadamu tetap sama seperti delapan tahun yang lalu, tidak ada yang berubah. Aku masih sangat mencintaimu Aish." Aldi menatap mata Aishah dengan lembut.
"Tolong Aldi jangan katakan itu. Kamu tidak boleh berkata seperti itu kepadaku. Kamu akan menyakiti Dokter Viola jika seperti itu." Aishah menggelengkan kepalanya, lalu menyipitkan matanya.
"Sesulit inikah cinta kita? Sesulit inikah kita bersama?" Aldi Aishah dengan tatapan nanar.
"Aldi dengarkan perkataanku. Sebaiknya, kita kubur dalam-dalam perasaan kita masing-masing. Kamu harus belajar mencintai Dokter Viola, orang yang telah mencintaimu selama ini." Aishah menatap meja yang berada di depannya. Aishah benar-benar tidak bisa menatap mata Aldi saat ini.
"Aldi! Harus ku katakan berapa kali lagi. Kita tidak mungkin bersama." Aishah sampai dibuat jengkel karena Aldi yang tak juga mau menuruti perkataan Aishah.
"Kenapa? kenapa kita tidak bisa bersama? Aku dan Viola bukan suami istri kok, jadi aku masih berhak dong memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupku kelak." Aldi tetap dengan pendiriannya.
Kedua anak manusia yang saling jatuh cinta namun tak bisa bersama ini tetap kukuh dengan pendirian masing-masing.
"Bukan hanya karena Dokter Viola Di. Tapi karena banyak hal yang membuat kita harus berjalan di jalan masing-masing." Aishah menatap lembut mata Aldi.
"Baiklah, sekarang jelaskan semua hal itu kepadaku. Aku butuh penjelasan darimu saat ini." Aldi menantang Aishah.
"Dengarkan aku baik-baik." Aishah menatap Aldi dengan jengkel.
"Akan aku dengarkan dengan sangat baik." Aldi memasang telinganya di dekat wajah Aishah.
"Yang pertama, tentu karena kamu sudah memiliki Dokter Viola, yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupmu." Aishah menatap Aldi.
"Tapi…." Kata-kata Aldi terhenti karena ditahan oleh Aishah.
"Eits tunggu dulu, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu." Aishah memasang wajah angkernya.
"Baiklah maaf.." Aldi menopang wajahnya di meja.
__ADS_1
"Yang kedua, Aryo dan Alya sebentar lagi akan menikah. Dan tentu kita akan menjadi saudara karenanya. Jadi menurut keluargaku, kita tidak boleh bersama, karena kita saudara." Aishah memperjelas perkataannya.
"Kenapa memangnya itu tidak….." Ucapan Aldi terhenti kembali karena ditahan oleh Aishah.
"Jangan menyela dahulu! Biarkan aku menyelesaikan perkataanku terlebih dahulu." Aishah melotot ke arah Aldi.
"Baiklah…" Aldi mengangkat kedua tangannya.
"Kemudian yang ketiga, kini statusku sudah berubah. Aku tidak pantas untuk mu lagi. Kamu berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku." Aishah menundukkan kepalanya. Dia merasa sangat sedih dengan kisah cintanya yang harus kandas.
"Semua alasanmu itu tidak masuk akal Aish. Kita pasti bisa melewati semuanya. Itu hanya alasanmu agar aku tetap bersama dengan Dokter Viola saja kan?" Aldi tidak mau percaya dengan ucapan Aishah
"Baiklah jika kamu masih keras kepala. Aku akan jujur jika aku sudah memiliki seseorang yang kucintai. Aku sudah tidak mencintaimu lagi Di! Hatiku sudah ada yang punya." Aishah benar-benar frustasi saat ini. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa, agar Aldi mau mendengarkan perkataannya. Akhirnya dia menggunakan jurus terakhirnya untuk menghentikan keras kepala Aldi.
"Apa! Kamu pasti sedang membohongiku kan saat ini?" Aldi tersenyum getir.
Aishah tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Dia berusaha tampak serius, agar Aldi percaya dengan perkataannya.
