
Malam semakin larut, pengunjung di restoran pun juga semakin sedikit. Udara malam yang berhembus terasa semakin menusuk-nusuk tulang. Namun, tampaknya Aldi dan Aishah masih betah untuk duduk di kursi mereka masing-masing. Tidak banyak kata yang mereka ucapkan. Sesekali mereka hanya saling pandang. Kadang juga tatapan mereka saling bertemu dan membuat Aishah tersipu. Sepertinya mereka ingin sekedar melepas kerinduan yang selama ini menggebu di hati yang tanpa bisa mereka ungkapkan satu sama lain.
"Di, sudah malam, ayo kita pulang." Aishah melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Aku masih ingin di sini melihat bintang bersamamu, karena itu sangat menenangkan hatiku." Aldi menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu memandang langit malam yang bertabur bintang.
"Tapi ini sudah malam, pengunjung di sini juga tinggal sedikit. Mungkin juga restoran ini akan segera tutup." Aishah melihat pengunjung di sekelilingnya yang sudah mulai pergi satu persatu.
"Aish, aku masih sangat rindu denganmu. Saat ini aku tidak menginginkan apapun kecuali bersamamu, itu saja." Aldi menatap Aishah sebentar lalu kembali menatap langit.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Dokter Viola jika melihat kita masih berada di sini sampai semalam ini." Aishah melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa kamu harus memikirkan perasaan orang lain Aish, kenapa kamu tidak mau memikirkan perasaanmu sendiri saja?" Aldi membenahi posisi duduknya.
"Memangnya apa yang harus kupikirkan tentang perasaanku?" Aishah berlagak sok tidak tahu.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu maksud pembicaraanku. Kamu pasti sudah paham dengan maksud dari kata-kataku tadi." Kini Aldi menatap Aishah dengan tatapan tajam.
"Aku benar-benar tidak tahu Di. Karena selama ini aku sudah memikirkan perasaanku." Aishah membela dirinya.
"Baik, kalau begitu. Sekarang kamu jawab jujur pertanyaan dariku!" Aldi menatap Aishah dengan tatapan semakin tajam. Aishah sampai kelimpungan dibuatnya. Aishah merasa tatapan itu menusuk dirinya hingga dia tidak bisa berkutik untuk menghindari tatapan itu.
"Sebenarnya bagaimana perasaanmu kepadaku saat ini?" Aldi menatap mata Aishah tanpa berkedip. Aishah terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin jika dia berkata jujur kepada Aldi tentang perasaannya selama ini. Karena Aishah sudah berjanji kepada Dokter Dariel untuk mempersatukan Aldi dengan Dokter Viola. Aishah juga sudah mengatakan kepada Aldi bahwa dia mencintai Dokter Dariel.
Namun, sulit sekali mulut Aishah untuk berkata bohong lagi kepada Aldi. Kini mulutnya serasa terkunci rapat. Aishah tidak dapat berkata apapun lagi. Dia kini benar-benar dalam keadaan bingung dan bimbang. Jika dia jujur tentang perasaannya kepada Aldi berarti Aishah telah melanggar janjinya kepada Dokter Dariel. Tapi jika dia berbohong, mulutnya benar-benar terkunci rapat, bahkan jika kali ini Aishah masih berbohong. Maka akan ada kebohongan-kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongannya kali ini.
Maka Aishah memutuskan untuk diam. Dia tidak berani mengambil keputusan untuk berbicara apapun.
"Kenapa diam Aish? Aku hanya ingin tahu perasaanmu saat ini kepadaku yang sejujurnya." Aldi tidak melepaskan pandangan matanya kepada Aishah.
"Aku harus berbicara apa lagi Di? Bukankah semua sudah jelas?" Aishah menatap ke arah lain agar tidak bertemu pandang dengan tatapan mata Aldi yang tajam.
"Kamu hanya perlu jujur dengan perasaanmu sendiri Aish. Kamu tidak perlu mengorbankan perasaanmu demi siapapun!" Aldi menggenggam tangan Aishah yang berada di atas meja. Namun, dengan cepat Aishah segera menarik tangannya dari genggaman tangan Aldi.