"Tidak mungkin Aish, memang siapa orang yang kamu cintai itu?" Aldi berusaha membuktikan kebohongan Aishah. Kini perasaan Aldi semakin was-was. Sebenarnya, dia takut jika Aishah benar-benar mencintai orang lain.
Sementara, Aishah sendiri bingung harus menjawab apa. Karena tadi dia hanya asal bicara, agar Aldi percaya dengannya dan memutuskan untuk menjauhinya. Sekarang Aishah malah dibuat bingung dengan perkataannya sendiri. Aishah terus memutar otaknya untuk menemukan satu nama yang tepat untuk menjawab pertanyaan Aldi. Namun, tidak mudah mengatakan satu nama begitu saja. Karena pasti Aldi akan meminta bukti dari jawaban Aishah tersebut.
"Ayo Aish katakan, siapa lelaki yang kamu cintai itu?" Aldi merasa sangat penasaran.
Aishah masih terdiam, otaknya kini terasa berhenti berpikir. Dia tidak bisa menemukan satu nama yang tepat.
Aku harus menjawab satu nama lelaki agar Aldi benar-benar percaya. Tapi siapa? Bahkan aku sendiri juga tidak tahu aku mencintai siapa selain Aldi saat ini. Tidak mungkin jika aku mengatakan Kak Radit, karena kita sudah resmi bercerai, Aldi pasti tidak akan percaya.
"Dokter Dariel… " Tiba-tiba satu nama keluar dari mulut Aishah. Aishah secara reflek mengatakan nama Dokter Dariel.
Maafkan aku Dokter Dariel, aku tidak tahu lagi harus mengatakan siapa. Semoga kamu tidak marah denganku.
Aishah memejamkan matanya sebentar, lalu berusaha bersikap biasa di depan Aldi.
"Maksudmu Dokter yang bekerja dengan Viola itu." Aldi mencoba mengingat siapa Dokter Dariel itu.
"Benar." Aishah menatap ke atas langit. Ternyata hari hampir gelap. Tidak terasa pertemuannya dengan Aldi memakan waktu yang sudah lama. Aishah sampai lupa akan waktu. Padahal tadi Aldi berkata hanya bicara sebentar. Tapi nyatanya sudah lama mereka mengobrol di taman itu.
"Sudah sore, aku harus segera pulang." Aishah berdiri dari tempat duduknya.
Sementara Aldi terbengong sendiri. Dia diam saja, sepertinya sedang ada hal berat yang sedang mengganggu pikirannya. Aldi melamun sendiri. Namun, segera tersadar karena Aishah yang tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.
"Aku harus pulang duluan Di. Aku duluan ya!" Aishah berlalu pergi meninggalkan Aldi yang masih duduk seorang diri di bangku taman itu.
Aldi merasa sedih, tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Perasaan yang selama ini dia nanti-nanti ternyata hanya sia-sia saja. Aldi tidak menyangka jika Aishah dengan mudahnya mencintai orang lain. Padahal Aldi sempat merasa senang karena di pikirannya, Aishah masih mencintainya. Ternyata semua itu salah, Aishah sudah mencintai orang lain.
Apa benar perkataan Aishah itu? Apakah semudah itu hati Aish berpaling? Kenapa sulit sekali hatiku menerimanya. Sepertinya ini hanya akal-akalan yang dibuat oleh Aishah agar aku menjauhinya. Tapi kenapa harus Dokter Dariel? Dokter yang sering diceritakan oleh Viola tentang kebaikannya itu.
Aldi terus bergumam dalam hati. Pikirannya kini sedang bimbang memikirkan perkataan Aishah yakni antara benar atau tidaknya semua perkataan Aishah itu. Tidak terasa, matahari sudah kembali ke peraduannya. Matahari telah tenggelam membawa semua sinar terangnya. Sementara Aldi masih termenung sendiri memikirkan perkataan Aishah yang menghantam hatinya.
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Aldi berjalan menuju mobilnya. Aldi memutuskan untuk pulang karena hari mulai malam.