__ADS_1
"Aku sudah jujur." Aishah masih menghindari tatapan mata Aldi. Dan rupanya Aldi sudah membaca gelagat Aishah. Dia tahu kalau Aishah sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Kamu masih saja terus berusaha menutupi kebenaran tentang perasaanmu kepadaku Aish, padahal sudah jelas sekali bahwa kamu masih mencintaiku.
"Sekarang tatap mataku dan katakan yang sejujurnya tentang perasaanmu kepadaku saat ini. Apakah kamu benar-benar tidak mencintaiku? Apakah kamu benar-benar mencintai Dariel?" Aldi memegang kedua tangan Aishah di atas meja lalu menatap mata Aishah dengan lembut. Tatapan yang penuh akan makna.
Aishah kembali terdiam. Bibirnya terasa kelu, mulutnya tidak dapat membuka suara sedikit pun. Aishah semakin bimbang. Aishah memang tidak pandai untuk menyembunyikan kebenaran. Apalagi untuk berbohong, dia benar-benar seorang pembohong yang amatiran.
Aku tidak bisa berbohong lagi kepada Aldi, dia pasti akan segera tahu kebenarannya.
"Baiklah Di, terserah saja kamu mau berkata apa tentang perasaanku kepadamu, toh semua itu juga tidak akan mengubah apapun." Aishah memejamkan matanya. Matanya mulai menganak sungai.
"Jadi benar kan dugaanku selama ini. Bahwa kamu masih mencintaiku Aish. Kamu tidak pernah mencintai orang lain selain aku." Aldi sangat senang. Sudah seperti menemukan oase di padang pasir yang gersang saja. Sorot matanya terlihat berbinar-binar. Dia tampak begitu bahagia mendapati kenyataan bahwa Aishah masih mencintainya. Harapannya kembali bersemi. Harapan untuk hidup bersama dengan Aishah, memperjuangkan cinta sejatinya bersama dengan Aishah.
"Jika hanya Viola yang menjadi alasanmu untuk menjauh dariku, aku akan berbicara terus terang tentang perasaanku selama ini kepadanya." Aldi semakin menggenggam erat tangan Aishah. Sepertinya kali ini dia benar-benar tidak ingin melepaskan Aishah lagi dari hidupnya.
"Tidak Di, kamu tidak boleh seperti itu. Kamu akan menjadi orang yang sangat jahat jika melakukannya." Aishah berusaha menarik tangannya dari genggaman Aldi, namun sia-sia. Aldi semakin menggenggam erat kedua tangannya di atas meja.
"Apakah kamu yakin tidak akan ada yang tersakiti nantinya?" Aishah masih belum yakin.
"Kamu percaya denganku. Dengan kekuatan cinta kita, aku yakin semua akan baik-baik saja dan berjalan dengan lancar." Aldi kembali meyakinkam Aishah.
Aishah menghela nafas panjang. Lalu membalas tatapan mata Aldi dengan lembut. Dia berusaha memberanikan diri untuk berkata jujur.
"Baiklah Di, semua perkataanmu memang benar. Aku memang masih mencintaimu. Tapi apa yang bisa kita lakukan sekarang dengan keadaan kita ini? Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Aishah menatap Aldi dengan tatapan nanar.
"Banyak Aish, kita bisa melakukan banyak hal. Karena kita sudah saling mengetahui perasaan kita masing-masing yang sejujurnya. Mari kita yakinkan Viola akan cinta Dariel kepadanya." Aldi mengusap air mata yang mulai menetes di pipi Aishah.
"Yang perlu kita lakukan pertama kali adalah kita harus mengalihkan perhatian Viola kepada Dariel, menyadarkan Viola tentang semua perhatian yang diberikan Dariel kepadanya." Aldi mulai menyusun strategi awalnya.
"Baiklah, terserah saja semua denganmu." Aishah tampak masih ragu untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Aldi kepadanya. Sebenarnya Aishah masih memikirkan janjinya kepada Dokter Dariel untuk menyatukan hubungan Aldi dengan Dokter Viola. Namun, jika Aishah tetap melakukannya, akan lebih banyak hati yang tersakiti.
Malam semakin larut, restoran tempat Aldi dan Aishah makan juga sudah mau tutup. Akhirnya Aldi dan Aishah memutuskan untuk pulang. Aldi mengantar Aishah pulang terlebih dahulu.
__ADS_1
"Malam ini benar-benar malam yang sangat spesial untukku." Sesekali Aldi menatap Aishah, namun tetap fokus pada kemudinya.
Aishah menatap Aldi yang sedang fokus mengemudi. Dia tampak keheranan dengan lelaki di sampingnya itu. Dia masih sama, masih Aldi yang dia kenal dulu. Aldi yang selalu pantang menyerah, apalagi jika menyangkut dengan kebahagiaan Aishah. Aldi akan menjadi orang pertama yang memperjuangkan kebahagiaan itu. Ternyata Aldi menyadari tatapan Aishah. Dia segera membalas tatapan itu.
"Terima kasih untuk makan malam kali ini Aish.." Aldi menatap Aishah sesekali.
__________________________________
Satu jam sudah Dokter Viola dan Dokter Dariel berjuang di ruang operasi. Mereka bergelut dengan nyawa seseorang di dalam sana. Setibanya di rumah sakit, pasien sudah dipindahkan ke ruang operasi. Dokter Dariel dan Dokter Viola segera berganti pakaian dengan pakaian steril untuk segera melakukan tindakan operasi. Di depan ruang operasi, keluarga pasien sudah tampak menunggu dengan cemas. Bahkan ada di antara mereka yang terus menerus menangis.
Dokter Viola dan Dokter Dariel keluar dari ruang operasi setelah satu jam lamanya di dalam sana. Dilihat dari wajah mereka, mereka tampak sangat kelelahan. Sebelum keluar dari ruang operasi, Dokter Dariel dan Dokter Viola membersihkan diri terlebih dahulu.
"Bagaimana Dok keadaan anak saya?" Salah seorang wanita tengah baya mendekati Dokter Viola dan Dokter Dariel yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Operasinya berhasil, anak Ibu sekarang sedang dalam masa pemulihan. Mungkin membutuhkan sekitar satu sampai dua jam untuk anak Ibu bisa keluar dari masa komanya." Dokter Viola menjelaskan panjang lebar kepada Ibu dari pasien yang ditanganinya itu.
Ibu dan keluarga lain dari pasien tersebut tampak lega. Rasa lelah yang dirasakan Dokter Viola dan Dokter Dariel pun seketika sirna melihat wajah-wajah bahagia di depannya. Mereka tak henti-hentinya mengucapkan banyak terima kasih kepada Dokter Viola dan Dokter Dariel. Melihat Dokter Viola tersenyum senang, Dokter Dariel merasa sangat bahagia. Lalu mereka berjalan menuju ruangan Dokter Viola.
"Syukurlah, operasi malam ini berjalan lancar. Walaupun butuh perjuangan yang tidak mudah. Terima kasih riel sudah membantu operasi malam ini. Tanpamu aku tidak tahu lagi bagaimana operasi ini bisa berjalan." Dokter Viola memegang bahu Dokter Dariel sambil tersenyum senang.
"Kamu memang hebat Vio. Aku hanya membantu sedikit dan selebihnya kamu bisa menangani semuanya dengan sangat baik." Dokter Dariel membalas tatapan Dokter Viola dengan hangat. Kini mereka bisa bernafas lega, karena operasi kali ini berjalan dengan lancar.
"Untuk merayakan keberhasilan kita, bagaimana kalau besok aku akan mentraktirmu. Kamu bebas makan apapun di restoran favorit kita sesuka hatimu." Dokter Viola duduk di sofa dalam ruangannya. Kemudian diikuti Dokter Dariel yang juga ikut duduk di dekatnya.
"Setuju! Besok aku akan menjemputmu." Dokter Dariel tersenyum senang.
"Ini sudah hampir pagi, sebaiknya kita segera pulang." Dokter Viola melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
"Baiklah, aku antar kamu." Dokter Dariel bangkit dari duduknya.
"Ayo." Dokter Viola juga ikut berdiri kemudian mengambil tasnya. Lalu mereka berjalan keluar menuju tempat parkir rumah sakit untuk mengambil mobil Dokter Dariel.
Malam ini, Dokter Dariel merasa sangat bahagia karena bisa melihat senyum bahagia dari Dokter Viola. Begitu pula dengan Dokter Viola. Walaupun makan malamnya bersama Aldi harus gagal, namun Dokter Viola tetap senang karena bisa menyelamatkan satu nyawa malam ini.
__ADS_1